Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Pesta kejutan


__ADS_3

Di salah satu rumah mewah, terlihat Lisa berjalan beriringan dengan Stefan. Perutnya membuncit sebab beberapa bulan lagi dia akan melakukan persalinan.


Setelah perceraiannya dengan Leo, hidupnya bergelimang harta. Stefan begitu memanjakan dengan kemewahan dan barang branded. Sama sekali dia tidak memikirkan dosa di masa lalu apalagi kini Bu Rita terserang stroke akibat ulahnya dulu.


Menyesal? Apalagi maaf? Tidak pernah terlintas di fikirannya. Seperti kelakuan sang Ibu, Lisa hanya memikirkan materi dan materi. Selama hidupnya terjamin, untuk apa memikirkan dosa.


Seketika mimik wajah Stefan berubah ketika dia melihat sebuah mobil terparkir di garasi. Dia cukup mengenal mobil tersebut. Mobil milik sang Istri yang sampai saat ini tidak di ketahui kabarnya.


Terakhir kali Stefan bertemu, ketika Nina berpamitan pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun setelah itu, dia tidak lagi mendapatkan kabar dan menganggap jika Nina sudah meninggalkannya.


Nina? Tidak mungkin.


Stefan seakan berhenti bernafas ketika melihat Nina juga kedua mertuanya duduk di ruang tamu. Langsung saja genggaman tangannya pada Lisa terlepas.


"Mas Efan?" Nina berdiri mematung, menatap ke arah Lisa juga perut buncitnya.


"Ba bagaimana kamu ada di sini." Lisa hanya mampu terdiam seraya mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu menahu soal masa lalu Stefan.


"Siapa dia?" Menunjuk ke arah Lisa.


"Aku Istrinya." Plaaaaaakkkkkk!!! Tamparan keras langsung mendarat di pipi Bella. Namun aneh? Sebab tidak biasanya Stefan hanya diam.


"Apa-apaan ini Fan? Kenapa kau malah menikah lagi?" Sahut si Ibu mertua.


"Saya fikir Nina sudah pergi."


"Pergi? Apa kamu ingat ucapan terakhir ku Mas!!"


Nina berpamitan untuk berobat ke luar negeri. Dia menderita penyakit kangker rahim. Kedua orang tuanya ikut serta untuk merawat Nina di sana. Sementara mereka pergi ke luar negeri, Ayah Nina menyerahkan kendali penuh pada perusahaan.


Siapa sangka jika orang yang di fikirnya menghilang, kini hadir kembali. Saat itu Stefan berfikir kalau mungkin Nina dan keluarga mengalami kecelakaan atau hal buruk lain.


"Itu bertahun-tahun yang lalu. Aku fikir kamu meninggalkan ku."


"Agar kau bisa menikmati harta kami bersama wanita ini." Ayah Nina menatap geram ke arah Stefan. Sungguh dia merasa kecewa atas keputusan yang Stefan ambil.


"Bukan begitu.."


"Lalu bagaimana Mas! Kamu mengkhianati ku padahal aku sedang bertaruh nyawa di sana." Segera saja kedua orang tua Nina berdiri seraya meraih lengan Nina.


"Kau pilih dia atau anak kami. Kalau kau memilih dia, silahkan keluar dari rumah ini. Kami tunggu jawabannya besok." Setelah mengucapkan itu, Nina dan kedua orang tuanya keluar lalu masuk mobil.


Bisa jatuh miskin aku.


"Apa maksudnya ini Mas?" Tentu saja Lisa ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Dia Istriku." Jawab Stefan pelan. Lisa memang terlihat cantik tapi menurut Stefan, Nina lebih cantik lagi.


"Katanya kamu singel?"


"Dia pergi dan tidak ada kabar."


"Ya sudah. Ini terlanjur terjadi." Tentu saja Lisa tidak mempermasalahkan hal tersebut sebab sejak awal pernikahan bukan di landasi atas dasar cinta tapi harta.

__ADS_1


"Tidak bisa. Aku sangat mencintai Nina." Dengan kasar Lisa menarik tubuh Stefan agar menghadap ke arahnya.


"Terus?" Tatapnya tajam.


"Kita harus bercerai."


"Hah apa? Aku tidak salah dengar?"


"Aku akan mencarikan rumah kontrakan."


"Harta gono-gini nya bagaimana?" Lisa bukan takut kehilangan Stefan melainkan takut kehilangan ATM berjalannya.


"Akan ku bicarakan dengan Nina. Perusahaan dan properti bukan milikku." Lisa tersenyum kecut. Dia sungguh menyesal sudah memiliki Stefan.


"Tidak bisa begitu Mas. Setidaknya aku dapat sebagai harta mu."


"Kita menikah secara tidak resmi. Sudahlah jangan banyak menuntut. Selama ini kau sudah hidup mewah kan."


"Pokoknya aku mau harta gono-gini." Teriak Lisa menuntut.


"Terserah! Aku pusing!" Stefan menyingkirkan tangan Lisa lalu lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sialan. Dia menipu ku. Awas saja." Umpat Lisa mengikuti langkah Stefan. Dia merencanakan sesuatu agar tidak di rugikan seperti yang di perbuat pada Leo dulu.


🌹🌹🌹


Meski dengan rasa gugup dan jantung berdebar-debar, Bella mengiyakan ajakan Nathan untuk makan malam. Padahal saat dulu Bastian mengajak, sekalipun Bella tidak pernah merespon dan lebih memilih berdiam diri di rumah.


Bella melirik ke arah Nathan. Dia tertarik dengan pakaian rapi yang di kenakan sementara busana miliknya cenderung santai. Bella hanya mengenakan celana jeans dan kaos longgar.


Biarkan saja. Kalau dia menyuruh ku ganti baju, akan ku tolak.


Bella tidak ingin ambil pusing. Dia sudah merencanakan sesuatu kalau Nathan mengkritik penampilannya. Pulang? Tentu saja Bella akan memilih pulang. Dia tidak ingin mengalah lagi dan ingin berbuat seenaknya.


"Kita akan makan di mana?" Tanya Bella mengawali pembicaraan. Aneh juga merasakan suasana mobil yang hening.


"Salah satu Villa ku. Em aku tadi sudah meminta izin pada Ayahmu."


"Izin apa?"


"Pulang malam atau dini hari." Gleg! Saliva Bella tertelan kasar. Fikirannya langsung tertuju pada hal negatif nan buruk. Adegan ranjang juga hal yang pernah Nathan berikan dulu.


"Jangan berbuat macam-macam. Aku baru saja memaafkan mu, itupun tidak sepenuhnya." Jawab Bella ketus.


"Siap Baby. Akan ku tunjukkan kalau aku menyesal dan benar-benar menyesal."


"Ya sudah makan di restoran saja."


"Semua sudah di atur. Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam." Bella tidak sepenuhnya percaya sebab baru beberapa hari keduanya kembali di pertemukan.


"Apa pesta taruhan lagi?!!" Tanya Bella setengah berteriak. Nathan menghela nafas panjang, sedikit melirik ke Bella yang tengah memasang wajah panik dan marah.


"Aku bilang kalau aku menyesal melakukan itu." Jawabnya pelan nan lembut.

__ADS_1


"Lantas kenapa ke Vila."


"Nanti kamu juga akan tahu."


"Katakan kenapa harus di sana?"


"Ada pesta tapi bukan taruhan."


"Omong kosong!!!" Nathan tersenyum, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya berat. Dia bukan sedang menahan emosi, melainkan tengah memikirkan jawaban yang tepat agar Bella tidak terus bertanya.


"Sudah lama aku tidak melakukan itu. Aku malas, bosan. Yang ada di otakku hanya ingin menemukan mu dan memperbaiki semua."


"Terus? Itu pesta apa?" Tanyanya tidak juga berhenti.


"Aku bersyukur sudah menemukan mu. Aku ingin membagi itu dengan semua staf dan karyawan." Bella menatap ke luar kaca mobil. Sangat banyak mobil dan motor berjajar di halaman Vila. Namun dia tidak sepenuhnya percaya jika belum melihat bukti.


Mobil Nathan terparkir di garasi. Dia turun, di ikuti oleh Bella. Tidak ada suara musik terdengar. Nathan mengulurkan tangannya ketika Bella yang berdiri mematung.


"Ayo masuk." Pintanya sambil menunjukkan senyum dan tatapan hangat.


"Ini acara apa Mas."


"Pesta untuk mu."


"Lebih baik aku pulang saja."


"Kamu itu tamu kehormatannya. Kalau kamu pulang, pesta ini akan sia-sia. Tenang saja Baby. Ada beberapa teman lamamu di dalam."


Bella enggan melangkah. Ada sedikit trauma membekas. Dia tidak ingin melihat Nathan berdekatan dengan wanita lain seperti yang di pertontonkan dulu.


"Aku tidak bisa. Aku pulang saja."


"Kenapa?"


"Aku mual mencium bau alkohol." Bella berniat masuk ke dalam mobil tapi terkunci. Apalagi melihat wanita panggilan.


"Tidak ada alkohol apalagi wanita panggilan. Hanya ada staf wanita yang sebagian besar kamu kenal. Kita hanya akan makan-makan bersama."


Jawab Nathan menjelaskan. Dia seakan bisa menebak tentang apa yang bersarang di hati Bella sebab dulu dia ingat. Bella pernah menjelaskan soal kecemburuan yang terkadang terasa keterlaluan.


Terpaksa, Nathan menghubungi Eldar untuk memanggil beberapa staf wanita agar Bella percaya. Tidak lama kemudian, terlihat Anis datang bersama satu lainnya. Hal itu membuat Bella merasa percaya.


"Ayo masuk." Ajak Anis seraya melingkarkan lengannya ke milik Bella.


"Itu Mbak aku.."


"Sudah Ayo. Mari Pak Nathan." Bella di seret lembut ke dalam Vila.


"Ini terlalu singkat Tuan." Ujar Eldar mengingatkan. Nathan tersenyum simpul dan mengeluarkan sebuah kontak kecil dari saku celananya.


"Hm ini yang ku inginkan. Kalau dia menolak, itu bagus. Biar dia merasa mempermalukan ku di hadapan para staf. Aku hanya ingin dia kembali percaya padaku meski itu berarti aku harus merendahkan diri." Jawab Nathan melangkah masuk. Sebuah rencana lamaran di persiapkan secara mendadak. Nathan ingin secepatnya mengembalikan kepercayaan, agar rencana pernikahan bisa segera di wujudkan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2