Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Bertemu Elena


__ADS_3

Demi melancarkan rencana, Bastian rela menunggu berjam-jam untuk bisa bertemu Kai. Hampir saja dia bosan dan menyerah. Ingin segera pulang ke rumah tapi rasa dengki nya pada Nathan sudah membuat otaknya memanas.


Bastian tersenyum ketika pengorbanannya membuahkan hasil. Kai hadir bersama Nay dan duduk tepat di hadapannya. Sambil melirik ke para ajudan yang berjajar, Bastian mengutarakan niatnya.


"Hanya sampai dia jerah Tuan." Nay menghela nafas panjang lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kai.


"Aku berhubungan baik dengan Pak Bisma. Sebaiknya jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan perkerjaan. Kamu harus ingat, pemakai bahan terbanyak adalah Asian group. Perusahaan akan mengalami penurunan penjualan."


Bastian menghembuskan nafas berat seraya tertunduk. Dia berusaha menipu Kai dengan memperlihatkan kesedihan yang teramat dalam.


"Paling tidak bantu saya untuk mendapatkan hati calon Istri saya. Pak Nathan sudah mengambilnya dan saya sangat mencintainya."


"Tujuan mu ke sini hanya untuk itu?!" Bastian mengangguk pelan." Menurut mu aku perduli?! Itu bukan urusan ku." Imbuh Kai ketus.


"Kalau em wanita itu pergi, berarti dia tidak menginginkan kamu. Masih banyak pilihan lain." Sahut Nay menimpali.


"Tapi saya hanya mau dia. Tolong Bu Naysila. Saya tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa."


"Kau fikir aku tempat curhat?!!! Sebaiknya kau pergi. Urusi masalahmu sendiri dan jangan meminta waktu untuk melontarkan hal bodoh ini." Kai hendak berdiri namun tangan Nay menahannya.


"Saya mohon Tuan. Saya hanya ingin Pak Nathan di singkirkan dari hidup Bella. Em saya tahu kalau Tuan bisa membantu memuluskan itu. Saya sudah menyiapkan dana yang cukup."


Bukan tanpa alasan Bastian datang ke sana. Semenjak pertemuannya dengan Eldar membuatnya langsung mencari tahu soal sosok Kai. Bastian mulai merencanakan hal buruk ketika dia tahu ada organisasi terlarang yang berjalan di belakang kekuasaan Kai.


"Bicarakan padanya." Menunjuk Alan yang tengah berdiri di samping Kai.


"Semua ada prosedurnya. Tapi mohon di fikirkan matang-matang." Sahut Alan tersenyum simpul. Tentu saja dia merasa senang sebab anak buahnya mendapatkan perkerjaan baru.


"Saya akan turuti prosedur nya."


"Biayanya sangat mahal."


"Tidak masalah."


"Hm." Alan mengambil sebuah kartu nama lalu memberikannya pada Bastian." Hubungi kontak itu kalau kamu memang serius." Wajah Bastian seketika sumringah. Akhirnya dia mendapatkan jalan untuk menyingkirkan Nathan dengan cara kotor.


"Terimakasih Tuan Kai, Pak Alan juga Bu Naysila. Saya permisi dulu." Setelah berpamitan, Bastian terlihat pergi meninggalkan ruangan.


"Selidiki dulu Al. Jangan sampai kamu memisahkan hubungan yang seharusnya. Aku tidak setuju." Kai menghela nafas panjang. Nay kerapkali menjadi pelembut dalam hidupnya yang kaku bak kanebo kering.


"Sebenarnya itu bukan urusan saya Nona."


"Hei kau berani melawanku?!! Sudah ku katakan. Kalian boleh melakukan apapun pada orang yang benar-benar bersalah." Itu kenapa Kai senang ketika Nay tidak ikut dalam pertemuan. Masalah yang seharusnya bisa terselesaikan dengan pertumpahan darah akan menjadi sulit karena ada permintaan penyelidikan.

__ADS_1


Tapi kerapkali apa yang di khawatirkan Nay benar-benar terjadi meski itu berarti, Kai tidak mudah untuk memutuskan. Segala hal harus melewati Nay yang tidak ingin Kai berbuat keji tanpa ada landasan.


"Baik Nona. Saya akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya."


"Ingat untuk memberikanku kabar. Kalau kau berani melangkah tanpa persetujuan. Akan ku suruh kau menikah dengan Jessy."


Alan tersenyum aneh, menatap kepergian Kai dan Nay. Di umurnya yang sudah berkepala empat, sama sekali dia tidak memikirkan untuk menjalin hubungan. Alan terlalu nyaman menikmati hidupnya sekarang. Menjalani tugas dan menyandang sebagai ketua gangster.


🌹🌹🌹


Sambil menunggu pesanannya di buat, Nathan mengambil minuman ringan dan meletakkannya di hadapan Bella. Tutup botol sudah terlihat di putar untuk memudahkannya minum.


Antrian masih sangat panjang sehingga keduanya memutuskan untuk duduk. Pesanan yang terlanjur di buat tidak dapat di batalkan begitu saja.


"Di sini makanannya enak. Mirip masakan rumahan." Ucap Nathan membuka pembicaraan. Sejak tadi tatapan Nathan tidak bergerilya seperti biasanya.


Aku yakin dia sedang menahan diri untuk berbelanja mata.


"Tapi kalau seperti ini, lebih baik membeli bahan."


"Oh berarti kamu bisa memasak?"


"Tidak." Jawab Bella cepat." Ayahku yang pintar memasak. Aku tidak bisa dan memang tidak berniat melakukannya. Kalau kau suka makan, lebih baik kau urungkan niat berhubungan dengan ku." Nathan tersenyum simpul seraya mengangguk-angguk.


"Berarti kita tidak sejalan. Kau suka makan dan aku tidak bisa masak." Bella tidak ingin kejadian saat dia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Leo terulang kembali. Selalu saja dia di sudutkan atas kelemahan tersebut.


"Aku bisa." Sontak Bella menatap ke arah Nathan.


"Mustahil kau bisa. Apa kau sedang menyamakan keahlian Ayahku?"


"Serius aku bisa. Dulu aku sering membaca resep masakan Mamaku. Em sampai saat ini buku resep itu masih ku simpan." Bella tersenyum aneh. Entah kenapa dia melihat sosok Pak Bisri ada pada Nathan.


Ayah juga bercerita itu? Apa ini hanya kebetulan atau.. Ah mana mungkin Ayah bercerita sejauh itu.


"Terkadang kalau aku rindu Mama. Aku memasak sendiri untuk menghilangkan rasa rindu tersebut." Sangat tidak mungkin jika kini Nathan tengah menipu. Hati Bella ikut tersentuh mendengar pengakuan Nathan. Seorang lelaki yang di anggapnya buruk, ternyata begitu menghormati Ibunya." Kalau kamu ingin tahu, kapan-kapan ku bawakan." Imbuhnya pelan.


"Ayahku juga punya. Aku memang malas. Aku tidak suka mengerjakan itu. Akan lebih baik aku berkerja untuk menyewa pembantu daripada harus... Em menghirup aroma dapur."


Nathan tidak bergeming dan masih menunjukkan senyuman. Hal itu membuat Bella tersindir dan mengira Nathan tengah meledeknya.


"Kau pasti mengumpat ku di dalam hati kan?" Nathan panik mendengar tebakan tersebut.


"Sama sekali tidak."

__ADS_1


"Aku sadar kalau aku bukan orang kaya. Tapi akan lebih baik aku membeli nasi bungkus tanpa lauk daripada harus memasak." Jawab Bella ketus.


"Hei aku tidak berfikir begitu. Aku yang akan melakukannya kalau memang kamu tidak bisa. Em kalau nanti aku sibuk dengan perkerjaan, kita bisa membelinya. Gampang kan? Ini hanya masalah perut, tidak perlu di perbesar. Sekarang zaman sudah semakin mudah. Sangat banyak restoran yang menyajikan menu enak dan lezat."


Bella melirik malas, dia tidak percaya pada Nathan begitu saja. Ucapan buruk yang di lontarkan Bu Rita kini berputar-putar di otaknya. Dia di sebut tidak becus mengurus Suami, boros dan tidak siap untuk menjadi Ibu. Itu kenapa dia tidak bisa hamil, begitulah umpatan Bu Rita yang sampai saat ini masih melekat di otak Bella.


"Nathan." Sapa Elena yang sudah berdiri di samping Nathan. Obrolan seketika terhenti, Bella mendongak begitupun Nathan." Sulit sekali menemui mu." Tangan Elena langsung melingkar ke pundak Nathan yang sontak berdiri sambil memundurkan tubuh. Hal itu membuat Elena memasang wajah masam. Cih! Masih saja angkuh padahal dulu dia memuji-muji ku.


Dia wanita yang datang ke rumah Nathan dulu. Apa mereka masih berhubungan sekarang?


Nyali Bella menciut sebab Elena terlihat begitu cantik. Rambutnya bergelombang dan panjang dengan kulit putih berkilap.


"Kau dungu?!" Umpat Nathan lantang. Suasana restoran yang tadinya ramai dengan obrolan seketika terhenti sesaat. Kini tatapan mereka berfokus pada Nathan yang tengah menunjuk Elena kasar.


"Apa salahku?" Tanya Elena tersenyum aneh. Tentu dia merasa malu namun terlanjur terjadi.


"Sudah ku katakan untuk tidak menyapaku, apalagi menyentuh ku!" Tarikan nafas terdengar berhembus dari rongga hidung Elena. Dia melirik ke Bella yang masih duduk.


"Sampai saat ini aku masih mengharapkan mu..."


"Aku tidak." Sahut Nathan cepat.


"Sampai kapan aku harus menunggu kamu kembali? Tante Marta sudah merestui hubungan kita." Meski Nathan menunjukkan wajah garangnya, namun Bella tetap saja tidak ingin berada di sana. Cemburu buta! Perasaan itu hadir menekan kuat ketika dia tertarik pada seseorang.


"Selesaikan masalahmu. Aku tunggu di mobil." Ucap Bella berniat pergi tapi tentu Nathan menahan langkahnya.


"Tidak. Dia yang harus pergi bukan kamu."


"Malas sekali mendengar kalian berdebat. Apa ini sebagian dari scenario?" Tebak Bella yang memang belum sepenuhnya percaya pada Nathan.


"Scenario apa Baby? Kenapa kamu masih saja seperti itu." Elena menoleh ke arah Bella, menatap sosok itu begitu tajam. Tidak cantik menurutnya, tapi nyatanya Nathan begitu lembut memanggilnya.


"Aku ingat siapa wanita ini. Selesaikan. Aku tunggu di luar." Bella menarik kasar tangannya lalu berjalan keluar restoran.


"Siapa dia Nath?" Menunjuk ke Bella.


"Tunangan ku. Kami akan menikah sebentar lagi." Nathan menuju meja kasir. Dia meminta si kasir untuk menghubungi kontaknya kalau pesanan sudah selesai. Setelah meletakkan kartu nama, bergegas saja dia keluar menyusul Bella tanpa perduli pada teriakan Elena.


"Kalian tidak akan di restui! Hanya aku yang boleh bersama mu Nath!!!" Teriak Elena menggema. Sialan!! Aku harus bicarakan ini dengan Tante Marta. Awas kamu Nath!!


Elena terpaksa pergi dengan kekesalan yang berkecamuk di hati. Dia berniat langsung menuju rumah Pak Bisma untuk membicarakan pertemuannya dengan Nathan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2