
Ketika makan malam tiba. Banyak sajian tertata di meja makan. Sedikit tidak pantas sebab Pak Bisma tengah terbaring sakit. Seharusnya Marta bisa lebih prihatin tapi wajah bahagia yang di perlihatkan membuat Bella menimbang perkataan Nathan.
"Mama sengaja memesan banyak makanan agar Bella cepat hamil." Ucapnya seraya berdiri. Dia membalikan piring milik Nathan dengan sedikit mencondongkan tubuhnya. Nathan mendengus, berusaha menghindar dengan menggeser kursi yang di duduki namun Marta tidak juga berhenti.
"Biar saya Ma." Bella mengambil centong nasi dari tangan Marta yang langsung memasang wajah masam.
"Astaga. Apa kamu cemburu pada Mama?" Tanya Marta cenderung mengejek.
"Mama bukan Ibu kandung Mas Nathan. Sangat tidak pantas terlalu dekat." Sindir Bella cukup merasa lelah menegur sikap Marta yang seperti ulat kepanasan.
"Itu karena Mama ingin Nathan menganggap sebagai Ibu kandungnya."
"Mana bisa seperti itu Ma. Kalian tetap orang lain." Marta tertawa kecil walaupun di dalam hati merasa sangat kesal atas sikap Bella. Dia semakin tidak terkendali saat berdekatan dengan Nathan.
"Jangan begitu Bella. Tidak baik cemburu buta."
"Saya melihatnya bukan cemburu buta!!!"
Bella mulai tersulut emosi. Sikap ini juga di tunjukkan ketika dia menjalani biduk rumah tangga bersama Leo. Hanya perbedaannya, Leo malah berbalik menyalahkan sedangkan Nathan mendukungnya.
"Jaga jarak! Saya tidak suka." Bella meletakkan satu centong nasi berserta lauk pauk. Marta masih berdiri memperhatikan dengan wajah masam.
"Kita makan di dalam kamar saja." Nathan membawa piring miliknya lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sementara Bella masih mengambil makanan untuknya.
"Kamu tidak curiga kenapa Nathan memilih mu padahal masih banyak wanita yang lebih cantik darimu." Ucap Marta mulai menghasut. Dia memastikan jika Bella wanita pencemburu berat.
"Tidak."
"Nathan itu hobi bergonta-ganti wanita. Mantan kekasihnya sangatlah cantik. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia memilihmu." Bella menghela nafas panjang. Belum lama mereka tinggal bersama, Marta sudah menunjukkan keburukannya.
"Saya tidak ingin di mengerti oleh anda. Bukankah lebih baik anda berkaca? Agar anda bisa bersikap selayaknya Mama bukan wanita penggoda." Bella tersenyum simpul kemudian pergi menyusul Nathan. Dia merasa ucapan tidak sopan itu pantas di lontarkan pada Marta.
Di dalam kamar, Bella mengungkapkan kekecewaannya dengan mengaduk-aduk makanan di hadapannya. Belum apa-apa perasaan kian memburuk setiap jamnya.
"Kita pergi setelah pesta." Pinta Nathan seraya mengunyah.
"Kasihan Ayah."
"Sesuai janji, aku tidak mau kamu tertekan dan membuat Ayahmu kecewa padaku."
Sungguh Nathan tidak ingin terjadi lagi salah faham apalagi sampai membuat kepercayaan Bella dan Pak Bisri runtuh.
"Katakan apa yang kamu tahu soal Mama Marta? Aku merasa sikapnya tidak mencerminkan orang tua." Nathan meletakkan sendok lalu menatap sendu ke arah Bella.
"Seperti yang terlihat Baby. Dia pernah mengajakku berselingkuh saat aku masih tinggal di sini. Itu kenapa aku memilih pergi daripada harus melihat wanita itu berkeliaran dan menggantikan posisi Mama." Bella menghembuskan nafas berat. Kenyataan yang terdengar menjijikkan baginya.
"Kamu sudah bilang itu pada Ayah mu?"
"Hm ya. Dia menamparku sebab aku masih jadi lelaki brengsek. Dia fikir aku menyukai wanita itu padahal aku ingin memberitahu."
"Sedikit berat karena aku pencemburu. Kenapa kehidupan pernikahan ku selalu berhubungan dengan hal seperti ini."
__ADS_1
"Cerita ini berbeda."
"Ya Mas." Nathan meraih jemari Bella dan mengecup punggung tangannya.
"Percayalah, aku bosan dengan hal seperti itu." Bella tersenyum simpul. Fikiran negatif begitu mudah menembus otak sampai-sampai dia membayangkan Nathan akan menduakan nya suatu hari nanti.
"Aku berusaha percaya Mas. Tolong jangan di rusak. Em kita harus memeriksa keadaan Ayah." Bella berdiri seraya membawa piring yang masih utuh dengan makanan.
"Makan dulu. Ingat, besok pesta pernikahan kita. Tubuhmu harus fit."
"Aku tidak lapar." Bella berjalan keluar kamar di ikuti oleh Nathan. Mana mungkin dia bisa makan ketika melihat kekhawatiran terpatri pada mimik wajah Bella.
"Biar ku bawa." Nathan mengambil alih piring.
Saat keduanya mencapai ujung tangga, terlihat Eldar datang bersama Alan juga beberapa anak buahnya. Nathan meletakkan piring sembarangan dan bergegas menemui mereka.
"Maaf Tuan menganggu. Em ini Alan, dia akan melakukan pengecekan."
"Pengecekan apa?"
"Prosedur untuk pesta yang bisa di datangi Tuan Kai. Harus ada pemeriksaan keamanan." Sahut Alan cepat. Dia sempat tersenyum ramah ke arah Bella untuk memberikan salam.
"Ya sudah lakukan."
"Maaf Tuan lancang."
"Hm tidak apa." Jawab Nathan mengizinkan. Dia tahu Kai bukanlah orang sembarangan. Apalagi di dalam rumahnya tidak ada hal membahayakan seperti senjata api dan sejenisnya.
Alan mengangguk sebentar lalu mulai menyusuri area sudut rumah. Tidak ada CCTV sehingga dia menyarankan Nathan untuk memasangnya.
Bukan tanpa alasan Alan menyarankan hal tersebut sebab kedatangannya tidak hanya memeriksa keamanan.
Sebaiknya ku pasang cepat mumpung wanita itu sedang ke apotik.
Setelah mendapatkan persetujuan, Alan memasangkan CCTV canggih yang hanya di tempelkan pada setiap sudut ruangan. Banyaknya anak buah membuat perkerjaan mereka cepat terselesaikan.
"Lihat Tuan. Ini langsung terhubung di ponsel." Alan mengunduh sebuah aplikasi agar Nathan bisa memantau CCTV.
"Aku baru tahu ada kamera sekecil itu."
"Hm. Saya akan ke belakang." Alan berjalan ke belakang untuk memeriksa perkerjaan anak buahnya.
"Saya harap Tuan tidak memberitahu soal ini pada Bu Marta." Pinta Eldar berbisik. Maniknya menatap Bella yang tengah memeriksa keadaan Pak Bisma.
"Ada apa?"
"Nanti Tuan akan tahu. Semoga dengan bantuan mereka, kehidupan Tuan bisa kembali normal."
"Apa yang kalian rencanakan?"
"Sabar Tuan. Biarkan mereka yang berkerja."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Eldar memilih pergi daripada harus mendengar banyaknya pertanyaan. Dia hanya berharap semoga Pak Bisma bisa terlepas dari sakitnya setelah kebusukan Marta bisa terbongkar.
.
.
.
.
Jessy memotret segala aktifitas yang di lakukan Marta. Dia juga berhasil mendapatkan bukti ketika Marta membeli obat tidur juga obat pengganti untuk tablet Pak Bisma.
Elena yang merasa kecewa, tidak mau melanjutkan persengkongkolan nya. Sehingga mau tidak mau Marta harus membelinya sendiri.
Keinginannya untuk menghancurkan pernikahan Nathan kian menggebu. Marta membeli obat tidur agar rencana esok berjalan mulus.
Setelah selesai dengan urusannya, Marta masuk ke dalam taksi dan memutuskan untuk pulang.
"Terget sudah pulang." Ujar Jessy memberitahu Alan lewat telepon.
.
.
.
Singkat waktu setibanya di rumah. Alangkah terkejutnya Marta ketika melihat Nathan dan Bella tengah berada di kamar Pak Bisma. Padahal dia memperkirakan keduanya masih ada di kamar mengingat kepergiannya tidak sampai satu jam.
"Loh kalian." Sapa Marta tersenyum canggung.
"Kenapa Ayah di tinggal sendiri?"
"Hanya pergi sebentar."
"Kemana?" Tanya Bella lagi.
"Tidak semua urusan kalian harus tahu."
"Ya memang. Tapi seharusnya anda memanggil kami sebelum meninggalkan Ayah." Gleg! Marta menelan salivanya kasar. Dia sengaja pergi diam-diam sebab berfikir jika Bella dan Nathan tidak mungkin turun ke bawah.
"Sudahlah jangan di perbesar." Nathan menghela nafas panjang. Sejak tadi dia memilih diam sambil mengutak-atik ponsel nya. Nathan mulai malas dan jenuh melihat Marta yang sejak awal berusaha menutupi kebohongan.
"Malam ini kami tidur di sini." Marta tersenyum aneh. Bagaimana bisa dia mengganti obat milik Pak Bisma kalau Bella dan Nathan ada di sana.
"Biar Mama saja." Nathan berdiri sambil memaksa Bella untuk ikut berdiri.
"Itu tanggung jawabnya." Sahut Nathan seraya mengiring Bella pergi.
"Tapi Mas Ayahmu."
"Sudahlah Baby. Aku muak melihat wanita itu." Jawab Nathan lantang. Marta melirik malas sambil menatap keduanya geram.
__ADS_1
Lihat apa yang akan ku lakukan pada pesta pernikahan kalian besok. Aku pastikan Bella langsung menuntut cerai.
🌹🌹🌹