Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Hampir hancur


__ADS_3

Malam itu Marta berhasil mencampurkan obat tidur pada minuman Nathan dan Bella. Tidak adanya pembantu, membuat rencana berjalan mulus tanpa kendala. Fikirnya!


Tidak lupa, dia juga mengganti isi obat Pak Bisma agar keadaannya kian memburuk. Target Marta akan tercapai beberapa hari lagi.


Saat tua bangka ini meninggal, Bella menurut cerai dan ketika itu terjadi, aku masuk sebagai Mama yang baik.


Begitulah rencana buruk yang ada di otaknya. Keberadaan Nathan di rumah tersebut semakin membuat ketertarikan kian menggebu. Sungguh Marta ingin segera memiliki Nathan seperti rencananya sejak awal.


Setelah memastikan Nathan terlelap tidur. Marta masuk ke kamar Nathan sambil membawa kunci serep yang berhasil di ambil. Dia memasukkan kunci tersebut dan ketika pintu terbuka, Nathan dan Bella sudah terlelap tidur.


Marta tersungging, dia melangkah masuk sambil mendorong kursi roda. Marta sempat berdiri mematung seraya memperhatikan betapa sempurna paras tampan Nathan. Dengan gilanya kepalanya di tundukkan dan sempat mengecup bibirnya sejenak.


Sebentar lagi pernikahan mu akan hancur.


Marta menyeret tubuh Nathan dan mendudukkannya di kursi roda. Meski bersusah payah namun dia bisa melakukannya.


Kursi roda di dorong menuju kamar yang terletak tepat di samping. Dia kembali menyeret tubuh Nathan dan menidurkannya di sofa.


Sebelum melakukan hal yang lebih gila lagi, Marta mengembalikan kursi roda ke kamar Pak Bisma. Terlihat matanya hanya mampu mengikuti kemana Marta melangkah.


Apa yang di lakukan wanita itu?


Ingin rasanya Pak Bisma menegur. Tapi bibirnya bungkam dan sulit berkata. Kondisinya yang kian memburuk membuatnya hanya mampu melihat tanpa berprotes.


Setelah mengembalikan kursi roda. Marta masuk ke dalam kamar di mana Nathan terlelap di sana. Dia sengaja menutup pintu tanpa menguncinya agar esok pagi Bella bisa menemukan mereka di sana.


Marta mengganti baju yang di pakai dengan gaun malam yang tipis. Dia juga melepas kaos yang di kenakan Nathan lalu tidur di sisinya.


Sofa yang tidak seberapa lebar, membuat tubuh keduanya menempel erat. Tangan lentiknya mulai mengusap dada bidang di sampingnya bahkan mencumbui nya.


Tentu saja hasrat langsung menjalar. Dessahan terdengar menggema. Keberadaan Nathan sangat membuatnya bersemangat melampiaskan naffsu. Dia bahkan menunggangi tubuh Nathan yang kala itu tertidur lelap. Menggerak-gerakkan pinggulnya seakan tengah melakukan hubungan selayaknya pasutri.


.


.


.


.


Keesokkan harinya...


Bella terjaga dan terduduk, dia menetap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Nafas panjang berhembus ketika dia menyadari Nathan tidak ada di sisinya.


Sudah berapa hari ini keduanya tidur saling mendekap. Ritual percintaan panas wajib di lakukan sebelum tidur namun semalam mereka tidak melakukannya. Cukup aneh sebab biasanya Nathan tidak pernah absen dan begitu lihai merangsang Bella untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.


Apa penata rias dan pihak catering sudah datang? Bukankah acara baru di mulai siang?


Begitulah tebakan awal sebab dekorasi sudah selesai sejak semalam.


Bella mengikat rambutnya sembarangan. Lalu menurunkan kakinya dan berniat mencari keberadaan Nathan. Mungkin saja sang Ayah sudah tiba lebih awal atau Nathan sedang berada di kamar Pak Bisma.


Saat kaki Bella akan menuruni tangga, matanya sempat melirik ke kamar samping yang terbuka sedikit. Dia mengurungkan niat ke lantai satu dan memilih berjalan ke arah kamar.


Selain hendak menutup, dia juga ingin memeriksa keadaan kamar sebab setahunya, kamar tersebut kosong.


Dengan harap-harap cemas, Bella mendorong sedikit daun pintu dan sempat berhenti bernafas ketika melihat pemandangan di dalam.

__ADS_1


Apa ini?


Hati Bella berkedut nyeri di sertai manik berkaca-kaca. Keburukan yang Nathan torehkan membuatnya langsung menebak jika Nathan memang tidak bisa berubah sesuai janji.


Bella melangkah masuk, mengambil satu teko air dan menguyur keduanya. Sontak Nathan terbangun begitupun Marta yang sebenarnya sudah terjaga sejak tadi. Sengaja dia berpura-pura tidur untuk mengatur posisi keduanya agar lebih menyakinkan.


"Aku tidak percaya tapi ini nyata!!" Ucap Bella sambil berderai air mata. Nathan yang belum sepenuhnya sadar, merasa bingung melihat keadaan sekitar.


"Kenapa aku di sini?" Gumamnya seraya berdiri. Sesekali keningnya di pijat sambil memejamkan mata akibat pusing ringan.


"Sudahlah Nath. Katakan saja hubungan kita sebenarnya." plaaaaaakkkkkk!! Di tengah rasa pusing, tamparan keras Bella membuat Nathan semakin bingung.


"Aku akan menggugat cerai." Bella melangkah keluar di ikuti oleh Nathan yang jalannya sempoyongan.


"Baby. Aku tidak mengerti masalahnya. Tunggu, ahh kepalaku pusing sekali." Desis Nathan menahan nyeri kepala.


"Seharusnya aku tahu kalau kamu tidak akan bisa berubah!!!" Sesuai tebakan. Keanehan yang terjadi pada Nathan seketika musnah semenjak janji suci di ambil.


"Aku tidak mengerti. Tolong, beri waktu sebentar. Kepalaku pusing sekali." Marta sengaja menambahkan dosis tinggi pada Nathan agar kesulitan sadar seperti sekarang.


"Tidak mengerti?!! Kau tidur di sana bersama wanita itu!! Munafik kamu Mas!!"


Tubuh Nathan di dorong kasar namun dekapan hangat berusaha di berikan meski Bella menolak. Dari balik pintu Marta tersenyum simpul melihat perdebatan di hadapannya. Dia merasa rencananya berhasil.


Haha obat itu akan membuat Nathan sulit menjelaskan..


"Lepas!! Untuk apa kau melakukan ini!!" Tubuh Bella memberontak, berharap Nathan melepaskan agar dia bisa pergi dari rumah tersebut.


"Aku sedang mengingat-ingat." Eluh Nathan pelan. Dia sungguh melupakan kejadian semalam. Terakhir kali ingatan terhenti pada teh hangat yang biasa di minum.


"Dia yang meminta, aku bisa apa." Ucap Marta memang menginginkan Nathan dan Bella berpisah. Kecemburuan di jadikan alat untuk memuluskan rencana.


"Cuuuuhhhhhh!!!" Bella meludahi wajah Marta lalu berjalan menuju tangga. Dengan langkah tergesa-gesa dia menuruninya.


Saat Bella membuka pintu utama, terlihat sebuah mobil terparkir. Eldar keluar dari sana bersama Istri dan anaknya.


Tentu saja Bella mematung, mencoba memperlihatkan senyum meski sudut matanya mengeluarkan air mata.


"Nona kenapa ada di luar?" Tanya Eldar basa-basi.


"Saya khusus datang untuk menghadiri pernikahan Nona Bella. Em anak-anak juga merindukan anda." Sahut Istri Eldar menimpali.


"Penuhi janjimu Pak. Antar aku pergi dari tempat ini." Pinta Bella pelan bersamaan dengan datangnya Nathan yang masih berjalan sempoyongan. Obat tidur yang di berikan terlalu banyak sehingga menimbulkan efek seperti sekarang.


"Tidak. Kamu tidak boleh pergi. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi." Jawab Nathan cepat. Masih saja tangannya memijat pelipis berharap nyeri kepala menghilang.


"Bawa aku pergi Pak tolong." Eldar menghela nafas panjang dan berjalan menghampiri keduanya. Istrinya mengusap-usap punggung Bella agar fikirannya bisa lebih dingin.


"Jangan El sebentar. Kepalaku pusing sekali."


"Sebentar Nona." Ucap Eldar semakin membuat Bella tidak sabar. Rasa cemburu tengah mengkontaminasi otaknya yang mengakibatkan uap panas bergejolak di dalam.


"Sebentar kau bilang!!" Teriak Bella geram. Bersamaan dengan itu datanglah sebuah mobil. Alan dan beberapa anak buahnya keluar dari sana.


"Pagi Pak Eldar."


"Mana polisinya. Kalian sudah mendapatkan bukti tersebut kan." Tanyanya pelan. Pintu mobil tengah terbuka, Nay keluar dari sana bersama Kai sehingga membuat Bella mengatur nafas sejenak untuk meredam emosi.

__ADS_1


"Polisi tidak mungkin cukup untuk menghukum orang itu." Sahut Nay tersenyum. Satu lagi orang munafik yang perlu di berikan pelajaran berharga sebelum di eksekusi. Raut wajahnya begitu berseri-seri. Bukan karena merasa senang bisa bertemu dengan Bella namun Nay senang kembali mendapatkan mainan setelah puas menyiksa Lisa dengan perbuatan di luar nalar.


Bergegas saja Alan menyerbu masuk lalu menyeret paksa Marta keluar.


"Apa ini!!!" Teriak Marta tentu tidak terima.


"Tuduhan percobaan pembunuhan dengan penyalahgunaan obat. Anda bisa di hukum berat atas itu." Jawab Alan menjelaskan. Eldar menyuruh anak Istrinya masuk sementara Nathan hanya jadi penonton karena pusing masih bertengger di kepala.


"Apa maksudmu!!!"


"Sudah ada bukti CCTV yang memperlihatkan. Bu Marta sengaja mengganti obat Pak Bisma." Mata Marta melebar sambil menelan salivanya kasar.


"Tidak. Itu tidak benar!!" Jawabnya menyangkal.


Alan berjalan ke arah mobil dan mengambil laptop. Dia menunjukkan jejak CCTV yang di kumpulkan juga adegan saat Marta sengaja membawa Nathan ke kamarnya. Perbuatan menjijikkan yang di lakukan bahkan terekam jelas. Di mana Marta menjadikan Nathan sebagai alat pemuas naffsu.


"Tuan tidak bersalah Nona. Dia memang tidak tahu apa-apa karena obat tidur mempengaruhi kalian." Meskipun kebenaran itu sudah terungkap namun Bella tetap saja jijik ketika mengingat Nathan bersentuhan dengan Marta.


"Ya Bella, em ini hanya salah faham. Astaga kecemburuan yang manis sekali." Nay malah mengucapkan begitu sementara Kai memilih diam. Lagi lagi dia terpaksa ikut karena tidak ingin Nay pergi sendiri. Rasa sosial yang ada pada diri Nay terkadang membuatnya pusing sampai harus berkecimpung dalam masalah orang lain.


"Aku tidak mau masuk penjara. Aku akan pergi dari sini." Teriak Marta meminta sebuah pengampunan namun dengan intonasi suara yang salah.


"Oh baik. Ada dua pilihan. Masuk penjara atau ikut bersama ku?" Nay tersenyum mengembang, lebih tepatnya sebuah senyuman kematian.


"Ikut? Memangnya kalian siapa?!!"


"Aku suka nada bicara mu. Ini akan terasa lebih menyenangkan." Segera saja Nay menodongkan sebuah senjata api pada pelipis kiri Marta.


Bella yang melihat itu terlihat panik, tangan kecil nan lentik itu mampu memegang senjata dengan begitu lihai. Walaupun Eldar sudah pernah menceritakan soal kekuasaan Kai namun tetap saja dia berada terkejut melihat adegan di hadapannya.


"Aku tidak takut!!! Keluargaku akan mencari kalian!! Ayahku seorang pejabat dan kalian akan mendekam di penjara karena berani mengancam ku!!"


Rupanya selama ini Marta sengaja berbuat semaunya. Dia yakin tidak akan tersandung masalah karena sang Ayah merupakan pejabat negara.


Nay terkekeh nyaring. Bella berkerut keningnya sementara Eldar hanya tersenyum. Tangan Nay melingkar erat pada pinggang Kai yang masih tidak angkat bicara.


"Sayang, dia membanggakan Ayahnya." Kai menghela nafas panjang, tersenyum simpul menanggapi sikap Istrinya."Pejabat yang menghabiskan uang rakyat milyaran rupiah itu maksudmu." Imbuhnya penuh ejekan.


"Ayahku tidak seperti itu!!"


"Ini terlalu lama." Eluh Kai tidak sabar.


"Em masukkan dia ke mobil Al."


"Lepas! Kalian akan menyesal!" Teriak Marta meronta-ronta.


"Aku tunggu kedatangan Ayahmu." Seperti sebuah barang, Marta di masukkan ke dalam bagasi belakang mobil." Siang ini kami akan datang Bella. Sebaiknya kamu selesaikan urusan dengan Suami mu. Ini hanya salah faham." Bella hanya menghela nafas panjang." Aku permisi. Em Suamiku orang yang tidak sabaran. Jangan mengecewakan. Aku ingin melihatmu tampil cantik saat pesta nanti." Setelah mengatakan itu Kai mengiring Nay masuk ke dalam mobil. Istri Eldar keluar dengan membawa secangkir teh panas agar pusing pada kepala Nathan bisa berkurang.


"Silahkan di minum Tuan." Tawarnya sopan.


"Mari masuk Nona. Kita perjelas masalah ini sebelum saya menjemput Pak Bisri."


"Aku malas melihat nya." Bayangan kejadian tadi masih berputar-putar di otak.


"Nona lihat sendiri. Tuan belum sepenuhnya sadar. Obat itu masih mempengaruhi." Bella melirik ke arah Nathan yang sejak awal memang berusaha membuka matanya hanya untuk menjelaskan." Saya mohon tunggu sebentar lagi. Setelah Tuan pulih. Kita bicarakan ini baik-baik." Bella hanya mengangguk lalu kembali masuk tanpa melihat ke arah Nathan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2