
Setelah melewati permintaan maaf yang panjang. Akhirnya Bella bisa menurunkan egonya.
Meski ini bukanlah pernikahan pertama baginya, tapi kemegahan dan kemeriahan pernikahan membuatnya terkesan.
Seluruh staf Asian group di undang termasuk Leo. Bella sendiri tidak tahu menahu soal keluarga Leo yang sudah berantakan paska kepergiannya.
Bu Rita bahkan sudah meninggal beberapa bulan lalu akibat penyakit komplikasi. Seakan mendapatkan cerminan atas perbuatannya, Leo berusaha ikhlas bahkan hadir bersama Pak Salim Ayahnya. Dia menyiapkan kado spesial untuk wanita yang di anggapnya spesial meski terlambat untuk mengakui.
"Semoga selalu di berikan kebahagiaan." Ucap Pak Salim seraya menelungkup wajah Bella.
"Aku berusaha rela dan ikhlas. Ada hadiah untuk kalian." Walaupun Nathan tidak memperbolehkan membawa hadiah, namun dia membiarkan ketika Leo memberikan sebuah kotak kecil pada Bella.
"Terimakasih Mas. Semoga kedepannya kamu segera menyusul." Leo tersenyum simpul. Ada sesal terpatri pada mimik wajahnya.
"Entahlah. Aku kehilangan selera untuk memulai. Em kapan-kapan mampir dan kunjungi makam Mama. Aku yakin dia ingin bicara banyak padamu."
"Ya. Akan ku usahakan." Hanya itu yang dapat Bella ucapkan. Meski Bu Rita menorehkan kenangan buruk tapi tetap saja dia ingin berkunjung ke pusaran nya sesekali.
Namun meski maaf sudah berhasil di dapatkan. Rasa kesal melihat pemandangan tadi pagi membuat Bella enggan di sentuh. Jika bukan karena pesta, mungkin sentuhan tangan pun enggan Bella berikan.
Hal itu baru di ketahui saat pesta usai pukul enam sore. Setelah baju pengantin di tanggalkan, Bella cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu Nathan. Walaupun baru beberapa hari menikah, ritual mandi bersama hampir setiap hari mereka lakukan. Mungkin karena keduanya sudah sama-sama berpengalaman sehingga begitu mudah untuk memulai.
"Baby.. Tolong buka pintunya." Panggil Nathan seraya mengetuk-ngetuk pintu.
Tidak ada jawaban padahal cukup lama dia berdiri di sana. Pintu kokoh itu tidak mungkin mudah di robohkan sehingga Nathan memilih menunggu.
Satu jam kemudian, Bella keluar dengan pakaian lengkap. Bergegas saja Nathan berdiri dan menghampiri.
"Kelihatannya kamu masih marah." Tanyanya memastikan.
"Menurut mu bagaimana Mas? Sebaiknya malam ini kita tidur terpisah. Kau di sofa dan aku di ranjang." Nathan tersenyum aneh. Itu terdengar memberatkan baginya.
"Sudah ku jelaskan. Ini bukan salahku." Sebelum Alan menghapus bukti video, Bella sudah menontonnya agar tidak terjadi salah faham.
"Aku tidak mau dengar penjelasan." Bella tersenyum simpul. Dia mendorong tubuh Nathan lalu berjalan melewati.
"Ya oke baik. Sesuai janji, silahkan saja cemburu sesuka mu. Tapi awas kalau nanti kamu kedinginan lalu membutuhkan ku."
Nathan mencoba menerima sikap apapun yang di tunjukkan Bella. Dia ingin menepati janjinya untuk selalu mengerti dan lebih cenderung mengalah.
"Mana mungkin begitu." Jawab Bella ketus.
"Hm.. Aku mandi dulu Baby. Kalau berubah fikiran bilang padaku ya." Bella hanya mendengus seraya melirik malas. Dia memutuskan untuk memeriksa keadaan Pak Bisma setelah menyisir rambut.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Beberapa bulan berlalu. Kesehatan Pak Bisma membaik bahkan saat ini beliau sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat.
Seorang perawat di pekerjakan atas permintaan Pak Bisma sebab dia merasa kasihan pada Bella yang sebenarnya tidak keberatan merawat. Namun dari permintaan Pak Bisma membuat Nathan tersadar jika keputusan Pak Bisma menikahi Marta karena tidak ingin terlalu merepotkan.
"Kalau kamu ingin tinggal bersama Ayahmu, tidak apa Nak. Em Ayah sudah sangat baik, Eldar juga sering datang ke sini." Ucap Pak Bisma tersenyum hangat. Dia sangat bahagia melihat perubahan Nathan yang kini sudah bisa berfikir dewasa.
"Ayah belum baik-baik saja. Kalau masalah Ayah saya, em beliau banyak teman di sana. Ada para pembantu yang setiap hari bisa di ajak teman bicara. Mas Nathan juga membukakan usaha kecil-kecilan meubel agar Ayah saya ada kesibukan."
Pak Bisma mengangguk-angguk seraya tersenyum hangat bersamaan dengan datangnya Nathan. Segera saja Bella berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Kok telat." Tanya Bella berbisik. Melihat tangan Nathan yang tidak membawa apapun.
"Tadi pertemuannya di Cafe." Mimik wajah Bella seketika berubah. Memiliki Suami tampan membuatnya was-was setiap detiknya.
"Oh." Jawabnya singkat. Berjalan menaiki tangga menuju kamar dan menutup pintu sedikit keras.
Padahal tadi sudah ku ajak.
"Sangat baik Nak." Nathan mencium punggung tangan Pak Bisma.
"Aku masuk dulu Yah."
"Ya. Suruh Bella makan, sepertinya dia belum makan siang." Gleg! Saliva Nathan tertelan kasar. Semenjak menikah, Bella kerapkali menunggunya makan sampai rela menahan lapar.
Akan ada perang besar.
Nathan menaiki anak tangga seraya memesan delivery. Dia fikir Bella sudah memesan untuk makan siang. Apalagi dia tidak membawa oleh-oleh padahal jurus itu cukup ampuh untuk merendahkan kemarahan.
"Kamu belum makan?" Tanya Nathan pelan hampir tidak terdengar. Kemarahan Bella mampu merontokkan nyalinya.
"Untuk apa bertanya hal itu."
"Aku juga tidak tahu Baby. Ku fikir pertemuannya di perusahaan." Bella tidak bergeming, dia duduk sambil menonton televisi. Helaan nafas panjang yang berhembus menandakan jika hatinya di liputi kekesalan." Ya maaf. Aku tadi akan mengajakmu tapi kamu.." Nathan tersenyum aneh ketika Bella menoleh dan menatapnya tajam.
"Lalu Ayah sendirian di rumah?! Apa aku tega melakukan itu. Kamu juga tahu kan kalau perawat meminta libur dua hari!"
Padahal ponsel ada. Seharusnya dia bisa memesan makanan sendiri.
"Kamu pasti sedang menggerutu di dalam hati!" Tebakan Bella membuat Nathan semakin panik.
"Tidak. Mana mungkin. Aku sudah memesan makanan untuk kamu."
__ADS_1
"Aku tidak berselera! Makan sendiri dan habiskan sendiri! Tidak perlu memikirkan ku!" Nathan melirik ke sebuah rak kaca. Dia ingin memeriksa mungkin pembalut milik Bella berkurang.
Masih utuh. Kenapa semarah ini?
"Aku juga belum makan."
"Belum ya? Terus kenapa tidak membungkus makanan?!
"Aku fikir kamu sudah memesan makanan."
"Oh jadi kamu menyalahkan ku tidak memesan makanan."
"Bukan begitu."
"Sudahlah Mas."
"Ayolah jangan marah." Nathan menghela nafas panjang ketika melihat manik Bella mulai berkaca-kaca." Aku sudah meminta maaf. Lain kali kalau ada pertemuan kamu ikut saja." Imbuhnya merajuk.
"Aku lapar tapi kau malah enak-enakan makan dengan relasi mu."
Dugaan yang begitu peka. Apa yang Bella katakan memang benar adanya. Tapi Nathan hanya berusaha menghormati permintaan para relasi dan bukan berniat ingin makan sendiri.
Walaupun terkadang kemarahan Bella tidak masuk akal. Sebisa mungkin Nathan berusaha mengalah, meminta maaf dan menerima kemarahan dalam bentuk tamparan ataupun ucapan kasar.
Tamat
Hoiii reader...
Dengan berat hati, aku tamatkan novel ini🙏
Sebenarnya masih banyak yang perlu di bahas tapi sepertinya minat pembaca kurang mendukung 😁🤭Mungkin karena aku terlalu amatir😆
Mungkin dari kalian banyak yang bertanya-tanya.
Apa Bella bisa hamil?
Bagaimana nasib Bastian? Apa dia mati? Atau masih hidup?
Yang terpenting kehidupan Bella sudah membaik paska perbuatan Nathan 🥱
Sesuai rencana, aku ingin melanjutkan novel keduaku yang akan membahas Darrel anak dari Kai dan Naysila.
Judulnya 👉 Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Yang penasaran yuk mampir🙂
Tinggal klik akun ku atau ikuti agar tidak ketinggalan cerita-cerita recehku 😍🥰
Terimakasih untuk yang sudah mendukung. Memberikan like berkomentar, pokoknya terimakasih untuk kalian semua 🎉🎉
Love you all... Aku tunggu di novel terbaru ku ya💙
__ADS_1