
Lisa kembali tidak kuliah. Dia datang ke Apartemen untuk menemui Stefan dan menanyakan hasil tes DNA.
Seperti biasa, Stefan sudah menunggu kedatangan Lisa di lobby sebab tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam apartemen mewah tersebut.
"Kamu harus menghabiskan waktu bersama Leo." Sontak Lisa menatap kecewa ke arah Stefan.
"Berarti dia anak Mas Leo?" Tanya Lisa memastikan.
"Apa kamu siap?"
"Tidak sayang. Berarti kamu mau melepaskan ku?" Stefan terkekeh seraya mengusap puncak kepala Lisa.
"Tidak sayang. Ini anakku." Jawab Stefan sambil mengusap perut rata Lisa.
"Mana jawaban yang benar?" Tanya Lisa setengah merengek.
"Ini anakku. Kita sekarang temui Leo dan menunjukkan ini agar kalian bisa bercerai." Lisa tersenyum simpul seraya bersandar manja pada pundak tegap Stefan.
"Tunggu satu bulan lagi sayang."
"Kenapa begitu?" Lisa merogoh tasnya dan menunjukkan sebuah kunci mobil mewahnya.
"Sampai surat mobil ini turun lalu aku akan menurut cerai."
"Aku bisa membelikan yang lebih dari ini."
"Pokoknya aku mau begitu. Rugi sekali kalau aku tidak mendapatkan banyak harta dari lelaki loyo itu."
Stefan tersenyum seraya mengangguk. Dia takut mengecewakan Lisa. Stefan juga kerapkali memutuskan sesuatu yang bodoh seperti sekarang.
Seharusnya kata-kata Lisa tadi membuatnya menjauh sebab perangai buruk sudah di tunjukkan. Bagaimana nantinya kalau Stefan jatuh miskin? Sudah pasti Lisa akan meninggalkannya.
"Kita masuk saja ya." Pinta Lisa manja.
"Setelah ini aku ada pertemuan dengan relasi penting. Kamu ikut ya."
"Nanti kalau ketahuan bagaimana?"
"Ketahuan ya bercerai. Aku akan mengganti rugi dan memberikan mobil yang lebih mahal dua kali lipat daripada itu."
Lisa tersenyum sumringah. Stefan lebih royal daripada Leo. Lelaki itu tidak pernah itung-itungan dan itu salah satu alasan kenapa Lisa enggan menjauh. Selayaknya pasangan pasutri, Stefan memberikan uang jajan yang berjumlah fantastis setiap bulannya.
"Kita makan siang dulu. Aku lapar sayang."
"Hm oke ayo."
Keduanya berjalan keluar lobby menuju parkiran. Sengaja Lisa tidak memakai mobil mewahnya untuk menghilangkan jejak. Tapi setelah mendengar janji yang di lontarkan Stefan. Membuatnya tidak perduli jika nanti hubungan gelapnya di ketahui.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Sudah dua hari lamanya, amplop coklat pemberian Nathan belum juga di ambil. Meskipun Bella sudah memintanya mengambil, tapi Nathan tidak bergeming seakan acuh.
Sesuai yang tertulis di artikel. Kini Nathan berusaha menahan diri dan bersikap profesional. Dia tidak lagi menunjukkan emosinya seperti yang terjadi sebelumnya.
Cara itu cukup ampuh sebab ternyata Bella sedikit merasakan perubahan Nathan. Lelaki itu tidak lagi berkoar-koar dan berteriak-teriak jika meminta sesuatu. Sikapnya terlihat tenang juga berkarisma selayaknya pengusaha sukses lainnya.
"Ini rangkumannya Pak. Sebaiknya di periksa takutnya tidak cocok dengan keinginan Bapak." Bella meletakkan berkas di hadapan Nathan. Matanya melirik ke amplop coklat juga ponsel baru yang sejak dua hari lalu berada di sana.
"Eldar memang benar. Perkerjaan mu selalu rapi dan tidak berbelit-belit." Bella tersenyum simpul. Cukup senang mendengar pujian itu.
"Permisi Pak."
"Hm jangan lupa untuk pertemuan siang ini. Kamu masih ingat tugasmu kan?" Bella mengurungkan niatnya kembali ke meja.
"Masih. Em mencatat semua pembicaraan nanti." Tanyanya memastikan.
"Ya. Silahkan kembali." Bella mengangguk lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke kursi. Dari belakang Nathan sempat melirik ke Bella yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu.
Apa ini berarti dia menyerah? Mungkin saja penolakan makanan sore itu membuatnya kesal?
Bella merasa senang dengan sikap dewasa yang Nathan perlihatkan. Tapi di sisi lain, dia takut jika Nathan benar-benar melupakannya dan menghentikan perjuangannya.
Aku yakin kamu menyimpan tanda tanya besar di hatimu. Ternyata artikel itu sangat berguna untuk menarik simpatik Bella.
"Akhir pekan ini kamu ada rencana?" Sontak Bella menegakkan pandangannya.
"Tidak ada Pak."
"Oh." Ku fikir dia menyerah. "Nanti akan saya tanyakan pada Ayah." Imbuh Bella pelan.
"No no no. Untuk masalah itu biar aku yang meminta izin. Aku ingin mendengar jawaban mu."
"Tergantung Ayah. Kalau dia mengizinkan aku akan pergi." Nathan mengangguk-angguk.
"Em baik. Aku akan datang sore agar pulangnya tidak kemalaman."
"Apa tidak terlalu singkat Pak." Kini obrolan terasa sedikit hangat daripada sebelumnya.
"Tenang saja Bella. Aku akan pulang kalau Ayahmu tidak setuju. Aku tidak akan memaksa ataupun marah. Aku menghormati keputusan Ayahmu." Meski awalnya berat tapi lambat laun Nathan mulai menikmati perannya sebagai lelaki dewasa nan bijak.
"Terimakasih atas pengertiannya Pak."
"Hm sama-sama." Bella tersenyum simpul dan melanjutkan perkerjaannya. Dia sendiri mulai menikmati hidupnya.
Perubahan Nathan membuatnya bisa bebas bergaul ketika jam istirahat tiba. Bella bisa bertemu teman-teman lama yang sebagian besar memiliki umur lebih tua. Entahlah kenapa Bella tidak suka bergaul dengan wanita seumuran.
Menurutnya bergaul dengan wanita dewasa lebih terasa nyaman. Orang dewasa bisa mengayomi dan kerapkali memberikan masukan bermanfaat untuknya. Sedangkan jika dia bergaul dengan wanita sebaya, mereka hanya membahas lelaki atau shopping dan menghamburkan uang.
"Bagaimana kalau kita sekalian makan siang bersama. Tapi aku tidak memaksa." Pinta Nathan menawarkan.
__ADS_1
"Di restoran yang sama?"
"Hm. Relasi ku baru datang satu jam lagi." Sambil melihat ke arah jam mahalnya.
"Baik Pak."
Yes!!! Akhirnya..
"Kamu bereskan perkerjaan mu lalu kita pergi." Bella menyimpan file lalu mematikan laptop. Sambil membawa berkas dia mengikuti Nathan yang keluar dari ruangan.
Terlihat beberapa orang menyapa Bella dengan bahasa isyarat. Begitupun balasan yang di berikan Bella pada mereka. Dia menjelaskan makan siang di luar sehingga gosip langsung menjadi pembicaraan terhangat.
"Aneh nggak sih? Kenapa Pak Nathan biasa saja kalau bersama Bella."
"Ya aneh sih? Padahal sudah beberapa bulan dia anti sama wanita."
"Ada kalanya seorang playboy tobat. Mungkin Pak Nathan sedang berada di fase bosan." Jawab Anis tersenyum simpul. Dia selalu melontarkan pembelaan untuk Bella.
"Bisa iya bisa juga tidak." Sahut Bara berdiri tepat di depan meja Anis.
"Daripada lelaki munafik lebih baik mantan playboy. Dia jujur akan kenakalannya tapi sekali melabuhkan hati, biasanya langsung setia." Bara terkekeh nyaring. Dia yakin jika Nathan tengah berakting untuk melancarkan niatnya.
"Lelaki setia itu hanya mitos."
"Dih Pak Bara ini. Kenapa tidak langsung makan siang dan malah ikut bergosip." Ledek lainnya menimpali.
"Terkadang. Mendengar gosipan kalian itu menyenangkan." Hahahaha. Leo akan menangis darah kalau sampai Bella berhasil di nikahi Nathan. Kasihan juga anak itu. Di tipu tapi tidak sadar.
Bara bergegas menghampiri Leo yang terlihat baru saja keluar lift.
"Mau makan Siang Le?" Tanya Bara sambil menepuk-nepuk pundak belakang Leo lembut.
"Ya."
"Pak Nathan semakin akrab saja dengan Bella." Bara mulai melontarkan hasutan agar otak Leo memanas.
"Bella tidak mudah tertarik."
"Munafik sekali. Kau lihat Bos kita seperti apa? Tampan dan kaya. Tidak ada alasan Bella menolak." Leo menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arah Bara. Kedua tangan terangkat dan langsung meraih kerah baju lalu mencengkram nya erat.
"Aku lebih tahu Bella daripada kau! Atur mulutmu dan jangan asal bicara!!" Dengan kasar Bara menyingkirkan tangan Leo dari kerah bajunya.
"Bella sudah tidak melihat mu. Kenapa kau bersikap seolah-olah dia milikmu? Ingat Le. Istrimu itu Lisa bukan Bella."
Leo mendengus sambil memalingkan wajahnya. Semenjak kedatangan Bella, emosinya tidak dapat terkontrol seakan-akan Bella masih sangat di cintai.
"Kau juga tidak berhak berbicara macam-macam dan menebar gosip soal hubungan mereka!!! Sialan!!!" Setelah mengumpat, Leo pergi dari hadapan Bara.
"Kalah 200 juta dan kalau menang 50 juta. Tidak ada yang merugikan. Tapi tetap saja aku berharap Nathan menang agar uang 200 juta bisa ku miliki." Gumam Bara tersenyum simpul lalu memutuskan untuk kembali masuk ke perusahaan.
__ADS_1
🌹🌹🌹