
Dua Minggu kemudian...
Leo melongok ketika Lisa melontarkan kata cerai. Padahal saat itu kedua orang tuanya sedang berkunjung karena nanti malam akan di adakan syukuran.
Seketika suasana menjadi menegang. Bu Rita langsung berdiri di ikuti oleh Pak Salim. Beruntung tidak ada tetangga yang ikut membantu sebab semua urusan syukuran sudah di pesan.
"Kamu bilang apa?" Tanya Leo bingung.
"Aku mau cerai Pa."
"Bicara apa kamu Nak?" Semenjak hamil, sekalipun Bu Rita tidak pernah memarahi Lisa.
"Anak yang ku kandung bukan anak Papa Leo. Ini anak Mas Stefan." Pak Salim menghela nafas panjang seraya melirik ke arah Bu Rita yang memasang wajah terkejut.
"Stefan? Kau masih berhubungan dengan nya."
"Sebab dia Ayah dari anakku." Lisa memberikan hasil tes DNA lalu berjalan masuk untuk membereskan barang-barangnya.
"Apa isinya Le." Tanya Bu Rita ingin tahu." Apa benar itu anak orang lain?" Ujarnya mengulang.
"Ya Ma." Jawab Leo pelan.
"Ya Tuhan, Gusti..." Seketika tubuh Bu Rita ambruk ke lantai. Leo panik begitupun Pak Salim. Bergegas saja mereka memasukkan Bu Rita ke dalam mobil untuk pergi ke rumah sakit tanpa mempertimbangkan akibat keteledoran yang mereka lakukan.
🌹🌹🌹🌹
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian...
Asian group.
Ruangan Nathan.
"Bagaimana?" Tanya Nathan penuh penekanan. Wajah garangnya mengekspresikan kekesalan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Setiap kali dirinya menanti kabar soal keberadaan Bella, selalu saja berakhir kecewa seperti sekarang.
"Maaf Tuan tidak ada kabar tentang Nona Bella." Jawab Eldar tertunduk.
__ADS_1
Semenjak Nathan menyadari perginya Bella. Kini dia berubah menjadi Bos yang paling buruk sepanjang sejarah. Dingin, keras dan sulit di gigit. Meski Asian group semakin berkembang pesat. Namun rupanya harta tidak sanggup mengembalikan kebahagiaan Nathan yang seakan terenggut.
"Cari di luar kota atau luar negeri! Kau tidak becus sekali mengatasi ini!!!" Teriak Nathan lantang. Dia menyingkirkan semua benda yang ada di meja termasuk laptopnya.
"Saya minta maaf Tuan. Saya sudah melakukan pencarian..."
Tiba-tiba terdengar isakan tangis yang berasal dari Nathan. Pemandangan seperti sekarang kerapkali dia tunjukkan seakan kesalahannya begitu merongrong perasaan. Sungguh dia menyesal karena sudah memilih keangkuhan hanya demi pembuktian agar semua orang mengunggulkannya.
"Kenapa aku tidak juga sadar kalau Tuhan menginginkan aku berhenti melakukan itu melalui Bella. Ini bukan salah mu tapi salahku! Kau sudah memperingatkan ku."
Eldar tertunduk. Cukup merasa iba melihat keadaan mental Nathan yang kian buruk. Namun rupanya ada perasaan lega terselip sebab Nathan sudah mengakui kesalahannya.
"Tidak ada gunanya Tuan. Ini sudah terjadi." Jawab Eldar pelan.
"Jangan berhenti mencari. Aku ingin kamu menyisir daerah pelosok. Mungkin saja dia dan Pak Bisri ada di sana."
"Baik Tuan. Nona Ana ingin bertemu sebentar untuk membicarakan tentang proyek yang ada di Lampung." Aku harus mengatur jadwal.
"Kenapa kau masih menanyakan itu? Kalau Pak Bastian yang akan datang, akan ku temui."
"Pak Ian sedang ada di luar kota sementara beliau ingin Tuan menandatangani berkas itu langsung di hadapan Nona Ana." Nathan membuang nafasnya kasar. Dia muak bertemu wanita.
"Aneh-aneh saja!!"
"Saya akan mengatur jarak kalau memang Tuan tidak ingin terlalu dekat dengan Nona Ana."
"Ya. Terserah kau saja!"
"Baik Tuan permisi. Saya akan menghubungi Nona untuk merencanakan pertemuan."
"Hm." Eldar berjalan keluar ruangan. Dia masuk ke dalam lift dan menombol angka satu. Setelah menghubungi kontak orang yang di sebut Nona Ana, Eldar menuju mobilnya yang terparkir kemudian masuk.
.
.
Rupanya Eldar menuju perusahaan cukup besar. Perusahaan tersebut adalah pemasok bahan penting. Tanpa perusahaan tersebut, Asian group tidak mampu berjalan dengan baik meski peringkat nomer tiga tidak dapat di geser.
"Maaf Nona saya datang mendadak." Sapa Eldar ramah. Tubuh sang wanita memutar dan memperlihatkan sosok Bella dengan penampilan berbeda. Memang wajah pas-pasan tidak dapat di rubah. Namun perkerjaan yang di geluti membuat Bella terlihat begitu cantik.
"Astaga Pak Eldar. Silahkan duduk. Bapak bisa datang kapan saja."
"Hm." Eldar di giring duduk ke sofa yang ada di sana.
Tanpa Nathan ketahui, Eldar sengaja menyembunyikan Bella dengan bantuan Bastian. Ketiganya di pertemukan dalam ketidaksengajaan ketika Eldar berada di puncak kebingungan untuk merayu Bella.
Di sini Eldar berperan sebagai penengah. Dia tidak membela Nathan begitupun Bella. Sebab menurutnya keduanya memiliki kemiripan rasa.
Nathan mengalami mati rasa sementara Bella juga seakan tidak mampu membuka hati. Keduanya sama-sama bersikap dingin ketika berhadapan dengan lawan jenis.
"Ada keperluan apa Pak?"
"Ada pertemuan besok. Apa Pak Ian bisa hadir?" Bella tersenyum aneh. Seharusnya Eldar tidak membicarakan itu mengingat dirinya tidak ingin menginjakkan kaki di sana.
Tugas Bella cukup berpengaruh meskipun terkadang dirinya tidak banyak di butuhkan. Bella merupakan orang kepercayaan Bastian yang di tugaskan menggantikan kalau seandainya Bastian tidak ada di tempat. Selepas dari itu, Bella hanya membantu tanpa pernah keluar dari perusahaan.
"Lusa beliau kembali."
"Wah bagaimana ini? Para relasi ingin bertemu di sana karena jaraknya dekat dengan apartemen mereka."
"Saya tidak bisa Pak." Tolak Bella tegas.
"Hanya tiga puluh menit. Saya berjanji tidak akan mempertemukan Nona dengan Tuan." Bella tertawa kecil. Tentu saja dia tidak langsung percaya.
"Suruh mereka menunggu Pak Ian saja. Bukankah Pak Eldar tahu kalau bukan hanya orang itu yang tidak ingin saya temui." Bella bahkan enggan menyebut nama Nathan. Antara benci dan cinta! Begitulah tanggapan soal sosok itu sampai sekarang.
"Saya paham Nona. Tapi ini proyek besar. Kita akan bisa membangun cabang di luar negeri." Desak Eldar berusaha agar Bella mengiyakan keinginannya.
"Tetap tidak bisa Pak."
"Saya akan terkena masalah dengan Tuan Nathan. Proyek ini jumlahnya triliunan." Bella terdiam sesaat. Bukan hanya Eldar yang takut terkena marah, tapi dirinya juga takut mengecewakan Bastian yang sudah banyak membantunya.
__ADS_1
"Tapi Pak El janji untuk tidak menghadirkan mereka."
"Saya berjanji Nona."
"Hm baik. Asal tidak boleh ada mereka. Saya tidak mau berhubungan dengan mereka lagi."
Sebenarnya Bella tidak ingin lagi berkecimpung di dunia bisnis. Namun kedewasaan Bastian dalam merayu, membuatnya luluh. Lelaki itu hadir tidak hanya sebagai Bos, melainkan partner terbaik yang mampu melunakkan hati Bella begitupun Pak Bisri.
"Besok pukul sepuluh. Saya tunggu di Asian group. Permisi." Eldar tersenyum ramah kemudian keluar ruangan.
Bergegas saja Bella berdiri lalu meraih ponselnya. Dia menghubungi kontak Bastian dan berharap lelaki itu bisa pulang cepat.
📞📞📞
"Ada apa sih? Baru juga telepon tadi, sudah kangen saja.
Bella menghela nafas panjang. Ucapan tersebut hampir setiap hari terlontar saat dirinya melakukan panggilan telepon dengan Ian.
"Ini masih jam kerja. Jangan bercanda.
Keputusan Ian bukan asal-asalan. Dia melihat pontensi bagus pada Bella dalam mengelola perusahaan. Beberapa kali Ian bahkan menawarkan dana pinjaman jika Bella mau membangun perusahaan sendiri.
"Ya ada apa Ay?
Lagi lagi rayuan di lontarkan walaupun hati Bella tidak sanggup menerima nya.
"Asian group ingin melakukan pertemuan.
"Terus? Kamu tidak bisa menghandle nya?
"Bisa tapi...
"Aku tidak bisa pulang cepat. Serius Ay, perkerjaan ku banyak sekali.
"Tapi saya tidak...
"Berlari pun percuma. Hadapi saja. Tenang, ada aku yang menopang tubuh mu dari belakang.
"Menopang apa! Kau saja tidak ada!!
Bella kerapkali lepas kendali ketika Ian memintanya untuk menghadapi kenyataan. Hal itu membuat seseorang yang berada di ujung telepon terkekeh sejadi-jadinya.
"Berbicara yang serius hei Pak Ian yang terhormat.
"Iya. Maaf. Aku serius Ay. Hadapi saja mereka.
"Malas.
"Tidak mungkin kamu lari terus-menerus. Ku ajak ke luar negeri kamu tidak mau.
"Tetap saja malas.
"Oke. Jam berapa pertemuannya.
"Sepuluh.
"Hm akan ku usahakan meski nanti malam aku tidak tidur untuk menyelesaikan perkerjaan.
"Berarti aku tidak harus datang.
"Wajib datang. Hadapi mereka dan aku membantu. Bagaimana?
"Itu tidak menyelesaikan masalah.
"Oh astaga jaringannya mulai terputus-putus. Halo Ay? Kamu dengar aku. Ingat untuk tidak membatalkan pertemuan. Aku bisa marah besar kalau proyek itu gagal.
📞📞📞
"Sialan!!!" Umpat Bella seraya meletakkan ponselnya. Dia tahu Ian sedang mengerjainya." Tapi benar. Masalah ini tidak selamanya bisa di hindari. Percuma. Dia masih mencari ku." Eluh Bella duduk lemah sambil menatap langit-langit ruangan.
🌹🌹🌹
__ADS_1