
Pukul lima tepat, Bella tiba di Apartemen yang berada di lantai dua. Sudah satu tahun lebih keduanya tinggal di sana. Rumah lama terpaksa di kontrakannya karena Pak Bisri berharap Bella bisa melupakan keburukan di masa lalu.
Namun rasanya itu percuma. Semenjak kebohongan Nathan terbongkar, sikap Bella berbalik arah. Dia memiliki kepribadian tertutup dan acuh kalau Pak Bisri membahas soal pernikahan.
"Ayah sudah memasak makanan kesukaan mu." Sapa Pak Bisri seraya menatap Bella yang baru saja masuk.
"Aku mandi dulu yah. Hari ini sedikit melelahkan." Bella masuk ke dalam kamar. Dia berusaha menghindari kontak mata langsung karena takut Pak Bisri mengetahui sembab pada matanya.
Baru saja Bella masuk, terdengar bel pintu berbunyi. Pak Bisri beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu. Terlihat Bastian berdiri di balik pintu sambil tersenyum simpul.
"Astaga. Kenapa wajahmu." Hampir 40 persen wajah Bastian babak belur sehingga Pak Bisri mempertanyakan keadaan tersebut.
"Biasa Om. Lelaki hehe." Tentu saja jawaban santai yang di dapatkan. Selama ini Bastian menyuguhkan sikap hangat nan lembut sampai-sampai membuat Pak Bisri memiliki niat untuk menjodohkan Bella dengannya.
"Mari masuk." Bastian melewati Pak Bisri kemudian duduk di sofa setelah meletakkan makanan bawaannya." Bella baru saja masuk. Dia berpamitan untuk mandi." Bastian tersenyum seraya mengangguk. Ada niat terselubung soal kedatangannya sore ini.
"Saya memang ingin bertemu dengan Om Bisri."
"Oh ada apa?"
"Rasanya saya tidak sabar menunggu Bella membuka hati. Bukankah sebaiknya Om bicarakan itikat baik saya?" Pak Bisri tersenyum teduh. Sudah sejak lama persetujuan berhasil Bastian kantongi tapi ternyata Pak Bisri bukan orang tua egois yang suka memaksakan kehendak.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Pak Bisri ingin tahu.
"Hari ini kami bertemu Nathan." Seketika nafas Pak Bisri berhembus kasar. Dia bukan membela Nathan tapi tidak juga membenarkan pelarian yang Bella lakukan. Seharusnya masalah ini terselesaikan sejak dulu namun Bella enggan menunjukkan ketegasan. Hal itu tentu menggelitik perasaan Pak Bisri akan tebakan ketertarikan yang mungkin masih bertengger di hati Bella." Saya ingin mempercepat pernikahan." Imbuh Bastian tegas.
"Bagaimana ya Nak. Om sendiri tidak bisa berbuat banyak. Ingin juga melihat Bella cepat menikah. Tapi Nak Ian lihat sendiri kalau dia masih saja seperti itu."
"Mungkin kalau Om membantu bicara dia akan mau."
"Sudah beberapa kali Om sindir soal itu. Bella selalu punya cara untuk menghindar." Bastian menghela nafas panjang. Dia sungguh tertarik dengan kepribadian Bella yang di rasa cocok untuk di jadikan partner hidup.
"Saya mohon Om."
"Hm baik. Nanti akan Om bicarakan."
"Terimakasih. Kalau begitu saya permisi. Ini ada sedikit makanan untuk makan malam."
"Loh. Tidak ikut makan bersama sekalian." Bastian tersenyum simpul.
"Wajah saya sedikit nyeri Om. Ingin segera pulang untuk mengompres agar lebamnya berkurang." Jawab Bastian seraya berdiri.
Bertepatan dengan kepergian Bastian, terlihat pintu kamar Bella terbuka. Tatapannya langsung beralih pada Pak Bisri yang baru saja menutup pintu.
Pasti Mas Ian. Eluh Bella seraya melirik malas bungkusan yang ada di atas meja.
"Sudah mau makan malam atau nanti saja?" Tanya Pak Bisri menawarkan.
__ADS_1
"Aku belum lapar Yah." Bella duduk lalu meraih remote dan menyalakan televisi.
"Ada makanan dari Bastian." Bella tidak bergeming seakan perkataan Pak Bisri tidak terdengar." Coba ceritakan apa yang terjadi hari ini?" Imbuhnya bertanya. Berharap Bella bisa lebih terbuka seperti dulu.
"Tidak ada Yah."
"Apa mereka bertengkar karena mu?" Bella berusaha tidak panik dan bersikap biasa saja.
"Aku tidak menyuruh mereka bertengkar." Pak Bisri menghela nafas panjang. Tebakan soal perasaan yang tertinggal semakin menguat." Tanyakan itu pada Mas Ian bukan aku." Imbuhnya pelan.
"Kamu masih mengharapkan dia." Sontak Bella menoleh cepat.
"Siapa?" Tanyanya panik.
"Nathan."
"Ayah bercanda? Aku bahkan malas menyebut namanya." Ujar Bella menyangkal.
"Maka dari itu menikah lah. Ayah ingin melihat mu bahagia."
"Belum menemukan seseorang yang pas."
"Ayah rasa Bastian sangat baik dan perduli pada mu."
Untuk pertama kalinya Pak Bisri mengunggulkan seorang lelaki di hadapan Bella. Biasanya dia enggan ikut campur karena ingin Bella bahagia atas pilihannya.
"Aku tidak bisa Yah."
"Tidak ada yang kurang."
"Sudah lama dia menyukai mu. Selama ini Ayah tidak ikut campur karena ingin memberikan ruang pilihan yang lapang untukmu. Tapi Ayah rasa kamu kesulitan melangkah. Kamu masih tertinggal di sana Nak."
Jujur saja jika Bella ingin segera terlepas dari masa lalu. Dia ingin segera menikah dan memberikan cucu untuk Pak Bisri.
"Apa yang memberatkan mu Nak. Katakan pada Ayah?" Bella menggeleng seraya menoleh.
"Aku tidak tahu Yah."
"Kalau saja kamu menuruti kata-kata Ayah, mungkin hatimu tidak terlanjur di jatuhkan."
"Ayah benar. Aku terlalu cepat menjatuhkan dan tidak mampu merangkak naik. Sudah sepantasnya aku yang menanggung ini semua." Bella bergegas berdiri." Maaf Ayah. Mungkin aku membutuhkan tambahan waktu. Aku yakin bisa terlepas. Hanya saja saat itu belum datang." Bella berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Pak Bisri yang ikut terbebani atas masalah yang menimpa Bella.
🌹🌹🌹
Eldar terduduk lemah setelah mengetahui kenyataan soal perasaan Bastian pada Bella. Dirinya tidak menyangka jika masalahnya semakin rumit.
Sore itu dia menyempatkan diri datang ke kediaman Bastian untuk bertanya perihal kejadian di perusahaan. Secara gamblang Bastian mengungkapkan kalau apa yang di katakan tidak sepenuhnya bohong.
__ADS_1
"Kalau Bella setuju, besok pagi pun aku bisa menikahinya." Jawab Bastian seraya mengompres luka lebamnya.
"Bukankah Pak Ian tahu keadaan Tuan Nathan bagaimana? Psikologi nya terganggu satu tahun ini. Saya berniat menjauhkan mereka sesaat lalu mempertemukannya lagi."
"Mana bisa begitu Pak Eldar. Kalau saya bisa mengatur hati seperti itu, mungkin saya akan sepenuh hati membantu. Perbuatannya juga tidak layak di sebut lelaki. Apa yang menimpa Pak Nathan adalah dosa di masa lalu."
"Tuan Nathan tidak bisa berhubungan dengan wanita lain. Saya harap Pak Bastian mencari wanita lain saja. Nona Bella juga belum memutuskan bukan?" Ujar Eldar menimbang. Dia berusaha meluruskan rencananya.
"Itu masalah saya. Perkerjaan rumah untuk saya. Jadi Pak Eldar di larang mencegah. Saya sudah sangat menyukai kepribadian Bella. Mana mungkin saya melepaskannya untuk lelaki semacam Pak Nathan." Sama sekali Bastian tidak berniat mundur sebelum Bella menentukan pilihan.
"Tuan Nathan sudah berubah dan belajar dari kesalahan."
"Hm tinggal menjalani hukuman saja. Sebaiknya Pak Eldar pulang. Saya mau beristirahat."
Eldar terpaksa berdiri meski pembicaraan berakhir tidak sesuai keinginan. Sangat tidak mungkin dia terlalu memaksa sebab Bastian memiliki kesempatan yang sama.
"Ah Isabella.. Kamu selalu membuatku was-was, apalagi sekarang." Eluh Bastian menyandarkan punggungnya di sofa. Tangannya meraih ponsel lalu menghubungi kontak milik Bella.
Satu panggilan tidak terjawab, dua panggilan sampai panggilan ke lima Bastian tetap berusaha menghubungi. Tepat di saat panggilan ke tujuh, Bella baru membalas telepon darinya.
📞📞📞
"Sibuk sekali Ay.
"Ada apa?
"Bisakah kamu membelikan ku obat. Wajahku terasa nyeri.
"Kamu tahu jawabannya kan? Aku bahkan tidak pernah keluar rumah.
"Hm akan ku suruh seseorang menjemput.
"Kenapa repot-repot. Suruh orang itu membeli obat.
"Aku maunya kamu yang membeli, sekalian bungkuskan makanan. Aku lapar.
"Hei Tuan Ian. Kamu tadi datang ke apartemen dan membawa makanan. Terus kenapa sekarang kamu berkata begitu?
"Sangat tidak mungkin aku datang berkunjung dengan tangan kosong.
"Kenapa tidak kau makan sendiri saja tadi.
"Serius Ay. Agh sakit sekali kepala ku. Cepat bersiap, aku akan menyuruh supir pribadiku menjemput.
📞📞📞
Bastian mengakhiri panggilan lalu menghubungi supir pribadinya untuk menjemput Bella. Merendahkan diri seperti sekarang kerapkali Bastian lakukan hanya untuk mencari perhatian Bella. Sungguh dia tidak perduli akan kalimat kasar yang sering terlontar.
__ADS_1
Tidak akan ku biarkan kamu memikirkannya. Dia harus menghilang dari otak mu.
🌹🌹🌹