Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Hasutan


__ADS_3

Pagi itu Bastian begitu bahagia. Hari ini Kai akan melakukan pertemuan dengan Nathan untuk membahas pemutusan kerja sama. Bastian mengira jika pertemuan kali ini bertujuan untuk membantunya.


"Aku yakin Tuan Kai akan memblokir semua akses bahan agar Asian group tidak bisa beroperasi lagi." Begitulah tebakannya. Bastian merapikan dasi sambil bersenandung kecil sebab kemenangan akan segera dia dapatkan.


Pukul sepuluh pertemuan di gelar dengan tertutup. Aneh bagi Bastian sebab di sana hanya tampak Nathan, Nay dan juga Eldar. Dia tidak melihat staf lain.


Mungkin relasi lain belum hadir.


Dan benar. Setelah ucapan tersebut terlontar beberapa orang pemilik perusahaan yang berkerja sama ikut hadir. Bastian tersenyum, dia bernafas lega. Ingin segera memulai agar pertunjukan segera di mulai.


Setelah beberapa menit menunggu, Kai tampak hadir bersama Nay, Istri juga berperan sebagai asisten pribadi ketika Kai mengajaknya berkecimpung di dunia bisnis.


Sejak pertama Nay masuk, tatapannya langsung tertuju pada Bella. Dia sempat tersenyum simpul sebelum akhirnya duduk di samping Kai.


Astaga cantik sekali. Puji Bella dalam hati. Sungguh Nay begitu pantas duduk di samping orang berkuasa.


"Pak Erik sudah mengirimkan pengembalian dana ke rekening anda." Tanpa basa-basi Kai melontarkan kata-kata tersebut. Sebenarnya dia merasa pertemuan kali ini tidak penting. Tapi karena rasa penasaran Nay akan sosok Bella membuatnya terpaksa turun tangan.


"Saya tidak mau berkerja sama lain Pak. Masih banyak perusahaan yang mau menyediakan bahan untuk perusahaan saya." Jawab Nathan tegas. Dia tidak mau mencabut keinginan pemutusan kerja sama.


"Kita saling membutuhkan Pak Nathan." Sahut Nay menimpali. Dia melirik ke Bastian yang wajahnya berubah masam." Karena kerja sama kita, em perusahaan kecil-kecilan kami menjadi sangat berkembang." Nay tidak sedang mengada-ada sebab tanpa Asian group, perusahaan Bastian akan kehilangan konsumen bahan terbesar.


Eldar mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu ke telinga Nathan. Suatu kehormatan bagi Asian group sebab Kai mau datang ke sana hanya untuk membicarakan hal tersebut.


"Saya tidak bisa." Tetap saja Nathan bersikukuh dengan keputusan tersebut.


"Karena dia." Ucap Kai menunjuk kasar ke arah Bastian yang sontak memasang wajah bingung.


"Hm. Memang seharusnya saya tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan perkerjaan. Tapi di sini Pak Ian sudah keterlaluan. Dia terlalu ikut campur dalam masalah kami bahkan mengancam. Akan lebih baik saya berhenti berkerja sama daripada martabat calon Istri saya di injak-injak."


Tentu saja Bella merasa senang ketika dengan gamblang Nathan menyebutnya sebagai calon Istri. Namun dia juga memikirkan bagaimana kelanjutan perusahaan Asian group jika pasokan bahan kurang.


"Jangan mengalihkan tuduhan Pak Nathan yang terhormat!" Sahut Bastian lantang." Yang brengsek adalah anda. Dia itu calon Istri saya. Anda sudah merebutnya dari tangan saya." Bastian langsung tersulut emosi. Pemilik perusahaan lain hanya berdiam diri, mereka di hadirkan hanya untuk pelengkap pertemuan.


"Anda sedang berandai-andai. Lihat sendiri kenyataannya. Saya tidak mengikat apalagi mengancamnya."


"Tapi anda sudah memperkosa nya!!!" Nay menghela nafas panjang. Semua informasi soal Bella dan Nathan berhasil di kumpulkan. Nay merasa ini masalah yang unik sampai-sampai dia tergelitik ikut andil karena ingin tahu sendiri kenyataan soal Bella." Lihatlah Tuan. Dia tidak bisa menjawab karena memang sudah melakukan itu." Imbuhnya menunjuk Nathan.


"Tidak sopan!" Jawab Kai cepat." Anda tahu itu perbuatan menjijikkan. Bagaimana jika setelah ini semua akses bahan saya blokir. Apa anda siap miskin agar perbuatan anda bisa di pertanggung jawabkan." Nathan menghembuskan nafas berat. Dia sempat melirik ke arah Bella sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Ini tidak benar Tuan Kai." Sahut Bella ingin melontarkan pembelaan.

__ADS_1


Dia masih membela walaupun sudah di perlakukan buruk. Huft. Cinta memang sangatlah buta. Batin Nay sambil tersenyum, menikmati perdebatan di hadapannya.


"Diam. Saya tidak ingin jawaban darimu. Saya bertanya padanya." Menunjuk ke arah Nathan." Seorang lelaki harus berprinsip! Katakan. Kalau anda ku berikan kesempatan. Anda lebih memilih Nona Isabella atau perusahaan ini." Bastian tersenyum mengembang. Sungguh kalimat ancaman itu mirip alunan musik indah.


"Nona Isabella." Jawab Nathan cepat juga tegas.


"Tidak." Bella menoleh dan memasang wajah panik. Jemarinya bahkan memegang lengan Nathan erat." Itu keputusan salah. Anda tidak boleh begitu. Perusahaan ini lebih penting. Ada banyak karyawan yang menumpukan hidup mereka pada perusahaan ini." Sengaja Kai diam. Dia ingin menunjukkan drama sebagai bentuk rasa sayangnya pada Nay.


"Kita akan bangun dari nol kalau memang itu jalan satu-satunya." Sebelum pertemuan, Eldar sudah menjelaskan tentang sosok Kai juga kekuasaannya.


"Memangnya anda bisa? Kalau perusahaan ini bukan warisan, mana mungkin anda bisa mengelolanya." Sahut Bastian tidak juga berhenti.


"Kau merasa kalah hah!" Ledek Nathan tersenyum simpul." Ambil saja semuanya. Blokir atau apapun yang bisa kalian lakukan untuk menjatuhkan." Bastian mendengus seraya berdiri.


"Kau yang kalah bukan aku!!"


"Terserah. Asal aku bisa memenangkan dia." Nathan berdiri dengan tangan saling terpaut. Secara otomatis Bella ikut berdiri. Kata-kata dari Nathan menambah keyakinan pada hati Bella walaupun dia tidak setuju dengan keputusan Nathan.


"Tetap duduk Pak Nathan." Pinta Nay ramah.


"Eldar yang akan melanjutkan. Sudah tidak ada gunanya saya di sini. Sekalian saja saya akan menjual perusahaan ini pada kalian agar lelaki ini bisa senang." Menatap tajam Bastian.


"Ada proyek baru yang belum di jalankan." Bastian menoleh ke arah Nay. Dia menatap bingung dengan apa yang Nay lontarkan.


"Proyek di Kairo. Saya yakin seorang lelaki berprinsip bisa menjalankan bisnis dengan baik." Seakan senyuman Nay menjadi Isyarat, terlihat Bella bernafas lega.


"Saya tidak perduli." Kai menghela nafas panjang. Dia merasa muak melihat adegan berputar-putar di hadapannya.


"Anda tidak akan kekurangan bahan. Kalau Pak Bastian ingin memutuskan kerja sama, ada opsi lain." Kai menunjuk ke beberapa orang duduk." Mereka bukan pembangkang dan akan menyediakan bahan untuk Asian group." Bastian menelan salivanya kasar sambil membulatkan matanya.


"Kalian mempermainkan saya?"


"Bukan. Saya hanya ingin menyenangkan hati Istri saya." Jawab Kai tegas. Dia berharap segera pergi dari sana." Ingin bertemu langsung dengan Nona Isabella karena hasutan Pak Bastian." Imbuh Kai menjelaskan.


"Terimakasih sayang." Nay mengusap-usap pundak Kai lembut.


"Hm."


"Apa-apaan ini?" Protes Bastian lantang.


"Akan ku kembalikan saham mu." Kai mengambil cek lalu menuliskan nominal yang sesuai keinginan." Ambil. Itu modal awal mu kan." Kai menggeser cek ke hadapan Bastian.

__ADS_1


"Anda ingkar pada saya Tuan. Padahal saya anak buah anda."


"Anak buah ku sangat menjunjung kejujuran. Jika kamu merasa hebat akan pencapaian mu selama ini. Silahkan berbangga diri di tempat lain."


"Apa maksudnya ini?!" Tanya Bastian tidak juga mengerti.


"Masih banyak orang yang lebih baik darimu untuk mengelola perusahaan. Kau ingat jika perusahaan itu sudah bangkrut sejak awal. Jangan merasa hebat kamu Ian!! Aku bukan orang yang mudah kau hasut!!" Gleg! Saliva Bastian kembali tertelan kasar.


Kemuakan Kai bukan semata-mata karena merasa kesal. Akibat ulah Bastian, Nay kembali harus memintanya turun tangan seperti sekarang.


"Maaf Tuan saya."


"Bawa pergi uang itu!" Kai berdiri di ikuti oleh Nay." Bangun sebuah perusahaan dengan uang itu? Apa kau bisa?" Imbuhnya dengan wajah datar.


"Saya menyesal Tuan. Tolong pertimbangkan..."


"Keputusan ada pada Istri ku." Sahut Kai cepat.


"Maaf Pak Bastian. Memperkerjakan orang seperti anda hanya akan menghambat pertumbuhan perusahaan. Anda sudah menyombongkan diri padahal anda masih berada di dasar dunia bisnis. Semoga setelah ini anda bisa banyak belajar." Tatapan Nay beralih pada Bella." Jika ada seorang lelaki yang rela melepas harta demi sebuah nama. Jarang sekali terjadi sebab uang adalah sumber kesenangan. Aku tunggu undangan peresmian hubungan kalian. Jangan terlalu lama menimbang. Terkadang kesalahan hadir karena ingin mendewasakan. Bye Bella." Nay seakan mengerti tentang kebimbangan yang berputar-putar di otak Bella.


"Ya." Jawab Bella pelan. Maniknya menatap kepergian Nay juga Kai." Astaga dia sangat cantik." Gumam Bella pelan.


Bastian sendiri mendengus sambil membawa cek pemberian Kai. Dia berusaha mengikuti untuk meminta maaf, tapi apa bisa?!


"Bagaimana? Kamu terkesan?" Pertanyaan Nathan membuat Bella sadar dari lamunannya.


"Terkesan apa?"


"Aku memilih melepas kesenangan ku hanya untuk mu." Eldar tersenyum. Dia sudah mengetahui soal pertemuan yang akan berakhir seperti sekarang.


"Mudah saja. Itu hanya perkataan."


"Kamu masih tidak percaya?"


"Tidak."


"Ayolah Baby. Menikah pasti menyenangkan." Eldar menahan tawa dan memilih pergi dari ruangan.


"Kau bercanda! Kau membencinya."


"Sejak mengenal mu, aku ingin menikah." Bella berpaling dengan wajah memerah." Kamu dengar kan. Bu Naysila menunggu undangan kita. Mereka bukan orang sembarangan." Imbuhnya merajuk. Tapi bukan benar-benar merajuk sebab lagi-lagi Nathan sulit menahan hasrat. Dia ingin menikah agar bisa menyentuh Bella dengan bebas.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2