
Di dalam mobil Nathan hanya terdiam sampai keduanya tiba di area pemakaman. Biasanya Nathan membuka pembicaraan terlebih dahulu atau paling tidak memasang wajah hangat ketika bersama Bella. Namun sepulang dari rumah sakit, wajah Nathan di selimuti kekecewaan berat.
"Apa kamu melihatnya?" Tanya Nathan dengan kedua tangan bertumpu pada setir mobil. Tatapannya lurus ke arah pemakaman yang berjajar di depannya.
"Melihat apa?"
"Betapa palsunya wanita itu."
Bella menghela nafas panjang. Dia hanya bisa menebak jika Marta memang bukan wanita yang ramah dan hangat. Mimik wajahnya menandakan ambisi yang berapi-api. Bella malah mengira kalau Marta hanya mengincar harta padahal satu-satunya yang menjadi target adalah Nathan sendiri.
"Mungkin kamu belum terbiasa saja Mas." Setelah beberapa menit diam, Bella melontarkan jawaban tersebut.
"Aku tidak akan terbiasa Baby. Dia adalah orang dari luar yang tidak pantas berada di rumah kami. Aku memikirkan bagaimana perasaan Mama nanti. Dulu dia sangat pencemburu ketika melihat Ayah berdekatan dengan wanita lain." Deg! Tentu saja Bella tersindir sebab dirinya juga seperti itu.
Aku juga tidak akan rela jika seandainya besok aku pergi lebih dulu, Nathan menikah lagi.
Sebagian besar wanita tidak ingin di duakan apalagi jika perasaan cinta sudah mengakar kuat. Jangankan untuk melihat pasangannya bersama yang lain, membayangkan saja rasanya tidak rela.
"Apa beliau berkata begitu pada mu Mas?" Tanya Bella pelan.
"Aku sering mendengar obrolan mereka. Ayah sudah berjanji tidak menikah tapi nyatanya dia ingkar."
"Mungkin..."
"Aku tidak mau berdebat. Ayahku tetap bersalah. Ayo turun."
Keduanya pun turun lalu berjalan menuju sebuah makam yang letakkan di bawah pohon.
"Dia wanita yang sering ku ceritakan Ma." Seakan berbicara pada seseorang. Mimik wajah Nathan begitu bahagia menatap batu nisan seraya mengusap puncaknya.
Selama dua tahun terakhir, Nathan menceritakan ketertarikannya pada Bella di pusaran sang Ibu, satu-satunya tempat yang di anggap nyaman.
"Sudah berapa lama beliau meninggal Mas?" Tanya Bella pelan.
"Saat aku masih kuliah."
"Hm.. Sudah lama."
"Rumah kami penuh kenangan. Aku sebenarnya ingin pulang tapi aku malas melihat wanita itu." Terdengar sedikit egois memang. Pak Bisma memilih menikah daripada harus menuruti keinginan Nathan yang seharusnya lebih di utamakan.
"Mau bagaimana lagi Mas. Itu pilihan Ayahmu. Em aku harap kamu pulang setelah ini. Mungkin saja Pak Bisma ingin kamu temani." Nathan tersenyum simpul. Dia menyingkirkan dedaunan kering dari gundukan tanah.
"Dia memilih wanita itu. Biarkan saja wanita itu yang merawatnya."
__ADS_1
"Paling tidak jenguk beliau sesekali. Ingat Mas, tanpa Pak Bisma, kamu tidak akan ada di dunia ini." Nathan terdiam dan menatap Bella sejenak. Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya." Aku hanya mengingatkan. Terserah kalau kamu tidak mau." Imbuh Bella berdiri tanpa menyambut uluran tangan Nathan.
"Aku tidak janji."
"Hm." Bella mulai mempertanyakan soal alasan Nathan memilih menjadi lelaki brengsek. Dia teringat ucapan Pak Bisri yang menebak jika mungkin Nathan memiliki alasan kuat melakukan keburukan itu.
Sepanjang perjalanan menuju mobil mereka memilih diam sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tiba-tiba hujan turun. Cepat-cepat Nathan meraih pergelangan tangan Bella lalu mengajaknya berlari kecil menuju mobil.
Nathan melepaskan jaket yang di pakai lalu meletakkannya di pangkuan Bella. Tidak ada handuk sehingga dia ingin Bella mengenakannya untuk mengeringkan rambut.
"Aku lupa tidak membawa handuk kering dan payung." Ucapnya seraya melajukan mobil.
"Tidak perlu ini Mas." Bella mengembalikan jaket milik Nathan sebab dia merasa tidak membutuhkannya.
"Pakai saja. Aku takut kamu sakit." Jawabnya sambil memberikan jaketnya lagi.
"Aku baik-baik saja."
"Serius Baby. Aku sedikit muak melihatmu selalu menolak padahal niatku baik." Bella malah melirik malas tanpa mengambil jaket pemberian Nathan.
"Ya sudah." Hembusan nafas berat terdengar, Nathan kembali meminggirkan mobil lalu memutar tubuhnya ke arah Bella dan memaksanya memakaikan jaket.
"Diamlah, jadilah anak baik. Kamu itu tanggung jawabku."
"Untuk apa di lakukan kalau memang muak!?" Ucap Bella ketus. Hanya mendengar kata muak, perasaannya mendadak kesal. Mungkin karena belum sepenuhnya percaya sehingga Bella tidak ingin mau mengerti sedikit saja.
"Ya. Agar kau semakin muak. Sudah biar aku lakukan sendiri." Bella mendorong kasar dada Nathan lalu memakai jaketnya sendiri.
"Ini untuk kebaikan."
"Kau tahu apa sih soal kebaikan untuk ku." Nathan malah tersenyum simpul seraya bersandar pada kursi kemudi.
"Aku memang tidak baik tapi aku berusaha menjadi baik. Please Baby. Jangan memaksa ku kembali menjadi brengsek. Kamu tahu aku mati-matian menahan itu."
Jawaban dari Nathan membuat Bella semakin kesal. Dia mengira Nathan mengakui kepalsuan yang di balut dengan sikap sok baik dan dewasa.
"Oh kamu mengakui nya." Nathan tertawa kecil.
"Ya kamu tahu bagaimana aku dulu." Sementara Nathan menganggap jika Bella sudah tahu tentang apa yang bersarang pada otak kotornya. Setiap kali hujan menjebak, Nathan menginginkan sebuah sentuhan juga percintaan panas.
"Hm setelah ini jangan ganggu hidupku. Kamu memang tidak bisa berubah." Deg! Sontak Nathan menoleh dengan wajah panik.
"Aku sudah jauh berubah. Kenapa kamu menyuruhku menjauh. Mana mungkin aku bisa..."
__ADS_1
"Aku pun tidak bisa! Jangan egois kamu Mas." Bella melepaskan jaket dan melemparkannya tepat ke wajah Nathan.
"Aku merasa kamu juga menyukai ku. Ini hanya butuh waktu. Kenapa kamu semarah ini?"
"Suka itu tidak harus bersama. Mana bisa di paksa! Kau dan aku itu berlawanan arah." Jawab Bella lantang. Dia mencoba membuka pintu tapi gagal.
"Biar aku yang menuju ke arah mu. Sudah ku katakan kalau aku yang akan berjuang dan membuktikan semua keseriusan ku."
"Mana bisa aku hidup dengan orang yang tidak setia sementara aku pencemburu berat. Kembalilah menjadi brengsek dan biarkan aku hidup tenang. Mungkin waktu dua tahu tidak cukup untuk bisa melupakan mu. Tapi aku yakin akan bisa melakukan itu."
Nathan tertawa, dia mengerti situasinya. Bella tengah salah faham atas jawabannya.
"Kamu tidak mungkin bisa melupakan ku." Nathan kembali melajukan mobilnya.
"Cih! Memangnya kau siapa hah!!"
"Ingat perkataan ku semalam Baby. Aku takut kembali menjadi brengsek. Em maksud ku takut lepas kendali seperti perbuatan yang ku lakukan dua tahun silam."
Deg! Mimik wajah Bella seketika berubah. Dia kembali berbuat bodoh hanya karena kecemburuan dan fikiran negatifnya.
"Hanya yang menjadi perbedaan. Sekarang aku melakukannya atas dasar cinta bukan dendam. Bagaimana? Apa kamu mengerti Baby?"
Imbuh Nathan membuat Bella mengalihkan pandangannya menatap kaca jendela. Tentu saja dia merasa malu atas sikap yang di tunjukkan.
"Aku ingin melakukannya hanya denganmu bukan wanita lain. Sudah tidak ada tempat untuk memikirkan mereka."
"Hm."
"Kamu mau?" Tanya Nathan menggoda.
"Tidak!"
"Oh berarti kita kemana setelah ini?"
"Pulang. Memangnya mau kemana?"
"Katanya tidak mau pulang hehe." Bella tidak menunjukkan senyum meskipun dia cukup senang mendengar penjelasan Nathan." Tidak lucu ya? Em besok relasi penting akan datang. Mereka ingin menanyakan perihal pemutusan kerja sama. Aku harap kamu mau ikut." Nathan memutuskan berhenti meledek daripada nantinya Bella bertambah marah.
"Bastian?"
"Bukan Baby. Tuan Kai."
"Ya daripada aku tidak ada perkerjaan."
__ADS_1
"Oke Baby. Kita membungkus makanan lalu pulang." Bella hanya mengangguk. Nathan tidak pernah melupakan Pak Bisri dan selalu menawarkan makan bersama. Tentu hal itu menjadi poin terpenting bagi Bella.
🌹🌹🌹