
Ternyata Nathan membawa Bella ke pusaran sang Ibu. Dia ingin membagi cerita bahagianya. Cukup mengesankan bagi Bella sebab rupanya Nathan tidak sebrengsek perkiraan. Lelaki di sampingnya tidak ayal seperti seorang anak Mama yang kehilangan sumber kasih sayang.
Wajah itu menggambarkan kebahagiaan seakan-akan Mamanya masih hidup...
"Kita akan tinggal di rumah ku. Eldar sudah mengantarkan Ayah ke sana." Ucap Nathan setelah puas bercerita.
"Em itu Mas, kasihan Ayahmu." Jawab Bella pelan. Dia tidak masalah jika harus tinggal di rumah utama untuk sementara waktu sampai Pak Bisma membaik.
"Ada wanita itu. Biarkan saja."
"Pertimbangankan lagi. Aku tidak mau kamu menyesal nantinya." Nathan menghela nafas panjang. Tangan kanannya merangkul kedua pundak Ayu erat.
"Ayahmu sendirian." Sesuai tebakan. Walaupun rasa benci di tunjukkan namun di dalam lubuk hati Nathan tersimpan rasa sayang dan iba pada sang Ayah. Dia yang notabenenya anak berbakti terpaksa berbalik arah menjadi anak brengsek nan durhaka. Tentu hal itu menimbulkan peperangan batin.
"Katamu di rumah ada pembantu juga pekerja lain."
"Hm ada."
"Ayahku tidak akan kesepian."
"Aku malas melihat wanita itu dan lagi, aku ingin membuat pesta untuk pernikahan kita."
"Kita adakan di rumah utama saja Mas." Jawab Bella bersikukuh.
"Apa pantas Baby? Di sana ada orang sakit."
"Ayahmu akan senang. Keadaan seperti itu membutuhkan support." Keduanya mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju mobil.
"Kamu tidak tahu bagaimana sikap wanita itu."
"Kalau kamu pergi berarti kamu yang kalah. Wanita itu bisa leluasa berbuat apapun pada Ayahmu. Percayalah Mas. Aku hanya takut kamu menyesal ketika nanti Ayahmu berpulang."
Nathan terdiam seraya membukakan pintu. Bella masuk kemudian dia juga masuk lewat sisi lain pintu. Terlihat Nathan tidak langsung melajukan mobilnya. Dia tengah mempertimbangkan ucapan Bella yang di rasa benar.
"Aku malah memikirkan kamu nantinya." Jawabnya pelan.
Ternyata selama ini Nathan tahu jika Marta menyukainya. Wanita itu bahkan sempat merayu, masuk ke kamarnya diam-diam dan berdalih ingin menjadi seorang Ibu yang pengertian.
Namun semakin lama, perhatian dan sentuhan Marta terasa lain. Nathan yang kala itu sudah dewasa tentu mampu membedakan. Mana sentuhan kasih sayang orang tua terhadap anaknya dan mana sentuhan penuh hasrat.
"Apa maksudmu Mas?" Tanya Bella ingin tahu padahal dia sudah mengendus itu tadi.
"Bukankah kamu pencemburu? Wanita itu hanya terpaut dua tahun. Aku tidak mau membuatmu kesal nantinya."
Bella menatap lurus ke depan. Memang apa yang di katakan Nathan benar adanya. Tapi dia juga mempertimbangkan keadaan Pak Bisma yang butuh support dan dukungan dari orang terkasih sementara Nathan adalah anak satu-satunya.
"Asal kamu bisa menjaga perasaan tentu tidak masalah." Sungguh berat bibir Bella melontarkan jawaban tersebut mengingat Marta begitu cantik. Ingatan masa lalu kembali melintas ketika hubungan pernikahannya di hancurkan Lisa, anak angkatnya. Ya Tuhan. Baru saja pernikahan di gelar. Aku sudah di hadapkan dengan masalah seperti ini.
"Akan ku fikirkan. Hari ini kita tinggal di rumahku. Eldar sudah menyiapkan kamar pengantin untuk kita." Seketika Nay tersenyum aneh. Dia melupakan status yang sudah berganti.
__ADS_1
Oh iya. Sekarang aku Istrinya.
"Walaupun pernikahan sederhana. Aku berjanji akan membuat pesta besar. Kita undang Tuan Kai dan Istrinya juga seluruh staf Asian group." Imbuhnya mulai melajukan mobil.
"Tidak perlu Mas. Undang saja relasi mu. Jangan staf Asian group."
"Mereka tidak ada berani berbicara lagi. Bara juga sudah ku pecat."
"Tapi..."
"Sudahlah Baby. Aku ingin menjadikan mu ratu bukan.. Em bahan taruhan. Maaf." Ucapan itu kini menembus hati Bella sebab Nathan mengutarakan dengan sepenuh hati.
"Ya Mas."
"Aku terlalu brengsek untuk cepat tersadar. Seharusnya sejak awal aku sudah merebut mu dari Leo kalau memang aku tertarik." Bella tersenyum simpul. Keinginan itu memang terselip saat Nathan pertama kalinya mengirimkan pesan singkat padanya.
"Itu hanya masa lalu."
"Hm ya. Masa lalu yang membuatku sangat berkesan. Jangan paksa aku melupakan nya. Penolakan itu membuat ku terikat."
"Terlanjur memilih. Kamu terlalu berjalan lambat walaupun saat itu masih banyak pilihan yang lebih baik." Jawab Bella menyindir.
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Bilang apa?"
"Kalau aku bilang mungkin ceritanya akan lain. Bisa saja Aku yang meminta cerai darimu." Nathan terkekeh. Dia membenarkan itu. Begitu sulit terlepas dari kehidupan brengseknya. Bisa saja sampai sekarang Nathan akan tetap berlayar kalau hukuman Tuhan tidak menjeratnya agar mata hatinya terbuka lebar.
"Sudah. Pembahasannya memicu pertengkaran."
"Hm Mas. Tapi sekarang cerita nya lain..."
"Ya. Aku berjanji tidak akan mengecewakan. Kita sudah sampai Baby." Sahut Nathan cepat. Mobilnya masuk ke pekarangan luas sebuah rumah.
Terlihat mobil Eldar terparkir di garasi. Itu berarti Pak Bisri sudah lebih dulu tiba.
Bella tersenyum ketika baru saja turun. Entah kenapa dia menyukai model rumah dengan taman yang terawat.
"Apa ada tukang kebunnya Mas." Tanyanya antusias. Rumah di kelilingi bunga begitu mendinginkan mata.
"Iya." Aku memang membuatkan rumah ini untuk kita tempati. "Di sana juga ada saung untuk minum teh." Menunjuk ke kanan taman." Tapi tidak ada kolam renang." Imbuhnya tersenyum.
"Untuk apa kolam renang? Aku tidak bisa berenang."
"Kalau kamu mau, masih ada lahan di belakang. Kita bisa buat itu."
"Tidak."
"Hm ayo masuk." Kini tangan Nathan beralih pada pinggang. Sesekali dia mengerakkan tangannya lalu memberikan kecupan singkat pada puncak kepala Bella. Sedikit tidak nyaman, tapi Bella berusaha untuk tidak menghalau sentuhan sebab Nathan sudah menjadi Suaminya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Lisa menunggu kedatangan Nay di pintu utama rumah. Para penjaga tidak mengizinkannya masuk meskipun Lisa sudah mengantongi izin.
Setelah satu jam menunggu sebuah mobil mewah tampak datang. Lisa berusaha memasang wajah memelas agar mendapatkan simpatik dari Nay.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Nay yang turun sendirian sementara Kai duduk di dalamnya.
"Mereka tidak mengizinkan saya."
"Astaga. Aku sudah memerintahkan untuk memasukkan dia." Nay tersenyum ganjil. Sengaja dia mengundang Lisa ke rumah untuk suatu hal.
"Maaf Bu. Ini perintah Bos."
"Dia tamuku. Ayo." Nay mengiring Lisa masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk di samping Kai sementara Lisa di belakang. Anak tidak berdosa itu di bunuh. Untuk apa dia melakukan itu?
Lisa tidak mengerti jika selama ini kehidupannya di pantau. Pertolongan yang di berikan Nay tidak serta merta apalagi gelagat tidak baik sudah terendus sejak awal.
Sangat tidak rela ketika ada mata nakal memandangi Kai di saat dia berada di dekatnya. Entah dari mana asal jiwa pembunuh tersebut. Kai juga di buat bingung atas sikap Istrinya. Dia fikir setelah melahirkan Darrel, kebengisan Nay akan menghilang namun rupanya itu bukan bawaan bayi. Mungkin rasa sakit yang menghantam kuat membuat sisi psikopat nya terbangun.
"Bagaimana bisa anak mu meninggal?" Tanya Nay ramah. Kai hanya terdiam dengan wajah datar. Dia paham akan sikap Nay yang kini ingin berulah lagi.
"Saya tidak tahu. Ketika saya bangun dia sudah tidak bernafas. Ini hasil pemeriksaannya." Lisa menyodorkan secarik kertas. Sebuah laporan pemeriksaan palsu. Dia fikir bisa menipu keluarga di hadapannya. Masih terlalu dini untuk tahu siapa mereka.
"Astaga kasihan. Padahal saya ingin mengangkatnya menjadi anak. Rahim saya bermasalah sampai-sampai saya tidak bisa mengandung lagi." Lisa tidak sadar akan senyuman ganjil yang Nay perlihatkan.
Biar aku yang menjadi Istri kedua Suami mu. Akan ku berikan banyak anak untuknya. Wanita ini memang sangat cantik. Tapi aku lebih mudah darinya. Wah wah.. Rumahnya seperti Istana. Aku harus bisa menjadi Nyonya Kai.
"Banyak anak itu lebih baik." Sindir Lisa tersenyum ke arah Kai yang tampak tidak merespon. Belum juga dirinya paham jika lelaki yang berusaha di rayu hanya seonggok daging tanpa hati dan perasaan.
"Ingin sekali memberikan saudara untuk Darrel." Mereka turun setelah mencapai pintu utama. Terlihat Jessy sudah menunggu kedatangan mereka. Nay sempat akan mengembalikan perusahaan namun Jessy malah memilih menjadi asisten pribadi. Berada di sekeliling lelaki berandalan lebih menyenangkan katanya." Jessy em tolong tunjukkan kamar untuk Lisa. Jangan lupa jelaskan perkerjaannya di sini." Ujarnya menjelaskan.
"Baik Nyonya. Mari ikut saya." Masih sempatnya Lisa menyuguhkan senyuman ke arah Kai.
"Kenapa tidak langsung di bunuh?" Tanya Kai pelan.
"Sudah lama tidak bermain-main. Aku ingin mencongkel matanya ketika dia menatapmu." Kai tersenyum simpul. Kecemburuan yang terdengar mengerikan namun dia suka.
"Lakukan Baby. Dia hanya hidup sebatang kara."
"Ya. Ini akan menyenangkan." Nay tersenyum simpul seraya mengalungkan kedua tangannya ke pundak Kai. Di umurnya yang sudah tidak lagi muda masih saja dia suka menggoda Kai yang sikapnya masih seperti kanebo kering.
"Why? Nanti saja." Cegah Kai menatap sekitar. Dia malu pada ajudan yang ada di sekeliling rumah.
"Kau sudah tidak mencintai ku Kai!!!" Teriak Nay lantang.
"Sangat Baby. Aku sangat mencintaimu." Kai lebih memilih mellumat bibir Nay daripada harus mendapatkan kemarahan yang tidak akan ada ujungnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1