Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Undangan pernikahan


__ADS_3

Nay tersenyum ketika penjaga rumah menyerahkan undangan dari Bella dan Nathan. Tentu saja dia turut bahagia karena akhirnya keduanya menikah. Lain hal dengan Kai yang sebenarnya tidak ingin terlibat apalagi berpura-pura manis. Nay cenderung bersikap welcome pada orang terpilih. Kadang-kadang apa yang di lakukan akan menjurus ke sebuah permasalahan berat seakan Nay di hadirkan sebagai penolong.


"Kita harus menyiapkan hadiah spesial Mas. Mereka pasangan yang klasik." Kai terdiam seraya memeriksa senjata api di tangannya." Mas!" Panggilnya ketus membuat Kai seketika meletakkan senjata dan memutar tubuhnya.


"Terserah kamu mau memberikan apa."


"Oh jadi begitu." Terdengar helaan nafas panjang berhembus.


"Begitu bagaimana Baby?"


"Kau sepertinya tidak setuju." Sampai saat ini wajah datar Kai memang sulit di hilangkan. Lelaki itu masih saja terasa kaku meski pada momen tertentu senyuman mengembang di perlihatkan.


"Aku sedang menyiapkan amunisi."


"Terus saja mengelus-elus senjata mu itu."


Dia selalu peka...


Beberapa hari lalu Eldar mengirimkan sebuah video pada Kai perihal keadaan Pak Bisma. Sejak saat itu, Kai langsung menyuruh Alan menyelidiki kasus lebih lanjut mengingat Pak Bisma adalah sahabat karib sang Ayah.


"Sudah lama tidak beraksi. Musuh-musuh ku terlalu lambat berjalan." Gumamnya pelan.


"Ah menyebalkan." Eluh Nay beranjak dari tempatnya. Kai tersenyum simpul menatapnya.


"Mau ke mana? Kita hadiahkan sebuah liburan atau kebebasan." Jawaban dari Kai membuat Nay memutar tubuhnya.


"Kebebasan?"


"Hm." Kai meletakkan ponselnya. Bergegas saja Nay mengambilnya dan melihat video yang di kirimkan Eldar.


"Apa masalah mereka Mas?"


"Masalahnya hanya wanita rubah itu. Dia harus di berikan sedikit pelajaran berharga sebab sudah berniat memisahkan antara anak dan Ayah. Bukankah itu termasuk pembullyan."


Nay tersenyum simpul lalu mengurungkan niatnya pergi. Dia malah duduk di pangkuan Kai sambil meraih gagang telepon. Nay berniat menghubungi Lisa untuk mempertontonkan sebuah kenyataan pahit.


"Lisa, bawakan aku cake yang ada di kulkas." Pintanya tersenyum. Menutup telepon lalu meletakkannya, kini kedua tangannya melingkar ke leher Kai.


"Melakukan apalagi?" Tanya Kai hanya mampu mematung ketika Nay bersikap lebih agresif dari biasanya.


"Rubah yang ada di rumah ini, harus di pancing wujud aslinya." Jawabnya berbisik.

__ADS_1


"Kenapa tidak langsung saja. Jujur saja aku muak melihat wanita itu."


"Tidak sayang. Mumpung Darrel tidak ada di rumah. Aku ingin bermain-main sebentar saja." Sengaja sekali Nay tidak menutup pintu agar perbuatannya bisa di nikmati Lisa yang ternyata sudah berada di ambang pintu.


"Terserah Baby. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Kai membalas lummatan bibir Nay tanpa perduli pada sepasang mata yang melihatnya di balik pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi." Ucap Lisa setengah berteriak. Dia berharap Nay menghentikan perbuatannya sebab dia merasa cemburu. Sungguh gila memikirkan hal tersebut, masih saja Lisa berniat menghancurkan sebuah hubungan.


Nay tidak bergeming begitupun Kai, keduanya asyik bercumbu sehingga Lisa memutuskan untuk meletakkan cake di atas meja. Maniknya melirik kegiatan panas yang ada di hadapannya. Ingin rasanya dia berada di posisi Nay sekarang.


Lihat saja. Sebentar lagi aku yang akan menempati kamar utama ini.


Praaaangggggkkkk...


Seketika Lisa berjingkat ketika sebuah benda di lempar ke arahnya. Mimik wajahnya kian gugup ketika Nay sudah berjalan menghampirinya.


"Kau lihat apa??!!!" Plaaaaaakkkkkk!!! Tubuh Lisa bergeser. Darah pada sudut bibir menandakan betapa kerasnya tamparan tersebut.


"Maaf. Saya." Nay meraih rahangnya keras. Menekannya sampai darah semakin banyak mengalir.


"Kau ingin dia!!!" Menunjuk ke arah Kai yang hanya diam dengan wajah datar.


Sontak saja Lisa berteriak sebab ujung sandal berhasil melubangi sela tangannya.


"Seharusnya kau berfikir terlebih dahulu sebelum kau bunuh darah daging mu sendiri." Duaaaakkkk!! Nay menendang wajah Lisa lalu menyeretnya keluar." Jessy!!!!" Teriak Nay lantang.


"Ya Nyonya." Jawab Jessy seraya menaiki tangga." Ada apa Nyonya?" Jessy tersenyum menatap Lisa yang mendesis kesakitan. Tangannya terlihat bergetar hebat akibat keretakan tulang jarinya.


"Urus wanita ini. Setelah itu temui aku di samping kolam renang. Aku ingin memberimu tugas."


"Baik Nyonya."


"Hm." Braaaakkkkk!!! Nay menutup pintu kasar.


"Tolong Kak Jess ini sakit sekali."


"Hahahaha. Aku yakin Nyonya punya dendam padamu. Memangnya kau melakukan apa?" Tentu saja Jessy malah tertawa. Dia sudah terbiasa melihat ketidakwarasan Nay dalam memperlakukan korbannya.


"Saya tidak..."

__ADS_1


"Mustahil. Dia berkata kau itu mainan nya." Deg! Lisa melebarkan matanya, menatap Jessy penuh tanya.


"Mainan?"


"Ya bersiap saja. Berdiri." Jessy menarik kasar lengan Lisa untuk memaksanya berdiri.


Ku rasa ada yang salah dengan wanita itu? Wajahnya terlihat bengis padahal beberapa hari lalu dia sangat ramah. Apa aku mengundurkan diri saja daripada di siksa.


🌹🌹🌹


Semua persiapan pesta tengah di kerjakan. Meski janji suci sudah lebih dulu di ambil namun terbesit rasa gugup melihat dekorasi pesta bak negeri dongeng.


Seluruh hiasan bernuansa warna biru. Bukan Bella yang menyuruh tapi atas inisiatif Nathan sendiri. Sementara Bella lebih cenderung menerima karena dirinya sadar jika pernikahan ini bukan yang pertama.


Baru sore kemarin mereka pindah ke rumah utama. Tapi sudah beberapa kali Marta menunjukkan sikap ganjil nya. Terkadang tangannya tanpa sungkan memegang lengan juga kepala. Alasannya agar Nathan bisa menerima kehadirannya sebagai Ibu tiri. Tapi apa bisa? Sebab Bella menganggap jika Marta memang punya niat lain.


Umur yang terpaut beberapa tahun, membuat keduanya terlihat seperti seorang teman, bukan Ibu dan anak.


"Sudah tahu kenyataannya? Apa kamu ingin pergi setelah pesta." Tanya Nathan yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya.


"Mana bisa Mas. Lihat keadaan Ayahmu."


Tidak dapat di pungkiri jika Bella merasa cemburu walaupun Marta berusaha menyakinkan. Tapi mau bagaimana lagi. Dia lebih memikirkan keadaan Pak Bisma yang terlihat semakin buruk.


"Mungkin memang sudah waktunya." Jawab Nathan asal.


"Kamu bicara apa Mas?!" Tergambar jelas kekecewaan masih bertengger di sorot mata Nathan.


"Itu karma untuknya."


"Dia orang tuamu, astaga."


"Kalau saja dia tidak menikahi wanita itu, tidak mungkin semua ini terjadi."


Sejak awal Nathan sudah mengetahui niat terselubung Marta yang secara terang-terangan merayunya. Tapi mungkin Pak Bisma terlalu di butakan dengan kecantikan sehingga dia tidak mau mendengar peringatan tersebut.


"Jangan sembarangan menuduh Mas. Penyakit stroke sering menyerang orang tua." Bukan membela, hanya saja fikiran Bella tidak mampu menjangkau sejauh itu. Jahat sekali menurutnya, sehingga mustahil terjadi.


"Entahlah Baby. Aku merasa dia sengaja melakukan itu." Kalau aku bilang wanita itu menyukai ku, nanti dia salah faham.


Tujuan Nathan menolak tinggal di rumah utama bukan hanya memikirkan kekesalannya sendiri. Dia juga takut terjadi salah faham lagi. Nathan berusaha menghindar tanpa penjelasan agar masalah tidak semakin rumit. Dia ingin sejenak menikmati kebersamaan tanpa ada problem. Tapi di sini Bella tidak memahami dan malah menuduh Nathan terlalu membenci Pak Bisma.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Novel baru sudah rilis ya🎉 Judulnya Cinderella dan Calon Ketua Mafia . Aku tunggu dukungan kalian di sana. Terimakasih ❤️🌹


__ADS_2