Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Hanya di manfaatkan


__ADS_3

Marta mendengus ketika mendengar cerita dari Elena soal pertemuannya dengan Nathan siang ini. Sementara Pak Bisma sendiri hanya terduduk lemah di kursi roda sambil menyimak obrolan.


Sungguh dia tidak pernah menekan Nathan berhubungan dengan siapapun. Asalkan anak semata wayangnya itu bahagia, Pak Bisma setuju dengan apa pilihan Nathan.


"Tinggal di mana wanita itu?" Tanya Marta seakan kesal karena membela Elena. Padahal dia tengah cemburu mendengar kenyataan jika Nathan sudah bertunangan. Itu berarti tidak ada kesempatan baginya mendekat. Lalu untuk apa dia menghadirkan Elena kalau memang Marta sangat menginginkan Nathan. Tujuannya tidak lain hanya ingin memanfaatkan Elena agar Nathan bisa berdiam diri di rumah.


"Saya tidak tahu Tan. Tapi serius, dia tidak cantik."


"Biarkan saja Ma. Nathan tidak akan mau di paksa." Sahut Pak Bisma menimpali. Suaranya terdengar pelan dan lemah.


"Kalau Nathan memilih orang yang salah, kekuasaan mu juga akan jatuh pada orang yang salah Pa."


"Nathan bukan lelaki yang mudah meresmikan hubungan. Aku yakin dia sangat menyukai wanita itu."


Pak Bisma tahu bagaimana buruknya perangai Nathan dalam hal wanita. Suka bergonta-ganti pasangan dan memanfaaatkan harta juga kekuasaan untuk memuluskan keinginan. Tapi di balik itu, Pak Bisma memahami jika Nathan tengah meluapkan kekesalan atas pernikahannya bersama Marta. Wanita yang puluhan tahun lebih muda darinya.


"Elena lebih baik. Dia keturunan keluarga terhormat dan terpandang." Apa yang di lontarkan Marta semata-mata ingin memenuhi keinginannya sendiri. Kalau Nathan berhubungan dengan orang yang benar-benar di cintai, itu berarti dia tidak akan bisa merayu.


"Aku tidak masalah kalau memang wanita itu hanya orang biasa."


"Aku tidak setuju Pa. Pasti dia hanya menginginkan harta Nathan saja." Pak Bisma tersenyum simpul.


"Anakku sangat tampan. Mana mungkin begitu. Aku yakin wanita itu juga mencintai nya. Tolong jangan terlalu mengatur nya. Nathan akan semakin keras kalau kamu tidak pandai merayunya."


Marta mendengus seraya memberikan kode pada Elena untuk mengikutinya. Segera saja Elena berpamitan lalu berjalan beriringan dengan Marta.


"Bagaimana ini Tan. Sepertinya Om Bisma tidak mendukung saya."


"Kamu tenang saja Elena." Marta mengeluarkan secarik kertas dari sakunya." Beli obat ini agar lelaki itu tidak banyak mulut." Pintanya pelan.


"Apa ini Tan."


"Hussssh. Jangan banyak bicara. Belikan obat ini dan bawa padaku. Para pembantu sedang mengambil cuti. Kalau aku berkeliaran, Eldar akan marah padaku." Ucapnya beralasan. Kalau terjadi sesuatu dengan Bisma. Elena satu-satunya orang yang akan terdampak masalah.


"Baik Tan. Tapi mungkin besok pagi saya antar. Em setelah ini ada keperluan keluarga yang harus saya hadiri."


"Oh tidak masalah Elle."


"Saya permisi."


"Hm ya hati-hati. Jangan berkecil hati. Nathan pasti menjadi milikmu asal kamu menuruti kata-kata ku." Elena mengangguk patuh. Dia tidak sadar sedang di manfaatkan.


"Iya Tan terimakasih. Mari."


Elena bergegas masuk mobil. Marta tersenyum manis sambil melambai ke arah mobil yang melaju meninggalkan pekarangan.


"Hanya aku yang boleh berada di samping mu Nath." Gumam Marta sambil tersenyum jahat. Keinginannya untuk memiliki Nathan sangat menggebu-gebu. Bukan masalah harta sebab Marta sendiri berasal dari golongan orang kaya. Dia sangat menyukai sosok Nathan yang kerapkali di jadikan alat sebagai pemuas naffsu. Setiap berhubungan badan dengan Pak Bisma, Marta selalu membayangkan itu bersama Nathan. Sungguh gila! Seharusnya Pak Bisma menuruti permintaan Nathan untuk tidak menikah lagi. Sebab itu alasan satu-satunya kenapa Nathan enggan pulang ke rumah.


🌹🌹🌹


Rasa kesal dan cemburu buta masih berkecamuk di hati Bella sampai keduanya tiba di rumah. Sejak tadi hanya Pak Bisri yang mengobrol sementara Bella cenderung fokus pada makanan di hadapannya. Dia terlihat mempercepat kunyahannya seakan ingin segera pergi dari sana.


"Apa perkerjaannya sedikit berat?" Tanya Pak Bisri membaca raut wajah masam anaknya.


"Tidak Yah. Hanya sedikit panas di luar. Aku ingin bergegas mandi agar tubuhku menjadi dingin." Pak Bisri menoleh ke arah jendela. Di luar tampak mendung. Ruangan bahkan begitu dingin.

__ADS_1


"Dia hanya sedang salah faham Om. Tadi kita bertemu wanita di masa lalu saya, em seorang mantan." Kini Pak Bisri mendapatkan jawaban atas sikap Bella.


"Oh jadi ceritanya sedang cemburu." Kekeh Pak Bisri meledek. Dia suka bisa melihat perubahan sikap Bella yang sejak dua tahu terakhir selalu menunjukkan wajah datar.


"Tidak. Aku malah suka kalau dia di jodohkan." Menunjuk ke arah Nathan.


"Aku tidak pernah menyukai mereka." Bella terkekeh kecil.


"Tidak suka tapi kenapa..."


"Hanya masa lalu Baby." Sahut Nathan cepat.


"Kalian melakukan itu!"


"Dua tahun yang lalu. Sebelum aku bertemu dengan mu." Jawabnya lagi. Tatapannya ke arah Bella. Begitu dalam sampai-sampai Nathan mematung sesaat.


"Aku melihat kalian."


"Itu terjadi ketika dia masih menjadi Istri Leo Om." Pak Bisri mengangguk-angguk. Nathan sudah menceritakan semua perbuatannya dari awal sampai akhir.


"Menjijikkan sekali melihatmu berbuat itu!!" Klunting! Bella meletakkan sendok lalu menggeser piringnya." Aku bahkan mual memakan ini." Pak Bisri menghela nafas panjang sementara Nathan tersenyum simpul.


"Tidak baik menghina makanan Nak."


"Buatkan aku mie instan saja Yah. Aku malas!" Bella berdiri kemudian masuk ke dalam kamar. Braaaakkkkk!!! Suara pintu tertutup keras sampai membuat Pak Bisri berjingkat sambil mengusap-usap dadanya.


"Entah watak siapa seperti itu, padahal Mamanya tidak pencemburu berat."


"Biarkan saja Om. Saya malah senang."


"Biar saya saja." Pintanya pelan seraya berdiri.


"Memangnya kamu bisa?"


"Bisa Om."


Semoga dengan ini dia bisa segera memberikan kesempatan untukku. Ingin sekali hidup satu atap dengannya.


"Ya sudah mumpung Bella mandi. Em dia suka di campur sosis dan banyak sayur."


"Siap Om." Setelah melontarkan kalimat tersebut, Nathan berjalan ke arah dapur untuk memasak mie instan spesial.


.


.


.


.


Seusai mandi, Bella membuka sedikit pintu kamar. Dia memastikan Nathan sudah pergi dari Apartemennya. Terlihat Pak Bisri tengah duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Di depannya sudah ada sepiring mie instan yang sejak tadi aroma nya memenuhi ruangan.


Sudah pulang.


Bergegas saja Bella keluar dan duduk tepat di samping Pak Bisri yang kini tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Mie goreng tidak apa-apa? Ayah tadi lupa bertanya."


"Tidak apa Yah. Terimakasih ya." Bella mengecup pipi Pak Bisri sejenak kemudian memulai makan. Wah enak sekali.


Pak Bisri tersenyum simpul ketika melihat mimik wajah Bella yang berubah senang.


"Enak?"


"Hm. Tumben sekali rasanya spesial. Ayah menambah apa?" Bella memilah-milah mie untuk menemukan potongan sosis dan bakso.


"Memangnya kalau Ayah beritahu kamu mau buat sendiri?"


"Tidak hehe."


"Ya sudah makan saja." Nathan ternyata bisa memasak. Aku semakin yakin dengan nya.


Terlihat Bella sangat lahap memakannya. Hanya butuh waktu beberapa menit menghabiskan mie dengan ukuran jumbo tersebut.


"Aku mau lagi Yah. Nanti ku pijit kalau Ayah capek." Pinta Bella merajuk. Sama sekali dia tidak merasa sungkan mengatakan hal tersebut sebab Pak Bisri selalu tidak mempermasalahkannya.


"Mie biasa saja ya."


"Yang seperti ini Yah. Enak sekali."


"Maaf Nak Ayah tidak bisa." Bella meletakkan piring lalu memegang lengan Pak Bisri.


"Ayolah Yah, nanti Aku pijitin kalau Ayah capek."


"Ayah tidak capek Nak."


"Buatkan kalau tidak capek."


"Hubungi Nak Nathan, dia pasti mau membuatkan itu." Deg! Perlahan tangan Bella terlepas dari lengan Pak Bisri. Dia tersenyum aneh sambil memutar tubuhnya.


"Jadi?" Mie itu buatan Mas Nathan?


"Hm. Nak Nathan yang membuatkan nya. Sepertinya lidahmu cocok dengan masakan nya."


"Oh tidak. Rasanya biasa saja. Aku tadi memuji karena ku fikir buatan Ayah." Jawab Bella menyangkal.


"Entahlah Nak. Ayah semakin yakin dengan Nathan."


"Hanya karena mie instan itu?" Menunjuk ke piring kosong.


"Kamu pasti juga merasakannya ketika dia menatap mu."


Ya.


"Tidak. Tatapan yang sama seperti dulu."


"Coba cari lebih dalam lagi."


"Aku tidak bisa Yah. Kalau aku saja yang di kecewakan mungkin tidak masalah. Tapi dia sudah membawa nama Ayah. Aku tidak mau itu terulang." Manik Bella terlihat berkaca-kaca. Dia sendiri bingung memutuskan karena suara hati dan sikap yang tidak sesuai.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2