Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Ajakan kencan


__ADS_3

💌Tidak enak!


Begitulah jawaban Bella ketika Nathan menanyakan perihal mie buatannya melalui pesan singkat. Perasaan kesal bercampur aduk cemburu masih bertengger di otak.


💌Lain kali aku buatkan lagi.


💌Tidak. Terimakasih.


💌Malam ini kita berkencan.


💌Dasar tidak tahu diri!


💌Urat malu ku sudah terputus. Ingat Baby, aku tunangan mu.


💌Akan ku kembalikan cincinnya.


💌Tidak akan ada bedanya. Kamu tetap ku anggap tunangan ku.


💌Dasar pemaksa.


💌Tapi tidak seekstrim yang sebelumnya. Pukul tujuh ku jemput ya.


💌Tidak bisa.


💌Kalau begitu aku akan menginap di Apartemen mu.


💌Kenapa begitu?


💌Tidak apa. Aku hanya ingin kita selalu berdekatan. Jujur saja Baby. Aku sudah rindu padahal kita baru beberapa jam berpisah.


Bella menghembuskan nafas berat. Rayuan murahan itu kembali menggetarkan hatinya. Dia bahkan tersenyum dengan wajah memerah sambil menatap ke layar ponsel.


💌Ku jemput pukul tujuh Ya. Aku berjanji tidak akan mengecewakan mu.


Meski tidak mendapatkan balasan, Nathan berniat tetap akan datang. Setelah meletakkan ponselnya dia memutuskan untuk membersihkan diri.


Tanpa dia sadari, beberapa orang di seberang gedung Apartemen memantau kegiatan keduanya dengan sebuah teropong. Bukan masalah sulit bagi Alan untuk mendapatkan informasi tentang Bella dan Nathan.


"Mimik wajah wanita itu menandakan jika dia juga menyukai si lelaki." Ujar seorang ahli psikolog.


"Oh berarti Bastian berbohong. Em aku tidak suka hal seperti itu. Kejujuran harus di tegakkan."


"Saya bahkan melihat kalau si lelaki lebih menggebu-gebu perasaannya daripada si lelaki wanita. Em itu berarti keduanya memang ada ketertarikan." Imbuhnya menjauhkan matanya dari teropong.


"Terimakasih untuk informasinya. Ini ada sedikit uang untuk jasa." Alan menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah ahli psikolog.


"Tidak perlu Tuan. Saya juga tinggal di Apartemen ini. Jadi, saya dengan senang hati membantu Tuan Kai."


"Serius tidak mau. Jumlahnya lumayan loh."


"Dua rius hehe. Tuan Kai sudah banyak membantu saya sampai akhirnya saya bisa menjadi seperti sekarang. Em kalau ada yang di butuhkan. Jangan sungkan-sungkan menelfon." Alan tersenyum simpul kemudian memasukkan amplop ke dalam jaket hitamnya.


"Terimakasih ya Pak."


"Sama-sama Tuan."


"Hm kami permisi." Alan mengangguk sebentar kemudian melangkah keluar bersama tiga anak buahnya. Segera saja dia mengambil ponsel untuk mengabarkan penyelidikannya pada Nay.

__ADS_1


📞📞📞


"Bastian berbohong Nona.


"Itu tandanya jangan memenuhi keinginan nya.


"Baik Nona.


"Awas saja kalau kamu melanggar hanya demi uang.


Bukan tanpa alasan Alan begitu tunduk pada Nay. Selain menghormati Kai, dirinya juga kerapkali bergidik ngeri melihat kemarahan yang di tunjukkan Nay bak psikopat handal.


Sangat banyak pertumpahan darah, ketika ada seseorang ingin mencelakai Darrel. Beruntung sebab kekuasaan Kai mampu menutup kasus itu rapat.


"Mana mungkin Nona. Saya sudah memblokir nomer Bastian.


"Bagus.


"Baik Nona.


📞📞📞


Panggilan terputus. Alan masuk ke dalam mobil menuju kampus untuk memantau kegiatan Darrel, anak yang di sebut keponakannya.


Note!!! Tidak henti-hentinya aku mengingatkan untuk membaca novelku yang nomer dua agar tidak bingung dengan pengenalan para tokoh. Tujuanku menambah ini karena aku berniat akan melanjutkan novel tersebut setelah novel ini selesai. Kembali ke cerita👇👇


🌹🌹🌹


18.30


Bella sengaja tidak mengganti baju walaupun dia berniat memenuhi permintaan Nathan untuk berkencan. Tentu saja Bella ingin bersikap seenaknya. Selain ingin memberikan pelajaran, Bella juga berniat menunjukkan sifat aslinya agar nanti Nathan tahu keburukannya seperti apa.


"Terimakasih. Ini tips nya." Bella menghela nafas panjang sebab tebakannya salah. Mungkin itu hanya tukang Loudry atau pelayanan perawatan kamar.


"Siapa Yah?" Tanya Bella sambil melirik Pak Bisri.


"Tadi ada masalah soal keran air. Ayah meminta bantuan dan belum sempat membayar. Kamu tahu kalau tidak ada uang cash." Bella mengangguk. Tidak ada alasan baginya untuk curiga." Em tadi Ayah lihat ada seorang wanita berdiri di depan Apartemen Nathan." Sontak Bella menoleh dengan wajah membulat.


"Benarkah? A Ayah salah lihat mungkin."


"Tidak Nak. Mata Ayah belum rabun. Em wanita itu pakaiannya minim sekali." Bella menelan salivanya kasar. Marah dan cemburu semakin bergejolak di hati.


"Memang seperti itu kehidupannya. Mana bisa berhenti!" Lelaki itu benar-benar!!!


"Tapi serius. Wanita itu cantik sekali." Bergegas saja Bella berdiri dengan tatapan ke arah kantung sampah. Dia ingin menjadikan alasan tersebut untuk keluar dan memeriksa.


"Terserah Yah. Aku akan membuang sampah." Imbuhnya pelan. Berjalan menuju bak sampah lalu mengikatnya.


Pak Bisri menahan tawa sebab biasanya Bella tidak mau menyentuh sampah tersebut. Dia yakin jika kini Bella merasa terpancing dengan omongannya.


"Itu belum penuh Nak. Biar besok Ayah buang sendiri."


"Ini ruang ber-AC. Aromanya akan menggangu." Meski jijik Bella berusaha memegang kantung sampah lalu membawanya.


Ketika pintu terbuka, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Nathan sudah berdiri di depan. Penampilannya sangat menyilaukan mata sebab untuk pertama kali Bella melihat Nathan memakai busana santai. Sebuah kaos dan celana pendek tampak dia pakai.


"Nah kamu kena." Sapanya tersenyum simpul. Pak Bisri mengambil kantung sampah dari tangan Bella lalu memberikan sebuah sweater.

__ADS_1


"Apa ini?!! Kalian.. Bersekongkol?" Tanyanya ketus. Menatap ke arah Pak Bisri.


"Bukan salah Ayah tapi Nathan. Pergilah."


"Tapi aku tidak mau."


"Nanti kalau menghilang, kamu akan menangis." Bella tersenyum aneh.


"Ti tidak mungkin." Jawab Bella terbata.


"Saya ajak Bella sebentar Om."


"Hm. Om mengizinkan asal kamu membawanya dalam keadaan senang."


"Saya akan berusaha." Tanpa basa-basi Nathan meraih pergelangan tangan Bella dan mengiringnya ke arah lift.


"Aku masih memakai baju rumahan."


"Aku juga." Ketika pintu lift tertutup Nathan mengambil sweater dari tangan Bella lalu memakaikannya.


"Kau sedang berusaha bersikap manis."


"Sejak dulu aku memang selalu bersikap manis. Hanya saja sekarang sikap itu akan ku tunjukkan padamu saja."


"Omong kosong." Meski berceloteh namun nyatanya Bella membiarkan Nathan memakaikan sweater ke tubuhnya.


"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku akan jadi Nathan yang baik nan manis hanya untuk mu."


Sial!! Dia tampan sekali ketika berpakaian santai seperti ini. Sementara aku mirip pembantunya saja!!!


Begitulah fikiran buruk yang berkecamuk dalam otak Bella. Padahal dia cukup pantas mengingat kecerdasan otaknya juga inter beauty yang di miliki.


"Sudah." Bella menjauhkan tubuh Nathan tepat di saat pintu lift terbuka." Jangan ke puncak lagi." Pintanya melangkah keluar.


"Iya."


"Harus dekat agar tidak terlalu malam pulangnya." Protesnya lagi.


"Siap Baby. Em besok tidak ada kegiatan. Em kamu mau datang ke makam Mamaku?" Bella menghembuskan nafas berat untuk mengatur rasa gugupnya.


"Entahlah."


"Ku kenalkan pada beliau."


"Tergantung besok."


"Memangnya kamu sibuk?"


"Tidak. Ingin bangun siang saja."


"Ya sudah kita pergi siang hari."


"Kenapa memaksa?!" Protes Bella ketus.


"Hanya rindu. Tidak ada alasan lain." Seketika Bella terdiam sampai keduanya masuk ke dalam mobil. Selayaknya orang yang baru jatuh cinta. Nathan dengan gamblang mengungkapkan kebucinan nya tanpa rasa malu." Tidak masalah kalau kamu baru ingin menikah dalam kurun waktu yang lama. Asal kita tetap seperti sekarang, ya sudah. Itu bukan masalah besar." Imbuhnya menjelaskan.


Serius dia berkata itu?

__ADS_1


Mungkin perkataan Nathan tidak terdengar aneh jika dia bukan mantan penjahat ranjang. Bella bahkan menyaksikan sendiri ketika Nathan bergumul bersama Elena dulu. Dia juga merasakan sensasi nya. Ketangguhan juga cara Nathan membuat lawan mainnya bertekuk lutut. Sangat lihai dan berpengalaman. Itu alasan kenapa saat ini suara dessahan dan pujian Nathan masih sangat dia ingat.


🌹🌹🌹


__ADS_2