
Kini Bella bisa kembali tinggal di rumah miliknya. Sudah delapan hari sejak kematian sang Ibu. Bella serta Ayahnya belum ada waktu untuk membicarakan tentang awal mula kejadian.
Saudara jauh yang berdatangan memutuskan menginap, sehingga mereka tidak dapat berbicara bebas. Bella berdalih Leo tengah berada di luar kota dan tidak bisa pulang, ketika beberapa orang menanyakan kehadirannya.
Para saudara dan tetangga tentu mencibir perbuatan Leo dan keluarganya. Namun Bella sendiri menganggap jika itu alasan yang tepat. Dia sendiri belum ingin bercerita soal pernikahannya yang hancur.
Pagi ini, tamu terakhir Pak Bisri terlihat menaiki mobil. Keduanya melambai sambil memasang senyuman melepas kepergian Kakak dari Pak Bisri. Setelah mobil benar-benar pergi, dengan hangat Bella di rangkul lalu di giring masuk ke dalam.
"Sebaiknya Ayah bercerita sekarang?" Ucap Bella mengawali pembicaraan ketika mereka sudah duduk di ruang tamu. Selama ini dirinya sudah menahan diri untuk bertanya.
"Mama mu rindu. Dia bilang perasaannya tidak enak sejak beberapa hari. Sementara kamu tidak berkunjung beberapa bulan. Itu kenapa dia memaksa berkunjung dan em itu, Lisa yang menyambut kedatangan kami. Memang yang berkata bukan Nak Leo tapi Lisa." Jawab Pak Bisri menjelaskan.
Seketika hati Bella bergemuruh. Dia sangat membenci Lisa dan semakin membencinya.
"Bella tidak berselingkuh Yah. Mas Leo salah faham dan membuat semuanya seperti ini." Sang Ayah menatap Bella dengan hati teriris. Anak semata wayangnya berubah tidak terawat akibat di telantarkan.
"Salah atau tidak. Kamu tetap anak Ayah dan lelaki itu seharusnya mengantarmu pulang bukan lepas tanggung jawab."
Hati Ayah mana yang bisa menerima. Anak yang sudah di rawat sejak kecil dengan kasih sayang, kini tidak di kenali karena perubahan fisiknya.
"Mas Leo sudah berniat mengantar pulang."
"Jangan lagi membelanya Nak. Ayah ikut sakit hati." Menepuk-nepuk dadanya." Jadi dia menuduh mu berselingkuh?" Imbuh Pak Bisri ingin tahu.
Bella menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Dia tidak ingin lagi menutupi dan membuat Ayahnya merasa khawatir.
"Kamu tinggal di sini saja. Ayah masih kuat membiayai hidup mu. Sekarang Mama mu sudah tidak ada. Ayah bisa berkerja sebagai tukang kayu seperti dulu lagi." Pak Bisri terpaksa berhenti berkerja untuk menjaga sang Istri. Itu kenapa Bella sempat di jadikan tulang punggung keluarga.
"Tidak Yah. Bella yang akan berkerja."
Kini Bella mengingat nama Nathan. Lelaki itu benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya. Sedikit kesal sebab sebenarnya Bella tidak benar-benar melarangnya untuk datang.
Mungkin saja lelaki itu sudah melupakan janjinya. Ah tentu saja. Apa yang bisa di harapkan. Semua yang di katakan hanya sekedar rayuan. Bisa jadi dia sekarang sudah kembali menjadi brengsek dengan memacari banyak wanita.
__ADS_1
"Kamu tenangkan diri dulu. Ayah masih kuat untuk mencari nafkah."
"Aku sudah ikhlas Yah. Mungkin aku hanya perlu menemui Lisa." Bagaimana Bella tidak marah jika kenyataannya Lisa mengetahui soal penyakit sang Ibu. Seharusnya Lisa bisa menjaga rahasia atau perlu berbohong untuk menutupi semua.
"Untuk apa? Ayah tidak mau kamu terlibat dengan mereka."
"Aku tidak bisa menahan diri Yah. Karena wanita itu sudah merenggut nyawa Mama. Paling tidak aku harus mengumpatnya." Jawab Bella seraya berdiri.
"Kalau niatnya buruk, Tuhan pasti membalasnya."
"Hm itu urusan Tuhan. Sementara aku mencoba melakukan tugas sebagai anak." Pak Bisri menghela nafas panjang sambil menyeruput teh di hadapannya." Aku mau mandi dulu ya Yah. Besok pagi mungkin aku datang ke tempat kerja lamaku." Imbuh Bella seraya tersenyum.
"Ya terserah kamu Nak." Setelah mendengar jawaban tersebut. Bella berjalan masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Rumah tua itu masih sangat terawat sebab selama ini Pak Bisri tidak pernah lupa untuk membersihkan. Beruntung karena rupanya Pak Bisri sudah terbiasa melakukan perkerjaan rumah termasuk memasak.
Terdengar suara mobil terparkir di halaman depan rumah. Pak Bisri seketika meletakkan cangkir yang di bawa lalu memeriksa.
Masih ada tamu. Siapa ya..
Namun ketika sosok Nathan keluar dari mobil. Pak Bisri mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenal sosok itu.
Mungkin salah satu anak dari teman lamaku.
"Siang Om. Maaf menganggu." Sapa Nathan sopan.
"Ya. Ada apa?" Pak Bisri menatap Nathan dari atas sampai bawah. Terlihat tampan dengan jas mahalnya.
"Saya Nathan. Pacarnya Bella." Sontak Pak Bisri memasang wajah tidak suka. Dia benar-benar tidak ingin Bella cepat-cepat memiliki hubungan dengan lelaki mengingat kegagalan pernikahannya.
"Sebaiknya kamu pulang. Bella tidak saya perbolehkan berpacaran." Jawab Pak Bisri ketus.
"Saya berniat menikahi nya tapi dia tidak mau. Em saya tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Bella Om."
__ADS_1
Pak Bisri mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia tentu tidak ingin mempertontonkan perdebatan pada tetangga kanan kiri. Dengan terpaksa Pak Bisri mempersilahkan Nathan masuk daripada harus berdebat di depan rumah.
"Anak saya bukan gadis. Apa kamu tahu itu?" Nathan tersenyum simpul seraya mengangguk-angguk.
Akulah orang yang sudah menghancurkan pernikahan anakmu dan harus berakhir seperti sekarang.
"Saya tahu Pak. Em Bella berkata untuk saling mengenal sehingga kami berkomitmen berpacaran terlebih dahulu."
Selama ini Nathan sengaja tidak menampakkan diri meski hampir setiap hari dia datang untuk sekedar melintas di depan rumah. Nathan mulai merasakan rindu namun dia juga tidak mungkin datang di saat keluarga Bella sedang berkabung.
"Kenapa Bella tidak bercerita. Sebentar." Gumam Pak Bisri seraya berdiri. Dia berjalan masuk untuk memanggil Bella." Nak. Ada Tamu untuk mu." Ucapnya seraya mengetuk.
Terdengar jawaban dari dalam sehingga Pak Bisri memutuskan untuk menunggu di depan pintu. Dua menit kemudian, Bella keluar dengan rambut basahnya.
"Ada apa Yah?"
"Ada tamu. Dia mengaku sebagai pacar mu." Seketika Bella tersenyum aneh.
"Siapa nama nya?"
"Nathan. Apa benar begitu Nak? Ayah tidak mau kamu asal memilih hanya karena dia tampan." Rasanya Bella tersindir mendengar jawaban sang Ayah. Tapi mau bagaimana lagi jika itu memang alasan kenapa Bella memberikan celah untuk Nathan.
Ku fikir dia pergi.
"Aku sudah menolak tapi dia seperti itu Yah." Jawab Bella pelan.
"Tetangga sini saja belum tahu soal perceraian mu. Bilang padanya untuk tidak sering datang. Ini di kampung bukan di komplek."
Pak Bisri sendiri tidak pernah memaksakan kehendak. Dia senantiasa menghormati pilihan Bella termasuk untuk urusan jodoh. Tapi yang memberatkan adalah ketakutannya akan kegagalan yang mungkin kembali terulang. Pak Bisri tentu tidak ingin Bella kembali sakit hati dan kecewa.
"Iya Yah. Em aku menyisir rambut dulu."
"Hm iya." Bella menutup pintu sementara Pak Bisri kembali berjalan keluar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Terbesit ketakutan karena menurutnya sosok Nathan terlalu sempurna untuk Bella yang cenderung berwajah pas-pasan.
__ADS_1
Aku akan mempersulit hubungan mereka. Aku tidak mau anakku di sakiti lagi.
🌹🌹🌹