
Flash back 2 hari yang lalu..
Nathan mengumpulkan para staf yang dulu terlibat masalah Bella. Sengaja Leo tidak di hadirkan sebab Nathan takut jika nantinya Leo akan mengadu.
Sebuah amplop di letakkan pada setiap orang yang hadir. Nathan duduk di kursi kokohnya seraya tersenyum simpul. Dia masih berusaha menunjukkan keangkuhannya pada staf yang merangkap sebagai teman.
"Apa ini Pak Nathan?" Tanya Bara mengambil amplop dan memeriksa yang ada di dalamnya. Uang?
"Mungkin beberapa hari lagi Bella akan kembali berkerja di sini." Ujar Nathan menjelaskan.
"Wah serius Pak. Terus ini uang untuk apa?" Sahut lainnya menimpali.
"Tujuan ku kembali memperkerjakan Bella karena Leo berusaha mendekat lagi. Aku tidak mau perkerjaan di masa lalu menjadi sia-sia. Kalau sampai Leo bisa merebut hati Bella, rasanya aku tidak rela." Bara terkekeh begitupun yang lain.
"Mana mungkin Pak. Bella sekarang buruk sekali." Jawab Bara. Satu-satunya orang yang tahu keadaan Bella setelah Leo dan Nathan.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Anggap uang itu untuk menyumpal mulut kalian." Dengan begini mereka tidak benar-benar menganggap aku menginginkan Bella. Penilaian mereka aman begitupun Bella yang nantinya bisa ku taklukkan.
Tanpa sepengetahuan Eldar, Nathan masih saja mempertahankan keangkuhannya. Padahal peringatan keras sudah Eldar lontarkan jika memang Nathan ingin memperbaiki hubungan. Namun rupanya kesombongan tidak mudah runtuh sampai-sampai kegilaan kembali Nathan rencanakan.
"Kenapa tidak sekalian taruhan saja Pak." Imbuh Bara menimpali. Dia berencana mengeruk keuntungan dari kebodohan Nathan.
"Taruhan apa?"
"Nikahi Bella agar Leo menangis darah, bagaimana teman-teman." Suasana terdengar riuh sebab ide Bara langsung di terima.
Kebetulan yang bagus. Aku bisa dengan leluasa menarik simpatik Bella lalu kami menikah. Keanehan itu menghilang begitupun hubungan pernikahan haha.
Dengan gilanya Nathan mengiyakan tantangan tersebut. Dia belum juga sepenuhnya sadar akan beberapa ketukan yang terjadi di hatinya.
Flash back off
Mata Nathan terlihat berkilap ketika dia melihat kedatangan Bella. Ketertarikan kembali menggebu padahal saat keduanya berjauhan, otak Nathan selalu merencanakan sesuatu yang nantinya bisa menyakiti hati Bella.
"Sebaiknya kamu keluar El." Pinta Nathan tegas. Eldar mengangguk lalu berjalan keluar di ikuti Nathan yang berdiri untuk mengunci pintu.
"Rencana apalagi?" Tanya Bella lirih.
"Tidak ada. Ayah memergokiku berkerja di mini market itu. Kalau aku tidak merekrut mu ke sini, kita tidak bisa setiap hari bertemu." Bella tersenyum simpul menatap ke arah Nathan yang tengah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu pantas sekali menjadi pengarang scenario." Tebakan itu tentu membuat Nathan tersindir." Katakan untuk apa aku di haruskan berkerja di sini?" Tanya Bella lantang.
"Ku ajak menikah kamu tidak mau. Aku hanya melakukan sesuai keinginan mu juga Ayahmu. Dengan begini kita bisa berdekatan dan kamu bisa mendapatkan gaji besar." Jawaban yang cukup masuk akal namun masih tidak membuat Bella sepenuhnya percaya.
"Tapi bersikaplah profesional. Jangan seperti anak sekolah dasar yang suka berbuat seenaknya." Nathan tersenyum lalu terkekeh. Dia bahkan melupakan rencana taruhan dua hari lalu seakan-akan sosok Bella benar-benar membuatnya lupa diri sampai hilang akal.
"Ini perusahaan ku Baby. Terserah aku mau melakukan apapun." Panggilan tersebut meluncur begitu saja.
"Hm lakukan agar semuanya semakin buruk. Bagaimana jika Ayahku tahu soal hal ini. Mungkin dia lebih memilih kembali berkerja daripada melihat anaknya di permainkan." Sontak senyuman Nathan berubah menjadi panik.
"Kenyataannya memang seperti itu. Perusahaan ini milikku."
"Ya. Aku akan pergi." Dengan gerakan cepat Nathan meraih lengan Bella untuk mencegahnya.
"Kamu gampang sekali marah."
"Karena kamu begitu buruk di mataku." Aku semakin merasa kecil di sini. Ayah benar. Tidak seharusnya Nathan memilih aku.
"Ya baik. Professional. Kamu ingin itu kan. Ayo duduk. Ku berikan perkerjaan pertama mu." Kini Nathan beralih merangkul Bella dan berniat mengiringnya ke kursi.
"Singkirkan." Bella menggeser tubuhnya agar tangan Nathan terlepas." Meski kamu seorang Bos. Menyentuh bawahan di anggap merendahkan." Nathan tersenyum aneh. Sungguh dia baru menjumpai wanita seaneh Bella.
Setelah Bella duduk, Nathan mengambil sebuah berkas lalu meletakkannya di hadapan Bella.
"Bahan presentasi untuk meeting nanti siang. Aku merasa kata-katanya terlalu berbelit-belit. Em masih ada waktu panjang untuk merangkumnya dan berikan padaku kalau sudah selesai." Ujar Nathan menjelaskan.
"Di sini?"
"Hm iya. Tidak ada ruang sekertaris owner perusahaan." Jawab Nathan asal. Padahal dia memang tidak sepenuhnya memperkerjakan Bella.
"Akan saya kerjakan di sana." Menunjuk ke arah sofa.
"Ya silahkan. Ruangan ini milik mu." Bella kembali menatap Nathan tajam." Kalimat itu terlepas begitu saja." Tanpa menjawab, Bella bergegas membawa laptop dan berkas. Dia cantik sekali.
Sementara di ruangan lain, terlihat Leo tengah sibuk memanipulasi laporan perusahaan agar mendapatkan untung dari sana.
Hanya 200 juta. Tidak mungkin terendus. Perusahaan ini berpenghasilan puluhan milyar setiap harinya.
Pagi tadi Lisa melontarkan permintaan yang terasa memberatkan. Sebuah mobil baru harus sudah ada sore ini namun Leo enggan mengeluarkan biaya lagi apalagi sampai mengambil dari tabungannya.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok...
Bergegas saja Leo menutup laptopnya. Dia menegakkan kepala seraya memasang wajah panik. Ini kali pertama dia berbuat curang. Gaji yang di berikan Asian group sudah lebih dari cukup, dulu! Tapi semenjak menikah dengan Lisa, pengeluaran membengkak.
"Ya masuk." Ujar Leo setengah berteriak.
Pintu terbuka, Bara keluar dari sana dan langsung duduk di hadapannya. Wajahnya terlihat sumringah sebab taruhan dengan jumlah fantastis sudah Nathan janjikan.
Menang atau kalah. Aku tetap mendapatkan keuntungan dari sini.
"Ada apa?" Tanya Leo pelan.
"Bella bekerja di sini lagi." Jawab Bara berbisik. Mimik wajah Leo seketika berubah terkejut.
"Kamu jangan bercanda Bar."
"Serius Le. Tadi aku tidak sengaja berpapasan ketika membuat kopi. Aku dengar dia jadi sekertaris nya Nathan." Dengusan berhembus. Leo yang sejatinya masih mencintai Bella tentu tidak menyukai berita tersebut.
Sialan. Apa Nathan sengaja melakukannya?
"Untuk apa sekertaris? Semua hal yang menyangkut perusahaan sudah di handle Pak Eldar dan aku." Eluh Leo tidak sanggup menyembunyikan perasaan cemburu. Terlihat egois sebab dia juga tidak berniat meninggalkan Lisa.
"Ouh. Sabar Le.. Kenapa kau terlihat cemburu?" Ujar Bara meledek.
"Jangan berlagak lupa. Kau tahu alasan ku menceraikan Bella itu apa?! Dia mengancam ku!"
"Hei. Orang yang kau sebut dia itu yang sudah menopang hidup kita. Tanpa dia, apa bisa kita menikmati gaji yang sangat besar." Dengusan kembali berhembus kasar.
"Dia hanya meneruskan! Jika bukan Pak Bisma, mana mungkin dia punya perusahaan sebesar ini. Di otaknya hanya ada wanita dan wanita!" Bara terkekeh sambil menepuk-nepuk pahanya. Dia menikmati perseteruan kedua lelaki yang ternyata belum berakhir sampai sekarang.
"Sudah ya. Aku hanya ingin mengabarkan saja. Kalau kau marah, silahkan datangi ruangan Pak Nathan dan umpat dia sepuasnya. Aku pergi."
Sengaja Bara datang agar suasana kembali memanas. Meski dia tahu Leo sudah memiliki Istri yang cantik. Tapi beberapa kali Bara mendengar eluhan Leo yang tengah membandingkan Bella dengan Lisa.
Jujur saja jika Leo lebih tentram hidup bersama Bella daripada Lisa yang suka berfoya-foya. Kegiatannya hanya kuliah, bersenang-senang juga menghambur-hamburkan uangnya saja.
"Bukankah sebaiknya dia menerima tawaran ku daripada harus berkerja dengan lelaki brengsek itu? Sebaiknya ku temui dia sekalian meminta maaf."
Setelah menyimpan file, Leo bergegas keluar menuju ruangan Nathan yang terletak di ujung. Entah seperti apa hasilnya, yang pasti keinginan untuk bertemu Bella terasa menggebu-gebu.
__ADS_1
🌹🌹🌹