Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Harapan yang pupus


__ADS_3

Dengan percaya diri Nathan berjalan menaiki lima anak tangga. Dia sempat merapikan rambutnya sebelum tangan kanannya terangkat lalu mengetuk daun pintu rumah Bella.


Tok.. Tok.. Tok..


Tidak lama kemudian, keluarlah Pak Bisri. Bergegas saja Nathan meraih jemari Pak Bisri lalu mencium punggung tangannya. Nathan berharap mendapatkan usapan lembut pada kepala seperti tempo hari.


"Bukankah saya sudah memperingatkan mu." Nathan menegakkan kepalanya. Ada setitik rasa kecewa ketika Pak Bisri tidak memberikan usapan pada kepala.


"Saya hanya ingin mengantar ini Om." Menyodorkan bungkusan berisi tiga kotak makanan. Mustahil tidak di persilahkan masuk. Bukankah jumlah kotak ini ganjil.


"Apa ini?" Pak Bisri tidak langsung menerima. Dia hanya melihat kantung kresek yang di bawa Nathan.


"Makanan Om."


"Oh. Sebaiknya kamu bawa pulang. Saya tadi sudah memasak tempe goreng dan ikan asin untuk Bella. Itu makanan kesukaannya."


Nathan tersenyum aneh. Dia merasa muak dengan pembicaraan Pak Bisri yang menolak makanan mewahnya dan lebih memilih sajian yang menurutnya menjijikan.


"Saya sudah terlanjur beli Om. Mohon di terima." Nathan berusaha tidak marah apalagi mengumpat. Pak Bisri tersenyum teduh. Dia bisa membaca kekesalan Nathan dari mimik wajahnya.


Ini ujian pertama. Kamu harus sabar.


"Sebaiknya Nak Nathan bawa pulang dan makan sendiri. Kami hanya tinggal berdua dan lepas jam enam, tidak ada yang makan lagi."


Aku rasa Bella menuruni sifat Ayahnya. Menggesalkan. Jauh-jauh aku ke sini, mengantri makanan dan dia menolaknya.


"Om tidak kasihan pada saya?"


"Daripada buang-buang makanan Nak."


"Jarak antara perusahaan dan kampung ini memakan waktu setengah jam." Ujar Nathan masih berusaha agar makanan di terima.


"Saya tidak meminta Nak Nathan melakukan itu. Saya juga sudah memperingatkan untuk tidak sering datang ke sini." Jawab Pak Bisri santai namun mengoyak emosi.


"Ya Om. Em bisakah saya bertemu dengan Bella sebentar?"


"Dia sedang beristirahat. Nak Nathan pulang saja. Besok juga bertemu di perusahaan kan."


"Hm baik. Saya permisi." Nathan kembali mencium punggung tangan Pak Bisri. Namun kali ini usapan lembut di berikan sehingga melunturkan perasaan kecewa Nathan.


"Hati-hati di jalan. Jangan di buang makanannya. Lebih baik kamu berikan seseorang saja."

__ADS_1


"Ya Om."


Nathan masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Terlihat Bella muncul dari balik daun pintu sambil tersenyum simpul. Sudah bisa di pastikan jika Bella menyaksikan perbuatan Pak Bisri yang sengaja di lakukan.


"Berapa umur Nathan?" Tanya Pak Bisri seraya menutup pintu.


"Aku tidak tahu Yah. Mungkin seumuran Mas Leo." Terdengar hembusan nafas keluar dari rongga hidung Bella." Kenapa banyak lelaki yang tidak bisa bersikap dewasa. Mereka sering menunjukkan sikap berlebihan tapi lambat laun berubah ketika pernikahan sudah terjadi." Imbuh Bella bertanya.


Pernikahannya bersama Leo memberikan banyak pelajaran. Lelaki sangat mudah menyimpan sifat aslinya untuk mencapai sesuatu. Setelah berhasil mendapatkan apa yang di inginkan. Para lelaki cenderung acuh dan tidak bisa menjaga hubungan.


"Tidak semuanya begitu. Contohnya Ayah." Nathan mencerminkan masa mudaku. Meski aku tidak bergelimang harta namun saat itu satu-satunya wanita yang mampu membuatku memutuskan menikah hanyalah Ratna. Aku harap tebakan ku benar.


"Seperti mencari jarum di tumpukan jerami Yah. Sulit membedakan mana yang tulus dan tidak."


"Lelaki yang nakal pada masa mudanya, terkadang setelah menikah menjadi begitu hangat." Bella menoleh seraya tersenyum.


"Oh Ayah membela Mas Nathan?"


Pak Bisri terkekeh kecil. Bella sudah bercerita soal kelakuan buruk Nathan dan malah membawanya pada masa muda. Pak Bisri mantan playboy kelas kakap. Perbuatannya dulu malah lebih buruk daripada Nathan. Pak Bisri kerapkali memanfaatkan ketertarikan lawan jenisnya sehingga dia tidak harus mengeluarkan uang untuk biaya hidup.


Anak tidak ikut melakukan tapi mengunduh hasil perbuatan yang ku tanam.


"Bukan begitu."


"Ah tidak. Ayah lelaki baik-baik. Kita makan yuk. Setelah itu istirahat. Ayah sudah memasak makanan kesukaan mu."


"Aroma sambal buatan Ayah sudah menggelitik perut ku."


Keduanya saling merangkul erat sambil berbincang menuju dapur. Walaupun kejadian buruk sempat singgah namun Bella bersyukur bisa menikmati kebersamaan dengan Pak Bisri. Jika dirinya masih bersama Leo, mungkin kesempatan ini tidak akan terjadi.


Kalau tidak bercerai. Mungkin selamanya aku tidak bisa tinggal bersama kedua orang tuaku. Mama pasti sudah tenang di sana. Aku berjanji tidak akan meninggalkan Ayah apapun yang terjadi. Jika ada lelaki yang ingin meminang. Ayah tetap akan jadi prioritas utama. Kalau lelaki itu tidak bisa menerima Ayahku maka itu berarti dia tidak bisa menerima aku.


🌹🌹🌹


Nathan terpaksa memberikan nasi kotak pada pembantunya. Dia duduk cemas sambil menunggu kedatangan Eldar yang belum tampak batang hidungnya.


Baru saja Nathan akan masuk, mobil Eldar terlihat terparkir. Dia memutuskan kembali duduk seraya memasang wajah geram.


"Kenapa lama sekali!" Ujar Nathan berteriak.


"Maaf Tuan. Tadi sedang ada di jalan. Istri saya ada keperluan di luar."

__ADS_1


"Seharusnya kau mementingkan panggilan ku." Menunjuk dadanya.


"Saya tidak tega meninggalkan Istri saya di jalan. Saya.."


"Duduk!" Pintanya ketus." Aku ingin kau memikirkan rencana tambahan. Rasanya aku tidak sabar untuk menikahi Bella agar keanehan ini hilang." Eldar menghela nafas panjang. Nathan tidak juga mengerti tentang ilmu sabar yang mengharuskannya menunggu untuk menebus kesalahan besar.


"Semua butuh proses Tuan."


"Aku tadi bahkan datang ke rumahnya dan memberikan makanan. Kau tahu! Dia menolak pemberianku! Bukankah itu tidak sopan. Seharusnya dia menerima meskipun nantinya mereka buang." Eldar mengangguk seraya tersenyum.


"Mungkin Ayah Nona Isabella ingin menjaga anaknya. Menurut saya itu hal yang wajar Tuan. Tidak ada seorang Ayah yang rela anaknya gagal membangun biduk rumah tangga untuk kedua kali." Apalagi niat Tuan sudah sangat buruk. Aku malah menginginkan Nona Isabella mempersulit jalan Tuan Nathan.


"Aku ingin menikahi nya."


"Tidak. Tuan hanya ingin menghilangkan keanehan itu."


"Kau sudah berani menuduh ku."


"Bukan menuduh. Tapi ketulusan Tuan sama sekali tidak terlihat. Itu kenapa Nona Isabella ragu apalagi sang Ayah."


Nathan terdiam. Dia memang beberapa kali lepas kendali. Kesabarannya benar-benar di uji sebab sebelumnya Nathan selalu mudah untuk mencapai keinginan terutama masalah wanita.


"Terus bagaimana." Eldar mengeluarkan map dari tasnya.


"Saya sudah mengumpulkan beberapa artikel. Tolong Tuan pelajari agar permasalahan Tuan cepat terselesaikan." Segera saja Nathan mengambil artikel. Dia terkekeh sejadi-jadinya setelah membaca judul artikel tersebut.


"Aku ini sudah suhu untuk hal menarik wanita."


"Hm tapi tidak berlaku untuk Nona Isabella." Aku berharap dengan mempelajari itu Tuan bisa benar-benar berubah.


"Wanita itu saja yang aneh."


"Terkadang yang aneh adalah seseorang yang nantinya bisa menjinakkan."


"Tidak ada sejarahnya. Mana mungkin begitu."


"Hm. Saya hanya bisa menyarankan itu saja Tuan. Setelah ini saya ada pertemuan di restoran sampai pukul sembilan. Saya permisi dulu Tuan. Selamat malam."


Nathan fokus membaca artikel dan tidak menghiraukan perkataan Eldar. Sesekali dia tersenyum sebab apa yang di tulis pada artikel kerapkali di lakukan untuk merayu wanita.


"Dia memuakkan. Itu kenapa rayuanku tidak berpengaruh." Ujarnya bergumam." Hah sabar. Harus sabar! Itu hal yang sulit. Bagaimana bisa aku melakukan itu?" Nathan berdiri sambil membawa map. Dia berniat mempelajari artikel di kamarnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2