
Eldar tengah mempersiapkan kejutan besar. Pertemuan kali ini bukan hanya menghadirkan Nathan melainkan Leo dan semua orang yang terlibat di masa lalu Bella.
Bastian pun ikut andil dalam rencana ini sebab dirinya benar-benar merasa kasihan pada kehidupan Bella yang tertekan. Begitulah pengakuannya!?
Sepulang kerja, Bella hanya menghabiskan waktu di dalam Apartemen. Untuk berbelanja pun dia menyuruh seseorang sebab dirinya takut bertemu Nathan.
"Katanya jam sepuluh. Ini hampir telat satu menit." Tanya Nathan berbisik. Dia duduk di ujung meja sementara tempat duduk Bella di sisi ujung lainnya sehingga keduanya berjauhan.
"Beliau sudah sampai di Lobby Tuan."
"Suruh cepat. Relasi tidak bisa menunggu lama."
"Baik Tuan."
Bella sendiri sudah mencapai Lobby. Dia mencoba menunduk agar tidak di kenali namun rupanya Anis dan yang lain malah menegurnya ramah.
"Aku harus cepat Mbak. Em Pak.... Itu sedang menunggu." Jawab Bella ketika Anis memaksanya duduk sebentar.
"Kenapa dulu kamu keluar? Sikap Pak Nathan semakin buruk saja."
"Sudah dulu ya Mbak. Aku sedang di tunggu. Mungkin lain kali kita bisa bertemu."
Bella tersenyum simpul lalu pergi dengan di ikuti seorang lelaki yang merupakan sekertaris nya. Dia tidak ayal seperti pemilik perusahaan sebab Ian memberikan kendali penuh selayaknya Bos.
Tapi lagi lagi Bella bimbang padahal dirinya sudah tiba di ruang pertemuan. Si sekertaris ikut berhenti melangkah seraya menatap Bella dari samping.
"Ada apa Bu Bella?" Tanyanya pelan.
"Sebaiknya kita kembali. Ini hanya jebakan." Ucapnya seraya membalikkan badan. Matanya sontak melebar ketika sebuah lengan merangkulnya hangat.
"Ini proyek besar. Lihat mataku." Ian menunjuk ke arah kedua matanya." Aku kurang tidur gara-gara kamu." Bella tersenyum lega. Dia berharap Ian memperbolehkannya pulang.
"Oh syukurlah. Saya pulang sekarang."
"Eits tidak. Masuk ayo." Pinta Ian mengiring Bella berjalan lebih dekat." Ada aku tenanglah." Imbuhnya sebelum Ian menurunkan lengannya dari pundak Bella.
Ian memberikan waktu bagi Bella untuk menyiapkan diri. Entah kenapa Bella tahu jika Eldar sengaja menyuruhnya ke Asian group karena ingin mempertemukannya dengan beberapa orang yang tidak ingin di temui.
Semua orang bilang kalau ini harus di hadapi.
"Bagaimana? Sudah?"
"Ya." Semoga saja Pak Eldar tidak ingkar janji.
__ADS_1
Cklek...
Pintu terbuka. Tentu semua mata tertuju pada pintu utama. Apalagi seseorang yang berjalan di samping Ian begitu mereka kenali.
Bella.
Nathan sontak berdiri dan akan menghampiri Bella namun Eldar mengisyaratkan untuk tetap tenang mengingat beberapa relasi penting berada di sana.
Tidak mungkin itu Bella? Ku fikir kita tidak bisa bertemu lagi. Batin Leo yang ternyata masih bertahan bekerja di sana.
Apa akan ada taruhan lagi? Hahahaha. Kenapa Bella hadir lagi di sekeliling kita. Wah. Dia menjadi cantik sekarang. Ujar Bara dari dalam hati.
"Lakukan presentasi nya." Ian menggeser berkasnya ke arah Bella.
"Saya?" Menunjuk ke dada.
"Ya." Ian ingin Bella bisa terlepas dari masa lalu.
"Untuk apa?"
"Membuat mu lebih kuat." Jawab Ian berbisik.
"Tidak."
"Cih!"
"Ayolah. Aku percaya kamu bisa."
Terpaksa Bella mengambil berkas tersebut lalu berdiri. Dia sudah terbiasa melakukan presentasi. Namun yang jadi masalah adalah ketika Bella menyadari sosok di ujung meja yang sejak tadi menatapnya tidak berkedip.
Bastian sendiri tengah menikmati suasana di sekitar. Dia semakin yakin akan kemampuan Bella yang ternyata bisa membawakan presentasi dengan baik di tengah keburukan masa lalu.
Kamu benar-benar wanita hebat Bella, meski tidak seberapa cantik.
"Kalau ada yang bertanya. Silahkan." Pinta Bella di ujung pembicaraan. Dia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya membereskan berkas.
"Apa kamu Nona Ana?" Tanya Nathan seraya mengangkat tangan kanannya.
Ana? Siapa itu?
Eldar tersenyum. Dia yang mengarang nama tersebut untuk menyamarkan keberadaan Bella. Sudah satu tahun terakhir Eldar kerapkali mengarang cerita soal pertemuan. Namun otak batu Nathan menolak mentah-mentah.
"Tidak. Saya Isabella." Bastian mengangguk seraya tersenyum." Ada pertanyaan yang lebih berbobot?!" Bella baru menyadari jika dia adalah satu-satunya wanita yang ada di sana.
__ADS_1
"Presentasi mu bagus sekali. Saya akan memberikan penghormatan dengan jamuan setelah ini."
"Saya hanya wakil dari Pak Ian. Maaf." Bella bergegas kembali duduk lalu meletakkan berkas di hadapan Ian." Saya ingin pergi." Imbuhnya berbisik.
"Not."
"Why?"
"Face them."
Bella terdiam ketika para relasi memulai pembahasan. Kalau dia pergi tanpa pamit akan terlihat tidak sopan sehingga mau tidak mau Bella bertahan sampai pertemuan selesai.
Singkat waktu. Setelah kepergian para tamu relasi, sebagian besar anggota pertemuan terlihat berdiam diri di tempat. Mereka tidak bergerak seakan tahu ada adegan menegangkan yang akan terjadi.
"Sebentar." Pinta Bastian lirih. Dia berusaha mencegah Bella yang ingin segera meninggalkan lokasi." Kita pergi bersama." Bella menoleh dengan wajah masam. Dia tahu kalau Bastian sengaja memperlambat perkerjaannya.
"Kau tahu hei Ian. Aku ingin muntah." Ujar Bella berbisik.
"Kamu ingin masalah ini jadi bayang-bayang hidup mu. Kamu berhak bebas berpergian. Menikmati hasil kerjamu selayaknya wanita karir lain." Juga membuka hati untukku.
"Tapi..."
"Apa kabar Bella." Sapa Nathan yang ternyata sudah berdiri di samping kursi. Leo pun ingin melontarkan sapaan tapi Nathan mendahuluinya.
Bella berdiri dengan gerakan kasar sampai-sampai kursi yang di duduki bergeser. Tanpa berpamitan dia menenteng tas lalu berjalan melewati Nathan.
Bergegas saja Nathan menyusul di ikuti oleh Bastian yang sengaja memperlambat laju kakinya. Bara tersenyum ke arah Leo sementara Eldar membereskan berkas seolah-olah tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi selanjutnya.
"Kenapa kamu pergi saat itu?" Tanya Nathan yang sampai sekarang tidak mengerti kalau Bella sudah tahu soal kebohongannya." Tolong jelaskan. Aku mencari mu." Nathan terpaksa meraih pergelangan tangan Bella. Keduanya kini berdiri saling berhadapan tepat di depan banyaknya staf yang berkerja.
Plaaaaaakkkkkk. Dengan mata memerah dan wajah penuh kemarahan Bella menatap tajam ke arah Nathan. Plaaaaaakkkkkk. Satu tamparan kembali di hadiahkan pada Nathan yang hanya tertunduk dan diam. Bibirnya memperlihatkan senyum simpul. Nathan merasa pantas mendapatkan tamparan tersebut meskipun Bella melakukannya di depan umum.
"Memang hanya kamu yang bisa menyentuh ku." Gumam Nathan menegakkan kepalanya.
"Cih!" Kali ini Bella meludahi wajah Nathan bahkan mendorong tubuhnya menjauh.
"Mari bicara." Sedikitpun tidak ada rasa kesal terbesit. Pencarian Bella yang menguras perasaan membuat hati Nathan seakan membatu. Jangankan untuk jatuh cinta, memikirkan wanita lain saja dia tidak pernah melakukannya." Please. Beri waktu sebentar untuk menjelaskan semua." Bastian seketika menghentikan langkahnya ketika dia melihat Nathan duduk bersimpuh di hadapan Bella.
Tidak mungkin Bella luluh. Lelaki itu sangat buruk memperlakukannya. Batin Ian.
"Apa yang perlu di jelaskan?! Seharusnya sejak dulu aku tidak mempercayai mu."
Bella sendiri ingin tidak perduli dengan apa yang tengah Nathan lakukan. Namun rupanya perasaan yang terpaut tidak mudah di hilangkan. Entah kenapa melupakan Nathan lebih terasa berat daripada melupakan Leo, mantan Suaminya. Itu satu-satunya alasan kenapa sampai sekarang Bella memilih sendiri.
__ADS_1
🌹🌹🌹