
Hampir dua jam lamanya hujan menguyur. Si pemilik warung rela tidak menutup warungnya karena merasa kasihan dengan Nathan juga Bella. Padahal jam menunjukkan hampir pukul 12 malam.
Si Bapak terpaksa menerobos hujan sebab rumahnya terletak tidak jauh dari sana. Nathan memberikan uang ganti rugi hasil panen yang masih berserakan di jalan.
"Sebaiknya di tutup saja Mas. Biar saya menunggu di sini." Ucap Nathan merasa tidak enak.
"Begitu Ya Mas. Memangnya tidak apa?" Jawab si pemilik warung balik bertanya. Biasanya dia menutup warung tepat pukul sebelas malam.
"Semoga setelah ini redah."
"Hm ya sudah Mas. Maaf ya. Em nanti gelasnya letakkan di situ saja biar besok saya bereskan."
Si pemilik mengunci warung lalu menerobos hujan dengan motor. Sementara Bella dan Nathan masih duduk saling bersebelahan. Di samping mereka terdapat satu teko teh hangat.
"Apa kita kembali saja ke Vila Mas?" Terlihat kedua manik Bella mulai meredup. Tentu saja kantuk sudah menyerang. Dia ingin bergegas sampai untuk beristirahat.
"Daripada kembali ke Vila. Lebih baik pulang." Jarak antara Vila dan rumah sama-sama jauh. Tenyata mereka tepat berada di pertengahan jalan.
"Hm tidak ada mobil melintas sejak tadi. Terus Pak Eldar lewat mana?"
"Mungkin dia menginap di Villa daripada terjebak hujan." Bella mengangguk seraya menatap sekitar yang sepi. Hanya ada suara hujan dan lampu jalan yang terlihat redup.
Terlihat mencekam memang. Namun Bella tidak membayangkan akan ada penampakan atau sejenisnya, dia lebih takut jika ada penjahat juga begal yang terkadang sampai tega menyakiti korbannya.
"Di sini aman kan Mas." Tanya Bella lirih.
"Aku kurang tahu." Nathan berdiri lalu memeriksa keadaan. Dia merasa hujan sedikit meredah meski kabut masih tampak menebal." Kita lanjut jalan saja. Mumpung sepi." Ajaknya seraya menoleh ke arah Bella.
"Kabutnya masih tebal sekali."
"Takutnya hujannya deras lagi." Bella membenarkan itu dan bergegas berdiri.
Nathan mengambil payung lalu mengantar Bella lebih dulu ke dalam mobil. Dia mengembalikan payung pemilik warung dan berjalan menuju mobil tanpa pelindung kepala sehingga membuat kemejanya sedikit basah.
Bella terdiam seraya melirik sebentar ke arah Nathan yang mulai menyetir. Ingin melontarkan kekhawatiran tapi terlalu canggung untuk mengutarakan.
Apa ini serius atau sedang berpura-pura?
Masih saja Bella menimbang soal itikad baik Nathan padahal perubahan sikap sudah banyak di tunjukkan. Intonasi bicara Nathan kini tidak lagi kasar. Ekspresi wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya seakan Nathan sudah berubah menjadi lelaki dewasa yang bisa mengayomi.
"Besok aku ada rapat penting pukul 11." Ucap Nathan seraya fokus menyetir.
__ADS_1
"Kenapa bilang padaku?"
"Kalau tidak mau menikah, mari berkerja sebagai sekertaris ku." Bella menghembuskan nafas berat. Dia masih merasakan kekecewaan yang di torehan dua tahu lalu. Sungguh Bella sendiri di buat bingung, kenapa dia tidak bisa membenci sosok lelaki di sampingnya.
"Aku ingin jadi pengangguran kalau memang kamu memblokir akses perkerjaan."
"Memangnya mau berkerja di mana? Kamu ahli dalam bidang bisnis. Aku cukup terbantu kalau kamu mau berkerja seperti dulu. Tapi, aku tidak memaksa. Aku hanya menawarkan."
Entahlah. Aku masih bingung menyikapi lelaki ini. Bagaimana jika dia kembali berulah seperti dulu. Tidak masalah kalau aku saja yang merasa kecewa. Tapi Ayah??
Bella menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar. Dia tidak habis fikir dengan sikap welcome Pak Bisri pada Nathan yang jelas-jelas sudah mengecewakannya.
Apa naluri orang tua setajam itu?
"Tidak mau?" Tanya Nathan mengulang.
"Hm. Kamu tahu alasannya."
Nathan mengangguk-angguk. Bibirnya tersungging ketika ingatan soal kesalahan fatal melintas di fikirannya. Sungguh ingin rasanya Nathan segera meresmikan hubungannya agar dia tidak lagi kehilangan Bella.
"Eldar pintar sekali menyembunyikan mu."
"Ya."
"Malas." Jawab Bella singkat. Aku masih berharap padamu. Sungguh menjijikkan. Ingin rasanya ku buang jauh perasaan ini tapi aku tidak bisa.
"Apa malas itu tidak berlaku pada Leo." Sontak Bella menoleh. Dia tersindir sebab melupakan Leo jauh lebih mudah.
"Kenapa membahas dia?!" Tanyanya ketus.
"Aku ingin tahu pendapat mu."
"Pendapat apa?"
"Mungkin ini hanya masalah selera." Bella berpaling seraya mendengus. Dia ingat ketika secara gamblang menjelaskan soal tipe lelaki idamannya ada pada Nathan. Bella merasa bodoh sudah melontarkan kalimat yang seharusnya menjadi rahasia pribadinya.
"Kau menyindir atau sedang meledekku?!"
"Aku hanya mencari jawabannya. Leo memang terlalu biasa begitupun Bastian. Itu kenapa Tuhan menghukum ku. Dia ingin aku hanya melihat ke arah mu."
"Oh. Kau mulai sombong sekarang. Baru saja kau bersikap dewasa tapi kau sudah menunjukkan kesombongan mu lagi." Nathan terkekeh untuk pertama kalinya setelah dua tahun menjalani hidup bak patung es.
__ADS_1
"Kenyataan begitu Baby. Tapi serius, aku ingin kita menikah."
"Lalu kalau keanehan itu menghilang kau akan meninggalkan ku." Nathan melirik sebentar seraya tersenyum simpul.
"Aku benci pernikahan tapi aku menawarkan itu padamu."
"Itu urusan mu. Jangan libatkan aku."
"Ku rasa aku mulai bosan." Jawab Nathan cepat. Seketika suasana hening sejenak sebab Bella menganggap jika Nathan bosan merajuknya.
"Hm akan lebih baik bicara sekarang."
"Sudah. Aku ingin menikah dengan mu."
"Kata mu bosan? Baru saja kau mengatakan itu."
"Ya bosan. Maksud ku bosan dengan wanita lain." Kini Bella tertawa kecil." Kamu tidak percaya?" Imbuh Nathan tersenyum simpul. Meski dia masih tidak mendapatkan titik temu akan niatnya. Namun bisa berbincang dengan Bella cukup membuatnya merasa senang.
"Hal seperti itu sulit berhenti jika kau belum berada di liang lahat."
"Kita buktikan. Em tapi aku harap kamu berkerja di tempat ku lagi. Terkadang Eldar sibuk dan tidak bisa menemani ku." Rajuk Nathan tidak juga berhenti. Dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bella agar keseriusannya cepat di akui.
"Banyak pengangguran di luar sana."
"Ouch Baby. Serius kamu berkata itu? Perusahaan milikku terbesar nomer tiga di sini. Menjadi sekertaris pribadiku tidak bisa mudah di temukan. Aku butuh orang yang pintar dan bisa di percaya seperti kamu." Bella terdiam. Dia bingung harus memutuskan." Aku berjanji akan profesional." Kecuali jika sedang cemburu.
"Akan ku fikirkan."
"Sembari memikirkan. Besok temani aku daripada kamu tidak ada kegiatan."
"Itu namanya memaksa."
"Bukan memaksa, lebih tepatnya bernegosiasi."
"Hm."
"Terimakasih." Dengan begini Bastian akan tahu kalau kamu milik ku.
Bukan tanpa alasan Nathan ingin menyekat ruang gerak Bella. Walaupun dia tidak ingin mengecewakan tapi bukan berarti dia tidak bisa bertindak arogan.
Bella tidak boleh berada jauh dari pandangannya sehingga ketika penolakan pernikahan terlontar, otaknya memikirkan opsi lain.
__ADS_1
🌹🌹🌹