Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Isyarat


__ADS_3

Keesokan harinya...


Sejak pukul enam pagi Bella terlihat sudah bangun walaupun semalam dia pulang larut. Hujan kembali menjebak mereka sampai keduanya tiba di Apartemen pukul dua belas malam. Seharusnya Bella masih mengantuk. Namun rupanya kejadian semalam membuat tubuhnya segar bugar.


Umpatan dan kekesalan yang terlontar, tidak semata-mata untuk penolakan. Bella begitu menikmati dekapan Nathan juga bisikan yang membelai telinga. Sungguh rasanya semalam Bella ingin berteriak. Menerima pinangan tapi pertimbangan demi pertimbangan masih di fikirkan.


Dia belum juga memberi kabar. Katanya mau mengajak ke makam Mama nya.


Padahal Bella sendiri berkata jika hari ini dia ingin bangun siang. Tapi perasaan yang kian menggebu membuatnya melupakan perkataan itu sendiri.


Sementara di dalam kamar, terlihat Nathan baru saja bangun pukul sepuluh pagi. Itupun karena bunyi ponsel yang tidak hentinya berdering. Tertera nomer Eldar di sana, dia menebak jika mungkin ada rapat mendadak.


📞📞📞


"Ya?


"Pak Bisma masuk rumah sakit Tuan. Beliau ingin bertemu. Tolong sempatkan waktu untuk ke sini sebentar.


Terdengar hembusan nafas berat keluar dari rongga hidung Nathan. Dia malas. Tentu saja. Bisma di anggap sudah mengkhianati sang Ibu.


"Aku tidak perduli.


"Saya mohon Tuan. Kasihan beliau.


"Bukankah hidupnya sudah bahagia setelah dia menikah dengan wanita asing itu?!!


Alasan kenapa Nathan sangat membenci pernikahan yang ternyata tidak sesakral kelihatannya. Ayahnya dengan mudah memutuskan menikah lagi walaupun kala itu dia menentang keras.


"Saya merasa ini saat terakhir beliau. Saya mohon Tuan hadir. Jangan sampai nanti menjadi penyesalan.


"Ya!! Kirimkan alamat rumah sakitnya.


"Baik Tuan.


📞📞📞


Setelah membaca pesan singkat dari Eldar, Nathan bergegas bangun lalu membersihkan diri. Sebenarnya dia malas, tapi tetap saja dia harus datang sebab rupanya masih tersimpan rasa sayang pada sosok Pak Bisma.


Seusai bersiap, Nathan keluar Apartemen dan mengetuk pintu Apartemen Bella. Dia berniat mengajak Bella ikut serta.


"Ayahku kritis." Ucapnya pelan. Bella melebarkan matanya menatap Nathan.


"Ya sudah kita batalkan saja acara hari ini."


"Bukan seperti itu Baby. Em ayo ikut aku. Sepulang dari sana kita pergi ke makam Mama." Jawabnya masih bisa tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kenapa kau malah tersenyum. Sebentar." Cepat-cepat Bella masuk ke Apartemen untuk mengambil sweater dan berpamitan dengan Pak Bisri. Dia merasa panik padahal Nathan cenderung memasang wajah biasa saja." Aku pergi Yah." Teriak Bella seraya menutup pintu. Dia bahkan memegang erat lengan Nathan dan menggiringnya masuk ke lift.


"Bersemangat sekali bertemu calon Mertua." Bella mengerutkan keningnya, menatap geram ke arah Nathan.


"Astaga Mas, dia Ayahmu. Kenapa kamu sesantai ini?" Nathan malah tersenyum simpul.


"Aku sudah membencinya bertahun-tahun yang lalu. Dia mengkhianati Mama." Terpatri kekecewaan berat pada mimik wajah Nathan.


"Itu hal yang wajar. Mungkin saja Ayah mu tidak ingin merepotkan. Dia mencari Istri agar hidupnya ada yang mengurus." Lain hal dengan pemikiran Bella yang menganggap jika itu hal yang wajar.


"Serius kamu berpendapat begitu Baby? Berarti kamu suka di duakan?" Bella menoleh seraya menggelengkan kepalanya pelan." Lantas kenapa mendukung perbuatan itu? Ku fikir pernikahan begitu sakral. Tapi rupanya hubungan itu hancur begitu saja hanya karena sosok asing." Sampai saat ini Nathan tidak menganggap keberadaan Marta. Dia muak melihat wajah wanita yang di anggap sudah menggeser posisi sang Mama.


"Itu lain cerita Mas. Em Ayahmu bukan ingin menduakan Mama mu. Dia hanya membutuhkan figur seorang..."


"Omong kosong. Aku tidak menerima itu. Keputusannya untuk menikah lagi tetap tidak ku benarkan." Sahut Nathan cepat. Bella hanya terdiam sambil mengikuti langkah ke arah parkiran.


.


.


.


.


Singkat waktu, setibanya di rumah sakit. Nathan bergegas menuju ruang IGD. Terlihat ada Marta dan Elena tengah menunggu di luar kamar sehingga membuat Bella memelankan langkahnya.


"Tidak kamu harus ikut." Nathan berjalan santai seakan tidak melihat tatapan cemburu yang di tunjukkan Marta juga Elena.


Oh ini wanitanya? Astaga.. Kenapa Nathan seleranya buruk sekali.


Marta menatap Bella dari atas sampai bawah. Mimik wajahnya terlihat sinis seakan ingin memperingatkan Bella jika berhubungan dengan Nathan adalah keputusan yang salah.


"Ayahmu Nath." Ucap Marta berusaha meraih lengan Nathan namun di hindari.


"Jangan menyentuh ku." Jawabnya ketus. Eldar menghela nafas panjang lalu menghampirinya.


"Silahkan Tuan. Beliau sudah menunggu di dalam." Ketika Nathan akan membawa Bella ikut serta, Marta mencegahnya.


"Hanya boleh satu orang saja." Ucapnya setengah berteriak.


"Biar Nona Bella bersama saya." Bella bergegas melepaskan tangan Nathan lalu memintanya masuk dengan isyarat mata.


"Aku hanya sebentar." Setelah mengucapkan itu, Nathan bergegas masuk ruang IGD.


Terlihat Pak Bisma tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Di tubuhnya terpasang berbagai alat termasuk bantuan pernafasan. Ada dua orang suster yang tengah menjaga untuk memantau perkembangan kesehatan.

__ADS_1


Keadaan itu tentu membuat Nathan merasa iba. Walau Pak Bisma mengecewakan nya, tetap saja dia adalah Ayahnya.


Setelah mengetahui kedatangan Nathan, dua suster terlihat pergi untuk memberikan laporan pada Dokter.


"Bukankah wanita itu sudah membuat Ayah sangat bahagia? Kenapa masih memanggil ku."


Ucap Nathan berusaha menunjukkan kekesalan. Pak Bisma menggelengkan kepalanya pelan seraya menangis. Bibirnya hanya terbuka tertutup tanpa mengeluarkan suara.


"Aku membawa seseorang. Dia calon Istri ku. Terserah kalau Ayah tidak merestui hubungan kami."


Pak Bisma mengangguk seraya menunjuk ke arah pintu.


"Apa Ayah ingin bertemu dengan nya?" Pak Bisma kembali mengangguk." Sebentar." Nathan berjalan keluar. Dia membawa Bella masuk tanpa peduli pada peraturan rumah sakit.


Terlihat Pak Bisma tersenyum dengan menitikkan air mata. Sementara Bella yang sempat mengenalnya ketika menjadi pimpinan, menyapa Pak Bisma dengan anggukan kepala.


"Kami akan menikah, hanya menunggu waktu." Pak Bisma mengangguk-angguk seraya tersenyum. Tangannya melambai ke arah Bella seakan berusaha memanggil.


Bella berdiri di sisi ranjang bersama Nathan. Dengan mengerahkan sisa tenaga, Pak Bisma meraih jemari Nathan dan Bella lalu menyatukannya. Dia ingin berkata kalau hubungan mereka di restui.


Tanpa terasa mata Bella mulai berkaca-kaca. Melihat keadaan Pak Bisma membuatnya ingat pada sosok Ibunya juga sang Ayah. Rasa sesak seketika menjalar memenuhi dadanya.


"Obaaaaaa... Obaaaaaa.." Ucap Pak Bisma sambil menyilangkan kedua tangannya." Puaaaaaa aaaak puaaaak. Aaaaa meeeesaaaal." Nathan menghembuskan nafas berat. Dia tidak memahami ucapan Pak Bisma.


"Bapak bicara apa?" Tanya Bella lembut sementara Nathan berdecak kesal.


"Puaaaaaaaa ak.."


"Pulang?" Pak Bisma mengangguk sambil menunjuk Nathan.


"Tidak mungkin selama wanita itu masih ada di rumah." Jawab Nathan ketus.


"Aaaaaf Aaafff." Ucap Pak Bisma seraya menangis terisak. Telunjuknya menepuk-nepuk dada sambil sesekali menyilangkan kedua tangannya." Aaaataaaaa obaaaaa." Bella sendiri di buat bingung dengan ucapan Pak Bisma yang tidak jelas.


"Sudah Yah. Aku sibuk. Aku ke sini untuk mengenalkan calon Istri ku sebelum ajal menjemput mu." Bella menoleh, menatap Nathan tidak percaya. Segera saja tubuhnya di giring keluar tanpa perduli pada teriakan Pak Bisma yang seakan tidak menginginkan mereka pergi.


"Mas. Jangan seperti itu. Kasihan Ayahmu."


"Biarkan saja." Jawab Nathan membuka pintu. Sudah ada Marta yang menghadang langkahnya.


"Kamu harus pulang Nath. Ayahmu membutuhkan mu." Nathan tersenyum simpul. Menatap rendah ke arah Marta.


"Urusi sendiri tua bangka itu! Tunjukkan rasa cintamu padanya. Ingat! Jangan sampai aku melihatmu meninggalkannya. Kau akan ku seret keluar dari rumah itu kalau sekali saja aku melihatmu berkeliaran di luar!!!" Jawab Nathan kasar.


"Bisa saja umurnya tidak lama lagi."

__ADS_1


"Bagus! Akan lebih baik dia tidak ada. Itu berarti kau harus pergi dari rumah kami! Kau tidak pantas berada di sana." Marta menghela nafas panjang. Dia sengaja membuat Pak Bisma seperti sekarang. Marta berharap Nathan mau pulang ke rumah agar dia bisa mendekatinya. Marta tidak tahu, jika kini Nathan bukan lagi seorang penjahat ranjang.


🌹🌹🌹


__ADS_2