Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Keinginan terakhir


__ADS_3

Selama dua hari berada di rumah sakit, keadaaan Pak Bisma kian membaik sehingga Dokter menyarankan untuk rawat jalan.


Namun itu semua tidak berlangsung lama sebab setelah Pak Bisma kembali ke rumah, kondisinya kembali memburuk.


Rupanya Marta sengaja menukar obat-obatan. Elena di manfaatkan untuk membeli juga mengganti obat agar dirinya tetap aman ketika pembunuhan perlahan-lahan terendus.


"Berikan hak kuasa perusahaan padaku kalau kamu masih ingin melihat matahari lebih lama lagi." Bisik Marta seraya memasang senyum. Dia berakting menjadi seorang Istri yang baik nan lembut jika di lihat dari sudut pandang lain.


Pak Bisma menggelengkan kepalanya cepat sambil menuliskan jawaban.


Lebih baik aku mati.


Kini Pak Bisma di hadapkan dengan kenyataan kekhawatiran Nathan yang dulu di tentang keras. Dia merasa bodoh sudah terayu akan paras milik Marta.


"Oh baik. Jangan harap kau bisa melihat matahari besok." Marta meletakkan piring kasar. Dia menarik laci lalu mengambil obat-obatan dan hendak menyumpalkannya pada Pak Bisma.


Beruntung sebuah ketukan mengurungkan niatnya. Bergegas saja Marta mengembalikan obat bahkan mengambil bulpen dan kertas dari tangan Pak Bisma.


"Awas saja kalau kau mengadu." Bisiknya seraya berdiri untuk membuka pintu kamar. Sengaja dia menutup, agar jika sewaktu-waktu Eldar datang, perbuatannya tidak terendus." Oh kamu El." Sapa Marta ramah.


"Bagaimana keadaan Pak Bisma?"


"Sulit El. Dia tidak mau makan." Menunjuk ke makanan yang belum tersentuh.


"Boleh saya masuk?"


"Silahkan." Wajah Marta seketika bengis ketika Eldar berjalan melewatinya. Dia memutuskan pergi karena Eldar selalu meminta waktu untuk berbicara empat mata.


"Siang Pak." Eldar menghela nafas panjang melihat keadaan Pak Bisma. Dulu bibirnya masih bisa berucap meskipun tidak jelas. Tapi kini Pak Bisma hanya bisa menangis seraya mengerakkan kaki dan tangannya." Saya ingin melapor, em kalau hubungan Tuan dan Nona sedikit membaik semenjak pertemuannya dengan Tuan Kai beberapa hari lalu." Imbuhnya pelan.


Pak Bisma mengeluarkan sebuah gumpalan kertas dari bawah tubuhnya. Dia memberikannya pada Eldar sambil menunjuk ke arah pintu. Segera saja kertas tersebut di kantongi sebab Marta tampak datang.


"Kamu mau minum apa El?" Tanyanya ramah.


"Tidak perlu Bu. Saya hanya sebentar."


"Oh ya sudah. Em saya tinggal ke belakang ya. Kalau haus, ambil sendiri. Kebetulan Bibik sedang keluar."


"Baik Bu." Setelah memastikan Marta pergi. Eldar mengambil gumpalan kertas dan membacanya. Hanya ada tulisan nama Nathan dan menikah." Saya akan sampaikan pada Tuan. Tapi tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa keadaan Bapak seperti ini lagi?" Tanya Eldar berbisik.


Pak Bisma hanya menangis terisak. Dia merasa pasrah atas apa yang menimpanya. Ingin rasanya kata penyesalan terucap namun terlalu sulit. Sehingga Pak Bisma hanya ingin melihat Nathan menikah sebelum nyawanya terenggut.


.


.


.


.


"Apa ini Pak?" Tanya Bella bingung. Eldar memutuskan untuk menemui Bella terlebih dahulu.

__ADS_1


"Dari Pak Bisma. Beliau ingin kalian cepat menikah." Sontak Bella terdiam. Memang dia merasa semakin yakin namun untuk melangkah ke jenjang pernikahan masih perlu di fikirkan lagi." Keadaan beliau kembali buruk Nona. Saya tahu kalau Tuan sudah mengecewakan tapi saya menjamin kalau Tuan Nathan..."


"Akan saya bicarakan dengan Ayah." Sahut Bella cepat.


"Terimakasih atas pengertiannya. Saya berjanji kalau seandainya Tuan Nathan berulah lagi, saya yang akan menebus kesalahan itu." Bella mengangguk seraya tersenyum. Maniknya masih menatap ke arah kertas kecil yang hampir robek.


.


.


.


.


"Ayah setuju saja Nak." Tentu saja Pak Bisri menjawab begitu. Sejak awal dia sudah yakin dengan Nathan.


"Ini demi Pak Bisma Yah." Masih saja Bella tidak mengakui ketertarikannya pada Nathan padahal selama beberapa hari hubungan keduanya kian membaik.


"Hm suruh Nathan datang ke sini dan memintanya pada Ayah." Pinta Pak Bisri tersenyum simpul. Bergegas saja Bella berdiri dan masuk kamar. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Nathan.


Alasannya bukan hanya karena perintah Pak Bisma. Tapi rasanya dia juga ingin segera meresmikan hubungan.


📞📞📞


"Bagaimana?"


Pertanyaan itu terlontar ketika Bella merasa sungkan mengutarakan jawaban padahal Eldar berkata akan menemui Nathan.


Bella malah bertanya seperti itu.


"Kamu mau menikah?


Terlihat mimik wajahnya berubah merah.


"Apa ini rencana mu Mas?


"Huft. Untuk kali ini tidak. Aku sendiri baru tahu dari Eldar.


"Ayah menunggumu.


📞📞📞


Tut.. Tut... Tut...


Bella menghela nafas panjang. Panggilannya langsung terputus di ikuti oleh suara ketukan pintu. Dia meletakkan ponselnya dan keluar dari kamar. Ternyata Pak Bisri sudah membukakan pintu untuk Nathan.


Semangat sekali.


"Saya ingin melamar Bella untuk menjadi Istri saya." Ucap Nathan tanpa basa-basi padahal Pak Bisri belum mempersilakan nya duduk.


"Hm baik. Berjanjilah."

__ADS_1


"Saya berjanji akan menyanyangi nya melebihi kasih sayang Om padanya." Kini bukan Pak Bisri yang melontarkan janji tapi Nathan sendiri.


"Ini kesempatan terakhir. Kalau sampai kamu mengecewakan, Om tidak mentolerir lagi."


"Siap Om." Nathan tersenyum simpul seraya menatap ke arah Bella yang masih berdiri di samping Pak Bisri. Akhirnya. Terimakasih Ayah.


Ucapan tersebut terlontar di dalam hati begitu saja. Tidak dapat di pungkiri jika saat ini dia sangat bahagia walaupun Eldar bercerita soal kondisi Pak Bisma yang memburuk.


Segera saja persiapan pernikahan dadakan di gelar malam itu juga. Eldar tidak ingin nantinya menyesal jika tidak cepat di lakukan.


Bella cukup terkejut mendengar itu. Dia berfikir pernikahan di gelar satu Minggu atau beberapa hari lagi. Namun rupanya keadaan Pak Bisma memaksa, seakan tidak memiliki waktu banyak.


Hanya Pak Bisri dan kedua mempelai juga beberapa saksi yang hadir. Marta mendengus seraya memasang senyum palsu saat dia melihat kenyataan yang terjadi di hadapannya. Dia tidak menyangka jika ketakutannya selama ini terjadi. Nathan menikah dengan yang wanita lain dan itu berarti kesempatan untuk mendekat semakin jauh.


Sialan. Kenapa malah seperti ini?! Tua bangka itu memang pantas untuk mati.


Sepanjang acara Marta berusaha bersikap semanis-manisnya. Dia belum ingin kejahatan terendus. Di dalam fikirannya sudah merencanakan sebuah keburukan. Kini targetnya beralih pada Bella. Marta akan membiarkan Pak Bisma tetap hidup agar Bella tinggal di rumah mereka.


Saat kata syah terdengar, mimik wajah Nathan terlihat bahagia begitupun Pak Bisma juga Pak Bisri. Ketiga lelaki itu seakan merasakan kelegaan hati. Tanggung jawab orang tua yang sudah terlepas, sementara Nathan berhasil mendapatkan kepercayaan.


"Semoga kalian bahagia." Ucap Pak Bisri mengusap lembut kepala Nathan dan Bella.


"Akhirnya kamu menikah juga sayang." Sontak Nathan menatap tajam ke arah Marta." Kenapa? Mama turut bahagia atas kalian." Imbuhnya tersenyum simpul.


"Jangan banyak bicara. Tidak ada yang mengakui mu di sini."


"Sebaiknya kalian tinggal di sini." Ucapan Marta membuat langkah Nathan berhenti terayun.


"Tidak sebelum kau pergi." Bella menghela nafas panjang. Entah kenapa dia merasa ada yang salah dengan tatapan Marta terhadap Nathan. Apalagi umur keduanya hampir sama, sehingga memunculkan rasa cemburu.


"Pura-pura saja tidak melihat ku. Pertimbangan itu untuk Ayahmu."


"Sudah ku katakan tidak, sebelum kau pergi." Nathan mengiring Bella untuk keluar kamar. Dia berniat mengajak Bella ke suatu tempat.


"Benar-benar keterlaluan Nathan itu." Eluh Marta memasang wajah kecewa.


"Tuan memang seperti itu Bu." Jawab Eldar cepat.


"Saya coba bicarakan ini. Mungkin saja Nak Nathan mau." Marta menoleh ke arah Pak Bisri.


"Terimakasih loh Pak. Maaf merepotkan."


"Sama-sama. Saya permisi."


"Ya Pak hati-hati." Eldar mengangguk ke arah Pak Bisma lalu mengantar Pak Bisri pulang.


Setelah rumah sepi, seketika wajah Marta berubah bengis. Dia kesal saat memikirkan Nathan sudah menjadi milik wanita lain.


"Kenapa kamu tega padaku Nath. Padahal kamu sudah menjamah ku setiap malam." Bagaimana tidak Pak Bisma merasa menyesal. Sebab setiap malam dia selalu mendengar dessahan yang berasal dari Marta. Secara terang-terangan Marta memuaskan hasratnya sendiri sambil membayangkan Nathan yang melakukan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2