Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Satu kekhawatiran


__ADS_3

Sengaja Nathan melewati pintu samping untuk menghindari pertemuan dengan Pak Bisri. Apalagi hujan tampak turun sehingga dia ingin segera menuntaskan hasrat yang tertahan.


Beberapa kali Nay hendak bertanya, tapi Nathan mengisyaratkan untuk tetap diam. Sambil mengendap-endap keduanya menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Namun perbuatan terasa sia-sia saat mereka berpapasan dengan Pak Bisri yang hendak turun.


Huft! Eluh Nathan dalam hati.


"Ayah fikir kalian menginap di hotel untuk honeymoon." Nathan tersenyum aneh sementara Bella hanya menatapnya dari samping.


"Kami merencanakan itu setelah pesta di gelar agar tidak ada gosip miring lagi." Jawab Nathan cepat.


"Itu bagus Nak." Pak Bisri menatap wajah menegang Nathan." Ya sudah kalian istirahat. Em besok pagi ada yang ingin Bapak bicarakan." Senyum Nathan berubah mengembang ketika Pak Bisri dengan segala pengertiannya menyuruh beristirahat.


"Aku..."


"Ya sudah em Yah. Kita beristirahat dulu." Nathan tidak ingin mendengar alasan dari Bella. Bergegas saja dia mengiring Bella masuk ke kamar utama.


Pak Bisri yang melihat itu tersenyum kecil, lalu menuruni anak tangga. Dia berniat berkenalan dengan para pembantu yang ada di sana, agar nantinya bisa di jadikan teman mengobrol.


Sementara di dalam kamar, pintu di kunci begitupun korden. Bella masih terpaku tidak bergerak. Dia memperhatikan Nathan yang terlihat begitu bersemangat.


"Em Baby.. Malam ini kamu milikku." Tanpa basa-basi Nathan merengkuh tubuh Bella lalu mencumbu leher jenjangnya.


"Mas tunggu." Cegah Bella tanpa menyentuh. Walau menikmati tapi Bella ingin menjelaskan sesuatu.


"Ada apa?" Nathan menegakkan kepalanya, menatap Bella dengan wajah memerah.


"Seharusnya aku membicarakan ini sebelum pernikahan." Nafas Nathan berhembus kasar. Cacing berototnya sudah menegang tapi rupanya Bella ingin berbicara sebentar.


"Menjelaskan apa?" Terpaksa, Nathan mengiring Bella duduk di tepian ranjang.


"Em aku sudah pernah menikah selama dua tahun. Tapi kamu lihat aku tidak juga memiliki anak. Bagaimana pendapat mu kalau nantinya aku tidak bisa memberikan keturunan." Sungguh terlambat Bella mengatakannya sebab pernikahan sudah di gelar.


"Terus kenapa? Bukankah itu menyenangkan. Kita bisa bercinta sepuasnya dan menghabiskan waktu berdua." Bella melirik malas.


"Aku serius Mas. Aku tidak mau nanti kamu memanfaatkan ini untuk menikah lagi." Jawab Bella menebak.


"Aku juga serius Baby."

__ADS_1


"Kamu tidak akan punya keturunan untuk meneruskan perusahaan."


"Hm biarkan saja. Kita bisa mengadopsi anak Eldar. Jangan di perbesar."


"Bagaimana jika..."


"Syyyyuuuuuttttttssss Baby. Ini malam pertama kita. Aku sungguh tidak mempermasalahkan itu. Seharusnya yang kamu fikirkan sekarang adalah.." Nathan tersenyum simpul mendekatkan bibirnya ke telinga Bella." Siapkan kamu melayani ku sampai besok." Imbuhnya dengan suara berat.


Seketika tubuh Bella meremang di sertai terbungkam nya bibir. Nathan kembali mencumbuinya hingga dia kesulitan bernafas. Sentuhan itu masih terasa sama. Terkontrol namun mampu membuat lawan mainnya terbuai.


Pemanasan yang begitu lama seakan-akan Nathan ingin memanjakan Bella terlebih dahulu sebelum dia melakukan inti dari percintaan.


Entah berapa kali pelepasan Bella dapatkan. Tidak berfikir oleh-nya bisa mengulang momen yang sulit di lupakan namun kali ini lain. Nathan sudah syah menjadi Suaminya. Itu berarti Bella bisa merasakan sentuhan tanpa beban sampai membuatnya tenggelam dalam hasrat. Puas! Mungkin lebih dari kata puas sebab tenaga Bella terkuras habis hanya untuk satu pelepasan.


"Kamu lapar? Biar ku ambilkan makanan agar tenagamu kembali lagi." Bella sungguh takjub melihat keperkasaan Nathan yang wajahnya terlihat segar bugar.


"Tidak Mas. Aku tidak lapar." Tangan Bella melingkar erat di perut Nathan, dia tidak menginginkan Nathan pergi.


"Kamu ingin tidur?"


"Hanya butuh sedikit waktu untuk pulih." Sebuah jawaban yang mampu menyenangkan hati Nathan.


"Hm."


"Tapi kamu boleh berhenti kalau lelah."


Dia sangat pintar mengintimidasi. Walaupun lelah, apa bisa aku berhenti? Jika membalasnya jauh lebih menyenangkan untuk apa menolak.


Meski hati masih mengambang akibat sisa luka, namun Bella menyadari jika tidak mudah menghindari sentuhan. Jangankan untuk menolak, keinginan mengulang lagi dan lagi memenuhi otaknya.


🌹🌹🌹


"Ini bagaimana Tan? Kenapa Nathan malah menikah?" Protes Elena dengan wajah masam. Tentu saja dia tidak terima akan berita tersebut.


"Tante tidak bisa melarang. Wanita itu sudah mempengaruhi Nathan."


"Terus janji Tante? Aku sudah melakukan apapun yang Tante suruh. Dari menukar obat dan lain-lain." Tanpa mereka sadari Eldar terlihat berdiri di balik pintu seraya mendengarkan obrolan. Dia memiliki senggang waktu sehingga memutuskan untuk menjaga Pak Bisma sebentar.

__ADS_1


"Jangan salahkan Tante salahkan wanita itu. Semoga saja mereka mau tinggal di sini agar aku bisa memberikan pelajaran. Dia itu harus berkaca! Wajah pas-pasan saja mau berdampingan dengan Nathan!" Eldar menghela nafas panjang. Cukup lama berdiri sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu.


Sontak Marta menatap panik ke arah Eldar. Dia takut pembicaraannya di dengar.


"Astaga El. Masuk." Sapa Marta seraya mengedipkan mata ke arah Elena.


"Maaf Bu Marta. Em saya ada senggang waktu sebentar jadi saya memutuskan menjaga Pak Bisma."


"Silahkan saja. Terus bagaimana dengan anak Istrimu?" Tanyanya berusaha ramah.


"Mereka mau mengerti. Em saya akan pulang jam tujuh malam nanti."


"Oh ya sudah." Eldar tersenyum simpul. Dia berjalan tenang dan masuk ke dalam kamar." Sebaiknya kamu pulang. Aku tidak mau terdampak masalah." Ucapnya berbisik.


"Terus nasibku?"


"Kita bicarakan lain kali."


"Ish! Ya sudah." Dengan terpaksa Elena pulang daripada nantinya kebusukan mereka terbongkar.


Sementara di dalam kamar, Eldar mencoba bersikap biasa saja. Matanya menatap ke arah Pak Bisma penuh iba. Dia menjadi tahu kenapa kondisi beliau semakin memburuk hingga harus tergolek lemah.


Jadi mereka menukar obat itu untuk menyingkirkan Pak Bisma. Astaga.. Ku fikir semua hanya kebencian Tuan. Tapi rupanya Bu Marta memang bukan wanita baik-baik.


Eldar mengira jika selama Nathan sedang mencari alasan untuk menolak kehadiran Marta karena tidak ingin posisi Ibunya bergeser. Namun setelah pembicaraan yang di dengar, membuat Eldar sadar kenapa Nathan bersikukuh tinggal terpisah.


"Beliau memang susah tidur." Eldar menoleh sambil tersenyum. Sungguh miris melihat keadaan Pak Bisma yang kini tatapannya berubah kosong.


"Saya masih berharap beliau bisa kembali seperti dulu." Eldar berusaha bersikap biasa saja padahal dia sudah mengirimkan video yang di ambil pada seseorang.


"Mungkin sulit El. Lihatlah keadaannya. Beliau tidak dapat merespon setelah pernikahan tadi." Marta duduk di sisi ranjang seraya terisak-isak. Mengelabuhi Eldar dengan air mata palsu." Mungkin saja beliau tidak setuju Nathan menikah dengan wanita itu." Eldar hanya terdiam seraya mengangguk. Marta tidak tahu menahu soal kertas yang di berikan Pak Bisma padanya.


Terlihat sudut mata kanan Pak Bisma mengeluarkan air mata. Eldar berpaling, tidak kuasa melihat kenyataan tersebut. Dia mengenal Pak Bisma sebagai lelaki pekerja keras. Jika bukan karena keuletannya, mana mungkin Asian group bisa berkembang seperti sekarang.


Tapi beberapa bulan lalu, Pak Bisma mengutarakan keinginannya untuk menyerahkan hak kuasa penuh atas Asian group pada Nathan. Perintah yang cukup mencurigakan padahal sebelumnya beliau berkata Nathan belum siap menjadi pemimpin.


Kalau Pak Bisma sudah tahu, kenapa beliau malah diam saja dan menerima? Ini tidak bisa di biarkan. Kalau aku tidak bertindak cepat, nyawa Pak Bisma akan jadi taruhan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2