Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Luapan emosi


__ADS_3

Setelah menemui Bella, Bastian langsung melajukan mobilnya menuju Asian group. Dia ingin membicarakan tentang pemutusan kerja sama. Tujuannya tidak lain ingin menghancurkan perusahaan, berharap Nathan jatuh miskin dan Bella kembali padanya.


"Mana mungkin begitu Pak Ian. Kerja sama ini sudah terjalin sejak Asian group di pimpin oleh Pak Bisma." Jawab Eldar menolak.


"Keputusan ada di tangan saya. Kalau Pak Nathan masih berada di sekeliling Bella. Saya akan memutuskan kerja sama agar Asian group tidak mendapatkan pasokan bahan untuk produksi." Eldar mengangguk seraya tersenyum.


"Akan saya tunggu surat resminya. Masih banyak perusahaan yang bisa menyiapkan bahan untuk kami. Tapi Bapak harus ingat, kalau Pak Ian bukan pemilik perusahaan yang sesungguhnya."


Mimik wajah Bastian berubah pucat. Ucapan yang di lontarkan Eldar memang benar adanya. Dulu perusahaan Bastian jauh dari kata berkembang sebelum akhirnya dia meminta bantuan pada Kai, pemilik Xu group.


Sejak saat itu, perusahaan miliknya berkembang pesat walaupun hanya berada pada urutan ke sepuluh. Namun semua ada konsekuensinya. Nama Kai senantiasa berdiri di belakang Bastian meski para staf dan pekerja beranggapan jika Bastian lah pemiliknya.


"Jangan sok tahu kamu."


"Pak Bisma yang berkata demikian. Hubungan kerja sama ini akan tetap terjalin sebab Tuan Kai berhubungan baik dengan beliau." Bastian mendengus. Tujuannya datang memang hanya sekedar menggertak." Cari cara lain untuk menjatuhkan. Atau saya sendiri yang melaporkan bagaimana kelakuan Pak Bastian berusaha mencampuradukkan masalah pribadi dengan perkerjaan." Bukan hanya Pak Bisma, sebab Eldar mengenal baik Kai begitupun Istrinya, Naysila.


Catatan: Kalau ada yang belum memahami siapa Kai pemilik Xu grup. Silahkan baca cerita kedua ku yang berjudul" Benih titipan Tuan Mafia. Aku mulai merencanakan lanjutan untuk cerita tersebut. Kembali ke cerita๐Ÿ‘‡


"Sialan!!" Umpat Bastian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar ruangan. Eldar menghela nafas panjang, dia tidak menyangka jika sosok yang di kenalnya baik menunjukkan keburukannya.


"Benar kata Tuan Kai. Banyak manusia munafik di sekitar kita. Lebih baik terlihat buruk di depan daripada bersembunyi di dalam keburukan." Gumam Eldar kembali menatap ke layar laptopnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah menjelaskan perdebatan yang terjadi di bawah, Bella mengganti bajunya dengan gaun rumahan. Kedatangan Bastian membuatnya di pecat secara tidak terhormat. Sangat tidak mungkin dia datang ke perusahaan untuk mengemis perkerjaan sebab selama ini Bastian yang memaksanya berkerja di sana.


"Sosis goreng." Ujar Pak Bisri menawarkan. Dia meletakkan sosis goreng lengkap dengan saus di atas meja.


Sungguh cinta seorang Ayah tidak pernah terkalahkan. Sekalipun dia tidak berprotes pada Bella meski anak semata wayangnya itu enggan masuk ke dapur. Padahal seharusnya Bella yang menyiapkan sajian mengingat dirinya seorang calon Ibu.


"Terimakasih Yah."

__ADS_1


"Sama-sama Nak."


"Em. Orang yang mengontrak rumah kita tinggal berapa bulan lagi?" Tanya Bella seraya mengambil satu sosis dengan mengunakan garpu.


"Masih lima bulan lagi. Memangnya kenapa?"


"Jangan di perpanjang lagi Yah. Kita tinggal di sana saja. Untuk sementara kita pakai uang tabungan sampai aku mendapatkan pekerjaan." Pak Bisri meraih cangkir berisi teh panas lalu menyeruputnya.


"Cari saja Suami mumpung Ayah masih hidup. Kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat, hati Ayah akan lega begitupun Almarhum Mamamu." Bella memelankan kunyahannya seraya melirik sebentar." Ayah sudah tua Nak." Imbuh Pak Bisri pelan. Fikirannya menerawang jauh. Dia takut jika nanti kematian menjemputnya sebelum Bella menikah.


"Entahlah Yah aku tidak merasa yakin."


"Dengan Bastian atau Nathan?" Bella menghembuskan nafas berat." Ayah lebih suka karakter Nathan walaupun Bastian juga baik." Klunting.. Bella meletakkan garpu di atas piring.


"Serius Ayah bilang begitu? Mas Nathan itu sudah membohongi kita. Ayah tidak kesal padanya?"


"Kita tidak boleh menilai dari satu sisi. Mungkin Nathan punya alasan melakukan itu seperti Ayah yang sempat membohongi Mama mu."


Pak Bisri tertawa kecil mengingat masa mudanya. Mama Bella yang merupakan gadis lugu dari desa, kerapkali dia bohongi. Bukan hanya di jadikan bahan taruhan, tapi Pak Bisri sempat meninggalkan Mama Bella selama tiga tahun. Dia berpamitan mencari pekerjaan, padahal saat itu Pak Bisri sibuk dengan para kekasihnya.


"Aku masih malas Yah. Lebih baik aku berkerja. Para lelaki itu menyebalkan."


"Hm ya sudah." Bersamaan dengan itu terdengar bunyi ketukan pintu. Bella menatap ke Pak Bisri begitupun sebaliknya." Biar Ayah buka." Ucapnya seraya berdiri.


"Kalau salah satu dari mereka usir saja."


Pak Bisri tersenyum lalu melangkah ke arah pintu. Terlihat Nathan berdiri di baliknya dengan paper bag di tangannya.


"Silahkan masuk Nak." Sontak Bella menoleh. Nathan malah di persilahkan tanpa rintangan." Kenapa belum pulang?" Tanya Pak Bisri ramah.


"Saya membelikan ponsel untuk Bella. Kemarin ponselnya saya rusak." Seketika Bella menggeser tubuhnya ketika Nathan mencapai ruang tamu." Em saya juga merasa khawatir setelah perdebatan tadi. Kalau di izinkan, saya akan tinggal di sini sampai Eldar menemukan Apartemen baru." Imbuhnya seraya duduk.

__ADS_1


"Terus semua orang menyebut ku murahan?! Begitu maksud mu?" Sahut Bella ketus." Bukankah aku bilang pergi dan jangan mengikuti ku." Nathan tersenyum simpul begitupun Pak Bisri.


"Jangan begitu Nak. Bicara yang bagus."


"Ayah tidak tahu bagaimana Bastian menyebutku begitu. Kalau bukan karena lelaki ini." Menunjuk ke arah Nathan." Mungkin aku tidak di pandang rendah seperti sekarang." Bukan hanya harus menanggung malu pada para tetangga. Perbuatan Nathan membuat rasa percaya diri Bella sempat runtuh. Begitu buruknya dia sampai-sampai ada seorang lelaki yang tega memperlakukannya selayaknya barang.


"Akan ku perbaiki semuanya." Jawab Nathan cepat.


"Bagaimana caranya? Semua orang sudah memandangku rendah. Mereka bilang aku terlalu jauh bermimpi mendapatkan mu. Mereka menyuruhku berkaca dan..."


"Aku yang brengsek. Akan ku tunjukkan pada mereka kalau aku yang bersalah bukan kamu."


"Oh mungkin ini bagian dari rencana barumu. Berapa uang yang kau siapkan untuk mereka. Kau paham sedang mempertaruhkan manusia." Menunjuk ke dadanya." Jangan lupa menyiapkan pesta dan beberapa wanita kalau kau berhasil!!" Bella berdiri lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu keras. Braaaakkkkk!


Terlihat manik Nathan mulai berkaca-kaca. Selama dua tahun dia sudah cukup tersiksa hidup tanpa hati. Setiap hari hidupnya di bayang-bayangi perasaan bersalah sampai setiap malam dia jarang memejamkan mata.


"Sabar Nak." Pak Bisri menyadari mata Nathan yang mulai berkaca-kaca. Dia semakin yakin jika Nathan sudah menyesali perbuatannya.


"Itu ku lakukan hanya demi kesenangan."


"Setelah ini mungkin perasaan akan lega. Selama ini dia enggan meluapkan kemarahan."


"Saya keterlaluan Om. Kesalahan saya memang sangat fatal."


"Biarkan dia sendiri dulu. Kamu mau minum apa? Biar Om buatkan? Tapi hanya ada air mineral dan teh manis. Tidak ada tamu berkunjung jadi Om jarang membeli sirup." Nathan tersenyum simpul seraya menatap ke arah Pak Bisri.


"Air putih saja Om. Mungkin siang ini Eldar sudah mendapatkan tempat. Paling lambat nanti malam."


"Kita bicarakan nanti. Sebentar ya." Pak Bisri berjalan menuju dapur yang hanya terhalang lemari kaca.


Manik Nathan menatap lekat ke arah pintu kamar Bella. Dia berharap Bella keluar dari sana dan berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


Apapun ku lakukan asal kepercayaan mu kembali.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2