Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Kekecewaan Bastian


__ADS_3

Bella panik ketika membuka mata. Dia mengira berada di tempat asing padahal semalam memang dirinya berada di rumah sakit. Ketika matanya menangkap sosok Nathan dan Pak Bisri, seketika Bella merasa malu.


Ah iya aku di rumah sakit.


Bella merapikan rambutnya sambil melirik ke arah jam dinding.


"Kamu mimpi buruk?" Tanya Pak Bisri memastikan keadaan Bella yang tengah memasang wajah panik.


"Tidak Yah."


"Kenapa sepanik itu?"


"Lupa. Em aku harus pulang. Hari ini aku tidak mau membolos masuk kerja." Bella berniat mencuci muka.


"Berkerja di tempat lelaki itu?" Tanya Nathan seraya duduk.


"Ya. Dia banyak membantu. Mungkin saja dia membutuhkan ku." Pak Bisri menghela nafas panjang ketika Nathan mencabut selang infus lalu berjalan menghampiri Bella.


"Bisakah kamu berhenti berkerja?"


"Tidak." Pasti dia akan memaksakan kehendak.


"Hm ku antarkan." Kali ini tebakan Bella meleset sebab ternyata Nathan tidak mencegahnya secara ekstrim.


"Antar? Kau masih sakit?"


"Sakit apa? Aku sudah sembuh." Nathan mengambil ponselnya untuk menghubung Eldar agar segera mengurus surat kepulangannya.


Bella menatap ke arah Pak Bisri penuh tanya sementara Nathan masih berbicara melalui telepon.


"Bukankah sebaiknya kamu beristirahat dulu Nak Nathan?" Pak Bisri menatap luka sayatan yang mungkin masih basah.


"Saya baik-baik saja Om. Kalau kamu mau cuci muka silahkan, sambil menunggu surat kepulangan ku." Tidak ada yang bisa Bella lakukan kecuali menuruti keinginan.


"Hm." Jawabnya singkat. Bella berjalan masuk ke dalam kamar mandi sementara Nathan duduk di sofa bersama Pak Bisri.


"Apa Apartemen itu pemberian Bastian?" Tanya Nathan ingin tahu.


"Nak Eldar yang mencarikan."


"Om bisa tinggal di rumah saya untuk sementara waktu kalau memang mau." Pak Bisri tersenyum simpul.


"Apa kata tetangga nantinya?"


"Aman Om. Penghuni di komplek saya tidak banyak mulut. Mereka terlalu sibuk dengan perkerjaan."


"Terimakasih Nak Nathan. Tapi keputusan tetap di tangan Bella."


Nathan menghembuskan nafas berat. Hampir semalaman penuh mereka berbincang. Nathan menanyakan perihal kedekatan Bella dan Bastian yang ternyata sudah terjalin lama. Cemburu tentu saja, namun dia tidak ingin memaksakan kehendak sampai-sampai membuat Bella membencinya. Nathan hanya merasa khawatir kalau nantinya Bastian berbuat macam-macam mengingat lamaran kerapkali di lontarkan.


Syukurlah. Ternyata Bella berbohong. Selama ini hanya Bastian yang mengharapkan.


Setelah mengurus surat kepulangan. Nathan mengantarkan Bella juga Pak Bisri untuk pulang. Dia bahkan menunggu di dalam Apartemen meski perban masih terlihat terpasang. Luka cukup dalam seharusnya membutuhkan waktu lama untuk sembuh, namun Nathan lebih tidak ingin kehilangan Bella lagi daripada sekedar memikirkan lukanya.


Sementara Bella sendiri malah sengaja berlama-lama di dalam kamar. Dia merasa gugup jika harus pergi berkerja dengan di antar Nathan.


Sudah sepuluh menit sejak selesai berdandan, Bella berdiri mematung seraya menatap pantulan cermin.

__ADS_1


Cinta semacam apa yang sedang Bella rasakan, sampai-sampai Nathan masih membuatnya segugup sekarang.


"Cukup diam dan tidak perlu banyak bicara." Gumamnya sambil mengambil tas kerja kemudian keluar kamar." Aku pamit Yah. Sudah sangat terlambat." Bella mencium punggung tangan Pak Bisri lalu pergi tanpa mengajak Nathan.


"Hati-hati Nak. Tidak menunggu..." Braaaakkkkk!! Pintu Apartemen tertutup kasar." Sudah lama kami jarang mengobrol tapi baru pertama dia bertingkah sekasar itu." Ujar Pak Bisri pelan.


"Mungkin karena ada saya Om. Baik, saya permisi dulu." Nathan bergegas keluar untuk menyusul Bella yang masih berdiri di depan lift." Kamu semakin cantik sekarang." Puji Nathan setengah berbisik.


"Jangan harap aku termakan rayuan mu." Padahal ini yang di harapkan Bella tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya. Suara berat Nathan ketika bercinta masih sangat dia ingat.


"Aku memang sedang merayu. Sedikit aneh sebab sudah lama aku tidak mengucapkannya."


Lift terbuka lalu keduanya pun masuk. Kesibukan di pagi hari membuat lift penuh sehingga penghuninya berdesakan tanpa celah. Nathan mengambil masker dari sakunya lalu memakainya sebelum masuk ke dalam lift. Dia tidak ingin mencium aroma tubuh wanita lain.


Bella sendiri berusaha menghindari bersentuhan dengan Nathan, namun lelaki di sampingnya cukup membuatnya tidak nyaman.


Lelaki paruh baya dengan tatapan aneh yang entah berasal dari lantai berapa. Keduanya tidak sengaja bertemu di lift juga parkiran Apartemen. Padahal hanya pertemuan singkat, tapi Bella merasakan gelagat aneh dari lelaki tersebut.


"Pindah." Pinta Bella seraya memaksa berganti posisi. Tanpa sengaja tangannya menyentuh pergelangan tangan Nathan yang di perban.


"Ah Baby sedikit sakit." Deg! Sontak manik Bella melebar. Otaknya langsung bergerilya ke adegan ranjang yang di lakukan dua tahun silam.


Rupanya bukan dirinya saja yang merasa jika suara Nathan mampu membangkitkan hasrat, sebab beberapa wanita yang ada di dalam lift kini menatap ke arah Nathan.


"Ya maaf aku tidak sengaja. Bukankah katamu sudah sembuh?"


"Hanya sedikit tidak banyak." Nathan tersenyum simpul di balik masker. Bella berpaling bersamaan dengan terbukanya pintu lift.


Ketika keduanya keluar dari lift. Bella baru menyadari keadaan perban Nathan yang terdapat noda darah padahal dirinya yakin jika tadi perban tersebut bersih.


"Lukamu masih basah." Bella menunjuk ke arah pergelangan. Dia menyesal sudah menyentuh tangan Nathan hanya untuk menghindari sesuatu yang tidak jelas.


"Jangan bodoh. Kalau infeksi bagaimana?" Tanpa sadar Bella mengutarakan kekhawatiran meski penyampaiannya kasar.


"Aku baik-baik saja." Nathan menurunkan lengan jaketnya agar lukanya tidak terlihat. Ketika mereka akan mencapai pintu Lobby terlihat Bastian baru saja masuk dan berdiri mematung menatap keduanya.


Sudah ku katakan kalau semuanya akan berantakan.


"Aku berniat menjemput mu." Sapa Bastian mencoba menunjukkan senyum.


"Oh ya. Em Pak Ian sudah menjemput jadi aku..." Nathan menahan kepergian Bella dengan meraih pergelangan tangannya.


"Aku yang akan mengantarkan nya." Aku sengaja melakukan ini agar lelaki ini tahu diri.


"Kita searah. Bukankah seharusnya kamu masih ada di rumah sakit?"


"Aku sudah sembuh." Bastian terkekeh kecil.


"Kenapa bisa secepat itu? Oh mungkin karena kau tidak sungguh-sungguh menyayat pergelangan mu jadi luka itu cepat sembuh." Ledek Bastian berusaha menjatuhkan Nathan dan memunculkan persepsi jika kejadian kemarin adalah cara Nathan mengambil simpatik Bella.


"Jangan memulai perdebatan Pak." Tentu saja Bella tidak ingin ada pertikaian mengingat luka pada pergelangan tangan Nathan yang masih basah.


"Kamu sudah memaafkannya." Menunjuk ke arah Nathan.


"Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan perkerjaan."


"Tentu ada. Ingat Bella, aku yang ada untukmu ketika kau terpuruk dan di sakiti oleh lelaki ini." Kembali menunjuk kasar ke arah Nathan.

__ADS_1


"Jangan mencampuradukkan..."


"Menurut mu apa ada orang yang menerima keadaan mu dulu? Ketika semua akses perkerjaan di blokir olehnya." Bastian menghela nafas berat. Emosi tengah berkecamuk di hatinya sejak semalam.


"Terimakasih atas bantuannya." Bella baru tahu ketidaktulusan Bastian dari sorot matanya sekarang. Ada rasa kecewa sebab selama ini dia menilai Bastian sebagai pribadi yang dewasa nan hangat.


"Aku tertarik padamu, itu kenapa aku memberikan jalan agar kamu mendapat perkerjaan. Sekarang saat dia akan kembali, kau dengan mudah menerimanya tanpa menimbang perasaan ku." Menepuk-nepuk dadanya.


"Tunggu Mas. Ada yang harus di luruskan." Bella melepaskan tangannya dari genggaman jemari Nathan." Aku tidak pernah menerima siapapun termasuk dia. Jadi walaupun dia tidak ada di sini, aku tetap tidak mau memulai hubungan." Jawaban Bella terdengar munafik sebab hatinya memang masih terpaut pada Nathan.


"Kamu ingin membodohi ku? Kamu memilih sendiri karena menunggu lelaki brengsek ini." Bastian mendorong kasar tubuh Nathan sampai mundur ke belakang. Bella yang takut akan terjadi pertikaiannya langsung menjadi penengah dengan berdiri di antara keduanya.


Bastian semakin di buat frustasi tatkala maniknya menatap jemari Bella yang kini melingkar di pergelangan tangan Nathan.


"Cukup Mas. Kondisinya masih belum pulih, jangan memulai perdebatan." Kekecewaan berat terpatri pada mata Bastian.


"Kamu memang wanita tidak tahu terimakasih!!" Untuk pertama kalinya Bella mendengar kalimat kasar terlontar dari mulut Bastian." Semurah itu harga dirimu hei Bella. Ingat! Lelaki ini sudah menyakiti mu dan menipu mu dengan sangat buruk!" Umpatnya tidak terkendali.


Seketika Nathan tersulut emosi, dia hendak maju untuk menghantam mulut Bastian tapi Bella mencegah dengan merentangkan kedua tangannya.


"Tetap di tempat Mas." Terlihat dua orang scurity menghampiri mereka.


"Aku yang brengsek! Dia bukan wanita mura..."


"Cukup!" Nathan mengurungkan niatnya untuk mengumpat. Dia menghela nafas panjang seraya menatap tajam ke arah Bastian.


"Sebaiknya di selesaikan secara baik-baik Pak. Jangan membuat onar di Apartemen ini." Bastian mendengus lalu melangkah pergi. Ada perasaan mengganjal pada hati Bella sebab dirinya sudah mengecewakan orang yang menolongnya. Namun apa daya? Bella memang tidak memiliki rasa.


"Terimakasih ya Pak." Ucap Bella pada scurity. Dia hendak kembali masuk namun Nathan merangkul kedua pundaknya erat.


"Tidak aman tinggal di sini."


"Sudahlah." Bella menyingkirkan tangan Nathan dari pundaknya." Seharusnya tadi aku datang sendiri. Sekarang aku kehilangan perkerjaan." Imbuhnya pelan.


"Katakan kamu ingin berkerja di mana? Akan ku bantu."


"Aku malas. Sebaiknya kamu pulang. Aku ingin tidur seharian." Bella berjalan menuju lift." Jangan mengikuti ku. Pulanglah." Imbuhnya setengah berteriak.


Kamu memang tidak boleh berdekatan dengan siapapun.


Nathan mengambil ponsel dari saku celananya. Dia memerintahkan Eldar untuk mencarikan hunian.


📞📞📞


"Dua Tuan? Untuk apa?


"Untukku dan Bella. Mereka tidak mau tinggal satu atap sementara di sini sudah tidak aman.


"Baik Tuan. Em kalau tidak ada. Apa Apartemen tidak masalah.


"Hm. Asal keamanannya ketat.


"Siap Tuan. Nanti saya kabari.


"Ya.


📞📞📞

__ADS_1


Nathan berjalan keluar menuju outlet ponsel yang ada di seberang jalan Apartemen. Dia berniat membelikan ponsel baru untuk Bella agar keduanya bisa berkirim kabar.


🌹🌹🌹


__ADS_2