
Terpaksa Bella menumpukkan tangannya pada paha Nathan untuk mencegahnya berdiri dan tersulut emosi. Bastian dan para relasi lain masih terkekeh dengan wajah penuh ejekan ke arah Bella.
Cukup lama seperti itu sampai akhirnya Bastian berhenti terkekeh. Dia tersenyum simpul menatap Bella yang berusaha tidak perduli.
"Cinta memang buta. Kamu pernah di sakiti dan di perlakukan selayaknya barang tapi sekarang kamu kembali padanya." Ujar Bastian menatap lekat Bella." Wajar saja. Pak Nathan begitu tampan dan pengalamannya bagus dalam hal.. Em percintaan. Bisa jadi kamu sudah terikat rasa karena pernah beradegan..." Eldar bergegas berdiri. Ada sesal terbesit sebab dirinyalah yang sudah menceritakan permasalahan antara Bella dan Nathan.
"Sangat tidak sopan membahas itu di sini Pak." Sahut Eldar cepat. Dia menatap geram ke arah Bastian yang kini berubah menjadi lelaki menyebalkan bermulut besar.
"Kalau memang tidak berbuat kenapa anda kebakaran jenggot Pak Eldar."
"Aku yang sudah memperkosa nya." Sontak para anggota rapat menatap ke arah Nathan. Padahal Eldar tidak bercerita sejauh itu tapi Nathan tidak ingin Bella kembali di permalukan dan di salahkan atas perbuatannya." Aku sang tersangka. Semua keburukan yang terjadi pada Nona Bella akibat ulahku." Leo menghela nafas panjang begitupun Eldar. Pengakuan tersebut cukup mengagetkan." Aku juga yang sudah menghancurkan rumah tangganya. Sungguh, dia bukan wanita yang seperti apa yang terlihat." Imbuh Nathan pelan.
Para staf yang sebagian besar anggota taruhan, merasa ikut bersalah sudah memanfaaatkan Bella hanya untuk uang. Mungkin dulu mereka sedang pingsan sampai-sampai rela melakukan hal yang seharusnya di cegah.
"Oh seperti itu." Sahut Leo juga." Jadi selama ini benar? Anda yang sudah merusak rumah tangga saya?" Bella tertunduk. Ingin pergi dari ruangan tapi dia kasihan jika Nathan di sudutkan.
Jadi dia mantan Suami Bella? Ah terang saja.
"Hm dia wanita langkah. Aku merasa penasaran dan berbuat hal bodoh." Jawab Nathan tegas.
"Ayo Bella. Kalau kamu ingin melaporkan lelaki ini. Aku akan menemanimu." Bastian mendengus. Di tidak tahu jika Leo adalah mantan Suami Bella. Seharusnya dia berniat mempermalukan Bella tapi malah berputar haluan.
Leo menghampiri Bella lalu mengulurkan tangannya. Dia berniat membantu Bella dengan tujuan hubungannya bisa kembali baik.
"Kenapa membahas masa lalu di sini? Kita sedang rapat atau bernostalgia?" Jangankan membalas uluran tangan, menoleh pun Bella tidak melakukannya.
"Seharusnya kamu melaporkan lelaki ini." Pinta Leo seraya menunjuk ke arah Nathan.
"Itu tandanya saya menikmati nya." Seketika suasana ruangan menjadi hening sesaat. Jawaban dari Bella terdengar gila. Sementara Nathan tersenyum simpul. Dia juga merasakan hal yang sama. Menikmati dosa tersebut sampai-sampai dia kehilangan selera." Apa ada hukuman untuk orang yang melakukan adegan itu atas dasar suka sama suka." Bastian di buat frustasi karena Bella dengan gamblang mengiyakan aib yang seharusnya di tutupi.
"Berarti benar kalau kamu terlihat elegan tapi begitu murah." Sahut Bastian menimpali. Dia tidak ingin menyerah atas niatnya.
"Selayaknya anda yang terlihat baik Pak Bastian. Saya tidak menyangka jika anda menaruh dendam sampai-sampai harus membahas hal itu di sini. Mana yang lebih munafik? Jujur saja kesalahan itu terjadi hanya satu kali tapi efek gosip nya bertahun-tahun."
__ADS_1
Bella tersenyum simpul seakan tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Memangnya anda semua tidak pernah melakukan kesalahan semacam itu? Anda menyebut saya murah tapi nyatanya anda menginginkan saya. Lantas bukankah anda lebih murah daripada saya?"
Bastian mendengus kesal. Terlihat Eldar tersenyum seraya mengangguk-angguk. Beruntung sebab Bella tidak terbawa suasana bahkan menunjukkan ketegasan dalam menyikapi masalah.
"Saya harap setelah ini tidak ada pembahasan soal masa lalu. Itu masalah saya bersama Pak Nathan. Saya baru tahu kalau para lelaki sangat suka bergosip."
Bella berdiri seraya mengedarkan pandangannya dan berhenti pada Bastian yang juga tengah menatapnya.
"Saya sangat menyesal sudah mengenal anda. Tadinya saya merasa bersalah atas kekecewaan yang anda rasakan kemarin. Tapi sekarang... Beruntung saya menolak pinangan anda beberapa kali."
Setelah melontarkan kalimat tersebut Bella berjalan keluar dengan langkah tenang. Bastian hendak menyusul namun Nathan menarik kasar kerah belakang nya.
"Sudah puas?" Nathan menghempaskan tubuh Bastian sampai terduduk di lantai. Bergegas saja dia berdiri dan akan melayangkan pukulan namun Eldar lebih dulu melerai.
"Sialan kau! Akan ku pastikan kau tidak mendapatkan bahan dari perusahaan ku!!!" Teriak Bastian menggila. Butuh tiga orang untuk memegangi tubuhnya.
"Silahkan hentikan. Kau fikir aku takut. Dia milikku hei Bastian. Kau harus tahu itu!!! Ku tunggu ancaman mu, sialan!!!" Umpat Nathan berjalan keluar ruangan. Leo hanya terdiam mematung. Dia baru tahu jika Bella benar-benar sudah melupakannya.
"Silahkan pergi Pak." Terpaksa Eldar menyeret Bastian dengan di bantu dua orang. Sang sekertaris yang tidak tahu apa-apa langsung membereskan berkas.
Tubuh Bastian di hempaskan keluar. Kemejanya terlihat compang camping karena dia berusaha memberontak.
"Lihat saja! Asian group akan runtuh sebentar lagi!!"
"Silahkan lakukan sesuka anda Pak."
"Kalian akan menyesal!!!" Teriak Bastian bergegas masuk ke dalam mobil bersama si sekertaris. Eldar berdiri menatap kepergian mobil Bastian seraya mengambil ponsel dan menghubungi kontak seseorang.
.
.
__ADS_1
.
Nathan menunggu Bella di depan toilet wanita. Dia merasa jika hati Bella kembali terluka walaupun ketegaran mencoba di tunjukkan. Namun di balik perdebatan tadi, perasaan Nathan sedikit lega. Dengan begini mereka bisa melangkah maju tanpa harus bersembunyi di balik dosa masa lalu.
Cklek..
Kenop pintu memutar lalu terbuka. Bella keluar dari dalamnya sambil menepuk-nepuk wajahnya yang masih basah.
Dia pasti menangis.
"Akan ku putuskan kerja sama. Masih banyak perusahaan yang mau menyediakan bahan untuk perusahaan." Bella menghela nafas panjang lalu mengangguk.
"Bagaimana dengan kwalitas nya Pak. Jangan asal sebab itu mempengaruhi minat konsumen." Nathan meraih jemari Bella lalu menggenggamnya meski berusaha di tolak.
"Jangan terlalu formal. Semua staf tahu kalau kamu calon Istri ku."
"Lepas Pak. Ingin masih di perusahaan. Dan lagi kemarin saya menolak anda."
"Itu hanya masalah waktu. Cincin ku bahkan sudah kamu pakai."
"Anda yang memaksa." Jawab Bella menyangkal.
"Aku tidak akan memaksa tapi aku akan tetap berharap kamu segera memaafkan ku lalu kita menikah." Dia bilang menikmatinya. Apa itu berarti dia sebenarnya menyukai ku hanya saja dia masih belum yakin. Aku senang sekali.
"Lepas Pak. Sebaiknya aku pulang saja."
"Panggil Mas. Em kita akan pulang sekalian makan siang. Ada restoran baru di buka, sekalian membungkus untuk Ayah." Bella cukup senang mendengar itu meski mimik wajah kesal berusaha di tunjukkan.
"Aku mau makan di rumah."
"Siapa yang bilang kita makan di luar. Kita ke restoran, membungkus untuk tiga porsi lalu makan bersama di Apartemen."
Bella pernah berharap Leo bisa sepenuh hati menerima keluarganya seperti yang di lakukan Nathan. Tapi ternyata sampai pernikahan hancur, Leo selalu setengah hati memandang keluarganya.
__ADS_1
"Aku harap kita menikah dan tinggal bertiga di rumah milikku." Kini lelaki yang di anggap brengsek begitu baik memperlakukan Ayahnya. Apa itu sebuah rencana misi atau Nathan dengan tulus melakukannya? Pertanyaan itu kini bersarang di benak Bella sehingga kebimbangan masih saja bertengger otaknya.
🌹🌹🌹