Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Godaan Nathan


__ADS_3

Nathan memilih sebuah cafe yang menyajikan tempat lesehan. Meski cenderung sederhana namun nyatanya pemandangan di bawah cukup menyilaukan mata.


Tapi Bella sedikit kesal sebab Nathan membohonginya. Dia berkata tidak akan membawanya ke puncak namun wilayah yang di kunjungi berada di sana.


"Ini puncak." Gerutunya pelan.


"Bukan Baby. Puncak itu berada di atas atas. Ini masih di lereng gunung." Bella melirik malas. Percuma saja berprotes sebab sejak kemarin Nathan menunjukkan sikap dewasa. Semenjak pertemuannya kembali, Nathan tidak pernah memasang wajah kesal. Entah berpura-pura atau benar, Bella masih mencari jawaban atas itu.


"Ya." Nathan tersenyum simpul. Menatap Bella dari samping sejenak. Punggungnya di sandarkan pada pinggiran saung lalu menatap lurus ke depan.


"Ku ajak ke Plaza kamu tidak mau."


"Untuk apa pergi ke sana? Kalau kamu berniat ke sana, jangan mengajakku. Pergi saja sendiri agar kau bebas berbelanja mata melihat SPG-SPG cantik itu." Bella tidak sadar sudah menunjukkan rasa cemburu walaupun pengakuan rasa belum terlontar.


"Fikiran mu buruk sekali Baby. Aku tidak ada niat seperti itu. Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan mungkin saja kamu ingin membeli sesuatu."


"Kau sendiri yang membuat fikiran ku seperti ini."


"Percayalah. Aku sudah berhenti." Jawabnya dengan suara berat nan hangat.


"Mana bisa percaya secepat ini."


"Hm pelan-pelan saja." Bella menoleh sebentar. Tidak dapat di pungkiri jika sikap Nathan semakin membuatnya menyukai sosok itu.


"Kau sedang berating atau apa sih?"


"Terserah kamu mau menyebutku apa. Berbicara dan menjelaskan pun kamu sudah tidak percaya. Akan lebih baik kita membahas masalah lain daripada harus berputar-putar. Seiring berjalannya waktu kamu akan tahu kalau aku serius."


Bella terdiam sambil mengambil cemilan yang tersaji lalu memakannya. Beberapa menit keadaan menjadi hening. Hanya ada suara musik lirih yang di putar pihak Cafe dan beberapa gelak tawa dari saung lain.


Suasananya memang sangat menenangkan hati di tambah pemandangan di bawah yang menunjukkan lampu-lampu rumah juga kendaraan berlalu lalang.


"Aku boleh meminta sesuatu." Ucap Nathan lirih.


"Apa?"


"Berpegangan tangan." Bella kembali menoleh sejenak, senyuman Nathan terlihat semakin menawan di bawah lampu remang-remang.


"Aneh." Jawabnya ketus.


"Kenapa aneh?"


"Bukankah selama ini kamu tidak pernah izin melakukannya. Kau lupa."


"Hehe. Aku hanya takut kamu berteriak dan membuat kegaduhan jadi aku meminta izin." Ingin rasanya Bella mengiyakan namun lagi lagi rasa malu membuat bibirnya bungkam.

__ADS_1


"Memangnya kalau tidak boleh kamu berhenti."


"Tidak juga. Tapi jangan berteriak." Segera saja jemari Bella di genggam lalu di tumpukan pada paha. Nathan menepuk-nepuk punggung tangan Bella lalu sesekali menggenggamnya erat membuat debaran jantung si pemilik semakin menghantam kuat.


"Kamu tidak takut ancaman Bastian?" Tanya Bella asal. Dia memikirkan obrolan yang sekiranya bisa meredam rasa gugup.


"Sama sekali tidak."


"Kalau dia menghancurkan Asian group bagaimana?"


"Entahlah. Aku tidak memikirkan sejauh itu." Otakku hanya penuh dengan mu.


"Em kalau memang dia ingin aku mengurus proyek baru. Ya sudah, daripada nantinya jadi masalah besar." Nathan menoleh begitupun Bella yang kini tengah menatap ke arahnya.


"Dia akan semakin memandang mu buruk. Aku tidak setuju."


"Biarkan saja. Aku sudah tidak perduli dengan kejadian memalukan itu." Nathan menghela nafas panjang. Meski memalukan tapi perbuatan tersebut menjadi awal keanehan terjadi pada dirinya sampai hatinya membatu seperti sekarang." Kwalitas bahan perusahaan Bastian sangat bagus." Imbuh Bella berusaha menimbang. Dia tidak ingin perusahaan Nathan hancur karena masalah pribadi mereka.


"Kenapa berubah fikiran? Kerja sama sudah ku putuskan."


"Hm semoga saja konsumen tidak komplain gara-gara kejadian ini."


"Tidak masalah Baby. Walau nantinya aku harus menambah dana untuk membeli bahan."


"Oke. Aku hanya mengingatkan."


"Sepertinya sudah masuk musim penghujan." Ujar Nathan seraya menatap tetesan hujan.


"Dia datang lebih awal."


Beruntung sebab meskipun hujannya cukup lebat, tidak ada angin ataupun guntur sehingga keduanya masih bisa menikmati suasana.


"Cocok untuk pengantin baru." Seketika wajah Bella menegang. Dia menarik kasar jemarinya dari tangan Nathan." Kenapa?" Tanya Nathan bingung.


"Dasar mesum." Umpat Bella pelan.


"Aku benar kan."


"Ya. Otak mu memang penuh dengan hal seperti itu."


Nathan terkekeh. Dia membenarkan meskipun kini keinginan melakukan hanya tertuju pada Bella. Tentu saja Nathan ingin mengulang kembali panasnya percintaan tapi dalam sebuah hubungan yang resmi. Dia berusaha menahan diri agar Bella tidak semakin membencinya.


Padahal setiap kali bertemu, setiap kali keduanya berdekatan. Bukan hanya degup jantung yang bergejolak tapi hasrat pun ikut memanas.


"Hm ini waktu yang tepat untuk menikah. Apa kamu berubah fikiran." Bella menggeser tubuhnya menjauh. Dia takut Nathan berbuat nekat.

__ADS_1


"Tidak."


"Oh. Aku kecewa tapi tidak apa. Akan ku tahan sampai waktunya tiba." Gleg! Saliva Bella tertelan kasar.


Sekalipun Bella tidak pernah berfikiran keruh meski dulunya dia pernah membangun biduk rumah tangga bersama Leo. Percintaan yang cenderung singkat, membuat hasrat Bella tidak sepanas ketika Nathan melakukannya.


"Pasti kau curang dan pergi diam-diam untuk menemui wanita-wanita mu." Protes Bella menebak.


"Hehehe. Tidak. Kita tinggal bersebelahan. Em kalau kamu ragu, mari tinggal di rumahku. Di sana kamu bisa memantau ku 24 jam."


Bella tidak bergeming. Dia mengambil minuman dan meneguknya. Di fikirannya tengah membayangkan, bagaimana jadinya kalau dia tinggal satu atap dengan Nathan.


Gambaran itu sudah pernah terlintas saat Nathan menjanjikan sebuah pernikahan. Seperti mimpi saja memiliki seorang Suami setampan Nathan.


Tidak mungkin bisa sempurna. Lelaki yang tampan memang cenderung brengsek. Tapi... Ah tidak! Aku benar-benar tidak waras sebab masih menginginkannya walaupun nantinya dia tidak setia.


Greep.. Mata Bella membulat ketika tiba-tiba Nathan mendekapnya. Tubuhnya mematung dan menegang saat kepala Nathan dengan lembut bertumpu pada pundaknya.


"Jujur saja kalau aku ingin melakukan hal yang kamu anggap memalukan." Bisik Nathan tepat di samping telinga Bella.


"Lepaskan atau aku akan berteriak."


"Jangan Baby. Please, aku sangat merindukan mu." Nafas Bella berhembus berat. Sungguh dia merasa jika oksigen di sekitar berkurang.


"Kita sudah bertemu. Apa maksudmu dengan rindu?"


"Kamu pasti tahu maksud ku." Deg.. Deg... Deg... Bella di buat kepanasan. Suara berat Nathan terasa masuk ke rongga telinga sampai menembus otak lalu memaksanya memikirkan kejadian memalukan dua tahun silam.


"Tidak. Aku tidak mau melakukan itu lagi. Aku akan membencimu kalau kamu berani memaksa ku." Nathan tersenyum seraya mengeratkan dekapannya. Hidungnya menghirup kuat aroma tubuh Bella dengan mata terpejam.


"Kamu menikmatinya. Kata-kata itu membuatku semakin gila. Itu berarti kamu menyukai permainan ku."


"Kamu salah."


"Apa yang benar."


"Tidak ada."


"Aku memang brengsek. Tapi aku berjanji akan melakukannya hanya denganmu."


"Lepas Mas. Ini sudah di luar batas."


"Hm sebentar lagi. Aku tidak akan melakukan hal melebihi sebuah pelukan. Tenang saja Baby."


Pinggiran saung yang cukup tinggi, membuat perbuatan mereka tidak di ketahui pengunjung lain. Apalagi jarak antara saung satu dengan yang lain cukup jauh sehingga Nathan bisa sedikit melepas rindu.

__ADS_1


Beberapa kali nafas berat berhembus. Nathan ingin mellumat bibir di sampingnya namun berusaha di tahan. Matanya hanya terpejam sambil merasakan hangat serta aroma khas dari tubuh Bella.


🌹🌹🌹


__ADS_2