
Teman-teman mohon bantuannya, ya. Baca sampai selesai, lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
BAB 23
Setelah berendam dengan air panas selama hampir satu jam. Agatha berdandan dengan penyamaran yang sempurna. Dia malam ini akan mendatangi beberapa casino yang lebih besar dari kemarin. Dia pun pergi seorang diri dengan taxi.
'Apapun yang terjadi, aku harus dapat uang yang banyak malam ini! Semangat Eriko … semangat Agatha!'
Penampilan yang menggoda membuat Agatha jadi sorotan orang yang ada di sana. Dia dengan gayanya seperti nona muda yang banyak uang mendatangi permainan meja judi yang begitu besar dan banyak orang main di sana.
'Ini tempat yang cocok. Banyak orang yang melakukan taruhan di sini.' Agatha melihat ke sekeliling orang-orang yang ada di sana.
Ada sebuah permainan di meja judi yang berbentuk persegi panjang. Mereka sedang memainkan blackjack.
Lalu, Agatha pun menata chip yang dia punya untuk harga taruhannya. Dia mempertaruhkan setengahnya. Terlalu banyak orang yang berada di sana membuat Agatha kurang konsentrasi. Jadinya, dia memfokuskan perhatiannya pada bandar dan kartunya.
Cara ini membuat dia bisa memenangkan permainan di sana. Saking fokusnya Agatha pada permainan judi blackjack ini, membuat dia tidak tahu siapa yang bermain di sampingnya.
"Wah, Nona ... Anda sangat hebat sekali! Tidak pernah kalah sekali pun. Apa ada punya trik khusus sampai menang seperti itu terus?" Terdengar suara seorang wanita di samping Agatha.
Seorang wanita cantik dan seksi dengan baju terbuka dan riasan full make up. Tatapan matanya tajam penuh menyelidik. Bibir titip berwarna merah karena lipstik. Membuat Agatha tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
"Ini hanya keberuntungan aku saja," balas Agatha.
"Tidak. Sepertinya kamu menang karena mengandalkan kemampuan hebat kamu itu," lanjut wanita itu sambil tersenyum.
"Apa maksud kamu?" tanya Agatha dengan lirikan mata menyelidik.
Wanita itu menatap Agatha dengan kerlingan mata nakal. Lalu menunjuk pada pria berjas hitam yang sedang memegang kartu.
"Kamu terus menatap bandar semenjak kartu dibagikan. Dan kamu tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar kamu," jawab wanita itu.
"Aku merasa tidak hebat. Hanya saja sejak orang-orang menghianati, aku lebih mengabaikan keberadaan orang lain, sehingga aku bisa konsentrasi," ucap gadis yang kini memakai rambut wig warna kuning emas.
"Wah ... tapi memang benar juga, kalau kita terlebih dahulu merasakan kepahitan atau keterpurukan, maka kita akan mudah bangkit dan kuat. Dan kamu akan menjadi orang yang hebat! Percayalah padaku," ujar wanita itu dengan senyuman seksinya
"Kamu orang yang menarik. Siapa nama kamu? Namaku Miranda." Wanita seksi itu mengulurkan tangannya pada Agatha.
"Eriko. Namaku Eriko," balas Agatha sambil menyambut tangan wanita di depannya. Dia melihat kalau Miranda itu menyembunyikan sesuatu. Aura orang ini juga dingin dan berwarna kelabu
"Nama yang unik," ucap Miranda.
"Itu nama pemberian Kakek," ujar Agatha.
Kedua wanita itu melanjutkan permainan judi dengan permainan yang lainnya. Malam ini sesuai tekad Agatha sejak awal. Dia memainkan hampir semua permainan judi di sana dan pulang membawa uang sebanyak 7 juta.
__ADS_1
"Nggak terlalu mengecewakan. Dan di sini tidak ada keculasan dari para bandar mau pun pemain. Tempat yang menyenangkan. Besok aku mau ke tempat yang lebih besar lagi!" Agatha seperti sudah ketagihan akan yang namanya judi.
***
Saat Agatha pulang ke hotel dini hari. Dia mendapati Victor sedang berada di depan pintu kamarnya. Laki-laki itu dalam keadaan duduk bersandar pada pintu.
"Tuan! Hei, bangunlah! Kenapa Anda tidur di sini?" Agatha mengguncangkan tubuh tuannya.
Mata Victor pun membuka sedikit. Dia pun bertanya, "Kamu, siapa?"
"Ini aku, Agatha," jawab gadis yang masih memakai riasan penyamarannya.
"Agatha, akhirnya kamu pulang!" Victor memeluk tubuh asistennya.
"Ada apa? Kenapa Tuan seperti ini? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Agatha bertubi-tubi.
"Aku berhasil bertemu dengan orang yang memiliki perusahaan pembuat senjata. Harga barang dari mereka jauh lebih murah. Banyak juga jenis senjatanya. Dia ternyata punya kantor cabang di sini. Ini perusahaan legal. Meski dibatasi jumlah pembelian barangnya. Namun, mereka bilang tidak masalah karena sering memanipulasi dokumen jual beli senjata itu saat lapor pada pemerintah," bisik Victor dengan matanya yang berbinar dan senyum yang mengembang.
"Benarkah itu, Tuan?" tanya Agatha tidak percaya, tapi dia juga merasa senang.
"Iya. Besok kita akan bertemu dengan mereka. Kebetulan mereka juga menginap di sini," jawab Victor dengan semangat.
***
__ADS_1
Akankah Agatha dan Victor berhasil menemui penjual senjata itu? Siapakah mereka sebenarnya? Tunggu kelanjutannya, ya!