
Teman-teman mohon bantuannya, ya. Baca sampai selesai ya, lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
Bab 46
Drrrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!
"Aaaaakh!" teriak para musuh yang terkena tembakan dan langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Peter menghujani lawan dengan peluru dari pistol AK-47. Dia berhasil banyak mengalahkan musuh yang menghadang dirinya. Dia mencuri senjata milik lawan ini tadi sebelum masuk ke dalam gedung markas.
"Kalian jangan keluar dari tempat persembunyiannya dulu. Perhatikan keadaan sekitar setelah itu baru berikan serangan balasan!" titah Peter kepada anak buahnya.
Dor!
Dor!
Baku tembak terjadi antara lawan dan anak buah Silver Dragon yang berada di bawah komando Peter. Untungnya dia menggunakan rompi anti peluru, sehingga peluru-peluru dari musuhnya tidak sampai tembus ke dalam tubuhnya. Jangan kira itu tidak sakit. Tetap saja bagian tubuh yang terkena tembakan tadi terasa sakit. Bahkan bisa juga membuat tulang rusuk patah.
"Ahk, si_al!" Mereka mengincar dada kiri. Berniat sekali mereka ingin membunuh diriku," ucap Peter sambil meringis karena menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Tembak!" teriak suara seorang wanita.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan kembali dilancarkan oleh musuh. Namun, beberapa detik kemudian terdengar suara tembakan balasan dari kubu Peter.
Dor! Dor!
Dor! Dor!
Kali ini pihak musuh sudah dihabisi oleh Peter dan teman-temannya. Ada beberapa orang yang masih selamat, tetapi mereka berhasil melarikan diri.
"Apa mereka semua kabur?" tanya salah seorang anak buah Peter.
"Sudahlah biarkan saja. Kita cari Armando dan teman-teman yang lain," balas Peter.
__ADS_1
Kemudian mereka pun mencari rekan-rekan mereka yang masih selamat. Ada beberapa orang yang masih bisa bertahan hidup meski terkena tembakan.
"Bawa teman kita yang mati. Dan kalian yang terluka, jika mampu berjalan sendiri maka lakukan. Seandainya, tidak bisa minta bantuan pada teman kalian," ucap Peter.
"Baik Tuan," balas mereka.
Peter pun mencari keberadaan Armando di lantai satu sisi belakang markas itu. Saat dia masuk ke ruang makan, terlihat temannya itu sudah tidak sadarkan diri karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
"Armando! Hey, kamu dengar suara aku! Bangunlah," ucapnya sambil menepuk pipi yang berlumuran darah.
Peter pun langsung menggendong tubuh Armando yang lebih besar darinya. Dia juga masih memegang pistol, takut ada serangan dadakan dari musuh.
***
Sementara itu, Agatha memanggil teman-temannya untuk membantu membawa tubuh Baron Julio dan Victor yang jauh lebih besar dari dirinya. Dia juga mencari suatu barang yang akan bermanfaat untuk Victor nanti kedepannya. Dia tahu di mana letak barang itu karena di jelaskan dengan sangat jelas dalam novel Mafia No.1 yang pernah dia baca.
Anak buah Silver Dragon yang masih selamat dan tidak terluka terkena tembakan, membantu Agatha untuk menguras habis kekayaan milik kelompok Gold Dragon. Uang, emas batangan, mutiara, berlian, dan senjata mereka bawa semua. Dokumen-dokumen penting juga mereka bawa. Mungkin saja suatu saat nanti akan dibutuhkan.
Semuanya kembali saat dini hari menjelang pagi. Saat sampai ke markas Silver Dragon, mereka di sambut dengan suka cita teman-temannya yang menjaga markas. Beberapa dokter dan perawat juga sudah bersiap sedia di sana untuk memberikan pengobatan untuk orang-orang yang terluka.
***
Pembicaraan tentang kelompok Silver Dragon menjadi trending di media cetak dan perkumpulan orang yang sedang berjudi di kasino. Untungnya mereka membicarakan kehebatan kelompok Silver Dragon, sehingga membuat kelompok-kelompok mafia lainnya ingin menjalin kerja sama. Apalagi kekuasaan milik Gold Dragon dibagi dua dengan kelompok White Dragon.
Victor memilih kekuasaan wilayah sebelah timur yang mencakup pelabuhan, perhotelan, kasino dan daerah wisata. Sementara itu, kelompok White Dragon memilih wilayah kekuasan di sebelah barat yang mencakup markas Gold Dragon, perkantoran, dan perbankan.
Setelah selesai pembagian wilayah bekas kekuasaan Gold Dragon, baik White Dragon ataupun Silver Dragon tidak menjalin kerja sama lagi. Mereka bergerak masing-masing, apalagi mereka sama-sama penjual senjata.
***
"Tuan tahan sedikit, ini memang sakit," ucap Agatha yang sedang mengoleskan obat luka luar pada tubuh Victor. Dia mengules sambil meniup agar lukanya tidak terlalu perih.
Perbuatan Agatha itu malah terlihat menggoda di mata Victor. Bibir merah alami itu terlihat manis dan segar. Jantung laki-laki itu berdetak kencang menahan hasrat yang sering muncul belakangan ini, jika sedang bersama Agatha.
"Agatha apa malam ini kamu punya waktu?" tanya Victor gugup karena dia ingin mengajak kencan, tetapi takut ditolak.
__ADS_1
"Malam ini? Hmmm, sepertinya aku senggang. Ada apa ,Tuan?" balas Agatha.
"Hanya ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Victor dengan pipi yang terasa panas olehnya. Untungnya kulit Victor berwana eksotis, jika berwarna putih pasti akan berubah merah warnanya.
***
Setelah pulang dari pabrik anggur, Agatha mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama sang ketua. Saat dia memakai baju biasa saja, Casandra memarahinya.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilan aku ini?" tanya Agatha dengan alis mengkerut karena dia merasa sudah bersih, rapi, dan wangi.
"Tentu saja!" bentak Casandra.
"Hah, apa yang salah?" tanya Agatha tidak mengerti.
"Kalau laki-laki lajang mengajak makan malam di luar, seharusnya kamu berdandan dengan sangat cantik," jawab Casandra.
"Memangnya siapa yang akan makan di luar?" tanya Agatha karena dia tidak merasa diajak makan malam.
"Kamu dan Tuan Victor! Kalian akan makan malam di luar, itu yang dikatakan oleh Alonso tadi. Sehingga, aku tidak perlu menyiapkan makan malam untuknya," jawab Casandra sambil bertolak pinggang.
Akhirnya Agatha pun mengganti riasan dan bajunya. Dia berdandan cantik dengan make up full, tetapi tidak menor. Rambut di kasih hiasan jepit yang sebenarnya itu bisa dijadikan senjata. Perhiasan bermata merah yang cantik dengan emas putih. Gaun yang dia kenakan adalah gaun malam yang berdada rendah yang menampilkan punggungnya yang mulus.
Victor terpesona saat melihat Agatha. Dia sampai tidak bisa mengedipkan matanya. Rasanya dia ingin mengurung diri saja berdua dengan perempuan itu di kamarnya.
"Tuan!" panggil Agatha untuk kesekian kalinya karena Victor hanya menatap dengan mulut terbuka.
"Oh, maaf. Kamu sangat cantik sekali malam ini Agatha," puji Victor dengan senyum manisnya.
"Terima kasih, Tuan. Anda juga terlihat gagah malam ini," balas Agatha memuji.
"Benarkah? Aku terlihat gagah di matamu?" tanya Victor dengan perasaan melambung. Terasa banyak ribuan kupu-kupu sedang menari di dalam perutnya.
"Ya, Anda sangat tampan dan gagah. Sangat pantas jika menjadi seorang aktor," balas Agatha sambil tertawa renyah.
***
__ADS_1
Bagaimana acara makan malam Agatha dan Victor? Apakah berjalan lancar dan penuh keromantisan atau gagal total? Tunggu kelanjutannya, ya!