Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia

Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia
Bab 71. Akhir Pertempuran di Villa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya! Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 71


Beberapa orang membawa Armando yang susah tidak sadarkan diri ke luar villa. Mereka juga membawa dua orang dokter dan tiga orang perawat dengan peralatan media darurat untuk memberikan pertolongan pertama.


Sementara itu, di dalam ruang di lantai dua tempat Agatha di sekap, baku tembak masih terjadi antara Victor dengan Morena dan Diego. Mereka tidak ada yang mau mengalah dalam melancarkan serangan.


Dor!


Victor pun menembak rantai yang mengikat kedua tangan Agatha. Sekarang Agatha sudah terbebas dan bisa berlari untuk bersembunyi.


Drrrrt! Drrrrt!


Drrrrt! Drrrrt!


Suara tembakan di luar kamar itu semakin ramai. Itu menandakan kalau ada dua kubu yang saling baku tembak di sana. Victor merasa senang karena ada orang-orang dari kelompoknya yang berhasil sampai lantai atas ini.


"Sepertinya bukan hanya ada orang-orang kita di villa ini," kata Diego dengan geram.


"Asal kamu tahu saja, kalau orang-orang yang loyal sama aku pun ada di," balas Victor dengan berteriak.


"Ya, harus aku akui itu. Kalau kamu itu punya pengaruh besar bagi kebanyakan orang," ucap Diego yang sedang berada di balik lemari yang tadi dia gulingkan agar bisa menjadi tempatnya berlindung dari peluru yang di tembakan oleh Victor.


"Terima kasih atas pujiannya. Dan aku harus membalas pujian kamu." Victor pun kembali memberondongkan pelurunya ke arah lemari besi itu.


Drrrrt! Drrrrt!


Agatha yang diberikan pistol oleh Victor pun langsung ikut menembakan pelurunya ke arah meja kerja, tempat Morena bersembunyi. Dia tahu kalau lawannya itu bukan perempuan biasa.


Drrrrt! Drrrrt!


Drrrrt! Drrrrt!


Baku tembak pun terjadi antara Agatha dan Morena. Kedua wanita itu sama-sama tangguh dan saling menyerang satu sama lain.


Agatha yang sudah kelelahan karena belum makan sejak pagi, berusaha fokus dan konsentrasi. Dia berharap meski satu tembakan, bisa langsung mengenai Morena di bagian fatal sehingga wanita itu tidak berdaya.


Drrrrt!

__ADS_1


Drrrrt!


Saat Agatha menembak ke arah Morena, tanpa dia sadari kalau Diego juga mengarahkan tembakan kepadanya.


Drrrrt!


Drrrrt!


"Aaaakh!"


Dalam waktu yang bersamaan Agatha berhasil menembak Morena, tetapi dia juga berhasil tertembak oleh Diego. Tubuh kedua wanita itu kini bersimbah darah dengan banyak peluru bersarang ke tubuhnya. Agatha menyandarkan tubuhnya di samping tempat tidur.


"Agatha!" teriak Victor sambil meraih dan memeluk tubuh wanitanya.


"Kumohon bertahanlah, Sayang!" Isak tangis laki-laki itu langsung terdengar di telinga Agatha.


"Tuan, Anda harus memenangkan pertempuran ini dan menjadi mafia no.1 di dunia ini," bisik Agatha.


"Aku akan memenangkan pertarungan ini secepatnya. Kamu harus bertahan. Kenapa kamu memanggil aku tuan lagi. Bukannya kita sudah punya panggilan sayang untuk masing-masing," lirih Victor.


Agatha tidak mau mengucapkan kata-kata itu lagi. Dia sudah bertekad untuk menutup hatinya untuk Victor. Rasa sakit diperutnya baru bisa dia rasakan. Betapa terkejutnya dia saat ada darah yang keluar dari perutnya itu.


'Oh, tidak! Bayiku.' Agatha meraba perutnya dan tangannya bersimbah darah. Ternyata dia mendapat dua tembakan di sana.


'Sepertinya aku mati saat ini pun tidak mengapa. Untuk apa juga aku hidup di dunia ini? Aku sekarang sudah tidak punya lagi tujuan di sini,' batin Agatha.


Melihat Agatha yang tidak sadarkan diri membuat Victor marah dan memberikan serangan balik kepada Diego. Dia menembak dengan cara membabi buta kepada Morena dan Diego secara bersamaan.


"Aaaaa!" teriak Victor marah terus menembak.


Drrrrt! Drrrrt!


"Aahk!" Diego tubuhnya dihujani peluru.


Sementara itu, Morena yang sudah tidak berdaya karena tembakan dari Agatha tadi hanya bisa pasrah. Dia tahu akhir hidup sebagai seorang mafia. Yaitu mati di tangan musuh.


"Akhirnya berakhir sudah pertempuran ini. Kamu memang pantas untuk mendapatkan kematian ini, Diego." Laki-laki yang mulai mereda amarahnya menatap tubuh laki-laki tua yang sudah membujur kaku di lantai.


Victor yang mengehentikan tembakannya setelah merasa puas. Lalu, dia meraih kembali tubuh Agatha dan menggendongnya keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum dia mencapai pintu, Morena memanggilnya dengan suara lirih.


" Tuan, tolong berikan ini kepada Roberto!" Morena mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kalung berliontin agar diambil oleh Victor.

__ADS_1


"Roberto?" Victor merasa tidak punya kenalan atau teman baik yang bernama Roberto.


"Armando, Anda kenal dia, bukan?" Morena menatap Victor dengan memohon.


"Kalian saling kenal?" tanya Victor.


"Jika yang kau maksud laki-laki itu Roberto, dia adalah kekasihku sedangkan jika dia Armando, maka dia adalah musuhku," jawab Morena.


"Sejak kapan kamu berpacaran dengan Roberto?" tanya Victor lagi.


"Sudah sangat lama sekali Tuan, sejak kami remaja," jawab Morena.


"Bisa-bisanya kamu dibohongi oleh Armando," ucap Victor.


"Armando adalah laki-laki yang tajam sedangkan Roberto seorang laki-laki yang penyayang dan penuh kehangatan," kata Morena dengan seulas senyum.


"Jadi aku harus memberikan kalung ini kepada Roberto dan bilang dari dirimu begitu, Morena?" Victor mengambil kalung liontin itu.


"Bukan. Wanita yang dicintai oleh Roberto itu adalah Miranda bukan Morena," bantah Morena.


"Bilang saja kalau kalung liontin itu dari Miranda," lanjut Morena.


"Apa kau itu Miranda yang dulu pernah bertemu di kasino yang berada di Kota Bear?" tanya Victor mengingat-ingat lagi wajah Miranda.


"Benar, Tuan. Itu adalah saya yang saat itu sedang menjadi Miranda," jawab Morena.


"Jadi, Aslinya kamu adalah Miranda dan nama samaran adalah Morena?" tanya Victor.


"Iya, Anda benar. Identitas aku kebalikan dari Armando, ya. Dia mengenalkan dirinya dengan nama samaran sedangkan aku dengan nama asli. Meski begitu aku mencintainya. Sampaikan salam aku padanya," balas Morena sebelum menutup matanya.


Tiba-tiba saja di depan pintu ada Peter dan beberapa anak buah Silver Dragon lainnya. Mereka datang dengan wajah yang berseri, apalagi saat melihat sang ketua masih bisa berdiri.


"Kita menang Tuan! Semua anak buah Black Dragon di lantai satu dan dua sudah habis mati semua," ucap Peter.


"Bagus. Rawat teman kalian yang terluka dan bawa jenazah teman kita yang sudah meninggal!" perintah Victor sebelum kesadarannya hilang karena kehabisan darah.


"Tuan Victor!" teriak semua anak buah Silver Dragon yang ada di sana.


Bangunan Villa itu baik di lantai satu ataupun lantai dua, dipenuhi oleh mayat yang bergelimpangan dengan banyak darah yang berceceran. Baik itu dari anak buah Silver Dragon maupun anak buah Black Dragon. Anak buah Victor yang masih hidup mereka mendapatkan perawatan dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yang ada di sana.


Anton meminta bantuan keamanan negeri Dragon untuk membereskan kekacauan di villa itu. Agar mereka menguburkan para mayat dan membumihanguskan tempatnya. Juga merampas senjata yang tersisa di sana agar tidak ada yang menyalahgunakan.

__ADS_1


***


Apakah Agatha dan Victor akan bertahan dan hidup lebih lama? Atau mereka akan berakhir hidupnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2