Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia

Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia
Bab 51. Informasi Yang Mengejutkan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 51


     Baik Agatha maupun Miranda sama-sama memiliki ketertarikan ingin mengetahui identitas asli orang yang kini sedang mereka tatap. Agatha yakin kalau wanita itu adalah Miranda sedangkan Miranda tidak tahu kalau wanita yang di depannya itu adalah Eriko.


"Apa dia kekasih kamu, Victor?" tanya Diego.


"Saya adalah asistennya, Tuan," jawab Agatha dengan cepat sebelum Victor menjawabnya.


"Ya, dia adalah asisten saya. Namanya, Agatha," lanjut Victor dengan senyum miringnya. Dia melihat kalau Diego merasa tertarik kepada Agatha.


     Senyum lebar milik Diego langsung menghiasi wajahnya yang sudah berkeriput. Apalagi di sudut matanya sangat kentara terlihat jelas. Matanya yang memancarkan binar penuh ga_irah saat menatap lekuk tubuh Agatha.


"Maaf Tuan Diego, saat ini Tuan Victor harus menemui seseorang rekan bisnisnya," ucap Agatha berbohong.


      Victor tahu kalau saat ini Agatha merasa tidak nyaman dengan tatapan pemimpin kelompok Mafia Black Dragon itu. Maka, dia pun mengikuti permainan Agatha, daripada nanti asistennya itu merajuk.


"Kami permisi dulu, Tuan." Victor langsung menarik tangan Agatha menjauh dari Diego.


***


"Kamu itu, kenapa? Sejak tadi diam saja," tanya Victor kepada Agatha yang diam termenung.


"Apa Tuan dulu saat di Kota Bear melihat seorang wanita cantik dan seksi dengan dandanan full make up yang sangat menggoda?" tanya Agatha.


"Hmmm, apa maksud kamu Miranda?" Victor menebak.


"Iya. Aku rasa Morena, asisten Tuan Diego Costa itu adalah orang yang sama dengan Miranda," ucap Agatha dan itu membuat Victor sangat terkejut.

__ADS_1


"Apa? Kamu, yakin?" tanya Victor.


"Iya. Mereka memiliki aura yang sama dan tatapan mata yang sama," jawab Agatha.


"Aku tidak percaya. Apa laki-laki yang dimaksud oleh orang-orang di sana itu Diego atau ada laki-laki lainnya?" gumam Victor ragu-ragu.


"Mana saya tahu, Tuan." Agatha memberikan.


"Aku harus selidiki siapa dia sebenarnya," kata sang ketua kelompok mafia Silver Dragon sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.


      Saat Victor dan Agatha sedang duduk di meja hidangan, datang seorang memakai hoodie mencurigakan dan ikut duduk di sana juga. Atau lebih tepatnya, dia menatap terus ke arah Agatha.


"Ada apa?" bisik Victor dengan mimik heran karena Agatha dan orang yang memakai hoodie itu saling menatap.


"Hmm." Agatha menyenggol kaki Victor.


     Victor pun menatap lekat pada orang yang memakai hoodie itu. Saat Victor hendak membuka mulutnya, Agatha langsung menutup mulutnya.


"Diamlah," bisik Agatha.


"Ada informasi penting yang harus saya laporkan langsung pada Anda, Tuan," jawab Armando.


"Apa itu?" tanya Victor.


"Kelompok White Dragon sudah musnah oleh kelompok Red Dragon, petang tadi. Mereka tahu kalau keadaan kelompok White Dragon sedang melemah karena penghianatan orang-orang bekas anak buah Gold Dragon. Dan kelompok kita yang akan menjadi sasaran berikutnya karena wilayah kekuasaan kita paling dekat dengan bekas kekuasaan White Dragon. Mereka mengincar bekas wilayah kekuasaan Gold Dragon," jelas Armando.


"Sepertinya kita harus siap-siap. Apalagi anggota kelompok kita tidak sebanyak kelompok yang lainnya," ucap Victor.


"Anton, Peter, Armin, dan Alonso sudah bersiap-siap dengan anak buah masing-masing di empat titik yang menjadi markas kelompok kita," jelas Armando.


"Bagus berati tempat kamu belum dijaga?" tanya Victor.

__ADS_1


"Anak buah aku masih di markas pusat bersama Casandra dan yang lainnya. Berita kekalahan White Dragon belum banyak orang yang tahu. Hanya saja, aku baru dapat informasi penting ini dan langsung memberi tahu teman yang lainnya untuk bersiap-siap. Jangan sampai kita lengah seperti kelompok White Dragon," jawab Armando.


"Kamu dapat informasi ini dari siapa?" tanya Agatha.


Apa kamu meragukan informasi ini?" tanya Armando balik.


"Bukan begitu. Apa tidak aneh, melakukan penyerangan di waktu petang. Bukan tengah malam atau dini hari? Saat orang-orang sedang terlelap tidur?" tanya Agatha.


"Justru saat itu mereka sedang dalam keadaan santai dan beristirahat sebelum mereka beraktivitas di malam hari. Ingat kalau kita ini orang-orang yang bekerja mulai malam sampai dini hari," jawab Armando.


"Kita hubungi dulu tuan Moreno atau tuan Fabio terlebih dahulu," kata Agatha.


"Kalau kamu menghubungi Moreno, itu percuma karena dia sudah mati di hadapan aku," bisik Armando.


"Apa?" Agatha dan Victor terkejut secara bersamaan.


"Ba-gai-mana bi-sa itu terjadi?" tanya Victor tergagap.


"Aku kebetulan bertemu dia di jalan. Dia mengendarai mobil dalam keadaan luka parah. Dia berniat memberi tahu Tuan akan serangan Red Dragon yang akan dilakukan kepada kelompok kita," jawab Armando.


"Lalu, Fabio?" tanya Victor.


"Dia juga bernasib sama. Moreno bisa lolos dari markas juga karena Fabio mempertaruhkan nyawanya agar Moreno bisa menghubungi kita," jawab Armando dengan berbisik.


"Jadi, beneran kelompok mereka sudah habis," lirih Agatha dengan tubuh yang merinding.


"Moreno memberikan kunci gudang senjata kepada kita," kata Armando sambil memberikan sebuah kunci.


     Victor melihat kunci yang tertempel darah di sana. Dia merasa jadi punya tanggung jawab atas balas dendam kelompok White Dragon kepada Red Dragon.


"Moreno berpesan untuk menghancurkan Red Dragon dan gunakan senjata dari gudangnya," lanjut Armando.

__ADS_1


***


Apa yang akan dilakukan oleh Victor dan Agatha? Benarkah kalau kelompok Mafia White Dragon benar-benar sudah kalah? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2