
Bab 43
Pertempuran di sisi kanan markas Gold Dragon, berlangsung sangat. Agatha dan teman-temannya ini sudah mempunyai senjata untuk melawan musuh mereka.
Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
Kedua kubu itu saling menembaki satu sama lain dan berusaha untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Agatha yang memiliki tubuh ringan dan lincah, dapat bergerak dengan cepat. Dia berlari sambil menembaki musuh-musuh.
"Aaaakh!" teriakan musuh saling bersahutan karena terkena tembakan yang dilancarkan oleh Agatha.
'Bagus, musuh-musuh banyak yang berkurang karena mereka semua hanya berfokus kepada diriku saja,' batin Agatha.
Musuh yang mengincar Agatha lupa terhadap lawan mereka yang lainnya. Sehingga, teman teman Agatha bisa melihat keberadaan mereka dan menembakinya.
Agatha senyum senang karena tanpa diberitahu olehnya, teman-teman dia memahami rencana yang sudah dia buat. Apalagi melihat musuh-musuhnya banyak yang terkapar terkena tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Agatha menembaki sisa musuhnya yang masih bertahan. Kemampuan menembak jarak jauh Agatha, kini dia berhenti dan banyak mengenai musuh-musuhnya. Serta dalam waktu yang singkat dia dan kelompoknya berhasil menghabisi semua anak buah Gold Dragon.
"Ayo, sekarang kita menuju lantai dua!" ajak Agatha kepada teman-temannya.
Mereka semua berlari menuju anak tangga untuk mencapai lantai dua. Ternyata di sana mereka juga mendapati musuh dan kembali terjadi baku tembak. Pertempuran di lantai dua memakan cukup banyak waktu dan korban.
Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Agatha dan teman-teman yang bersisa di lantai ini hanya sekitar sembilan orang, satu orang meninggal, dan sisanya terluka terkena tembakan peluru di bagian badannya.
"Kalian yang terluka terkena tembakan peluru kembalilah ke tempat pertama kali kita berkumpul. Jangan sampai mati oleh peluru musuh," ucap Agatha pada rekan anggota kelompok mafia Silver Dragon.
***
Sementara itu, di sisi lain, Victor sudah sampai ke lantai tiga. Dia dan anak buahnya memeriksa semua ruangan di sana satu persatu. Hanya ada satu ruangan yang terkunci. Victor berpikir itu adalah ruangan milik Baron Julio. Maka dia pun menembaki gagang pintunya sampai bisa dibuka.
Ruangan itu adalah tempat tidur yang begitu sangat luas dan mewah. Victor yakin kalau itu adalah kamar milik Baron Julio. Dia pun berkeliling kamar mencari keberadaan laki-laki itu. Dia yakin kalau ada ruang rahasia lainnya di dalam kamar itu.
Victor pun mengetuk-ngetuk setiap dinding yang ada di sana. Atau menggeser barang-barang yang diperkirakan bisa menjadi pintu rahasia. Seperti dugaan dia, di sana ada sebuah lukisan besar dan itu menuju sebuah ruang lainnya lagi.
Ruangan rahasia itu hanya berukuran setengah dari kamar tadi. Isi di dalam ruangan itu ada berbagai macam senjata dan banyak berjajar lemari buku atau dokumen.
"Hebat sekali kau bisa sampai ke sini," ucap Baron Julio yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku harap kau menjawabnya dengan jujur," pinta Victor sambil menatap tajam ke arah Julio.
"Baiklah kalau kamu tidak mau bicara, biar aku yang bicara saja," kata Victor sambil tersenyum miring ke arah Julio.
"Apa yang kamu lakukan sekitar 20 tahun lalu saat musim dingin di Kota Phoenix?" tanya Victor dengan menatap tajam pada wajah dan gestur tubuh milik Julio.
"Musim dingin 20 tahun lalu? Kota Phoenix?" Julio mambeo sambil mengingat-ingat kembali kejadian 20 tahun yang lalu.
Julio pun teringat akan sebuah kasus besar yang terjadi 20 tahun yang lalu di kota Phoenix. Saat itu musim dingin sedang berlangsung dan di saat yang bersamaan terjadi peperangan antar tiga kubu kelompok mafia yang berpengaruh di negeri Dragon ini.
Dia mempunyai tugas untuk menghabisi satu keluarga Luca Cyril yang merupakan mantan wakil ketua kelompok Pegasus. Lelaki hebat yang berhenti di dunia mafia dikarenakan jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan yang cantik jelita. Luca Cryril adalah sosok yang paling ditakuti di dunia bahwa dikarenakan kehebatannya dan kecerdasannya.
"Apa hubungan kamu dengan kejadian 20 tahun lalu itu?" tanya Julio yang penasaran.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan saja saat itu," balas Victor dengan tersenyum meremehkan kepada Julio.
"Apa ketiga kubu kelompok mafia itu ada hubungannya dengan dirimu?" tanya Julio kepada Victor.
"Kamu yang bukan siapa-siapa saat itu, kini bisa menjadi sosok ketua dari kelompok yang sangat besar," balas Victor dengan senyum menyungging.
"Ya aku beruntung sekali karena dari peperangan tiga kubu itu, aku bisa merekrut sisa-sisa anak buah mereka dan mengumpulkan semua peralatan senjata miliknya," ujar Julio sambil berdiri dan berjalan ke arah Victor.
"Apa kamu salah seorang keluarga dari ketiga kubu kelompok mafia itu?" tanya Julio dengan menatap ke arah mata Victor.
"Menurut kamu? tanya Victor dengan tatapan merendahkan Julio.
"kelompok mana? Kelompok Pegasus, kelompok Phoenix, atau kelompok Eagle?" Junio semakin penasaran akan sosok asli Victor.
"Aku adalah putra dari Luca Cryril dan Natalie Aldemo," aku Victor dengan jujur dan wajah milik Julio mendadak pucat.
"Lu-ca? putri Nata-lie? Mana mungkin kau ... putra mereka?" Julio bicara dengan tergagap.
"Tapi kenyataannya itu adalah benar. Aku tidak akan mungkin lupa kepada orang yang mempunyai tanda tato di punggung tangannya," kata Victor sambil mengangkat senjata ke depan kepala Julia.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Julio. Dia mengangkat pistol dan mengacungkan ke arah kepala Viktor. Kini kedua laki-laki itu berdiri tegak sambil mengeluarkan moncong pistol ke arah lawan masing-masing.
Julio saat itu mencari anak laki-laki yang dimiliki oleh Luca dan Natalie, tetapi dia tidak menemukan sosok anak kecil yang dicari-cari olehnya. Kabar yang dia dengar, bahwa putra mereka satu-satunya itu meninggal karena sakit seminggu sebelum terjadi pembunuhan itu. Maka dia pun menghentikan pencarian terhadap anak Luca dan Natalie karena dianggap sudah mati olehnya dan orang lain.
Namun, kini anak yang dulu dicari olehnya itu berdiri tepat di hadapan dia dan sedang mengacungkan pistol ke arah kepalanya. Seorang anak yang menuntut balas dendam kepada dia atas kematian orang tuanya.
"Asal kamu tahu saja kalau aku bukannya dalang dari pembunuhan kedua orang tuamu. Aku hanyalah orang yang disuruh oleh orang lain untuk menghabisi Luca Cryril. Orang yang dianggap berbahaya oleh dia di dunia ini," ujar Julio dengan nada serius.
"Kamu pikir aku akan percaya pada ucapanmu ini?" Victor menatap tajam pada Julio.
__ADS_1
***
Benarkah kalau Julio bukan dalang dari pembunuhan orang tua Viktor? Siapa dalang asli dari pembunuhan orang tua Viktor? Tunggu kelanjutannya, ya!