Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia

Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia
Bab 54. Markas Silver Dragon Diserang


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan dan dilancarkan segala urusannya.


***


Bab 54


     Agatha menatap mata Victor dengan membulat karena dia terkejut dengan ucapan bosnya itu. Dia juga mulai berpikir kenapa dia percaya mentah-mentah ucapan orang-orang di sana. Seharusnya dia cek dulu kebenaran informasi itu, sebelum memberi tahu pada ketua kelompoknya.


"Iya, Tuan benar. Mungkin saja itu adalah jebakan yang mereka siapkan untuk kita. Agar kita hanya fokus ke satu titik saja dan melupakan tujuh titik yang lainnya," ucap Agatha.


"Pintar!" Victor memberikan satu kecupan kilat pada Agatha sampai perempuan itu tidak bisa menghindarinya.


     Senyum penuh pesona dilayangkan oleh Victor pada Agatha. Kemudian, dia pun menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah kaca jendela. Dia melihat pemandangan di halaman rumahnya yang tenang dan terlihat beberapa anak buahnya yang sedang berjaga-jaga di pos masing-masing.


      Meski jumlah anak buah Victor hanya berjumlah ratusan bukan ribuan orang. Baginya itu sudah cukup. Dia lebih baik memiliki sedikit anak buah, tetapi setia dan rela berkorban demi kelompok Silver Dragon, selain itu dia juga bisa mengontrolnya. Daripada punya banyak anak buah yang tidak terkontrol dan ada kemungkinan akan berkhianat. 


"Tuan, sebaiknya kita juga bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk akan waktu serangan mereka nanti," kata Agatha.


"Ahk! Aku tahu apa yang harus kita lakukan saat ini," ucap Victor sambil tersenyum senang.


     Victor pun langsung menghubungi semua ketua tim dari tiap markas. Dia meminta waktu jam makan malam dimajukan dua jam lebih awal. Serta, membuat jadwal makan dibagi dua bagian, tidak boleh dilakukan secara bersamaan.


"Tuan, apa yang Anda lakukan?" tanya Agatha tidak mengerti.


"Aku rasa mereka akan menyerang di saat semuanya sedang lengah," jawab Victor.

__ADS_1


     Agatha pun bisa memahaminya, hanya saja waktu koki untuk masak tidak akan ada waktu. Jika, hal ini dilakukan para koki punya waktu 1 jam lagi ke waktu makan malamnya.


"Mereka juga tidak akan ada waktu untuk meracuni makanan yang sedang dibuat oleh koki kita. Kecuali kalau orang-orang dapur yang memberikan racun pada makanannya," kata Victor sambil tersenyum miring.


***


     Sesuai dugaan Victor, pihak musuh menyerang jam 20.00 waktu makan malam orang-orang pada umumnya. Mereka menyerang secara serentak ke seluruh markas Silver Dragon. Hanya saja setiap markas Silver Dragon itu punya penembak jitu.


Drrrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!


"Aaaaakh!" teriakan saling bersahutan diluar pintu gerbang.


       Mereka menggunakan pistol AK-47 yang bisa memberondong mengeluarkan peluru ratusan biji dalam setiap menitnya. Mereka pun berhasil banyak menumbangkan anggota musuh yang hendak masuk ke dalam markas.


***


     Sementara itu di tempat lainnya, Peter juga melakukan hal yang sama. Dia memberondong sekelompok orang musuh yang akan masuk ke dalam markas yang sedang dijaga olehnya.


Drrrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!


"Akh! Ahk!"


"Berlindung! Lawan menggunakan pistol mesin pembunuh!" teriak salah seorang yang berada di depan gerbang.


Drrrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!

__ADS_1


"Aaaaakh!" teriakan lawan masih bisa didengar.


     Peter terus menghujani lawannya dengan peluru senapan yang tiada hentinya. Dia sudah memikirkan kemungkinan terburuknya adalah posisi keberadaan dia akan diketahui oleh musuh. Sehingga, bisa saja pihak lawan akan diam-diam menyuruh sniper kelompok mereka untuk mengincar kepalanya dari kejauhan.


"Kamu tembakan peluru ke arah musuh yang ada di depan pintu gerbang. Aku akan cek sniper mereka berada di mana," kata Peter kepada asistennya.


"Baik, Tuan!" balasnya.


      Peter pun mengarahkan teropong miliknya ke segala penjuru. Meski hal itu terlihat mustahil bisa melihat dalam kegelapan. Berbeda dengan teropong yang diberikan oleh Agatha yang bisa melihat dalam kegelapan.


"Agatha memang jenius tahu apa yang akan dibutuhkan oleh kita di saat seperti ini," gumam Peter.


***


"Tuan Simon, kelompok kita tidak bisa masuk ke markas musuh," kata anak buah Red Dragon.


"Apa?" Seorang laki-laki berbadan tinggi besar melebihi Baron Julio, langsung berdiri dan maju ke depan bergabung dengan anak buahnya yang sedang berlindung dari serbuan peluru yang dilancarkan di atas menara pengawas.


"Suruh para sniper kita untuk menghabisi lawan kita dari jarak jauh!" perintah Simon kepada orang kepercayaannya.


"Baik, Tuan!" Orang itu pun segera melakukan tugas yang diberikan kepadanya.


***


Akankah kelompok Red Dragon berhasil masuk ke salah satu markas milik Silver Dragon? Siapakah orang kepercayaan Simon itu? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2