
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip saat membacanya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 65
Meski Victor sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Agatha. Dia belum bisa menemukan kekasihnya itu.
"Ini sudah satu bulan berlalu dan kalian belum bisa menemukan Agatha!" bentak Victor kepada anak buahnya.
Belakangan ini sifat Victor kembali menjadi dingin, arogan, dan keras kepala. Sehingga banyak yang mengeluhkan sifatnya itu. Belum lagi, sekarang dia lebih suka memecahkan barang untuk melampiaskan kemarahannya.
"Tuan, ada kepala polisi datang ingin bertemu," kata Alonso memberi tahu kedatangan orang yang sudah ditunggu-tunggu olehnya sejak tadi.
"Suruh dia masuk ke ruang tamu di gedung Utara," titah Victor.
"Baik, Tuan."
Victor pun mempersiapkan dirinya untuk menemui kepala polisi bagian Kota Dragon. Selain melaporkan kasus pembunuhan kedua orang tuanya, Victor juga melaporkan kasus hilangnya Agatha. Saat ini dia berharap kepala kepolisian itu membawa kabar yang menggembirakan buat dirinya.
Laki-laki yang bertubuh lebih pendek dari Victor dan rambutnya yang beruban, sedang duduk sambil menatap ke arah taman bunga yang mulai memperlihatkan kuncupnya. Kedua tangannya memegang erat tas kerja dalam dekapannya, seolah takut kehilangan itu.
"Pak kepala polisi, maaf sudah membuat Anda menunggu," kata Victor saat berdiri di dekat laki-laki berseragam polisi itu.
"Tidak apa-apa, Tuan Aldemo. Justru saya merasa sangat senang duduk di sini sambil melihat taman di samping itu," balas pak polisi.
" Apa ada kabar dari pengadilan atau Agatha?" tanya Victor.
"Untuk nona Agatha masih belum ada kabar apapun. Namun, untuk pengadilan sudah ada. Hanya saja, pengacara Diego memberikan jaminan kepada kerajaan. Kalau laki-laki itu melanggar hukum yang lainnya, maka dia pun akan bersedia masuk ke dalam sel penjara," jawab pak polisi.
"Apa? Jadi, Diego masih bisa berkeliaran dengan bebas?" teriak Victor dengan penuh kekecewaan.
"Tidak. Bukan begitu Tuan. Tuan Diego itu menjadi tahanan rumah. Dia tidak boleh keluar rumahnya. Jika dia melanggar itu, maka dia akan langsung di giring ke dalam sel penjara," bantah pak polisi.
__ADS_1
"Tetap saja itu membuat dirinya terasa bebas," ucap Victor.
"Kediaman Diego akan dijaga ketat oleh polisi, sehingga dia tidak akan mudah keluar masuk markasnya," jelas pak polisi.
"Lalu, kapan sidang keputusan Diego akan dibacakan?" tanya Victor.
"Ada kemungkinan bulan depan diberitahukan keputusan pengadilan," jawab pak polisi.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya aku menuntut keadilan untuk kedua orang tuaku," ucap Victor dengan serius.
"Kami pasti akan menegakan hukum dan keadilan di negeri ini," balas pak polisi.
***
Sementara itu, di markas Black Dragon terlihat Diego sedang berteriak memaki-maki anak buahnya. Kulitnya yang mulai berkeriput itu memerah menandakan betapa besarnya amarah dia.
"Dasar kalian semua tidak berguna!" hardik Diego memaki sekelompok anak buah Black Dragon yang sedang berdiri dengan tegap.
"Mencari seorang wanita saja tidak bisa. Dulu aku suruh cari si pelayan juga tidak bisa ketemu. Sekarang, disuruh mencari kekasih Victor juga tidak bisa menemukannya. Mana kehebatan yang kalian bangga-banggakan kepadaku!" bentaknya sambil menunjuk muka beberapa orang.
"Apa kamu, yakin?" tanya Diego dengan tatapan mata tajam. Dia tidak mau melakukan pengejaran yang sia-sia.
"Aku tidak bisa menjaminnya. Tetapi orang itu menceritakan ciri-ciri fisik wanita yang pernah menolongnya sekitar satu bulan yang lalu. Mobil yang dinaiki oleh wanita itu juga sama dengan mobil milik Victor yang sering dipakai oleh Agatha," jawab laki-laki yang berpostur sedang dengan muka yang masih sangat muda.
Miranda yang berdiri di salah satu barisan tersenyum tipis. Dia ingat kalau Agatha itu mirip sekali dengan Eriko. Wanita yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal bertemu. Wanita hebat dan patut diperhitungkan menurutnya. Sebab, jarang-jarang ada wanita yang pandai dalam segala hal.
"Baiklah, kita fokuskan mencari di wilayah Utara!" perintah Diego kepada semua anak buahnya.
"Siap, di laksanakan, Tuan!" gemuruh suara anak buah Black Dragon langsung memenuhi ruangan yang mirip aula itu.
"Apa yang akan kamu lakukan Victor. Jika, wanita kesayangan kamu berada dalam genggaman tangan aku," gumam Diego dengan tangan mengepal erat.
***
__ADS_1
Wilayah utara negeri Dragon itu tempat yang jarang ditempati oleh warga karena merupakan dataran tinggi dengan suhu udara yang selalu dingin. Dikelilingi oleh hutan Pinus dan tanah yang kurang padat. Sangat beresiko longsor jika sedang musim penghujan.
"Agatha, kenapa kamu selalu repot-repot membuatkan makanan cemilan untuk aku dan Rose," kata Janet saat Agatha membawa puding susu ke rumah Janshon.
"Ini aku juga membuat minuman coklat panas. Pasti kamu akan suka," balas Agatha tidak menghiraukan ucapan Janet.
"Kamu itu seorang koki yang hebat! Kenapa tidak membuka restoran saja? Padahal setiap hari banyak orang yang hilir mudik di perbatasan," ucap Janet dan itu malah membuat Agatha tertawa terkekeh saat mendengarnya.
"Iya, akan aku pikirkan ide kamu ini," balas Agatha.
Saat ini Agatha sedang menyembunyikan dirinya dari kejaran anak buah Victor. Selain itu dia juga sedang menenangkan hati dan pikirannya agar tidak memberi pengaruh buruk pada kehamilannya.
Saat mereka sedang menikmati puding susu. Janshon pulang dengan memarkirkan mobilnya secara asal. Lalu, dia berlari ke dalam rumahnya.
"Janet, apa Agatha ada di sini?" tanya Janshon begitu masuk ke dalam rumah sedangkan Janet dan Agatha sedang berada di ruang makan yang merangkap dengan dapur.
"Ada apa Janshon?" balas Janet dan suaminya itu pun mendatangi ruangan dapur.
"Agatha, apa kamu sedang dikejar oleh sekelompok orang?" tanya Janshon tiba-tiba begitu melihat ada Agatha yang sedang duduk bersama dengan istrinya di meja makan.
"Aku tidak mengerti maksud kamu, Janshon?" tanya Agatha pura-pura.
'Gawat. Ternyata mereka sudah melakukan pengejaran sampai sini. Aku tidak menyangka kalau hal ini akan sangat cepat terjadi. Sudah kuduga, seharusnya aku pergi melintasi lautan dan tinggal di benua seberang,' batin Agatha.
"Aku dengar ada beberapa orang yang sedang mencari dirimu. Tadi ada seorang laki-laki yang membawa foto dirimu dan sedang mencari keberadaan kamu. Makanya, aku mencari tahu, sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada kamu?" tanya Janshon.
"Aku adalah orang yang menginginkan kebebasan. Ingin hidup bahagia seperti manusia pada umumnya. Sepertinya orang-orang yang mencari aku itu, merasa sangat kesepian karena tidak bisa mendengar suara teriakan aku dalam kehidupan mereka sehari-harinya," jawab Agatha.
"Aku lihat para lelaki itu memakai kalung liontin berukir naga," ucap Janshon.
'Liontin naga? Black Dragon! Untuk apa mereka mencari aku? Sepertinya pertarungan antara kelompok Silver Dragon dengan Black Dragon sudah dimulai,' batin Agatha.
"Sepertinya aku harus secepatnya pergi dari sini. Jangan sampai kalian celaka gara-gara menolong aku. Aku ucapkan terima kasih atas perhatian dan persahabatan yang kalian berikan kepada aku," ucap Agatha sambil berdiri dan menatap pasangan suami istri itu silih berganti.
__ADS_1
***
Akankah Agatha selamat dari pengejaran orang-orang yang sedang mencarinya? Tunggu kelanjutannya, ya!