Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia

Pelayan Hebat Milik Ketua Mafia
Bab 41. Victor Vs Max


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


Bab 41


Victor pun mengajar Max masuk ke ruangan tadi. Ternyata itu adalah ruang perpustakaan yang banyak sekali rak-rak buku dan keberadaan Max tidak ada di sana. Victor pun memeriksa lemari itu satu persatu mungkin saja ada pintu rahasia di salah satunya. Meski sudah mengelilingi ruangan itu dan memeriksanya dia tidak menemukan ruang rahasia.


"Ke mana dia perginya, ya? Pasti dia bersembunyi di salah satu tempat di bagian ruangan ini," ucap Victor sambil mendorong bagian lemari yang ada di depannya.


Netra Victor terus menelusuri setiap jengkal bagian yang ada di dalam ruang perpustakaan itu. Dia melihat sebuah lampu yang menempel di dinding, lalu tangannya mencoba menarik dan memutar agar menghadap ke bawah. Tanpa dia duga lemari buku yang ada di sampingnya berputar dan terlihat ada sebuah ruangan lainnya lagi di sana.


"Wow, ternyata ada ruang rahasia lagi di sini," Victor pun bersiul sambil memuaskan tangannya dan mengambil pistol kecil yang ada di dalam saku celananya.


Victor melangkah dengan hati-hati dan pelan agar tidak menimbulkan bunyi suara. Matanya terus menelusuri ruang itu mencari sosok Max yang mungkin saja dia sedang bersembunyi dan siap menyerang dirinya kapan saja.


Dor!


Ternyata benar sesuai dengan dugaannya, Max sedang bersembunyi dan bersiap menyerang Victor dengan tembakannya. Untungnya Victor berada di dekat sebuah pilar tembok yang berukuran lumayan besar.


Dor!


Victor pun memberikan tembakan balasan ke arah Max. Dia harus menghemat peluru karena sudah tidak punya lagi peluru cadangan di dalam sakunya.


Dor! Dor!


Max memberikan balasan dengan menembak beruntun ke arah Victor. Ketua kelompok Silver Dragon itu pun menunduk untuk menghindari peluru yang ditembakkan ke arahnya.


Victor saat ini hanya bisa menghindari serangan yang dilancarkan oleh Max dan akan memberikan serangan yang tepat untuk lawan yang nanti. Dia berusaha pindah ke tempat yang lebih strategis agar bisa memberikan serangan balasan kepada Max.


Sambil berjalan membungkuk Victor berpindah tempat di antara kursi sofa yang ada di sana. Meski begitu Max dapat melihat pergerakan dirinya yang sedang berpindah tempat.


Dor! Dor!

__ADS_1


Max melancarkan tembakannya ke arah Vuctor yang kini sedang bersembunyi di balik sebuah meja kerja. Dia tahu kalau di dalam laci meja kerja itu ada beberapa senjata miliknya yang sengaja dia simpan di sana.


"Semoga saja dia tidak tahu kalau di sana ada beberapa pistol milikku karena akan sangat berbahaya jika dia punya senjata untuk melawan aku," gumam Max dengan jantung yang lebih berdebar karena merasa ketakutan.


Entah kenapa Victor merasa ingin sekali membuka laci atas yang ada di meja kerja itu. Betapa bahagianya dia sangat menemukan ada 4 jenis pistol di sana dan semuanya sudah terisi dengan peluru.


"Oh, ternyata Tuhan begitu baik kepadaku. Dia memberikan aku senjata di saat peluruku tinggal tiga biji lagi," gumam Victor dengan rasa senang sambil meraih ke empat pistol itu dan memasukkan dibalik punggungnya dua dan di perutnya satu.


Victor pun langsung menembakkan peluru dari pistolnya ke arah Max yang kebetulan muncul di balik tempat persembunyiannya. Max pun terkena tembakan peluru di bagian bahu kanannya.


"Aaaakh. Si_al!" umpat Max sambil meringis menahan sakit di bahu dan tangannya menahan darah yang keluar. Setelah tadi pahanya terkena tembakan dan dia kesulitan untuk berlari karena sakit.


"Sudah kamu menyerah saja. Aku tidak akan membunuh kamu, paling memenjarakan di penjara ruang bawah tanah," teriak Victor.


"Mana mau aku ditangkap olehmu. Lebih baik aku mati daripada harus masuk penjara dan membusuk di sana," ucapkan Max dengan begitu nyaring.


Victor berlari ke arah tempat persembunyian yang mendekati tempat Max. Dia kembali memancarkan serangan tembakan balasan ke arah Max dan salah satu pelurunya mengenai dada atau lebih tepat terkena jantung.


Victor hanya memperhatikan Max dari jauh, takutnya dia masih mampu memberikan serangan terakhir kepadanya jika dia terlalu mendekatinya. Dia menunggu sekitar 5 menit tapi tubuh Max tetap diam tidak bergerak sama sekali.


Terlihat dengan hati-hati Viktor mendekati tubuh Max. Dia pun menendang pistol yang masih ada di tangan Max. Lalu, dia menyentuh bagian urat di lehernya dan memeriksa nafas di hidungnya. Ternyata Max benar-benar sudah mati karena tidak terasa lagi denyut nadinya dan juga tidak terasa hembusan nafasnya.


***


Anton dan anak buahnya yang berada di luar markas Gold Dragon bergegas memberikan bantuan untuk kelompok White Dragon. Mereka tadi mengendarai kendaraan dengan kecepatan penuh karena suasana jalanan sedang sepi dan lenggang.


Begitu mereka sampai di sana Anton dan anak buahnya memberikan serangan langsung secara bersamaan kepada anak buah kelompok mafia Gold Dragon. Meski hanya beranggotakan 20 orang yang datang ke gudang senjata ini, anak buah Silver Dragon itu mampu memberikan balasan kepada lawan mereka.


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


"Bantuan musuh telah datang!" teriak salah seorang anak buah dari pihak Gold Dragon.


Berita ini membuat orang-orang dari kelompok White Dragon merasa senang. Mereka kini punya harapan untuk bisa menang dan hidup. Mereka pun bersemangat kembali untuk melancarkan serangan kepada pihak musuh.


"Ayo, serang mereka! Kita jangan mau kalah dengan kelompok Silver Dragon," perintah Fabio kepada rekan-rekannya.


"Baik, Tuan!" balas mereka serempak dengan penuh semangat.


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


Baku tembak kembali terdengar di dalam gudang milik kelompok Gold Dragon. Kedatangan kelompok Silver Dragon yang dipimpin oleh Anton memberikan peluang kemenangan bagi kelompok mereka.


"Ayo ambil dan pakai senjata milik musuh! Kita rebut gudangnya dan kuasai isinya," teriak Anton kepada teman-temannya dan mereka pun menuruti perintahnya.


Senjata milik musuh yang sudah terkapar dan mati, mereka ambil dan di kumpulkan. Anton dan teman-temannya menyerang sambil berlindung dari serangan musuh. Kemampuan Anton sebagai seorang sniper diperlihatkan. Kedua tangannya memegang pistol dan mampu mengenai musuhnya tepat sasaran.


Dor! Dor!


"Aaaakh!" teriakan orang-orang dari pihak musuh yang terkena tembakan Anton saling bersahutan.


"Hebat! Ternyata ada seorang dari pihak Silver Dragon yang begitu ahli dalam menggunakan senjata," puji Fabio begitu melihat cara menembak Anton yang begitu lihai, cepat, dan tepat mengenai sasaran. Tidak ada satupun peluru yang terbuang secara sia-sia semuanya tetap mengenai tubuh lawan.


Jumlah musuh ini berkurang sangat banyak dan keadaan sudah berbanding terbalik. Sekarang pihak Gold Dragon yang merasa tersudutkan.


"Habisi mereka semua, jangan sampai tersisa seorang pun!" teriak Fabio kepada teman-temannya yang masih bersisa di sana.


"Tunggu, kalian semua tetap di tempat kalian masing-masing. Jangan sampai ada yang bergerak!" teriak Anton.


***

__ADS_1


Kenapa Anton meminta orang-orang di sana untuk diam di tempatnya masing-masing? Sebenarnya apa yang akan terjadi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2