
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 69
Dor! Dor!
Drrrrt! Drrrrt! Drrrrt!
"Aaaakh!"
"Hati-hati musuh memakai pistol Ak-47!"
"Ambil senjata milik kita juga, yang ada di gudang!" perintah Daniel kepada anak buahnya.
"Tuan, gudang di sebelah utara sudah terbakar," kata seorang anak buah yang baru masuk ke ruangan itu.
"Apa?" Daniel memekik saking terkejutnya.
"Senjata masih banyak di kamar paling ujung," ucap si pengurus villa.
"Cepat ambil!" perintah Daniel dan beberapa orang lainnya ikut membantu.
Dor!
Dor!
""Kita kehabisan peluru. Harus ada yang mengambil stok peluru di dalam mobil," kata Anton yang berhasil menyusul ke sana.
"Aku akan membuka pintu gerbangnya, agar mobil bisa di bawa masuk," ucap salah seorang anak buah Silver Dragon.
Drrrrt! Drrrrt!
Dor! Dor!
Baku tembak masih terjadi di area villa. Anak buah Silver Dragon pun membuka pintu gerbang agar teman yang lainnya bisa masuk ke sana dan membawa senjata cadangan.
"Gawat, pintu gerbang terbuka!" teriak salah seorang anak buah Black Dragon.
***
Sementara itu di lantai atas Agatha yang masih terkejut karena mendengar suara tembakan dari lantai satu. Dia yakin kalau suara tembakan itu berasal dari kelompok Silver Dragon dan kelompok Black Dragon yang senang baku tembak.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya kita kedatangan tamu dari anggota mafia dari Silver Dragon," kata Morena sambil melirik ke arah Agatha.
"Habisi mereka semua, jangan biarkan tersisa satu orang pun!" perintah Diego kepada Nick.
"Siap, Tuan." Nick pun pergi ke lantai bawah untuk bergabung dengan anggota Black Dragon yang lainnya.
"Sepertinya Victor tidak ingin kehilangan dirimu. Sampai-sampai dia sendiri datang ke sini dengan membawa pasukannya yang berjumlah sangat banyak," kata Morena masih menatap ke arah Agatha.
"Apa kamu orang yang sangat berharga bagi Viktor?" tanya Diego.
"Sepertinya begitu, Tuan. Jika tidak, mana mungkin dia akan datang ke sini dengan persiapan yang sangat maksimal," jawab Morena.
'Apa benar aku orang yang sangat berarti bagi dirinya? Kalian salah, aku hanyalah orang yang dimanfaatkan untuknya dalam menjalankan bisnis.' Agatha hanya bicara dalam hatinya.
"Aku yakin kalau wanita ini adalah kekasih sesungguhnya dari Victor," kata Diego sambil mengelus kepala Agatha.
Agatha masih pura-pura tertidur saat ini. Sebenarnya dia merasa ngantuk sekali dan ingin tidur. Namun, tetap saja semua terdengar di telinganya. Suara baku tembak yang saling bersahutan dan teriakan dari orang-orang yang terkena peluru, tiada hentinya terdengar oleh Agatha.
***
Sementara itu, di lantai satu sudah banyak korban bergelimpangan. Terutama dari kubu Black Dragon yang terkena tembakan dari pistol AK-47 yang digunakan oleh anak buah Silver Dragon.
"Tuan, para musuh sekarang menggunakan pistol AK-47. Apa sebaiknya kita juga menggunakan senjata yang sejenis dengan mereka?" tanya salah seorang anggota Black Dragon kepada Daniel.
"Ada, Tuan," jawab orang tadi. Dia pun bergegas pergi ke lantai 2 untuk membawa senjata pembunuh massal itu.
Baku tembak masih mewarnai lantai satu, hal ini dimanfaatkan oleh Victor dan Armando untuk pergi ke lantai dua. Meraka yakin kalau Agatha berada di lantai atas.
Ternyata di lantai dua pun banyak anak buah Black Dragon. Baku tembakan pun terjadi di antara mereka.
Drrrrt! Drrrrt!
"Aaaakh!"
Victor dan Armando memberondong peluru ke arah musuh dengan menggunakan pistol AK-47, sehingga memudahkan mereka untuk menghabisi banyak nyawa lawannya. Victor sudah mempersiapkan semua senjatanya menggunakan ak-47 karena dia tahu betapa banyaknya musuh yang akan dihadapi oleh mereka di villa ini.
Drrrrt! Drrrrt!
"Aaaakh!"
"Serang mereka menggunakan senjata yang sama. Ambil di kamar yang ada di sebelah ujung!" teriak salah seorang anggota Black Dragon kepada teman-temannya.
Tentu saja hal ini membuat Victor dan Armando senang karena senjata milik mereka pelurunya tinggal sedikit. Keduanya pun saling melirik dan mengangguk. Victor berlari menuju kamar paling ujung mengikuti beberapa anak buah Black Dragon untuk mencuri senjatanya. Sementara itu, Armando menahan musuhnya dengan menembak terus ke arah mereka.
__ADS_1
"Tuan, apa sebaiknya kita minta bantuan agar orang-orang dari markas lainnya datang ke sini?" tanya Morena.
"Lakukan jika itu demi kemenangan kita," jawab Diego.
Morena pun mengubungi beberapa markas terdekat agar segera mengirimkan pasukan dan senjata ke villa. Dia melihat gudang senjata milik mereka sudah dilahap si jago merah.
***
Anton dan anak buah Silver Dragon yang berada di lantai satu sudah berhasil mengalahkan musuh dalam jumlah yang banyak. Sementara itu Peter mengalahkan anggota Black Dragon yang berada di halaman dan bangunan bagian belakang.
Malam itu begitu gaduh dengan suara desingan pistol yang tiada hentinya. Teriakan dan rintihan kesakitan juga ikut meramaikan suara di malam yang dingin.
Jika dilihat dari jauh, puncak bukit itu bercahaya merah dengan kepulan asap yang membumbung tinggi. Villa dan sekitarnya bau dengan mesiu dan anyir darah. Kalau ada orang biasa di sana pasti akan muntah-muntah saking baunya.
Drrrrt! Drrrrt!
"Aaaakh!"
Tembakkan saling bersahutan satu sama lain. Mereka saling membalas. Pertempuran dengan Black Dragon membuat banyak anak buah Silver Dragon yang meninggal. Berbeda saat mereka melawan Gold Dragon ataupun Red Dragon yang masih sedikit dan bisa dihitung.
Namun, jumlah korban dari kelompok Black Dragon jauh lebih banyak dari kelompok Silver Dragon. Itu dikarenakan kelompok Silver Dragon menggunakan senjata canggih yang mampu mengeluarkan peluru dengan jumlah ratusan dalam waktu per detiknya.
***
Lengan Victor terkena tembakan saat dia akan mengambil senjata di gudang. Dia membawa beberapa pucuk senjata, setelah berhasil mengalahkan anak buah Black Dragon yang ada di dalam gudang senjata itu.
Kedua tangan Victor memegang senjata dan membantu Armando yang sedang melawan anak buah Black Dragon. Mereka berdua sebenarnya sedang dalam keadaan terdesak. Namun, karena sudah terlatih oleh Alonso agar jangan panik saat dalam menghadapi keadaan yang genting. Jadi, saat ini mereka benar-benar fokus untuk bisa menghabisi lawan sebanyak mungkin, tidak peduli dengan tubuhnya yang terkena dengan banyak peluru.
"Armando, tubuh kamu sudah terlalu banyak mendapatkan tembakan. Sekarang mundurlah! Menjauh sebisa mungkin musuh kita," kata Victor sambil membalut perut Armando yang terkena tembakan.
"Anda sangat meremehkan aku, Tuan. Aku masih mampu untuk menghabisi seratus orang musuh lagi," ucap Armando sambil tertawa terkekeh.
"Lihatlah tubuhmu sudah banyak sekali mengeluarkan darah! Aku tidak ingin kehilangan dirimu," ujar Victor dengan nada tegas dan tatapan tajam, dia tidak suka kalau perintahnya dibantah.
"Tenang saja, aku punya obat ajaib pemberian dari Agatha," balas Armando sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi dua plastik yang terdapat banyak pil obat di dalamnya.
"Obat apa ini?" tanya pistol sambil mengambil salah satu plastik obat yang ada di dalam kotak.
***
Akankah kelompok belajar Dragon mendapatkan bantuan di waktu yang tepat?
Obat apakah itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1