
Alex dan Kaira yang baru saja sampai, terlihat lebih tenang tidak seperti di rumah Gina. Mereka seperti orang yang baru saja merasakan pacaran.
"Alex. Dari tadi aku perhatiin kamu bolak balik ke sana ke mari, kenapa?"
Alex yang terlihat gelisah, sembari memegangi ponsel menatap ke arah istrinya.
"Aku berusaha menghubungi Ferdi, tapi dia dari tadi tak mengangkat panggilanku. "
"Ferdi, siapa?"
"Ferdi, pacar Gina!"
Kaira mengerutkan dahinya, ia menyenderkan punggung pada tembok. Menatap ke arah suaminya, " Gina memangnya punya pacar?"
"Iya."
"Mm, tapi kok bisa ia jatuh cinta pada kamu. Sedangkan Gina sendiri sudah punya pacar. "
"Entahlah, aku juga bingung. "
Kaira merasa jika Alex terlalu menghuatirkan adiknya, padahal setelah menikah sang adik bukan tanggung jawabnya lagi.
"Aneh."
Pergi meninggalkan sang suami, dimana nada bicara Kaira terdengar seperti orang yang sedang kesal.
__ADS_1
"Kaira." Langkah kaki semakin menjauh, saat Alex memanggil nama istrinya.
"Kaira, ayolah. Kamu ini sebenarnya kenapa?"
Pertanyaan Alex, membuat Kaira diam. Wanita berambut panjang itu hanya melirik sekilas, ke arah suaminya.
"Kaira."
Alex tak suka jika melihat Kaira seperti itu, ia merasa bersalah. Mengikuti langkah kaki sang istri yang semakin jauh.
"Kaira, tunggu. "
Tangan kekar Alex, kini meraih tangan Kaira, menahan untuk tidak pergi begitu saja dari hadapannya.
"Ayolah, jangan seperti ini, aku mengaku salah. Sebenarnya aku ingin membuat Gina dekat dengan Ferdi. "
Menghela napas, menatap sayu ke arah istrinya. "Makanya dengarkan aku dulu, jangan pergi begitu saja. "
Kaira terdiam, ia mulai mendengarkan perkataan sang suami.
"Aku ingin Gina mendapatkan pasangan untuk menemaninya di saat hamil. Dan setelah melahirkan, maka dari itu aku ingat Ferdi, dia pernah jadi pacar Gina. "
"Pacar, kok kamu bisa tabu sedetail itu. "
Alex berusaha memberitahu Kaira secara pelahan lahan, agar istrinya itu mengerti.
__ADS_1
"Jelas, Gina pernah memberitahu Almarhum Ibu dulu, dimana almarhum memberitahuku. "
"Aku tak yakin jika Ferdi itu pernah pacaran dengan Gina. "
"Kok kamu bicara begitu. "
"Ya pastinya, karena Gina sudah menaruh hati padaku sejak lama. "
"Aku tahu itu, maka dari itu aku ingin membuat Gina melupakanku. Agar dia terbiasa dengan orang lain. Sebenarnya aku juga tak yakin, rencana ini berhasil atau tidak, karena kamu tahu sendiri, jika Gina itu keras kepala. "
"Mm, ya. Gina keras kepala dan tak bisa menepati janjinya. "
"Jadi tolong bantu aku, karena jika kita membiarkan Gina seperti sekarang. Adikku akan tertekan dengan kesendiriannya, dia tidak akan melupakanku. "
Awalnya Kaira ragu, tapi karena bujukan sang suami terus menerus, terdengar dari telinganya. Membuat ia terpaksa mengiyakan.
"Aku tak yakin dengan semua rencana kamu, kerena kamu tahu sendirikan, jika cinta Gina begitu besar pada kamu. "
Menundukkan wajah, dimana Alex mengusap pelan pipi istrinya dengan mempelihatkan sebuah senyuman untuk menghibur Kaira.
"Jangan ngamuk gitu dong. "
Kaira tersipu malu dengan ucapan lembut Alex, menempelkan jidat pada jidat Alex. Dan berkata. " Aku melakukan semua ini, demi keutuhan rumah tangga kita. Aku ingin Gina bahagia dengan laki laki yang mencintainya, menyayanginya setulus jiwa. "
Kaira menganggukkan kepala, setelah mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
Alex terlihat senang, ia memeluk erat tubuh Kaira. " Terima kasih, kamu sudah mau menerima keinginanku. "