
Kamal yang mengalami kecelakaan seminggu sebelum kepindahannya ke Sulawesi pun dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari.
Berita Kamal yang mengalami kecelakaan pun sampai kepada Riana dan Yonna. sedang sakit. Yonna yang sangat khawatir dengan kondisi Kamal tidak memperdulikan dirinya dan tetap pergi menemui Kamal.
“Mas, apa kamu baik-baik saja? Aku khawatir sekali!” ucap Yonna dengan wajah yang sangat cemas dengan nafas yang tidak beraturan.
“Aku baik-baik saja. Hanya perutku yang terasa sakit karena mendapatkan hantaman keras dari stang motor!” ucap Kamal dengan senyum kecil mencoba menenangkan Yonna yang cemas akan keadaannya.
Sementara itu, Riana yang tidak terikat hubungan apapun lagi dengan Kamal selain hubungan Ibu dari anaknya Kamal memutuskan untuk tidak datang sama sekali.
“Papa kalian berdua mengalami kecelakaan dan saat ini sedang ada di Rumah Sakit. Jika kalian ingin menjenguknya maka Mama akan mengantar kalian berdua kesana.” Ucap Riana dengan nada suara yang lembut saat mengajak anaknya bicara di meja makan.
“Apakah Papa menderita luka yang serius, Ma?” tanya Shasa dengan nada suara yang sedikit khawatir dan wajah yang cemas.
“Mama tidak tau karena Mama tidak bertanya lebih. Mama mendapatkan kabar ini dari Nenek kalian yang menghubungi Mama pagi ini saat kalian masih sekolah!” ucap Riana dengan wajah yang tidak peduli.
“Jika kalian mau menjenguk maka besok Mama akan mengantar kalian karena besok adalah hari libur tapi Mama tidak akan masuk ke dalam. Mama hanya akan menunggu di tempat makan terdekat!” ucap Riana dengan senyum yang lembut.
Shasa yang bingung tapi sangat ingin bertemu dengan Kamal karena telah lama tak bertemu pun mengalihkan pandangannya kepada Shawn.
“Kak? Bagaimana?” tanya Shasa dengan wajah yang memelas dan mata yang berbinar memohon kepada Shawn.
__ADS_1
Shawn yang sadar jika ajaran Agama yang diberikan Riana kepada mereka untuk tidak menjadi anak durhaka bagaimana orangtuanya pun menarik nafas panjang.
“Baiklah. Kita akan menemuinya tapi mungkin tidak lama! Semoga keadaannya tidak buruk!” ucap Shawn berbicara tanpa ekspresi seolah hanya kata-kata formal.
Keesokan paginya, Riana yang tak ingin membuat anaknya kehilangan sosok Ayahnya meskipun telah bercerai dari Kamal pun pergi mengantar Shasa dan Shawn ke Rumah Sakit.
“Kalian pergilah dan hati-hati. Mama akan menunggu di sana. Hubungi Mama jika kalian telah selesai. Mama akan menjemput kalian berdua!” ucap Riana dengan nada suara yang ramah dan senyum yang lembut.
“Ya, Ma. Bye Mama!” ucap Shasa sambil melambaikan tangan yang diikuti oleh Shawn di belakangnya lalu berjalan masuk ke dalam Rumah Sakit.
Riana yang memiliki janji temu dengan Putra pun pergi ke Kafe yang tak jauh dari Rumah Sakit dan menemukan Putra sedang duduk melihat keluar dengan wajah yang sedih.
“Hah! Sepertinya waktu bagiku untuk membuat keputusan yang sulit!” gumam Riana yang mengingat perasaan yang lebih dari Putra padanya.
“Terima kasih untuk bantuanmu dan Aris. Sekarang aku bisa hidup dengan tenang dan bahagia bersama Shawn dan Shasa.” Ucap Riana dengan wajah yang tulus.
“Kau tidak perlu berterima kasih sampai seperti ini. Ini semua adalah buah dari kesabaran dan ketulusanmu!” ucap Putra yang memuja Riana sebagai wanita yang sangat hebat.
“Aku bukanlah wanita seperti yang ada di dalam pikiranmu! Aku telah gagal menjadi seorang Istri tapi aku menolak gagal untuk menjadi Seorang Ibu. Oleh karena itu, aku melakukan apapun untuk mempertahankan hak anak-anakku!” ucap Riana dengan wajah yang sedih.
Riana yang mengingat rasa sakitnya beberapa bulan yang lalu pun menatap Rumah Sakit tempat Pria yang pernah dicintainya dengan setulus hati sedang sakit bersama dengan anak-anaknya pun tertawa kecil.
__ADS_1
“Kenapa kau tertawa? Apakah ada hal yang lucu?” tanya Putra yang penasaran sambil melihat arah tempat mata Riana menuju.
“Aku hanya merasa sangat lucu pada kehidupanku. Aku kira semuanya akan sangat sulit saat berpisah dan mungkin aku akan hidup dalam penderitaan setelah Mas Kamal berselingkuh dan memilih untuk tetap bersama wanita itu!” ucap Riana dengan tawa kecil.
“Namun ternyata hidup terus berjalan seperti ini saja. Semua kekhawatiran tidak bergunaku itu tidak ada yang terjadi. Aku masih tetap merasakan bahagia justru saat ini aku menjadi sangat bebas!” ucap Riana yang tersenyum dengan lebar.
Riana yang tak ingin memberikan harapan palsu kepada Putra yang peduli dan sangat tulus padanya itu pun mengatakan yang ada di hati dan pikirannya.
“Aku merasa sangat bahagia dengan status dan posisiku sekarang! Aku ingin menikmati kesendirian ini untuk membahagiakan diriku sendiri, anak-anakku dan juga Orangtua serta Adikku!” ucap Riana dengan senyum yang lembut.
“Hatiku menjadi mati rasa dan lelah dengan semua drama percintaan yang terjadi!” ucap Riana yang menatap mata Putra.
“Aku tak tau berapa lama hingga aku bisa membuka hati kembali atau memutuskan untuk menutup hati selamanya tapi aku pun tak ingin menolak seorang teman!” ucap Riana dengan senyum yang lembut.
Putra yang mengerti maksud dari Riana dan menyadari kesedihan serta semua hal yang terjadi padanya bukanlah hal yang mudah pun menarik nafas panjang.
“Hidup ini memiliki dua ketetapan, yaitu ketetapan yang bisa kita ubah dan ketetapan yang tidak bisa kita ubah seperti jodoh!” ucap Putra yang menatap balik lurus ke depan mata Riana.
“Jodoh adalah rahasia dari Sang Pencipta. Kita tidak bisa memaksakan jodoh tapi kita bisa berusaha untuk mendapatkannya. Serahkan saja semuanya kepadanya dan semuanya akan indah pada waktunya!” ucap Putra dengan senyum yang lembut.
Riana yang senang mendengar perkataan dan keputusan Putra pun memutuskan untuk makan bersama dan mengobrol sebentar hingga akhirnya Shasa dan Shawn menghubunginya untuk pulang.
__ADS_1
#Bersambung#
Apa yang terjadi di Rumah Sakit? Kenapa Shawn dan Shasa tak menjenguk Kamal cukup lama? Tebak jawabannya di kolom komentar ya.