
Perlahan Alex melepaskan tanganku, " Alex. "
"Pergilah dulu, temui Gina. "
Menganggukkan kepala, berjalan masuk ke dalam ruangan Gina. " Gina. "
Aku melihat kedua mata Gina berkaca kaca, ia tersenyum padaku, lalu berucap. " Kaira. "
Langkah kaki ini semakin dekat, berjalan perlahan. Aku mulai memeluk erat tubuh sahabatku.
"Maafkan aku. "
Melepaskan pelukan Gina, perlahan tangan ini mengusap lembut air mata yang terus bercucuran melewati kedua pipi sahabatku.
"Kenapa harus minta maaf, kamu nggak salah Gina. "
"Aku egois, aku terlalu mengatur kamu Kaira."
Tersentuh dengan perkataan Gina yang mengakui kesalahnya, aku langsung memeluk erat kembali tubuh sahabatku.
"Aku sayang kamu Gina. "
"Aku juga. "
Terkejut, Bu Tari menjauhi kami berdua. Ia mendorong tubuhku untuk melepaskan Gina.
"Ahk, Gina. Jangan bodoh kamu, dia orang jahat, "
Gina hanya menatap tajam pada raut wajah Bu Tari, terlihat ia murka dan tak suka.
"Gina, percaya pada ibu. "
Tangan Bu Tari perlahan memegang kepala Gina. Namun tak ku sangka, Gina memukul tangan ibu kandungnya. " jangan pernah sentuh aku. "
"Gina, aku ini ibumu, kenapa kamu malah seperti ini. "
Gina melepaskan pandangan, ia menundukkan wajah, Kedua tangan ia kepalkan. " jangan mengaku ngaku."
Bu Tari tampak terkejut dengan perkataan Gina, " kenapa, Gina. Kamu tidak percaya pada ibu. Aku ini ibu kandung kamu, wanita yang sudah susah payah melahirkan kamu. "
"Diam."
Bu Tari terlihat kecewa mendengar nada tinggi Gina. "Gina, kenapa?"
"Kaira."
Gina kini memanggil namaku, membuat aku semakin dekat padanya. " Kenapa Gina?"
"Tolong kamu usir wanita ini dari hadapanku!"
Tak menyangka dengan apa yang dikatakan Gina, membuat aku menatap sekilas pada Bu Tari.
"Kaira, aku mohon buat dia keluar dari ruanganku."
Bu Tari terlihat tak terima, ia membulatkan kedua mata, menatap tajam ke arahku lalu berucap. " Jangan berani kamu mengusirku."
__ADS_1
Bu Tari terlihat tak terima, dimana aku berusaha mengusir wanita tua itu secara baik baik. " Bu Tari, maaf. Gina menyuruh anda untuk keluar dari ruangannya. "
"Jangan berani kamu Kaira. "
Menunjuk kesal padaku, Bu Tari kini mendekatkan dirinya lagi pada Gina.
"Gina, aku ibumu. "
"Sudah cukup, berulang kali aku katakan pada kamu, aku tidak punya ibu seperti kamu. Ibuku sudah mati. "
Kekecewaan semakin terlihat dari raut wajah Bu Tari, " Gina, kamu tega sama ibu. "
Gina tak sedikitpun melihat kesedihan Bu Tari, ia fokus menatap ke arah lain, memperlihatkan dirinya yang tak peduli sedikit pun pada sang ibunda.
"Gina, kamu lihat ibu. "
"Ayo Gina. "
Bu Tari menangis, air mata sudah begitu basah mengenai pipi, ia berusaha menyakini anaknya sendiri, untuk mengakui dirinya sebagai ibu.
"Gina, kamu kenapa seperti ini?"
Bujukkan Bu Tari tak berguna sama sekali, Gina tetap bersikukuh mengusir Bu Tari.
"Gina."
Suara lembut, tak mampu membuat pikiran Gina koyah," tolong, pergi dari sini. Sebelum aku menyuruh satpam rumah sakit, menyered kamu secara paksa. "
"Gina, kamu tega. Kamu tega. "
Gina kini memberanikan diri menatap Bu Tari yang terlihat tak berdaya, ia menunjuk nunjuk pintu keluar dari ruangannya. " Keluar cepat dari sini, sebelum aku berteriak dan mengatakan jika kamu sudah melukai aku saat ini. "
Gina terlihat tak main main, ia mempelihatkan amarahnya yang semakin memuncak. " Cepat. "
"Gina."
"Sudah jangan berpura pura sok lugu. Dan jangan pernah mengaku ngaku jika kamu ibuku, asal kamu tahu, aku tidak pernah sedikit pun ingin dilahirkan pada rahim wanita jahat seperti kamu. "
Perkataan yang terdengar menyayat hati, membuat orang yang mendengarnya pasti kecewa, apalagi Bu Tari seorang ibu yang sudah melahirkan Gina.
Bu Tari menangis kembali, kini tangisannya terdengar begitu nyaring, membuat aku tak tega.
"Bu Tari, biar saja antar pulang. "
Bu Tari malah menghempaskan tanganku, padahal aku berusah berniat baik mau membantunya, tapi balasan Bu Tari sangat mengejutkan.
Wanita tua itu berjalan melewatiku dengan sedikit menyenggol tubuh ini, ia membisikkan suatu perkataan. " Aku pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang. "
Deg ....
Sebuah ancaman lagi, mm. Terdengar menantang, dengan sigap tangan ini mengentikan langkah kaki Bu Tari. " Apa tidak terbalik perkataan anda, Ibu Tari. "
"Kamu jangan berani. "
Wanita tua itu terburu buru pergi dari hadapanku, ia sedikit menyenggol tubuh ini.
__ADS_1
Alex datang, menghentikan langkah Bu Tari. Suamiku sepertinya sengaja berdiri dihadapan wanita tua itu.
"Menyingkir kamu dari hadapanku. "
Bu Tari tampak murka, saat Alex tak pergi dari hadapannya.
Dimana suamiku semakin sengaja. " Mm, jadi anda datang ke sini, sengaja membuat Gina membenci kami berdua. "
Bu Tari tak menjawab satu patah katapun perkataan Alex, wanita tua itu berusaha mendorong tubuh Alex.
"Cepat menyingkir. "
Alex malah sengaja menghindari tangan Bu Tari yang mulai mendorong tubuhnya. Dimana Bu Tari malah terjatuh ke atas tanah.
"Ahk."
Aku melihat wanita tua itu meringis kesakitan, membuat hati ini tak tega.
"Alex, kamu ini. "
Berusaha menolong Bu Tari, namun Alex menahanku. " Untuk apa kamu menolong wanita jahat seperti dia, tidak ada Guna. "
Bu Tari berusaha bangkit dari atas lantai, ia mencoba berdiri. " Kalian aku tahu akibatnya. "
Wanita tua itu berlari, pergi dari ruangan Gina. Alex yang terlihat puas melihat ekfresi Bu Tari malah tertawa di depan Gina.
"Kalian lihat dia sangat lucu. "
"Hentikan, Alex. "
Menyuruh Alex berhenti, namun ia seperti sengaja malah semakin mengeraskan suara tawanya.
"Kaira, kenapa aku harus menghentikan tawaku ini. "
"Bagaimana pun dia orang tua. "
Tiba tiba saja Gina memotong perkataanku," biarkan saja Kaira, kita pantas mentertawakan wanita tidak tahu diri itu. "
"Kamu lihatkan, apa yang dikataka Gina. "
Menghela napas, berusaha tidak peduli. Alex kini mendekat, merangkul tubuhku. " Kaira, sebaiknya kita nikmati momen kita ini bersama Gina. "
Senyuman terpancar dari bibir Gina, terlihat wanita itu begitu bahagia, " kalian memang serasi. "
Kini aku melihat wajah penuh ke ikhlasan dalam diri Gina, membuat hati ini yakin untuk melanjutkan pernikahan secara negara.
Tangan kekar Alex mulai menyentuh tangan lembut Gina, lelaki yang bergelar sebagai seorang kakak, berterima kasih pada sang adik. "
"Terima kasih Gina, kamu tidak egois pada kakak. Kamu mau melerakan kakak dengan Kaira. "
Gina melepaskan tangan Alex, ia menjawab ucapan kakaknya sendiri, " kenapa berterima kasih, harusnya Gina yang berterima kasih pada Kakak. Karena kakak dan Ibu Gina bisa menghirup udara sejuk lagi di dunia. "
Alex terburu buru mengusap air matanya yang jatuh, ia langsung memeluk sang adik dan berkata, " kamu memang adikku yang terbaik. "
"Ah, kakak bisa aja. Kakak juga, yang terbaik. "
__ADS_1