
Keesokan paginya, Riana yang memiliki jadwal mengantar Shawn dan Shasa pergi ke Psikiater untuk menstabilkan mental anaknya secara tiba-tiba mendengar handphonenya berbunyi saat sedang menunggu Shawn dan Shasa selesai konsultasi.
“Ada apa, Hana? Kenapa kamu menghubungi, Mbak?” tanya Riana yang mengangkat telepon Hana sambil berkendara mobil.
“Mbak jangan pulang dulu. Orangtuanya Mas Kamal sedang ada di rumah bersama adik-adiknya. Mama dan Papa bilang kalau Mbak sedang menenangkan diri tapi tak tau keberadaan Mbak!” ucap Hana dengan nada suara yang rendah dan terdengar cemas.
“Apa? Orangtua Mas Kamal ada di rumah?” tanya Riana dengan ekspresi wajah yang terkejut dan bingung di saat bersamaan.
“Benar, Mbak! Jadi lebih baik Mbak sekarang untuk tidak pulang dulu!” ucap Hana dengan ekspresi wajah yang cemas.
“Baiklah. Mbak mengerti. Hubungi Mbak lagi jika Orangtua Mas Kamal sudah pulang, ya?” tanya Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.
Riana yang sudah bisa menduga bahwa Ibu Wati dan kedua Iparnya akan datang ke rumah orangtuanya setelah mengetahui bahwa dirinya tak ada di rumah sejak kemarin pun tersenyum sinis.
“Maafkan aku Ibu Mertuaku sayang! Aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untukmu. Aku harus menggantikanmu memberi pelajaran kepada anakmu yang melakukan dosa itu.” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.
“Mas Kamal harus mendekam di Penjara selama beberapa hari lagi agar dia bisa merasakan dinginnya Penjara!” ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.
Meskipun Riana telah mengikhlaskan Pernikahannya hancur tapi Riana tetap merasa sedih melihat anak-anak yang dikandung dan dilahirkannya menderita karena harus tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh.
“Hah! Shawn! Shasa! Maafkan Mama! Mama sungguh adalah orangtua yang egois tapi Mama tidak bisa menutup mata dan mengorbankan diri Mama! Mama harap kalian akan memaafkan Mama!” ucap Riana dalam hati dengan wajah yang sedih.
Waktu pun berlalu, Shasa dan Shawn yang telah selesai berkonsultasi ke Psikiater bergegas diantar Riana untuk pergi les dan meninggalkan Riana tanpa kegiatan.
Riana yang berencana pulang ke rumah langsung terdiam saat melihat Ayahnya mengusir sepasang orangtua yang datang ke rumah orangtuanya.
“Pergi! Pergi dari sini! Kami tidak menerima kehadiran kalian di sini!” ucap Pak Tino dengan suara yang lantang dengan wajah yang marah.
__ADS_1
“Pak, tolong dengarkan kami. Kami datang dengan baik-baik. Kami ingin bertemu dengan Riana dan meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan anak kami!” ucap Ibu Irma dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang tak dapat ditahannya.
“Tidak! Anakku tak ada di rumah! Lebih baik kalian pergi dari sini! Aku tidak sudi melihat wajah kalian disini!” ucap Pak Tino dengan mata yang melotot tajam.
Riana yang sebenarnya merasa kasihan kepada orangtua Yonna yang diusir secara paksa oleh orangtuanya tapi Riana yang sadar bahwa orangtuanya jauh lebih sedih dan kasihan pun memilih menutup mata.
Riana yang berencana pulang ke rumah pun melajukan mobilnya ke Penjara untuk bertemu dengan Kamal bersama Putra.
“Put, apakah kau ada waktu? Bisakah kau temui aku di Penjara? Aku ingin bicara dengan Mas Kamal dan membicarakan syarat pembebasannya!” ucap Riana dengan nada suara yang tegas.
“Aku selalu ada waktu untukmu. Baiklah. Kita bertemu di Penjara. Setengah jam lagi aku sampai di sana!” ucap Putra dengan dengan sangat cepat.
“Hmmm, terima kasih!” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang sangat lelah sambil menarik nafas yang panjang.
Riana yang sampai di Penjara tidak menyangka jika Mertuanya Ibu Wati ternyata ada di sana bersama dengan Putri.
“Mbak Riana! Mbak! Aku yakin Mbak pasti akan datang! Mbak pasti mau bertemu dengan Mas Kamal, kan?” tanya Putri dengan terburu-buru.
“Aku memang ingin bertemu dengan Mas Kamal dan aku memang memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Aku harap Ibu dan Putri tidak menggangguku!” ucap Riana dengan wajah dan nada suara yang datar.
Ibu Wati dan Putri yang melihat sikap Riana yang sangat dingin kepada mereka menjadi sangat terkejut tapi tak bisa melakukan apapun karena kendali saat ini ada pada Riana.
“Baiklah, Nak. Ibu tidak akan menghalangimu. Silahkan temui Kamal. Kamal terlihat sangat menyedihkan disana, Nak! Kamal dipukul oleh beberapa Narapidana disana dan wajahnya bengkak sekali saat ini!” ucap Ibu Wati yang mencoba mengambil simpati Riana dengan kata-kata yang memilukan tentang Kamal.
Namun belum sempat Riana mengatakan sesuatu tiba-tiba Putra datang dan menyapa Riana lalu mengajak Riana masuk ke dalam.
“Maaf, Bu. Aku harus pergi sekarang. Pengacaraku sudah datang!” ucap Riana yang melihat ke arah Putra yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Riana yang telah meminta izin kepada Sipir Penjara untuk bertemu Kamal bersama Pengacara pun duduk di kursi yang kosong menunggu kedatangan Kamal.
Kamal yang mengetahui bahwa Riana datang untuk menjenguknya merasa sangat senang dan saat Kamal melihat Riana hal pertama yang dilakukannya adalah meminta maaf.
“Dek, maafkan Mas. Mas tau jika Mas salah. Mas benar-benar minta maaf. Mas khilaf, Dek! Mas janji Mas tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi!” ucap Kamal sambil berlutut di hadapan Riana sambil menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.
Riana yang terkejut dengan tindakan Kamal yang secara tiba-tiba dengan suara yang keras hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu melihat.
“Berdirilah dulu, Mas! Kita bicarakan ini baik-baik!” ucap Riana dengan nada suara yang kesal dan suara yang pelan.
“Tidak! Mas tidak akan berdiri! Mas akan terus berlutut hingga Adek bersedia memaafkan, Mas!” ucap Kamal dengan sifatnya yang keras kepala.
“Mas, berdirilah! Banyak orang di sini dan semuanya melihat kita!” ucap Riana yang sudah mulai tidak nyaman dengan Kamal yang masih berlutut di hadapannya.
“Tidak mau! Mas akan tetap dalam posisi ini hingga Adek mau memaafkan Mas!” ucap Kamal yang terdengar keras kepala.
Riana yang sudah mengetahui akan sifat Kamal karena dirinya telah menghabiskan waktu belasan tahun bersamanya pun menghempaskan tangannya dari genggaman Kamal lalu berdiri.
“Jika Mas tetap ingin berlutut maka berlututlah selamanya! Aku tidak akan memaksa Mas melakukan yang Mas tidak inginkan!” ucap Riana dengan suara yang lantang sambil berdiri yang membuat Kamal terkejut karena dirinya jarang melihat Riana yang sangat marah.
“Aku akan pergi saja dari sini dan perbincangan kita batalkan. Sepertinya Mas membutuhkan waktu lebih lama di dalam Penjara jadi lebih baik Mas tidur saja di dalam Penjara ini beberapa hari atau beberapa minggu bahkan mungkin beberapa tahun!” ucap Riana dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang kesal lalu berjalan pergi meninggalkan tempatnya.
Kamal yang menyadari kesalahannya yang memaksa Riana menuruti keinginannya dengan caranya selama ini memaksa Riana bergegas berdiri dan menghentikan Riana.
“Tu-Tunggu, Dek! Maafkan Mas! Mas tau Mas salah! Mas mohon maafkan Mas! Mas melakukan itu karena Mas merasa sangat tidak nyaman tinggal di dalam Penjara ini!” ucap Kamal yang mencari alasan dan pembenaran dari tindakannya.
“Plak! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Mas!” ucap Riana dengan suara yang tinggi dengan mata yang tajam dan tangan yang mengancam ke arah Kamal.
__ADS_1
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutannya? Apakah perbincangan antara Kamal dan Riana akan berakhir baik? Apa yang ingin dibicarakan Riana dengan Kamal? Apakah Riana pada akhirnya akan memaafkan Kamal? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..