
Ceklek.
Pintu terbuka, sosok kedua insan yang tak di inginkan kedatangannya sudah berdiri di abang pintu. Keduanya memperlihatkan lekuk senyum pada Gina, dimana wanita berambut pendek itu begitu enggan membalas senyuman dari keduanya.
Alex sudah menduga, jika adiknya akan mempelihatkan raut wajah tak bersahabat. Ia melirik sekilas ke arah Kaira.
"Kita katakan. "
Kaira menganggukan kepala dengan penuh keyakinan, jika Gina akan menyetujui keinginannya.
"Ada apa kalian datang ke sini?"
Pertanyaan Gina, membuat Alex ragu mengatakan keinginan Kaira.
Namun dengan begitu tenangnya, kaira memegang tangan Alex. Menyakinkan sang suami untuk berterus terang pada sang adik.
"Kenapa malah diam, apa yang ingin kalian katakan?"
Keduanya malah saling melirik satu sama lain, mulai berterus terang, " Kakak dan Kaira, sudah merencanakan untuk pergi dari rumah ini. Dan menetap di rumah Kaira. "
Gina berusaha tenang, tidak terpancing emosi dan kesal akan perkataan kakaknya sendiri. Ia menundukkan wajah, enggak menatap kedua orang yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Sang kakak yang tak melihat kemarahan adik angkatnya itu berucap. " Gina, apa kamu mengijinkan?"
Menghela napas, Gina tak bersuara sedikit pun, ia lebih banyak diam.
"Gina."
Asih mengerti perasaan majikannya, ia berusaha menjawab perkataan Alex. " Maaf Tuan Alex. Sepertinya Nona Gina belum siap menjawab keinganan kalian. "
"Mbok Asih, bisa tidak. Jangan ikut campur urusan saya dan adik saya, biar Gina yang menjawab. "
Asih mulai tak bersuara, ia menundukkan wajah. Setelah mendapatkan sebuah teguran dari Alex.
"Maafkan saya. "
"Gina, kakak. "
Gina menghentikan ucapan sang kakak, " cukup kak. Jangan mengelak, harusnya kakak itu bisa mengerti perasaanku. Kakak tahu sendirikan, ibu baru saja meninggal dunia, aku sedang mengandung anak seorang b*jingan, kakak harusnya paham, posisi aku sekarang. "
Alex terlihat lemah setelah Gina mengandalkan perasaannya dari pada akalnya, ia menatap ke arah Kaira.
Dimana Kaira berusaha keras mengajak suaminya untuk tinggal di rumahnya. " Alex, aku tetap ingin mengajak kamu tinggal di rumahku. "
__ADS_1
Memegang kedua tangan Alex dengan begitu erat, Kaira kini menyakinkan sang suami , untuk tetap pada tujuan awal, obrolan tadi.
"Kaira, jangan pernah paksa kak Alex untuk ikut dengan kamu Kaira. Kamu tahu sendirikan kemarin kita baru saja berduka atas kematian ibu Parida. "
"Iya, aku tahu itu Gina. Hanya saja, aku merasa tak enak jika tinggal di sini terus menerus, sedangkan di sana rumahku tak aku tempati. "
"Aku tahu itu Kaira, apa kamu tidak mau memberi aku waktu sebentar saja. Untuk bisa menghilangkan rasa sepi dan sedih ini. "
Jika seperti itu pasti kedua wanita akan mengandalkan perasaan.
"Kak Alex, apa kak Alex tidak kasihan terhadap aku, adik kakak sendiri. "
Kaira tak mengerti, kenapa Gina begitu ngotot, melarang sang kakak untuk tinggal bersama istrinya.
Karena kemarin, bukannya Gina sudah ikhlas melepaskan Alex bersama Kaira. Tapi sekarang setelah pernikahan itu terjadi, Gina malah memperumit ke adaan.
"Baik, kakak akan tinggal di sini bersama kaira, setelah empat puluh hari kematian ibu. "
Alex menarik tangan istirnya, membawa Kaira pergi dari hadapan Gina.
"Alex."
__ADS_1
Kaira berusaha melepaskan tangan suaminya, ia mendorong tubuh Alex, lalu berkata. " Alex, kenapa kamu tidak konsisten?"