
Riana yang ingat jika Kamal telah berencana untuk memanjakan Yonna dengan uang yang dipinjam di Bank pun memutuskan untuk mempercepat rencananya.
"Mas, apakah pengajuan pinjamannya sudah disetujui?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan rasa ingin tau yang tinggi.
"Pengajuannya sudah diterima dan tinggal menunggu pencairannya saja dalam 2 x 24 jam." ucap Kamal dengan suara yang santai.
"Agh, benarkah itu Mas? Mas pinjam seratus juta, kan?" tanya Riana dengan tatapan mata yang menyelidik mencari tau perubahan ekspresi wajah Kamal meski hanya sebentar.
"Ya, seperti yang Adek katakan. Hmmm, bagaimana dengan mobil yang dipasarkan? Apakah sudah ada yang menawar?" tanya Kamal yang kemudian menjadi penasaran.
"Mobilnya sudah ada yang bertanya tapi harga yang ditawarkan oleh mereka terlalu rendah, Mas. Jadi Adek memutuskan untuk menunggu sampai uang pinjam di Bank sepenuhnya cair!" ucap Riana dengan eskpresi wajah yang dibuat tidak berdaya dengan keadaan.
"Agh, jangan dijual jika harganya terlalu rendah, Dek!" ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang serius sambil mengelus rambut Riana dengan lembut dan tersenyum ramah.
Riana yang tak nyaman di dekat Kamal pun pergi masuk ke dalam kamar dan membiarkan Kamal duduk bersantai bersama kedua anaknya.
Riana yang masuk ke dalam kamar pun membuka handphone mata-matanya dan baru menyadari bahwa sejak awal Kamal ternyata sedang berbalas pesan dengan Yonna.
"Dasar pria b***sek! Bahkan saat bersama Istri dan anak-anakmu, kau masih berhubungan dengan wanita j*lang itu!" ucap Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal sambil melemparkan handphone itu ke atas tempat tidur.
Meskipun kesal dan marah, Riana yang penasaran dengan isi pesan antara Kamal dan Yonna tetap membaca semuanya berharap mendapatkan informasi yang berguna.
__ADS_1
Namun tak ada satu pun informasi yang berguna muncul kecuali kata-kata manis yang ditulis Kamal untuk Yonna dan foto-foto seksi yang dikirim oleh Yonna.
"Hah! Kau memang seorang p***cur! Kau bahkan tanpa rasa malu mengirimkan foto tubuhmu tanpa busana kepada pria lain yang bukan suamimu!" ucap Riana dengan suara yang rendah dengan tatapan mata yang jijik lalu memutuskan untuk menyimpan kembali handphone mata-mata lalu berpura-pura tidur saat Kamal masuk ke dalam kamar.
Kamal yang sedang menegang karena foto-foto seksi yang dikirimkan oleh Yonna kepadanya berniat meminta jatah batin kepada Riana tanpa diduga Kamal mendapati Riana telah tertidur dengan sangat pulas.
"Hah! Riana sudah tidur sekarang lalu bagaimana aku melepaskan hasrat bir*hiku ini!" ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang frustasi dengan suara yang rendah tapi masih dapat didengar oleh Riana yang pura-pura tidur.
Riana yang mendengar pintu kamar mandi tertutup dan terkunci pun membuka matanya kembali lalu menatap jijik ke arah Kamal.
"Aku tau ini berdosa karena aku berpura-pura tidur saat Mas ingin menyalurkan hasratnya tapi aku sungguh tidak sanggup melayani suami yang terbayang tubuh wanita lain di dalam pikirannya. Tolong ampuni hambamu ini yang penuh dosa, Tuhan!" ucap Riana dengan wajah yang sedih dengan air mata yang tanpa sadar keluar dari pelupuk matanya.
Riana yang penasaran pun membaca isi pesan tersebut dan menjadi semakin marah dan mesal saat mengetahui bahwa Yonna ternyata sangat pandai membujuk Kamal.
"Hah, dasar p***cur! Kau menggunakan tubuhmu untuk membuat Kamal mengeluarkan uangnya dengan mudah untuk memuaskan keinginanmu!" ucap Riana dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.
Di saat Riana sedang kesal saat membaca pesan di handphone mata-mata tiba-tiba handphone pribadinya berbunyi dimana Kamal menghubunginya melalui sambungan telepon wh*t sh*pp.
"Dek, uang pinjaman Banknya sudah cair tapi tidak bisa sepenuhnya masuk karena uangnya sudah dipotong sebagai uang jaminan jika tak terbayar sebulan!" ucap Kamal yang menginformasikan berita itu kepada Kamal.
"Berapa jumlah uang yang masuk, Mas?" tanya Riana dengan nada suara yang terdengar penasaran dan tatapan mata yang menyipit tajam.
__ADS_1
"Hmmm. Uangnya hanya masuk sekitar sembilan puluh lima juta." ucap Kamal dengan santai dengan ekspresi wajah yang berubah serius.
"Hmmm, Dek, Mas ditugaskan untuk dinas keluar kota minggu depan tapi semua biaya kita yang tanggung dulu nanti baru diganti oleh Bos!" ucap Kamal dengan nada suara yang terdengar menyedihkan.
"Jadi maksud Mas apa?" tanya Riana dengan terus terang dan ekspresi wajah yang curiga lalu dengan cepat membuka handphone satunya dengan satu tangan mencari tau kebenaran dari ucapan Kamal.
"Hmmm, Mas mau pakai uang pinjaman ini dulu nanti setelah diganti oleh kantor nanti Mas langsung kasih Adek uangnya!" ucap Kamal dengan nada suara yang terdengar canggung.
"Agh, kita bicarakan itu nanti di rumah saja, Mas. Aku sedang mengajar sekarang." ucap Riana yang mencoba menghindar untuk mengulur waktu agar bisa mengetahui rencana Kamal sebenarnya.
"Hmmm, baiklah. Mas tutup dulu ya telponnya. Adek mengajar saja!" ucap Kamal dengan nada suara yang manis dan lembut.
Riana yang tak bisa mengendalikan dirinya pun memberikan tugas latihan kepada siswa lalu turun ke bawah menuju kantor untuk menenangkan diri.
Riana yang membaca ulang pesan teks Kamal dan Yonna beberapa kali akhirnya mengetahui bahwa Yonna berencana mengajak Kamal untuk liburan dan menginap di Hotel selama beberapa hari.
"Hah! Dinas keluar kota? Ini yang kamu bilang Dinas, Mas. Iya benar kamu Dinas keluar untuk kerja tapi bukan kerja yang diberikan perusahaan yang kamu kerjakan tapi justru kamu kerjain Mbak Yonna di Hotel itu sepuasnya!" ucap Riana yang marah dengan ekspresi wajah yang kesal di dalam kantor saat tak ada seorangpun di dalam.
"Aku harus segera menjual mobil itu dan mengambil semua uang yang ada di rekening Mas Kamal lalu kutinggalkan pria tidak tau malu sepertimu, Mas!" ucap Riana yang tak bisa menahan kemarahannya.
#Bersambung#
__ADS_1