Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 103


__ADS_3

Brukk ....


Untuk yang kedua kalinya, mobil Ferdi kena hantaman keras dari pengendara motor. Entah hari sial apa yang terus menganggunya.


Ferdi terbangun, melihat orang yang sudah menabrak mobilnya. Ia mengucek ngucek kedua mata, bangun membuka pintu mobil.


Melihat di luar orang itu tergeletak kesakitan, lelaki tua yang tak berdaya meminta pertolongan pada Ferdi.


"Tolong."


Ada rasa kesal menyelimuti hati Ferdi, karena depan mobil rusak. Ia berusaha tetap tenang, membuang rasa ego dalam dirinya, membantu si pengendara untuk segera mendapatkan pertolongan medis.


Orang orang yang melihat kejadian itu, datang mengumpul. Melihat lelaki tua tak berdaya itu, bersimpu darah.


Ferdi mau tidak mau harus bertanggung jawab, walau bukan kesalahnya, ia meminta pertolongan pada warga untuk memasukkan lelaki tua itu ke dalam mobilnya.


"Ahk, sialan, kenapa aku harus mengalami hari sial seperti ini. " Ferdi menggerutu kesal dalam hati.


Sampai kedua matanya baru menyadari, ada beberapa pengendara motor, sedang melihat ke arahnya dari kejauhan.


Tak lupa berterima kasih, Ferdi terburu buru masuk ke dalam mobil. Membawa lelaki tua itu ke rumah sakit.


Namun hal yang tak terduga dan tak diinginkan, kini di rasakan Ferdi. Pengendara motor yang terlihat seperti pereman itu, mengejar mobil Ferdi.


Melihat dari kaca, mereka menyuruh Ferdi berhenti.


Sedangkan dengan lelaki tua yang duduk tak berdaya itu memohon pada Ferdi, "tolong saya. Saya tidak mau mereka membawa saya. "


Karena kasihan terhadap lelaki tua itu, Ferdi menancabkan gas dengan kecepatan tinggi. Ia melewati beberapa mobil dengan lihainya.


Terburu buru membawa lelaki tua itu ke rumah sakit.


Melihat kembali pada kaca mobil, beberapa pereman tidak lagi mengejar mobil Ferdi. Situasi yang dihadapan Ferdi kini aman, ia dengan santainya membawa lelaki tua itu ke rumah sakit.


"Terima kasih, nak. "


Ferdi baru saja sampai di tempat tujuan, ia meminta bantuan para suster untuk membantu lelaki tua yang belum ia ketahui namanya.


"Suster, tolong. "

__ADS_1


Dengan sigap para suster datang, membawa lelaki tua itu untuk di tangani.


Sedangkan Ferdi hanya bisa menunggu, di luar ruangan.


Duduk, menyenderkan punggung pada kursi. Ferdi mulai menghela napas. Terasa melelahkan, sampai keringat membasahi jidat.


Setengah jam menunggu, suster datang menghampiri Ferdi, memberi tahu ke adaan lelaki tua itu.


"Maaf sebelumnya, anda siapa ya pasien?"


"Saya hanya membantu pasien di jalan!"


"Kalau begitu saya hanya ingin memberi tahu, kalau keadaan pasien sudah membaik, hanya luka kecil saja yang dialami pasien , sekarang pasien bisa bapak temui. "


"Oh baik kalau begitu. "


Sebenarnya menemui lelaki tua yang tak ia kenal sama sekali, sangat membuang buang waktu Ferdi.


Banyak urusan kantor yang belum ia kerjakan, terlebih lagi urusan tentang Gina.


Karena hati nurani berkata lain, Ferdi lebih mengutamakan keselamatan orang lain. Ia tidak mau jika dirinya dicap sebagai yang tega dan tak punya rasa kasihan.


"Terima kasih, nak. Kamu sudah menyelamatkan bapak. Bapak berhutang budi sekali pada kamu, sebenarnya bapak sedang di kejar oleh orang orang yang menagih hutang pada bapak, mereka mengacam bapak jika tidak bayar hutang sekarang, bapak akan dibunuh. "


Tak ada rasa iba sedikitpun pada lelaki tua itu, Ferdi kini menasehatinya. " Itu kesalahan bapak, kenapa bapak tidak bayar hutang dengan tepat waktu, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Sekarang yang rugi bapak sendiri. "


Lelaki tua itu terlihat menyadari kesalahannya sendiri, ia mengambil sebuah poto dalam saku celananya.


Menunjukkan pada Ferdi. " Kamu bisa bantu bapak, cari wanita ini?"


Ferdi yang terlihat tak suka, menolak. " Maaf pak, saya sudah tidak mau berurusan dengan bapak lagi, saya pamit. "


Lelaki tua itu menghentikan langkah kaki Ferdi, memegang legan Ferdi dengan berucap, " hanya satu kali, saya ingin menemui istri saya, dan mencari keberadaan anak saya. "


"Itu bukan urusan saya, dan lagi bapak bukan siapa siapa saya lagi. "


"Nak, memang kamu bukan siapa siapa saya, tapi saya mohon, kali ini saja. Sudah lama saya tidak bertemu dengan istri saya, setelah kejadian perselingkuhan yang dilakukan istri saya. Dimana istri saya memberikan bayi yang jelas jelas anak kandung saya sendiri pada lelaki selingkuhannya."


Deg ....

__ADS_1


Cerita yang terdengar menyedihkan, " Nak, saya mohon. Dengar dengar, istri saya masuk ke dalam penjara dan selingkuhannya meninggal dunia."


Menghempaskan tangan lelaki tua itu. " Maaf pak, saya tidak bisa, banyak urusan yang harus saya selesaikan. "


"Tolong lah nak, saya tidak punya siapa siapa lagi. Harapan saya anak kandung saya, saya tidak mau banyak lagi korban karena kebohongan istri saya."


Menghela napas, berusaha menenangkan diri. Dimana lelaki tua itu menyebut nama istrinya.


"Nama istri saya Tari, dan anak saya. "


Lelaki tua itu kembali menunjukkan poto seorang gadis. " ini. "


Kedua mata membulat melihat poto gadis yang ia kenal. " Gina. "


"Kamu tahu nama gadis itu, saya mencuri poto gadis itu dari tas istri saya."


"Jadi, kamu ayah Gina. "


"Ya, saya ayah kandung dari gadis itu. Sudah lama saya mencari keberadaan mereka. "


Masih tak percaya, Ferdi yang sudah tahu awal cerita dari Gina, kini di pertemukan dengan lelaki tua yang ternyata ayah kandung Gina.


Sangat kejam permainan dan kejahatan yang dilakukan Bu Tari, sampai banyak korban yang ia lukai hatinya.


Mengepalkan kedua tangan, " kenapa anda tidak bisa menjaga istri anda sendiri. "


"Saya salah, saya tidak tahu. Kalau istri saya mempunyai hubungan dengan seorang lelaki, dan mengakui anak kami kepada lelaki selingkuhannya. "


"Semua sudah terlambat, Bu Tari sudah mengatakan semuanya. Setelah Orang tua Kak Alex meninggal dunia. "


Menundukkan wajah, " saya menyesal, karena tak bisa mendidik istri saya dengan baik."


"Bukan bapak yang tak bisa mendidik istri bapak dengan baik, tapi Bu Tari yang terlalu membesarkan kesalahan orang lain, terobsesi akan balas dendam untuk membuat dirinya puas. Tapi pada kenyataanya, Bu Tari sendiri yang terkena imbasnya. "


"Kamu tahu dengan istri saya. "


"Jelas saya tahu, anak bapak pun saya tahu. "


Kedua mata lelaki tua itu berbinar binar, membuat ia bersemangat sekali." Benarkah?"

__ADS_1


__ADS_2