
Kedua wanita itu menatap ke arah sumber suara yang memanggil Gina. Sosok yang sudah lama tak bertemu kini datang kembali, mempelihatkan sebuah senyuman manis.
"Ferdi, kamu?"
Lelaki yang dulu di perintahkan Gina untuk berpura pura jadi pacarnya, " hm, ternyata kamu masih ingat denganku!"
Gina tampak tak senang dengan kehadiran Ferdi, ia merasa terusik. Menundukkan wajah berusaha menghindari tatapan lelaki berwajah tirus itu.
Ferdi tampak memanfaatkan situasi, ia melihat perut Gina yang terlihat membesar.
"Waw, sudah lama kita tidak bertemu lagi, tahu tahu perut kamu sudah buncit. "
Mendengar sindiran dari Ferdi membuat Gina menutup perutnya dengan tangan kanan.
"Kalau tak ada yang penting, sebaiknya kamu pergi dari sini. "
Mengusir secara kasar dihadapan Ferdi, Gina tak mempedulikan perasaan lelaki dihadapannya. Ia ingin menenangkan diri dari kesedihan dan masalah yang menimpanya.
"Mm, baiklah. Kalau kamu tak suka dengan keberadaanku, aku akan pergi. "
"Bagus, jika kamu sadar diri."
Ferdi merogok saku celananya, ia mempelihatkan sebuah cincin permata yang indah untuk Gina.
Membungkukkan badan, cincin itu tampak bersinar terang dan indah.
Membuat Asih yang melihatnya begitu senang, " sebenarnya aku ingin melamar kamu, tapi ternyata kamu sudah bunting dan punya suami. Jadi, ini aku berikan sebagai hadiah kenangan dariku. Tolong terima Gina, walau dulu kita penuh dengan kepura pura. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya aku menyayangi kamu."
Deg ....
Gina terkejut dengan penyataan Ferdi, ia memberanikan diri menatap wajah yang selalu membantunya itu.
Dimana wajah tampan yang Ferdi terlihat bercahaya, dengan tampilan berbeda. Ferdi terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia mengenakan jas kantor dengan mobil mewah yang terparkir di luar gerbang rumah Gina.
Lelaki berwajah tirus itu menegakan wajahnya, membenarkan jas, tersenyum dan berpamitan pulang kepada Gina.
"Ah, terima kasih jika kamu mau menerima cincin dariku. Aku doakan kamu bahagia. "
__ADS_1
Melabaikan tangan dengan berjalan pergi keluar dari pintu gerbang. Sosok yang tak disukai Gina, ternyata sudah menaruh harapan padanya.
Asih membuka suara setelah melihat kepergian lelaki bernama Ferdi itu, ia berjongkok dihadapan sang majikan.
"Nona Gina kenapa tidak jujur. "
Gina terus memandangi cincin permata yang ada digenggaman tangannya itu, kedua matanya terlihat berkaca kaca.
Asih yang selalu menjadi penghibur, kini mengambil cincin yang ada di genggaman tangan Gina. Ia dengan sengaja memasangkan cincin itu pada jari manis Gina.
"Tuh kan, cocok. Sama Non Gina, ukurannya pas."
Gina tampak tak suka dengan apa yang dilakukan Asih, ia mencabut cincin dari jari manisnya.
"Loh kenapa non. "
Mencoba membuka cincin yang masih menempel pada jari manis, Gina sedikit kewalahan." Kenapa susah ya mbok. "
"Ah, masa sih non."
Asih perlahan membuka cincin yang masih terpasang pada jari tangan Gina.
Saat dicoba, " loh, kok jadi susah gini. "
"Tuh kan, gara gara mbok sih. "
Asih menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ia terlihat menyesal karena sudah lancang memakaikan cincin pada jari manis majikannya.
Dimana cincin itu sekarang tak bisa dibuka. " Aduh gimana ya non, mbok juga heran. Biar mbok bawa air sabun, buat ngelepas tuh cincin. "
"Ya udah cepat sana mbok, bawa air sabunnya."
Wanita tua itu pergi dari hadapan Gina, terlihat ia berlari tergopoh gopoh, mengambil sabun untuk melepaskan cincin yang masih terpasang pada jari majikannya.
"Coba non. "
Berusaha melepaskan dengan mengusap air sabun, namun tak berhasil juga. Asih mulai terpikirkan dengan minyak goreng.
__ADS_1
"Ah, minyak goreng. "
Terkejut mendengar nama minyak goreng di sebut, Gina melepaskan pegangan tangan Asih.
"Masa iya mau pake minyak goreng. Nanti rusak dong tangan Gina. "
"Nggak kok non, cuman di oles doang. Nggak di goreng. "
Menghela napas, Gina mengira jika tangannya akan dimasukan pada wajan untuk digoreng.
Mencoba lagi.
Namun sialnya, tak berhasil. Asih malah tertawa terbahak bahak, ia berucap." Mungkin jodoh Non Gina, makanya susah dibuka. "
"Apaan sih mbok ini, kalau ngomong suka ngaur, aku kan sudah nggak kaya dulu, aku cuman korban peleceh* n saja. "
Kesedihan kini terlukis dari raut wajah Gina, kedua mata pada akhirnya mengeluarkan rintikan air.
Dimana Asih merasa menyesal karena sudah memulai pembicaraan dengan membuat kata kata candaan, yang malah menyakiti hati sang majikannya.
Mengusap air mata yang terus jatuh, " Maafkan mbok, mbok nggak bermaksud menyakiti hati, non. "
Gina berusaha tersenyum lagi, ia memeluk Asih dengan lembut, dimana wanita tua itu berusaha menenangkan Gina dengan mengusap punggung majikannya dan berkata. " Nona jangan sedih terus. Kasihan bayi dalam kandungan nona, mbok janji tidak akan bercanda lagi dan membahas lelaki tadi. "
"Sudah lah mbok, mbok nggak salah. Akunya saja yang baper. "
"Non, jangan sedih. Lagi ya, Mbok minta maaf banget. "
"Aku sudah maafin mbok kok. "
Gina mengusap perutnya berulang kali, ia berucap dengan air mata berlinang.
"Mbok, kalau anak ini lahir. "
Asih sudah menebak alur pembicaraan Gina, " sudah Non Gina jangan mikir yang aneh aneh. Anak ini tidak akan menderita walau tak punya ayah. Dia akan tumbuh jadi orang hebat dan pintar juga baik seperti Non Gina ini. "
Gina kembali tersenyum dibuat Asih, " Mbok ini bisa saja kalau menghibur orang. "
__ADS_1