
Sebenarnya yang aku takutkan sekarang itu, keselamatan Gina, jika Gunawan mengetahui kehamilan wanita yang sudah ia nodai.
Sampai di tempat tujuan, aku turun dengan penuh keraguan, menatap ke arah Gina yang terlihat begitu yakin, jika Gunawan akan berubah setelah mengetahui kehamilannya.
Begitu bersemangatnya Gina melangkahkan kaki masuk ke dalam penjara, di mana tangan ini spontan menahan tangan sahabatku.
"Gina."
Wanita berambut pendek itu membalikkan badannya menatap ke arahku, " Kenapa lagi, Kaira?"
Alex kini berdiri di sampingku, terlihat kedua tangannya merogoh saku celana. Aku yang penuh keraguan kini berucap, " aku tak yakin jika Gunawan akan ...."
Belum perkataanku terlantar semuanya, Gina melepaskan pegangan tanganku. " Ayolah Kaira apa ya lagi yang kamu ragukan, sejahat apapun Gunawan pasti ada sisi baiknya. "
Aku tak mengerti dengan pola pikiran Gina saat ini, entah apa yang merasuki pikirannya, sampai ia begitu yakin jika Gunawan memiliki sisi baik.
" Sebenarnya kakak setuju, dengan perkataan Kaira, tak usah lah kamu mengatakan kehamilanmu itu kepada Gunawan. Tak ada guna, Kakak takut malah dia menyakiti hati kamu ke Gina. "
kedua mata wanita yang menjadi sahabatku itu terlihat berkaca-kaca, seperti tak suka dengan perkataan Alex. " Tapi kak, Gunawan ayah kandung dari anak ini, "
"Gina, kakak tahu. Gunawan itu ayah kandung dari anak ini, namun ada baiknya kamu tak usah beri tahu dia, kakak takut. Dia malah memangpaatkan masalah ini. "
Gina menundukkan pandangan, ya terlihat kebingungan, " Gina, percaya pada kakak. "
wataknya yang keras kepala, membuat dia lebih memilih jalannya sendiri. " Maaf, kak. Gina tetap pada pendirian Gina untuk memberi tahu Alex. "
Alex gagal menghentikan Gina yang tetap ingin menemui Gunawan, di mana langkah wanita itu begitu cepat meninggalkan aku dan Alex.
"Ya ampun Gina. "
Aku menyuruh Alex untuk segera mengejar adiknya, menahan Gina agar tidak menemui Gunawan.
Namun sangat disayangkan, Gina sudah menemui Gunawab, di saat polisi sedang membawanya.
"Gunawan."
Aku melihat panggilan Gina membuat Gunawan menghentikan langkah kakinya, Gina berjalan memberanikan diri mendekati lelaki yang sudah menodainya.
"Kamu."
Tampak wajah beringas Gunawan masih terlihat, aku yang tak suka dengannya masih merasa jijik.
"Kamu itu. "
"Kamu masih ingat padaku. "
Menghampiri Gina berusaha membujuknya untuk pergi dari hadapan Gunawan, " Gina. Ayo kita pergi dari sini. "
Namun sayangnya Gina malah menghempaskan kedua tanganku yang memegang bahunya, " Gina, kamu ini. "
"Sudah Kaira, jangan buat aku kesal. Ini masalahku, tolong jangan ganggu aku untuk saat ini, aku ingin berbicara dengan Gunawan. "
Mendengar perkataan Gina seperti itu, membuat aku terpaksa sedikit menjauh.
"Gina, aku. "
Gunawan malah tersenyum di saat dia melihat Gina, peduli padanya.
"Pak, tolong. Saya ingin mengobrol dengan dia. "
Polisi menganggukkan kepala, menjawab perkataan Gina. " Baik, kalian bisa bertemu di ruang pertemuan. "
Alex mendekat ke arah sang adik, berusaha membujuk Gina untuk tidak menemui Gunawan di ruangan pertemuan.
"Gina, kita pulang saja. "
Gina mengabaikan ajakanku dan juga Alex, dia mengikuti langkah polisi dan juga Gunawan. Dimana aku yang begitu mengkhawatirkan sahabatku terpaksa mengikuti langkah Gina dari belakang.
"Kaira, tolong kali ini saja kamu jangan mengikutiku, biar aku saja yang menangani masalahku sendiri. Aku tidak mau ada campur tangan orang, akan masalahku saat ini. Mengertilah. "
Karena watak keras kepalanya itu membuat aku menghentikan langkah kaki, berdiri mematung melihat langkah kaki Gina dan juga Gunawan semakin menjauh.
Alex yang berada di samping kukini merangkul tubuh ini," sudah, sebaiknya kita turuti saja keinginan Gina. "
"Alex, aku takut. "
Alex memeluk tubuhku dengan erat, " kenapa harus takut, kan ada polisi yang berjaga. "
"Bukan itu masalahnya, Gunawan itu lelaki yang licik, ia bisa saja mencari cara untuk melakukan kejahatan. "
__ADS_1
Alex perlahan melepaskan pelukannya, ia begitu menyakini diriku untuk tidak berpikir negatif. " Sudah, kamu jangan kuatir, biar nanti aku tanya pada Gina, apa jawaban Alex. Saat ia mengetahui jika Gina sedang mengandung anaknya. "
Alex membawaku pergi, ia menyuruhku untuk tetap sabar dan menunggu.
"Ayo. Kita tunggu di kursi itu. "
Aku hanya bisa pasrah dan menurut, walau aku tak yakin jika Gina akan baik baik saja setelah keluar dari ruangan.
Setelah duduk, Alex menatap perlahan ke arahku. " Kamu masih memikirkan Gina. " Menganggukan kepala dengan penuh kecemasan.
Alex mengusap pelan kepala rambut ini. Ia terus menghiburku untuk tidak cemas dan sedih lagi, memikirkan ke adaan Gina yang masih berada di ruang pertemuan.
"Aku yakin, Gina anak yang kuat, dia bisa menyelesaikan masalah. Kalau Si Gunawan macam macam, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku beri dia pelajaran."
Beberapa menit menunggu. Akhirnya Gina keluar dari ruangan petemuan. Terlihat ia tampak senang, dengan sebuah lekukan senyuman yang ia perlihatkan dari kejauhan.
"Kaira, kak Alex. "
Aku berusaha menyembunyikan kesedihan dan rasa cemasku di depan Gina, perlahan mempertanyakan apa yang dikatakan Gunawan.
Berkata dengan hati-hati karena takut melukai perasaannya, mendekat melihat raut wajah penuh kegembiraan yang ditampilkan oleh Gina di hadapanku.
"Gina, apa yang dikatakan Gunawan, sampai kamu keluar dari ruangan pertemuan wajah kamu begitu Berseri dan kamu terus tersenyum dari tadi? Apa dia tidak mengatakan hal aneh kan?"
"Kamu tahu, Kaira. " dengan tangan yang mengelus perut berulang-ulang, tak lupa sebuah senyuman kegembiraan dan juga kebahagiaan Gina tampilkan dihadapanku. Ia kembali berucap. " Gunawan menerima anak dalam kandunganku. "
Bukannya rasa bahagia yang aku tampilkan di hadapan Gina, perasaan aneh dan juga heran jelas-jelas Gunawan pastinya tidak akan menerima bayi dalam kandungan Gina.
Karena aku tahu betul, jika bukan Gunawan saja yang memperk*sa Gina, melainkan beberapa orang lain.
"Gunawan menerima bayi kamu? Ini aneh. " ucapku semakin mengkhawatirkan keadaan Gina.
"Kok aneh. Harusnya kamu itu senang kalau Gunawan menerima bayi yang aku kandung ini, sebagai anaknya, karena anak ini tidak akan sedih karena mempunyai sang ayah." Ketus Gina merasa kesal dengan apa yang aku katakan.
"Hah, benar juga, mungkin karena takut kamu kenapa kenapa. Aku jadi berpikir kemana mana. "
Alex terlihat begitu penasaran, ia mempertanyakan lagi apa yang dikatakan Gunawan kepada Gina, " Gina, apa lagi yang dikatakan Gunawan pada kamu? Apa dia tidak mengacam kamu?"
" Kakak ini kalau ngomong ngaur deh. Jelas jelas Gunawan akan menikahiku, bertanggung jawab dengan kehamilanku. Asalkan Kaira mau mengeluarkan dia dari dalam penjara. "
Deg ....
"Kaira."
Kedua tangan Gina kini memegang tanganku, ia begitu bersemangat memohon kepadaku untuk secepatnya mencabut tuntutan Gunawan.
"Kaira, kamu mau kan mengeluarkan Gunawan. Dia akan bertanggung jawab, kalau kamu mengeluarkan Gunawana dari penjara ini. Kamu tidak keberatan dengan permintaan kecil ini. "
Ragu, dan masih tak percaya yang ada dalam pikiran ini. " Aku tak yakin Gina, bisa saja itu hanya omong kosong belakang, kamu tahu sendirikan betapa jahatnya Gunawan pada keluargaku. Aku takut kamu kenapa kenapa kalau Gunawan aku bebaskan dari penjara ini. Aku takut dia malah menyakiti kamu dan bayi dalam kandungan kamu ini."
Dengan begitu yakinnya, Gina membujukku kembali. " Ayolah Kaira, aku mohon kepada kamu. Aku ingin anak dalam kandunganku ini memiliki seorang ayah. "
Aku berusaha meyakini Gina untuk tidak terpancing akan perkataan dan juga rayuan Gunawan, yang malah nantinya akan membuat dia menyesal.
"Maaf Gina, sepertinya aku tak bisa, melakukan semua itu."
Melepaskan pegangan tangan Gina, terlihat sahabatku itu begitu kecewa dengan keputusanku.
"Kaira. Apa kamu tidak mau melihat aku dan juga anakku bahagia. "
"Bukan begitu Gina, masih ada cara lain untuk bahagia. Kamu bisa menemukan kebahagian tampa harus menyatukan diri kamu dengan Gunawan. Aku tak setuju. "
Mengerti tidaknya Gina dengan ucapanku, aku sebagai sahabatnya tak ingin membuat Gina terluka, karena memilih jalan yang salah.
"Kaira, kenapa kamu berpikir seperti itu. Setiap manusia pasti bisa berubah asal di beri kesempatan, maka dari itu aku mohon pada kamu, bisakah kamu. "
Belum perkataan Gina terlontar semuanya, aku berusaha menghindar. Tak mau lagi mendengar permohonan Gina.
"Kaira."
Mengbaikan ucapan zina yang terus memanggil mamaku, aku mulai meraih tangan Alex menyuruhnya Untuk mengantarkan aku.
"Antarkan aku pulang. "
Gina masih berdiri mematung, dimana Alex terlihat bingung. " Gina, ayo kita pulang. "
Gina malah memperlihatkan kemarahannya di hadapanku, terlihat dadanya naik turun. " Aku tidak mau pulang, sebelum kaira menyetujui keinginan. "
Melepaskan tangan Alex, " mau kamu memohon, bersujud, atau meminta berulang kali. Aku tidak akan mengabulkan keingan kamu itu Gina. Aku dengar perkataanku ini. "
__ADS_1
"Kaira, kenapa kamu begitu egois. "
"Aku bukan egois, tapi aku peduli pada keselamatan kamu. "
"Bukannya sudah aku katakan, Gunawan akan berubah setelah ia di keluarkan di dalam penjara. "
"Itu hanya perkataannya saja, bualan omong kosong Gunawan. Mana mungkin dia membuktikan omongannya, aku yakin dia hanya ingin memanfaakan kamu saja Gina. "
Gina sepertinya tak terima dengan perkataanku, Iya begitu lancangnya mengangkat tangan kanan dan,
Plakk ... Satu tamparan melayang pada pipi kiriku, tamparan yang terasa menyakitkan, yang baru saja aku rasakan dari tangan sahabatku.
"Kamu tega. Kamu tidak bisa melihat orang bahagia sedikit pun. "
"Terserah kamu. "
Pergi dari hadapan Gina dan Alex, dimana suamiku berusaha menahan tangan ini. Namun, aku berusaha keras menepis tangan Alex, menghindar lalu berucap. " Kamu antarkan saja adik kamu sampai ke rumah. Biar aku pulang sendiri naik taksi.
"Tapi Kaira. "
"Sudah jangan kuatirkan aku. "
Berjalan dengan begitu cepatnya, aku terburu-buru pergi untuk segera menaiki taksi, pulang ke rumah. Menghindari keinginan Gina yang tak akan pernah aku kabulkan
Tanpa aku duga, Alex mengejarku saat itu. Ia menyuruhku untuk ikut bersamanya. Namun tetap saja aku menolak karena tak ingin lagi berdebat dengan Gina yang begitu keras kepala.
Dia anak yang tak bisa diberitahu sedikitpun.
"Kaira. Kenapa kamu pulang sendirian, sebaiknya kita pulang bersama. " suara suamiku terdengar begitu keras, ia berusaha menahanku untuk tidak pulang sendirian.
"Sudahlah Alex, jangan kuatir, aku bisa pulang sendiri. Sebaiknya kamu cepat antarkan Adik kamu itu, aku sudah tidak mau lagi mendengar keinginan adik kamu yang menyuruhku untuk mengeluarkan Gunawan dari dalam penjara. " ketusku dengan berjalan keluar rumah sakit.
"Aku tahu akan kekhawatiran kamu, tapi ada baiknya kita pulang, kita jelaskan semuanya dengan kepala dingin. Pasti Gina akan mengerti. "
Alex begitu menyakinkan aku, tapi tetap saja aku tak mau menjelaskan semuanya lagi.
"Aku sudah bilang, percuma, tetap saja Adik kamu itu keras kepala, meminta kepadaku untuk mengeluarkan Gunawan, lelaki tidak tahu diri itu. "
Amarahku kini semakin memuncak, membuat aku tak bisa mengendalikan diri.
"Kaira, ayolah."
Menghentikan langkah kaki, " Alex, tolong jangan kejar aku lagi. "
"Tapi Kaira, aku ingin kamu dan Gina tidak bertengkar seperti ini. "
"Siapa yang bertengkar, adik kamu saja yang susah di beritahu. "
Aku berusaha menghentikan mobil taksi yang melintas, " Pak."
Dimana Alex berusaha menahan tangan ini, tak ingin mendengar ocehannya, membuat aku dengan sigap membuka mobil taksi untuk segera naik ke dalamnya.
Menutup pintu taksi dengan keras, aku berusaha mengabaikan panggilan Alex, ia terus mengetuk pintu berulang kali, menyuruhku untuk keluar dari dalam mobil
"Jalan pak, abaikan saja."
Mobil mulai dinyalakan, aku melihat suamiku berjuang keras untuk menyuruhku keluar mobil taksi dan menyuruhku untuk pulang bersama.
"Kaira, ayolah aku mohon."
Mobil yang sudah melaju jauh, membuat aku melihat pada kaca belakang, Alex terlihat berdiri mematung menungguku berubah pikiran.
"Kaira." Teriakan Alex terdengar begitu nyaring, membuat aku berusaha menutup telinga.
Aku yang duduk merasa tak tenang, hanya bisa menyandarkan punggung dengan menatap layar ponsel.
"Kenapa, malah jadi rumit seperti ini. Gina, kamu kenapa lagi, percaya pada Gunawan. Sudah jelas dari dulu dia itu seorang penjahat. "
Ponsel kini berdering, dimana Alex berulang kali mengubungiku, " Alex, percuma kamu menghubungiku. Aku tidak akan mengangkat panggilan dari kamu. "
(Kaira, ayolah. Kamu bujuk dulu Gina, dari tadi dia tidak mau pulang sebelum kamu mengambulkan keinginanya.)
(Maaf Alex, aku tidak bisa. Sebaiknya kamu jelaskan saja pada adikmu yang keras kepala itu, kalau Gunawan bukan lelaki baik baik)
(Kaira, sudah aku jelaskan.
Gina tetap saja ngeyel.)
Tak membalas pesan dari Alex, aku mencoba memikirkan bagaimana cara membujuk Gina.
__ADS_1