Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 106


__ADS_3

"Berdiri, jangan seperti itu. Maaf kalau tadinya saya tidak percaya. "


Lelaki tua itu menundukkan wajah, lalu berucap kembali, " Pastinya orang yang dekat dengan Gina tidak akan percaya, jika saya ayah kandungnya. Karena penampilan saya yang seperti ini. "


Memegang pundak lelaki tua itu, Alex perlahan menampilkan lekukan senyumnya. " Bukan masalah penampilan, tapi kejujuran. "


"Kalau begitu kalian bisa ikut ke rumah saya sekarang juga. "


Alex mengerutkan dahi, menatap ke arah Ferdi. Nampak Ferdi tak mengerti sampai ia bertanya.


"Untuk apa?"


"Di rumah saya ada hasil tes DNA, itu bukti satu satunya yang bisa saya berikan pada kalian. "


"Mm. Baiklah. "


Alex menjawab dengan penuh rasa penasaran, dimana Kaira datang berjalan pelan ke arah ketiganya.


"Ah, kalian ada di sini. "


Alex baru menyadari, jika ia meninggalkan istrinya. " Kaira, maaf aku tadi-"


Menghentikan ucapan Alex yang belum terucap sepenuhnya, Kaira kini menjawab. " Sudah tak apa. "


Kedua mata Alex tak lepas memandangi istrinya, sampai ia melihat hal yang tak terduga.


"Kaki kamu, kenapa di perban. "


Menunjuk ke arah kaki dengan menjawab, " tadi aku nggak sengaja jatuh, hanya luka kecil saja. "


Kedua tangan Alex perlahan memegang kedua pipi sang istri, menatap penuh cinta. " Kamu ini pasti selalu menyepelekan sesuatu. "


Mengerutkan bibir, " sudah tak usah berlebihan. Malu lah di lihat orang. "


Kedua lelaki yang ada dihadapan Alex berpura pura tak melihat, " ya sudah kalau begitu kita berangkat. "


Alex meraih tangan istrinya, ia tak mau meninggalkan Kaira seperti tadi.


Menaiki mobil.

__ADS_1


Dimana suara ponsel terdengar nyaring.


Ferdi merogok saku celana, melihat ponselnya yang mengeluarkan suara.


Betapa terkejutnya.


"Gina menelepon. "


"Tumben Gina melepon?"


Pertanyaan Alex membuat Ferdi juga tak mengerti.


"Entahlah."


"Coba kamu angkat Fer, takutnya penting. "


Menganggukkan kepala, saat Kaira menyeruh lelaki berjas biru itu.


"Baiklah."


"Halo."


Ketiganya diam, mereka hanya ingin tahu tujuan Gina yang tiba tiba saja menelepon Ferdi.


"Di jalan, ada apa?"


"Aku ingin mengatakan hal penting, apa kamu bisa datang. "


Percakapaan dari sambungan telepon, Alex berusaha memberikan sebuah kode tangan, menyuruh Ferdi menolak keinginan Gina.


"Ah, aku sibuk. Memang ada apa, kenapa nggak ceritakan sekarang saja. "


"Mm, gimana ya. "


"Sudahlah, ceritakan saja."


"Baiklah, sebenarnya aku butuh bantuan kamu untuk-. "


"Ayo katakan kenapa ragu. "

__ADS_1


" Aku takut kamu nggak mau, karena kemungkinan besar, akan merugikan kamu. "


"Kamu belum mengatakan, sudah menebak jika aku akan menolak. Coba katakan dulu, biar aku bisa menebak. "


"Kamu mau kan menikahi aku, wanita yang sudah hamil tampa seorang suami. "


Deg ....


Keinginan yang tak di duga oleh Ferdi, padahal baru saja ingin merencanakan kedekatan, tapi Gina sudah membuat peluang besar untuknya.


"Aku sudah menebak, diam kamu pasti kamu menolak. Sudahlah, aku sudah menduga, aku hanya wanita-"


"Hey, jangan salah sangka seperti itu dong. Jelas aku mau sekali, aku ingin menikah dengan kamu. "


"Benarkah."


"Mm, kapan aku bohong. Aku tak peduli kamu sedang hamil, yang terpenting kamu belum punya suami. "


Ferdi sengaja membuat sebuah lelucon, yang terdengar dari sambungan telepon jika Gina tertawa senang.


"Ferdi."


"Ya, kenapa. "


"Setelah kita menikah, kamu tenang saja, aku akan berusaha mencintai kamu. "


"Waw, benarkah. "


"Iya, masa ia aku bohong. "


Bagai bunga mekar di musim semi, hati Ferdi benar benar berbunga saat itu.


Kaira yang ikut mendengar percakapan keduanya terlihat senang. Hampir saja ikut bersuara, Alex menutup mulut sang istri.


"Ferdi, aku seperti mendengar suara?"


Deg ....


Bagaimana ini.

__ADS_1


__ADS_2