
Kaira menempelkan kedua siku pada meja, menggengam erat tangannya. " Mm, kenapa kamu begitu yakin, Ferdi. Padahal dia hanya menunjukkan sebuah poto saja. Bisa saja itu semua hanya rekayasa. "
Ferdi terdiam, setelah mendengar perkataan dari Kaira. Ia menundukkan wajah.
"Apa yang dikatakan Kaira ada benarnya. "
Menatap ke arah Alex yang bersuara, Ferdi mulai menyenderkan punggung pada kursi. " Bagaimana kalau kita datang saja ke rumah sakit, mungkin ada bukti lain. Gimana?"
Kedua suami istri itu saling menatap satu sama lain, mereka mulai menganggukkan kepala dan sepakat.
"Ya sudah, kalau begitu kita datang ke rumah sakit sekarang untuk menyakini semua. "
"Oke."
Mereka bertiga sepakat untuk pergi ke rumah sakit, melihat ke adaan lelaki tua yang mengaku sebagai ayah Gina. Meminta bukti lainnya.
"Semoga saja lelaki tua itu masih ada di rumah sakit. "
Ucapan Ferdi membuat Alex mengerutkan dahi, " Maksud kamu?"
"Ah, Ferdi lupa memberi tahu Kak Alex, kalau lelaki tua itu mempunyai kasus dengan para pereman karena hutang! Kalau kita terlambat, kemungkinan besar lelaki tua itu mati, ditangan pereman. "
Tidak butuh waktu yang lama, mobil kini berhenti di tempat tujuan, ketiganya keluar. Dimana Ferdi terlihat panik.
Alex dan Kaira, hanya mengikuti langkah kaki Ferdi. Mereka terlihat bingung, karena Ferdi berjalan begitu cepat.
Membuka pintu ruangan, lelaki tua itu sudah tidak ada di rumah sakit, panik. Ferdi berlari ke tempat perawat. " Pasien di ruangan 07 kenapa tidak ada?"
Perawat memberi tahu dengan raut wajah tak tenang, ia tampak gelisah.
" Maaf pak, pasien baru saja pergi, saya melihat pasien tampak ketakutan, dan memohon untuk pulang. "
Memukul meja, tampa sadar. Ferdi amat kesal, ia berjalan begitu cepat. Menuju ke luar rumah sakit, kaira dan Alex masih mengikuti langkah Ferdi.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Kaira yang tak sanggup mengikuti langkah Ferdi, bertanya dengan napas terengah engah.
Wanita berambut panjang itu, memegang dadanya. Dimana Ferdi diam tak menjawab, hanya fokus melihat sekeliling rumah sakit.
__ADS_1
"Ferdi."
Perkataan Alex tak di dengar oleh anak itu, Ferdi berlari ke arah luar rumah sakit, ia terlihat tergesa gesa.
"Ferdi."
"Alex, sebaiknya kamu kejar Ferdi. Mungkin dia melihat lelaki tua itu. "
"Tapi aku. "
"Sudah, aku nggak bisa lari. Kakiku sakit, nanti aku susul kamu. "
"Ya sudah kalau begitu. "
Alex berlari mengikuti Ferdi, sedangkan Kaira duduk di kursi, melihat kaki tampak bengkak, memerah. " ahk, gara gara hak tinggi yang aku pakai. "
Mencoba meminta bantuan suster.
"Sus."
Kaira mendapatkan obat, ia merasa kesakitan. " Ahk, perih sekali. "
Beristirahat sejenak.
Dimana Alex masih mengejar Ferdi.
"Kemana anak itu. "
Napas terengah engah, Alex mendengar suara Ferdi. Ia berjalan tak jauh dari rumah sakit itu, melihat lelaki tua yang ditahan oleh seorang pereman.
Belum berani mendekat, Alex mendengar pembicaraan mereka.
"Heh, kalian. Lepaskan bapak itu?"
Pereman menunjuk ke arah Ferdi, memperlihatkan raut wajah tak suka, " Siapa kamu, jangan ikut campur. Bapak ini punya hutang pada bos kami."
"Soal hutang, saya yang bayar. Cepat lepaskan dia. "
__ADS_1
Lelaki tua itu tampak pasrah, ia menggelengkan kepala, memohon pada Ferdi untuk tidak ikut campur akan masalahnya.
"Biarkan saja nak. Ini masalah bapak. "
Pereman itu dengan beraninya memukul perut lelaki tua, melepaskan kedua tangannya. " Beruntung ada orang yang mau menyelamatkan kamu. "
Mendorong tubuh lemah itu ke atas tanah.
Ketiga pereman memberikan sebuah surat kecil, " ini. Catatan hutang lelaki tua ini. "
Mengambil kertas kecil. Ferdi tanpa banyak berpikir membayar hutang lelaki tua itu, hingga lunas.
"Gitu dong. "
Pereman yang tak suka dengan lelaki tua itu, pergi. Mereka tersenyum senang, membuang ludah dengan memberikan kode mata. Penuh kebencian.
Ferdi mendekat, membantu lelaki tua itu untuk berdiri. " Ayo, pak. "
Lelaki tua itu mulai bersujut, berterima kasih pada Ferdi. " Terima kasih, nak. "
"Pak, jangan begini. "
Menyuruh lelaki tua itu untuk berdiri," bapak, kenapa pergi dari rumah sakit. "
Lelaki tua itu menundukkan wajah," saya takut, makanya saya pergi."
"Justru bapak pergi, pereman itu malah menyakiti bapak. "
Diam mendengar nasehat dari Ferdi, Alex kini datang mendekat pada keduanya.
Menepuk bahu Ferdi dengan berkata, " pahlawan. "
"Kak Alex. "
Alex menatap wajah lelaki tua yang mengaku sebagai ayah kandung Gina, mengusap dagu dengan berkata dalam hati. " Wajah lelaki tua ini terlihat mirip dengan Gina, tapi aku belum percaya, tampangnya seperti pembohong. "
"Pak, ini kenalkan. Kak Alex, dia anak dari. "
__ADS_1
Belum perkataan Ferdi terlontar, lelaki tua itu langsung menebak dengan benar, ia memohon maaf, berusaha bersujud.
Namun Alex yang melihat tingkahnya, menghidar. Menyuruh lelaki tua itu berdiri.