Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 58. Perjanjian Verbal


__ADS_3

Yonna yang melihat Riana dan Putra mengeluarkan surat tututan pengajuan perdata dan juga bukti dirinya yang selama ini mendapatkan uang dan barang dari Kamal langsung terdiam.


"Jika kau ingin segera keluar dari Penjara ini dan berkumpul dengan anak-anakmu serta bekerja kembali. Sebaiknya kau kembalikan semua yang kau ambil!" ucap Riana dengan dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku akan memberimu waktu tiga hari dan jika dalam tiga hari kau tak bisa memberikan yang aku inginkan maka tetaplah di dalam Penjara dan terimalah tuntutan perdata dariku serta bersiaplah kehilangan pekerjaanmu!" ucap Riana dengan senyum yang licik sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Pekerjaanku? Apa maksud ucapanmu? Apa kau mengatakan sesuatu pada teman kerjaku?" tanya Yonna dengan ekspresi wajah yang curiga dengan nada suara yang sedikit naik.


"Aku tidak sepertimu yang kekurangan pekerjaan hingga harus melayani pria lain yang bukan suamiku! Aku tidak ada urusan dengan pekerjaanmu!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang tak peduli.


"Kau sudah di dalam penjara ini selama beberapa hari dan jika kau tetap di sini dalam waktu lama apakah kau akan masih dipekerjakan?" tanya Riana dengan senyum yang licik sambil berdiri dan menepuk punggung Yonna yang terdiam di tempat duduknya.


"Aku akan kembali lagi kesini tiga hari lagi dan aku harap uangnya sudah siap tapi jika kau sudah memiliki uangnya sebelum waktu yang ditentukan maka hubungi saja aku. Aku akan dengan senang hati mengambil uang tersebut!" ucap Riana dengan tatapan mata merendahkan sambil berjalan meninggalkan Yonna sendirian di tempat tersebut.


Riana yang merasa kaki dan tubuhnya sangat lemas setelah bersikap tegar dan cuek di hadapan Yonna pun terduduk di kursi saat keluar dari ruangan.


"Riana, apakah kau baik-baik saja? Minumlah ini!" ucap Putra dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


"Hmmm, terima kasih. Aku baik-baik saja." ucap Riana yang mengambil air yang diberikan Putra lalu meminumnya dan dengan cepat memulihkan dirinya.


Riana yang telah bertekad akan menyelesaikan urusannya dengan Kamal dan Yonna hari itu juga pun berdiri tegap dan menatap Putra yang berada di hadapannya saat ini.


"Ayo, kita temui Mas Kamal! Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Mas Kamal secepatnya!" ucap Riana dengan suara yang tegas.


"Apa kau yakin? Tidakkah lebih baik jika kau kembali ke rumah dan istirahat lalu melanjutkan pembicaraan ini esok hari." saran Putra dengan wajah yang khawatir.


"Aku baik-baik saja. Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan kedua orang ini!" ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


Riana masuk kembali ke ruangan pertemuan pun meminta bertemu Kamal dengan didampingi oleh Putra di sampingnya.


Tak butuh waktu lama, Kamal yang telah lama tak melihat Riana tak banyak bicara seolah telah introspeksi diri setelah pertemuan terakhir keduanya.


"Mas, aku ingin kau talak aku sekarang! Aku ingin kita bercerai!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.


"Tidak! Mas tidak akan pernah menceraikanmu, dek! Mas tau jika Mas telah melakukan kesalahan yang besar dan Mas minta maaf. Mas khilaf Dek!" ucap Kamal yang membela dirinya dengan nada suara yang sedikit meninggi dengan tekad yang kuat.


"Aku sudah menduga Mas tak akan mau melakukan ini jadi aku telah memasukkan surat gugatan cerai ke Pengadilan Agama! Jika Mas mau datang maka silahkan tapi jika tidakpun aku tak masalah karena sidang cerai itu akan tetap berlangsung!" ucap Riana dengan nada suara yang tegas.


"Tidak, Dek! Mas mohon jangan lakukan ini. Kasihan dengan anak-anak. Jika kita bercerai, bagaimana dengan anak-anak?" tanya Kamal yang mencoba menjadi Ayah yang bijak dengan memikirkan masa depan anak-anaknya.


"Mas, kau tidak memiliki hak untuk mengatakan itu. Seharusnya kau memikirkan nasib anak-anakmu lebih dulu sebelum kau berselingkuh dan tidur dengan Mbak Yonna!" ucap Riana dengan nada suara yang terdengar dingin dan kejam.


Kamal yang mendengar perkataan Riana tidak bisa menjawab apapun dan hanya bisa menggretakkan giginya karena menahan emosi.


Kamal yang bingung maksud dari perkataan Riana pun mengambil kertas yang diberikan kepadanya dan membaca isinya dengan seksama.


Kamal yang sadar jika dirinya tak akan mendapatkan apapun setelah perceraian karena rumah dan semua uang menjadi milik Riana dan anak-anaknya sebagai nafkah anak setelah orangtua bercerai.


"Tidak! Aku tidak setuju. Rumah itu atas namaku dan jika kau menginginkannya maka ayo kita melakukan sidang harta gono-gini!" ucap Kamal yang telah terbawa emosi.


Riana yang sudah bisa menduga jawaban yang diberikan oleh Kamal padanya pun tersenyum licik lalu menyilangkan tangannya ke dada.


"Jika seperti itu maka aku tak akan pernah mencabut tuntutan ini. Lebih baik Mas Kamal tetap berada di dalam Penjara." ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.


Kamal yang mendengar perkataan Riana menjadi sangat kesal dan teringat akan pekerjaannya pun menarik nafas panjang lalu membuat kesepakatan dengan Riana.

__ADS_1


"Baik, aku setuju tapi rumah itu hanya akan menjadi milik Shawn dan Shasa. Jika kau menikah lagi maka kau harus keluar dari rumah itu!" ucap Kamal dengan senyum yang licik.


"Jangan khawatir. Aku akan melakukan seperti yang kau katakan jadi sekarang tanda tangani surat ini!" ucap Riana dengan nada suara yang tegas.


"Bagus! Riana tak akan pernah menikah lagi jika dia ingin tetap tinggal di rumah itu jadi kesempatanku untuk kembali dengan Riana masih terbuka lebar!" ucap Kamal dalam hati dengan wajah yang bahagia.


Riana yang melihat Kamal telah menandatangi semua surat perjanjian itu dengan cepat mengambil kertas tersebut dan menyerahkannya kepada Putra.


"Karena Mas sudah menandatangani semuanya maka aku akan mencabut laporanku sekarang! Mas, bisa menunggu dengan tenang!" ucap Riana dengan nada suara yang tegas dengan wajah yang dingin.


Kamal yang berpikir jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk rujuk jika Riana tak bisa menikah lagi tidak menyadari jika Perjanjian Verbal itu tak ada artinya.


"Kau masih saja bodoh Mas. Kau menandatangi Perjanjian ini begitu saja tanpa menambahkan poin permintaanmu!" ucap Riana dalam hati dengan pandangan lurus ke depan.


"Aku akan menjual rumah ini dan pindah ke rumah yang lain bersama anak-anakku dan melupakan semua kenangan kita! Aku akan memulai kehidupan baru setelah Hakim mengetuk palu cerai!" ucap Riana dengan tekad yang kuat.


Riana yang melakukan seperti yang dijanjikannya pun tak butuh waktu lama bagi Kamal bebas dari Penjara dan bisa bertemu kembali dengan Ibu dan adiknya secara bebas.


Riana yang tak ingin terlibat dalam reuni itu pun berbalik arah dan kembali ke rumahnya bersama Hana dan Leo karena Riana tak ingin hal buruk terjadi nantinya di antara dirinya dan Kamal.


"Dek, tolong temani Mbak mengemasi barang-barang Mas Kamal karena Mas Kamal tak akan lagi tinggal di rumah itu!" ucap Riana dengan tegas yang langsung dijawab setuju oleh keduanya.


Riana yang telah mendapatkan surat perjanjian itu pun menawarkan rumahnya di agen properti dan juga sosial media dimana Kamal tak pernah pakai.


"Aku akan memasarkan rumah ini dan menjualnya secepatnya. Aku pun ingin proses sidang cerai ini cepat selesai agar statusku dapat segera berubah saat aku telah diangkat menjadi PNS!" ucap Riana dengan tekad yang kuat.


#Bersambung#

__ADS_1


Bagaimana nasib Kamal selanjutnya setelah diusir keluar dari rumah oleh Riana? tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2