
Alex kembali merangkul tubuh Kaira, menutup pintu. Berulang kali mengedipkan kedua mata.
"Gina, Alex. Bagaimana dengan dia. Kasihan loh."
Raut wajah kaira memperlihatkan kekuatiran, dimana lelaki yang menjadi suaminya kini.
Menempelkan jari tangan pada bibir mungil milik Kaira, "Husst, udah ayo. Biarkan saja, kan ada Mbok Asih."
"Kemana?"
Alex kini mengunci pintu kamar, membuat Kaira berpura pura tak mengerti.
"Sudahlah jangan sok polos begitu!"
Jari tangan kekar Alex, kini memegang dagu Kaira wanita yang menjadi istrinya. Mencubitnya pelan. Merasa tak tahan, karena melihat raut wajah penuh gair*h, menggelora di jiwa.
"Bikin gerget deh. " Mendengar kata kata manja dari mulut Alex, membuat Kaira tersenyum tipis. Kedua pipinya terlihat memerah.
Malu dan senang diperlakukan seperti itu, " Kaira. "
Wanita berbibir mungil itu kini duduk di atas kasur, melihat sang suami berdiri, " ayolah. Bukannya kamu lebih berpengalaman. "
Semakin Alex berkata seperti itu, rasa malu pada Kaira semakin tak terkendali. Apalagi saat membahas tentang pengalaman, itu sudah tak asing bagi kaira.
Namun melakukan dengan lelaki barunya sedikit membuat ia canggung, terlebih lagi Alex adalah lelaki tampan yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Kaira." Suara lembut Alex memanggil Kaira.
Perlahan tangan kekar milik Alex menyentuh pipi Kaira, mengusap pelan, sampai dimana jantung tak terkendali. Terdengar berdegup, kain yang menempel. Terlepas tanpa kesadaran pasti.
Inilah saatnya dua sejoli, merasakan malam pertama selepas pernikahan.
******
Sedangkan di dalam kamar Gina tampak gelisa, ia masih duduk di kursi rodanya. Karena kadaanya yang belum setabil, diharuskan setelah pasca operasi memakai kursi roda untuk bergerak ke sana kemari. Memutarkan ke kiri ke kanan, kursi roda yang ia pakai.
"Ahk, kenapa ini? Bukannya aku sudah rela, melepaskan kak Alex? Tapi sekarang malah kegelisahan aku dapatkan. " Gina menggerutu kesal dirinya sendiri, berulang kali ia berusaha merelakan kebahagian Alex untuk Kaira.
Namun selalu saja rasa sakit yang ia rasakan pada hatinya.
Gina perlahan memijat kepalanya yang terasa sakit. " Rasanya kepalaku akan pecah. "
Menggerakan kursi roda, mendekatkan pada jendela kamar, Gina mengusap pelan perutnya yang semakin membesar.
Tak terasa air mata jatuh, mengenai kedua pipi, berulang kali Kaira mengusapnya. " Kenapa nasibku begini. Tidak seberuntung Kaira, apa salahku."
Menatap langit langit, Gina tak melihat satu bintangmu bersinar. Hanya ada rembulan malam, bersinar sendirian.
Menghela napas, ingin sekali meluapkan amarah.
"Dunia ini tak adil bagiku. "
Gina memutarkan kembali kursi rodanya, ia mendekat pada laci putih miliknya, perlahan tangan kanan membuka laci itu.
Mengambil benda tajam," mungkin dengan cara ini, aku tak akan pernah merasakan rasa sakit lagi. Karena melepaskan seseorang bukan hal yang mudah, apalagi, melihat orang itu sudah bahagia bersama sahabat sendiri."
Air mata tak henti hentinya mengalir, membuat Gina tak bisa mengontrol emosi lagi.
Benda tajam yang digenggamnya, mulai ia dekatkan pada perut, " Maafkan ibu nak, ibu tak mau nanti kamu lahir, malah menderita di dunia ini seperti ibu. "
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu mengejutkan Gina, membuat wanita yang duduk di kursi roda itu, melepaskan pisau dari tangannya. " Sialan, mengganggu saja. "
Prak ....
__ADS_1
"Nona Gina, ini Mbok Asih. Nona di dalam baik baik saja kan?" Pertanyaan dan teriakan terdengar nyaring, membuat Gina terpaksa menghentukan aksinya.
Segera mungkin Gina menyingkirkan pisau itu, menendangnya hingga masuk ke kolong ranjang tempat tidur.
"Nona Gina. Ini ibu bawakan susu buat nona, " teriakan Asih, membuat Gina terburu buru mengusap air matanya.
Ia tak ingin jika Asih pembantunya itu tahu rencana bunuh diri yang akan ia lakukan saat itu juga.
"Nona, baik baik saja kan. "
Asih yang dari tadi mengetuk pintu merasa kuatir akan ke adaan Gina, berulang kali ia memanggil sang nona. Tak ada jawaban sama sekali, membuat hati tak tenang.
"Nona, jawab dong nona. Ini Mbok Asih. "
Asih tampak bingung, " Ini gimana ya, kenapa Nona Gina nggak keluar keluar. "
Melihat pada pintu kamar Alex yang tak jauh dari hadapannya saat ini, Asih takut jika menganggu malam pengantin sang tuan.
"Nona Gina, buka. Non. "
Ceklek.
Asih terkejut dengan tampilan Gina yang terlihat berantak, ia berulang kali menguap seperti orang baru bangun tidur.
"Ya ampun, Nona tidur. "
Menguap di depan Asih sang pembantu, Gina kini bertanya. " Ada apa, Mbok?"
"Aduh, maaf ya non, bibi ganggu. Kirain non nggak lagi tidur, oh ya ini bibi bawakan susu kusus ibu hamil!"
Gina mengaruk belakang kepalanya, tampak rambutnya begitu berantakan. " Padahal, Gina nggak nyuruh loh, Mbok!"
Pembantu itu tersenyum, setelah Gina mengambil susu yang telah ia buat.
"Oh, ya sudah. Biar aku minum. "
"Kalau begitu, si Mbok tinggal dulu ya. Non, jangan lupa di minum. "
"Iya mbok, tenang saja. "
"Heheh."
Wanita tua yang sudah lama berkerja di rumah Gina, kini kembali berpamitan untuk pergi ke dapur.
Menyiapkan makanan untuk tuan rumah.
"Kalau gitu, si Mbok tinggal dulu ya non. "
Gina menganggukkan kepala, ia menutup pintu dengan terburu buru. Membuat Asih terlihat heran.
"Kok, Nona Gina terlihat berbeda ya. "
Asih berusaha menepis pikiran jelek dalam otaknya, pergi untuk segera menyiapkan makanan.
Selepas kepergian Asih, Gina kembali menangis. Ia menaruh susu kusus itu ibu hamil di atas meja.
"Ahk, aku tak mengiginkan bayi ini. "
Kedua tangan ingin sekali memijat perut yang terlihat membuncit itu, memukulnya.
Namun terasa berat, " Kenapa kamu ada dalam perutku. "
Emosi dan rasa kesal meluap luap, tak terkendali. Gina kini sendirian di dalam kamar, tampak sosok pendamping. " Ahk. "
Menjerit, karena tak bisa menggontrol emosi, Gina mulai menyakiti dirinya sendiri. Menjambak rambut.
__ADS_1
" Kenapa, aku begini. Kenapa begitu susah untuk menerima semuanya. "
Kedua mata perlahan menatap ke arah poto yang terpajang rapi, dimana dalam poto itu ada sosok sang ibu dan Alex bersanding di dekatnya.
Mengambil, Gina yang tak bisa mengendalikan lagi emosi. Melepar poto itu.
Brakk ....
Melemparkan dan menghancurkan semua barang yang ada di sana, Asih sang pembantu melupakan obat untuk Gina.
Ia kembali lagi menemui sang nona di dalam kamar, mulai mengetuk.
Namun ia menyadari suara bising itu dari kamar sang nona, perlahan menempelkan telinga pada pintu kamar.
Suara teriakan, dan pecahan yang membuat Asih mengelus dada. Badan terasa bergetar.
"Nona Gina, kenapa dengan dia?"
Takut terjadi apa apa dengan Gina, Asih mengetuk pintu sang nona begitu keras.
"Nona."
"Nona."
Gina menyadari jika aksinya yang berutal, membuat ia diam sejenak.
"Nona Gina, baik baik saja kan. Ini Mbok Asih. "
Mengepalkan kedua tangan, perlahan emosi itu sedikit mereda, " Iya. Mbok, ada apa lagi. "
Membuka pintu kamar, " ada apa lagi?"
Wanita tua itu terkejut dengan penampakan kamar sang nona. Yang terlihat begitu berantakan, banyak barang pecah berserakan di atas lantai.
"Mbok, jawab dong. Dari tadi diam saja, kenapa?"
"Ah, Nona baik baik saja kan!"
Asih memperlihatkan kelembutannya di depan Gina, ia mengusap pelan kedua bahu sang nona.
Bertanya dengan penuh kekuatiran. " Kenapa Nona?"
Gina tampak diam membisu, ia tak mampu menjawab, hanya menitihkan air mata. Membuat Asih ikut menangis. " Kalau ada masalah cerita sama si Mbok, jangan di pendam begini. "
Sakit yang dirasakan Gina pada tubuhnya belum seberapa, dari sakit yang ia rasakan pada lubuk hatinya yang paling dalam.
"Nona, kenapa diam saja. Si Mbok takut nona kenapa kenapa. "
Gina memegang tangan pembantunya itu, " Mbok,"
Menangis, kini sedikit terdengar kencang, membuat pembantu itu tak tega.
"Kita masuk ke dalam kamar Nona, ya. "
Dari bujukan si Mbok, akhirnya Gina mau. Ia menganggukkan kepala. Saat wanita tua itu mulai mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam kamar.
Menutup pintu, Asih duduk di atas lantai. Ia berusaha membersihkan pecahan kaca yang berserakan dimana mana.
Gina tampak diam, ia masih menitihkan air mata. " Biarkan saja Mbok. "
Menyapu bersih, Asih takut jika ada pecahan kaca yang nantinya melukai sang nona. Ia sampai melihat pada kolong ranjang tempat tidur.
Tiba tiba saja kedua matanya membulat, ia terkejut dengan penemuanya saat ini.
"Ini."
__ADS_1