
"Alex."
"Iya, kaira. Kenapa?"
Perasaan tak enak hati mulai merasuki diri Kaira, ia ingin mengajak sang suami untuk tinggal di rumahnya. " Bagaimana kalau kita tinggal di rumahku saja. "
"Mm."
Tampak Alex terlihat ragu ragu, dengan ajakan Kaira yang mengajaknya untuk tinggal di rumahnya.
"Kenapa? Kita kan sudah jadi suami istri, nggak salahkan aku mengajak kamu untuk tinggal di rumahku. "
"Iya memang nggak salah, tapi Gina akan kesepian. "
Apa yang dikatakan Alex membuat Kaira berpikir kembali.
"Kondisi Gina kan sedang tidak baik. "
Mendengar perkataan Alex seperti itu, membuat Kaira mengigat Asih.
"Sendirian! Bukannya ada Mbok Asih. "
Alex memegang dagunya, " Benar juga. Ya sudah aku akan beri tahu Gina besok, sekarang kamu istirahat dulu ya. "
__ADS_1
Kaira menganggukan kepala, menurut dengan perkataan suaminya. Mereka tak menyadari jika perkacapan mereka di dengar oleh Asih yang sengaja mengintip.
"Tuan Alex akan pergi dengan Nyonya Kaira? Lantas bagaimana perasaan Nona Gina, apa mereka tidak kasihan pada Nona Gina?"
Wanita tua itu terus menghuatirkan majikannya, ia terlihat ketakutan, menghela napas beulang kali. Memegang dada, Asih terburu buru pergi menghampiri Gina.
"Aku harus beri tahu Nona Gina. "
Sampai di depan pintu kamar Gina, Asih berulang kali mengetuk pintu, menunggu sang nona keluar. " Nona Gina. "
Teriakan Asih, membuat Gina memutarkan kursi roda, ia mendekat ke arah pintu kamarnya.
Membuka pintu perlahan, hingga mengeluarkan bunyi.
"Mbok Asih, ada apa lagi?"
"Nona, saya hanya ingin memberi tahu kalau Tuan Alex dan Nyonya Gina akan pergi dari rumah ini. "
Terkejut yang kini dirasakan Gina, setelah medengar informasi yang diberikan pembantunya itu.
"Mbok, jangan bohong ya. "
Wanita tua itu sudah menyangka jika menjikannya tidak akan percaya. " Benar non, tadi saya dengar sendiri, mereka sedang mengobrol di dalam kamar. "
__ADS_1
Rasa tak iklas akan kepergian sang kakak, membuat Gina bersedih.
Kedua tangan ia kepalkan, lalu berucap dengan nada kesal. " Kenapa mereka begitu terburu buru, pergi dari rumah ini, apa mereka tidak menghargai perasaanku saat ini. "
Asih mengusap pelan punggung sang majikan berusaha menenangkan, sebisa mungkin. " Jangan sedih non, kan ada Mbok. "
"Bukan masalah ada Mbok atau tidaknya, tapi perasaan Gina saat ini. Gina sekarang hanya punya Kak Alex, Gina tak punya siapa siapa lagi. "
Asih semakin merasa kasihan terhadap majikannya itu, ia memeluk dari belakang Gina lalu berucap. " Mbok, akan selalu ada di sini non. "
Gina memegang tangan Asih yang terasa hangat dan lembut, saat menghiburnya. Ia merasa aman dan yaman jika dekat dengan Asih.
"Mbok, makasih ya selalu ada saat Gina sedang sedih seperti ini. Gina merasa tidak punya siapa siapa. Tapi sekarang Gina senang karena ada mbok yang selalu menghibur Gina, walau mbok bukan siapa siapa Gina. "
"Nona, nggak perlu berlebihan seperti itu. Nona Gina sudah Mbok anggap seperti anak sendiri, jadi Nona Gina jangan sedih lagi. "
Gina mulai melebarkan bibirnya, ia tersenyum tanpa beban dan rasa sakit yang ia rasakan.
"Terima kasih, mbok. "
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu mengagetkan keduanya, Gina menatap ke arah Asih. " Mungkinkah itu Kaira dan Kak Alex. "
__ADS_1
"Bisa jadi. "
Wanita tua tua itu perlahan mendekat ke arah pintu, melihat siapa yang datang.