Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 96


__ADS_3

"Aku bukan tidak konsisten, aku hanya kasihan terhadap adikku. " Ucapnya yang tak bisa Kaira pungkiri.


Menatap tajam ke arah Alex, terlihat jika Kaira begitu kesal dengan suaminya yang tak bisa konsisten dalam mengambil keputusan.


Alex lebih mengandalkan rasa kasihan pada adiknya, dari pada melindungi perasaan istrinya.


"Terserah kamu. "


Baru merasakan momen kebahagiaan, setelah menjalankan repsepsi pernikahan, kedua suami istri itu malah di terpa masalah.


Cekcok karena sang adik yang selalu ingin di mengerti dan di temani.


Kaira yang tak ingin berdebat lagi, dengan tepaksa ia pergi dari hadapan Alex. Masuk ke dalam kamar.


Dimana Alex menyusul sang istri, dengan berlari.


Namun sangat disayangkan, Kaira begitu cepat berlari. Ia menutup pintu kamar dengan begitu keras, membuat Alex terkejut dan mengetuk pintu kamarnya.


"Kaira, dengarkan aku dulu."


Kaira mengabaikan teriakan Alex, ia mengambil koper, untuk mengemasi barang barangnya.


"Kaira."

__ADS_1


Duduk sejenak setelah membereskan beberapa baju, Kaira mengusap air matanya yang terus mengalir.


Menatap lagi ke arah koper yang akan ia bawa. Mengusap kasar wajah, " Gina, kenapa kamu plin plan seperti ini. Kamu tidak tahu apa aku merasa tertekan jika kamu seperti ini."


Kaira terus mengoceh dalam hatinya, membuat pikirannya kini terusik.


"Kaira."


Kembali Alex memanggil sang istri tercinta, dengan berulang kali mengetuk pintu. Namun nihil tak ada respon sedikit pun.


Bangkit dari tempat tidur," mungkin dengan pergi dari rumah Gina, aku bisa menghilangan kesedihan Gina. "


Membuka pintu, Alex terlihat berdiri, ia memandangi wajah Kaira yang sudah memegang koper .


"Kamu mau kemana?"


Alex berusaha menahan Kaira agar tidak pergi dari rumah Gina, " Kaira, aku mohon jangan pergi. Tolong mengerti perasaan Gina. "


"Alex, bukannya dari awal saat aku mengatakan ingin pergi dari rumah ini, kamu sepakat tidak terlalu mengasihani adikmu Gina. Tapi pada kenyataannya. "


"Kaira, hanya 40 hari saja. "


Alex terus memohon kepadaku, hingga aku melirik ke arah wajahnya yang terlihat memelas.

__ADS_1


"Kaira. Ayolah. "


"Alex, aku nggak bisa. Jika kamu ingin ikut denganku ayo. "


Gina kembali menghampiri kaira dan juga Alex, ia mempelihatkan raut wajah penuh kebencian di depan Kaira.


"Sudahlah kak Alex, biarkan Kaira pergi. "


Kaira menimpal perkataan Gina, " Gina, kenapa kamu berubah, kenapa pikiran kamu selalu plin plan. "


"Kaira, aku tidak plin plan, aku hanya butuh waktu saja. Untuk Kak Alex menemaniku dalam kesedihan setelah kehilangan Ibu Parida. "


"Alasan kamu saja. " Bibir kaira terasa gatal, ingin mengatakan hal yang terasa mengendap dalam hatinya.


" Aku tahu kamu cemburukan melihat aku dan Alex bermesraan setiap kali di rumah ini."


"Jaga ucapan kamu itu Kaira, jangan sok tahu. "


"Aku tidak sok tahu, tapi dari nada bicara dan pandangan mata kamu itu. "


Alex merangkul bahu Kaira, " sudah ya, jangan bertengkar lagi, aku pusing dengar kalian terus bertengkar ayolah. Kita akhir pertengkaran ini, oh ya Gina, tolonglah dewasa sedikit. Bukannya dari awal kamu yang mengiginkan semua ini, kamu yang sudah ikhlas menerima kakak dengan Kaira. Kenapa sekarang kamu tak bisa memerangi perasaan kamu, kakak pergi ke rumah Kaira, karena kakak ingin menjaga perasaan kamu agar tidak terluka. "


Mendengar perkataan Alex membuat Gina menundukkan wajah.

__ADS_1


"Gina, kamu dengar apa kata kakak. Kami akan menjenguk kamu setiap minggu. Melihat pekembangan bayi kamu. Kakak ingin kamu terbiasa tanpa adanya kakak dan Kaira, agar hati kamu tak terluka."


Asih memegang bahu Gina, menganggukan kepala. " Jika itu keputusan kakak, Gina akan terima. Maka pergilah. "


__ADS_2